Suatu hari di sebuah negeri tanpa nama, hidup seorang perempuan yang begitu menyenangi hujan. Dia akan tersenyum dengan senyuman yang paling indah saat hujan turun. Bola matanya akan membulat dan seolah membinarkan cahaya yang menyenangkan saat memandang hujan turun ke bumi.
“Mengapa kamu sangat menyenangi hujan, Kirana?” tanya seorang lelaki paruh baya yang lewat di depan rumah Kirana. Dia bertanya pada perempuan yang begitu menyukai hujan itu suatu kali.
Kirana yang sedang duduk termangu di beranda rumahnya agak terkejut dengan pertanyaan yang ditujukan padanya. Matanya yang tadi menerawang ke langit kini mengarah pada lelaki paruh baya di hadapannya. "Aku tidak tahu persis kenapa aku sangat menyukai hujan, Aji. Tapi yang aku tahu, ketika hujan turun, aku merasa sangat bahagia.”
“Apakah tida ada hal lain yang membahagiakan hatimu, selain ketika turunnya hujan? Aku melihat, kamu selalu tampak murung saat melihat langit menggelap tapi tak turun hujan.”
“Entahlah, Aji. Memang masih banyak hal lain yang bisa membuat hatiku bahagia. Tapi, semua terasa hanya sekelebat saja. Tidak sekekal rasa bahagia yang diciptakan oleh hujan.
Ketika aku mendengar suara rintik hujan yang beradu dengan dahan, hatiku merasa tenang. Bau tanah yang muncul saat hujan membasuh bumi pun membuatku senang, membuatku lupa akan segala duka.”
***
Suatu hari wajah Kirana terlihat muram. Rona wajah sedih tercetak jelas di wajahnya. Dia duduk seperti biasa di beranda rumahnya, tatapannya kosong menatap langit.
Siang ini tidak terik. Gumpalan awan tebal menggelayut di langit. Melindungi orang-orang dari terpaan panas matahari. Hampir semua orang di negeri tanpa nama senang karena hawa udara tidak terlalu panas, namun tidak dengan Kirana. Wajahnya terlihat sendu. Bukan hanya hari ini saja, sudah sejak beberapa hari yang lalu, tidak ada senyum yang dilahirkan bibirnya. Sorot matanya terlihat layu, seolah tidak bertenaga.
“Kirana, kenapa kamu terlihat sedih? Apakah gerangan yang membuatmu muram?” tanya Aji ketika sedang melewati lagi rumah Kirana.
Kirana menolehkan kepalanya dengan enggan. Tatapannya benar-benar terlihat sedih. Aji menelan ludahnya, dalam hatinya merasakan iba saat melihat Kirana seperti ini.
“Apakah yang membuatmu sedih? Bukankah beberapa hari yang lalu baru saja turun hujan? Mengapa kamu tidak gembira? Aku melihat, ketika hujan turun kemarin, kamu malah menangis,” ucap Aji kepada Kirana. Dia mendekati Kirana yang duduk dengan wajah sedih.
“Aku ingin menjadi hujan.”
“Apa?” tanya Aji yang kini sudah duduk di samping Kirana.
“Aku ingin menjadi awan, menjadi hujan, agar semuanya luruh dalam derai airmata langit.”
Aji terdiam mencerna kata-kata Kirana. Lelaki paruh baya itu masih belum dapat menangkap arti ucapan perempuan muda di sampingnya. "Apa yang terjadi padamu? Sehingga kamu menjadi sesedih ini."
“Aku ingin menjadi hujan, agar tersamarkan air mata. Aku ingin menjadi awan, agar tak lagi merasakan kesedihan. Aku ingin menjadi hujan.” Kirana terus mengucapkan kata-kata itu, seperti rekaman suara kaset yang rusak. Serupa itu pula keadaan Kirana. Dia seperti rusak, mungkin hatinya.
