“Sanjayaaaaaaaaaaa! Kau kemanakan jaketkuuuuu????”
Masih pukul 5 pagi. Aku sudah teriak-teriak seperti manusia kesurupan setan. Bagaimana tidak, jaket yang paling kusayang, yang biasa kukenakan sesekali ke acara bergengsi, dan harganya bisa membuatku menahan lapar dua bulan, dan biasanya tersimpan rapi dalam bungkusan plastik laundry- tapi kini lenyap. Siapa lagi kalau bukan bajingan muda tukang pamer itu yang meminjamnya tanpa permisi.
Ibu tergopoh-gopoh melongo menuju kamar Isan (panggilan kecil Sanjaya), lalu dengan wajah kaget ia bertanya:
“Ada apa ini teriak-teriak masih pagi?”
“Biasa bu, anak muda, aku berangkat dulu ya.” Kataku ngeloyor sambil mengecup pipinya. Ibu cuma bilang hati-hati dengan wajah yang masih terus kebingungan di depan Isan yang masih lelap.
–
Perjalanan ke kantor adalah tempat aku biasa mengakrabkan diri dengan fikiran-fikiranku. Satu jam terjebak macet sudah bukan hal aneh. Lampu menyala merah, itu berarti saatnya aku mengendurkan urat-urat berfikir dengan mengingat-ingat hal menyenangkan yang sudah kudapatkan bulan ini, saat lampu berubah hijau berarti saatnya aku lebih berkonsentrasi pada orang-orang di jalanan. Kadang kegiatanku ini menambahi rasa syukur, dengan melihat apa yang tak mereka miliki, telah kudapatkan.
Bus memang tak pernah tak padat. Untung AC menyala dan penumpang dilarang merokok.
–
Jaket kesayanganku sudah tergantung rapi dan wangi pada pukul 7 malam di lemari. Aku tidak yakin ini kerjaan Isan. Pasti ibu.
“Terima kasih jaketnya” suara Isan mengagetkanku. Tumben dia manis.
“Iya, sama-sama, lain kali lo pamit dong kalo mau pakai barang-barang gue.” Kataku sok cuek.
“Iya, maaf ya.” Katanya lalu berjalan meninggalkanku.
Tumben dia gak jahil seperti biasa. Mana kata-kata “halah, jaket buluk jelek begitu doang aja disombongin” yang biasanya dia ucapkan?
Dadaku tiba-tiba sesak. Apa kata-kataku terlalu kasar? Padahal aku cuma pesan sama ibu lewat telfon:
“Aku mau pakai jaket malem ini, tolong dicuci dan digantung rapi. Sampaikan ke Isan ya bu”.
Menikah setahun dengan Isan, aku belum sekalipun disentuhnya. Bukan karena apa-apa, ini perjanjian kami sebelum nikah karena dijodohkan. Kami memutuskan untuk saling mencintai dulu sebelum tidur seranjang. Sebab itulah, kamar kamipun terpisah.
Isan yang musisi gaya hidupnya kelas atas dan sesuka hati. Berbanding jungkir balik bila dibandingkan aku yang cuma guru SMP. Jam kerja yang jauh berbeda tentu saja menjadikan kami menjadi sangat jarang berkomunikasi. Akupun heran mengapa ia mau menikah denganku, padahal banyak gadis lain jauh lebih gaya dan luar biasa cantik dijodohkan dengannya.
Tapi tingkahnya hari ini aneh. Aku mengetuk pintu kamarnya dan dia menyahut “masuk” dari dalam, seolah-olah ia tahu itu aku yang datang.
“Kamu tumben gak ngomel kaya biasanya?” Tanyaku langsung.
“Ah, biasa saja. Lagipula memang salahku.” Jawabnya datar.
“Oh, lagi bete ya?”Tanyaku menyelidik.
“Sotoy deh.” Katanya mulai sinis.
“Jelek lo kalo bete. Kenapa sih? Cerita kek..” Aku sedikit mencoba mencairkan suasana.
“Kira-kira kapan kamu mau mulai mencintai aku?” Katanya sambil