Aji akhirnya menyadari hal yang membuat Kirana sedih. Gosip yang berkembang di negeri ini rupanya terbukti benar. Kirana ditinggalkan oleh kekasihnya demi perempuan lain.
Di negeri ini, sebuah perselingkuhan adalah sebuah dosa besar dan menjadi aib terburuk bagi yang mengalaminya. Masyarakat di negerin ini menganggap, perempuan yang ditinggalkan demi perempuan lain adalah perempuan yang tidak dapat menjaga pasangannya, dan mendapat cap buruk.
“Sudahlah, tenangkan dirimu. Semoga hujan benar-benar datang. Aku ingin melihat lagi senyummu yang ceria itu,” ucap Aji yang kemudian meninggalkan Kirana yang masih duduk termenung dengan tatapan kosong.
***
Hujan turun dengan deras di negeri tanpa nama. Deru suara hujan yang bercampur dengan angin menepuk daun pepohonan dan loteng rumah terdengar bersahutan.
Hampir semua orang di negeri ini senang dengan turunnya hujan, begitu pun dengan Aji. Lelaki paruh baya itu senang, sebab dengan turunnya hujan, dia akan melihat kembali senyum indah Kirana. Dari rumahnya di melongok keluar jendela rumahnya, dari sana dia dapat melihat beranda rumah Kirana.
Biasanya, ketika hujan, Kirana akan duduk di beranda sambil bersenandung. Tapi tidak hari ini. Aji tidak melihat perempuan muda itu di beranda. Rumahnya pun terlihat sunyi, seolah tiada penghuninya.
Aji keluar dari rumahnya menuju rumah Kirana. Dia bertanya-tanta kemana perginya Kirana. Sebab seingatnya, Kirana tidak keluar rumah sejak pagi tadi, ketika dia terakhir melihat perempuan muda itu.
Petir menggelegar saat Aji baru akan masuk ke dalam rumah Kirana. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana, sebab Kirana memang tinggal seorang diri tanpa memiliki orang tua lagi. Hujan terasa semakin deras, seperti langit yang sedang menangis dan meraung-raung.
Aji melihat secarik kertas berisi tulisan tangan Kirana.
Aku menemukan cara yang membuat diriku menjadi hujan.
Aku akan menyobanya. Aku ingin menjadi hujan.
Aji merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya. Segera dia menuju kamar Kirana dan memanggil Kirana. Merasa tak ada jawaban, lelaki paruh baya itu membuka paksa pintu kamar. Di sana, terlihat Kirana yang sudah menggantungkan dirinya.
Kirana mengenakan pakaian yang serupa boneka hujan, menggantungkan dirinya di langit-langit kamar. Dia menjadi boneka hujan, agar hujan turun dan menjadi hujan itu sendiri. Aji tertunduk sedih melihat perempuan muda yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Menyayangi kejadian menjadi seperti ini.
Kau sakiti aku, kau gerami aku
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan
ditulis @danissyamra dalam http://syamra-danis.blogspot.com | Mesin Penenun Hujan
Showing posts with label Frau. Show all posts
Showing posts with label Frau. Show all posts
Sunday, September 23, 2012
Saturday, September 8, 2012
Takkan Pernah Pulang
Yuski, Ya itu namanya…
Rafa masih ingat kala pertama mereka bertemu. Di Ketinggian 3.428 meter dpl mereka bertemu dalam waktu yang singkat, dan entah bagaimana keganasan puncak gunung Merapi yang tak bersahabat membuat mereka harus berlari turun dan berpisah. Dalam suasana genting mereka saling mencatatkan nomer handphone.. Tanpa nama. Ya, entah karena saling lupa atau memang mereka hanya ingin saling mengingat wajah dan nama sebelum mereka bisa bertemu kembali.
Rafa masih ingat detail bagaimana semburan gas solfatara (SO2 dan SO3) dari kawah slamet yang mematikan itu membuat semua pendaki berlarian menuruni puncak dan membuat mereka terpisah dari rombongan masing-masing. Namun itulah keindahan takdir dalam mempertemukan dan memisahkan dua anak manusia. Minggu Legi, Slasa Legi, Setu Paing, Minggu Paing adalah hari-hari dalam hitungan jawa yang tak boleh didaki oleh juru kunci gunung itu, tapi siapa percaya?
Setelah sampai di kota kelahirannya Rafa menelpon nomor yang tertera di kertas itu. Tidak aktif. Ada sebuah dugaan bahwa nomor yang ia catat salah. Beberapa jam kemudian ia menelpon lagi. Tersambung dan tawa renyah gadis itu melegakan hatinya.
Halo, hei…sudah sampai rumah ya?
Iya, maaf tadi aku nonaktifin hp pas ngecharge..btw Seru ya kemarin..
Eh, kita belum kenalan..
Hahaha iya, namaku Yuski, Mapala Undip Semarang. salam kenal..
Aku Rafa, Gemalawa STAIN pekalongan
Eh, sayup-sayup aku dengar lagu kesukaanku deh?
Iya, kebetulan aku lagi dengerin mp4 pake speaker aktif..kamu suka Frau?
Suka banget!!! Pianonya keren banget..apalagi lagu yang ini…
Akhirnya hubungan itu terjalin. Begitu sederhana ketika berawal dari perkenalan singkat saat pendakian, saling menelpon, Webcam via YM dan beberapa pertemuan. Pertemuan paling indah adalah 1 Januari 2010 di titik ketinggian 2.050 mdpl. Gunung berapi kecil yang ada di Ungaran. Dalam pertemuan malam tahun baru itu segala macam rindu terbalas sudah. Pertemuan dan juga awal untuk kembali berpisah. Bahkan lebih jauh.
Fa, Aku dapat beasiswa keluar negeri..
Dimana?
Graduate School of Engineering, Osaka University
Selamat..aku ikut seneng dengernya..walau artinya kita jadi makin berjarak..
Kita sudah terbiasa dengan ini kan? Lagian tiap malem tahun baru aku pulang deh… kita pendakian di Ungaran aja yang gampang..
Promise?
Ya..im promise
Eh Fa, langitnya indah yaa…pingin deh bisa terbang bareng di angkasa sana…
Seperti lagunya Frau..andai bisa aku ingin tetap di atas sana..
Dan tak akan pulang?
Ya.. I Really Love You..
Me too..
Kedua mata berpautan. Jarak itu makin hilang dalam dekapan dan gigitan kecil di bibir yang bertautan. Ciuman pertama disaksikan oleh langit tahun baru. Dengan jutaan kedipan bintang dengan berbagai rasinya. Angkasa tak pernah sepi bila dipandang dari ketinggian itu
Hari berganti bulan..Bulan berganti tahun. Lagu itu masih bersenandung di tiap hari yang Rafa lalui. Meski janji itu akhirnya hanya tinggal janji. Gadis itu tak pernah kembali. Sosial media gadis bernama Yuski itu tak pernah aktif. Rumahnya di daerah Tembalang Semarang itu sepi tak berpenghuni. Entah sampai kapan harapan itu menari di angkasa. Seperti Tak kan Pernah Pulang.
Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa,
seperti tak kan pernah pulang..
kau membias di udara dan terhempaskan cahaya, seperti tak kan pernah pulang tuk langkahmu menarilah jauh mengudara.
Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa ~ Frau
ditulis @biolahitam dalam http://biolahitam.wordpress.com
Monday, September 3, 2012
Metamorfosa Dalam Hujan
Juli 2012.
Hujan dan gemuruh, dua hal yang kali ini tak dapat terpisahkan. Dan dua hal tersebut seolah mengisi kekosongan kertas di hadapan ku sekaligus hati ini. Kosong yang tak sepenuh-nya kosong, samar ada guratan kelam di sana. Entah untuk dihapus dan dihilangkan atau untuk disimpan dan kemudian kembali diperjelas.
Dari sudut kamar ini terlihat jelas ketika mendung mulai mengeluarkan bulir - bulir air yang siap membuai tanah dengan kedatangannya yang menyenjukkan. Perlahan ku hirup aroma hujan yang bergerak masuk dari jendela kamar ku, yang ku biarkan terbuka. Terpejam dan ku biarkan segala sesuatu pada diri ku terbuai. Bersama nyanyian hujan yang samar pun seolah sedang bercerita, tentang sebuah metamorfosa.
Oktober 2010.
Berontak dari perbedaan yang mungkin telah membuatmu letih untuk mencoba mengerti. Sekaligus membuat benci pun menggantung di langit - langit pikiran mu.
Helaan nafas panjang mu menggantung, “Aku nggak bisa terusin hubungan ini..” lirih ucap mu, tetapi nyawa dalam kalimat tersebut berteriak lantang.
Aku masih mematung, pemberontakan ini seolah menghidupkan sebuah mesin yang memburaikan hati ku menjadi butiran - butiran air. Ku tarik nafas dalam - dalam, “Maaf, aku nggak pernah ada maksud buat kamu merasa dituduh atau pun tertuduh ..”.
“Ini bukan hanya karena persoalan kemarin, tapi memang terlalu banyak hal yang mulai berbeda..” potongnya cepat. ” .. dan aku nggak mau melihat kamu makin terbebani dengan perbedaan ini, begitu pun aku..” dia menghela nafas untuk kesekian kalinya dan kembali terdiam menunggu reaksi ku.
Pikir ku, justru pemberontakannya kali ini dengan alasan agar aku tidak terbebani menjadi sebuah ucapan klasik yang menyakitkan. Lama aku terdiam dengan gemuruh memenuhi batin ini. Tanpa banyak berbasa - basi, berusaha ku ucapkan dengan tenang, “baiklah kalau memang menurut kamu itu yang terbaik, semoga memang itu yang terbaik.”. Deru sendu perpisahan yang klasik ini pun mulai menggema, perpisahan tanpa basa - basi yang justru terlihat basi dipikiran ku menyisahkan pedih.
Oktober 2011.
Ku saksikan hujan tanpa gemuruh, hanya ada rintik bisu memutar memori setahun silam. Batin ku sibuk berceloteh “ketika dahulu ada, kepada hujan kita sembunyikan gelak tawa yang menyatukan kita. Kini, kepada hujan pula ku sembunyikan tangis kehilangan akan rupa yang tak dapat terjamah..”.
Sore itu saat senja sedang pucat, ku ingat hari Rabu, tanggal 24 juli 2011, kenyataan memperlihat kan aku bahwa kamu telah menemukan seseorang yang lebih baik dimata mu. Rasanya seperti terhempas keberibu sudut hingga tubuh ku tercabik, ketika ku dapati kau menemukan tangan lain untuk kau genggam. Hanya helaan nafas yang mampu keluar dari mulut ini, dari sana ku putuskan untuk membawa pergi kepedihan ini dari sesuatu tentang kamu.
Dan saat ini, Juli 2012.
Ketika hujan berhenti dan meredam gemuruhnya, ku lihat bias wajah mu di antara kenangan yang telah memudar. Di waktu itu pula, kelopak - kelopak ketegaran ku merekah, saat bulir hujan menyentuh tiap lekukannya. Dengan mantap aku tutup cerita ini, aku biarkan hujan menyimpannya dengan erat. Sebuah perbedaan klasik, pemberontakan menyakitkan, kepedihan perpisahan, menjelma dengan indahnya menjadi ketegaran. Serupa awan baru yang muncul setelah hujan, cerah tanpa kelabu, tenang tanpa gemuruh. Ini lah, metamorfosa ku dalam hujan. “Dan aku kan hilang, Ku kan jadi Hujan. Tapi takkan lama, ku kan jadi awan”.
@mahilamoti
ditulis @mahilamoti dalam http://mustikaannisa.tumblr.com
Subscribe to:
Posts (Atom)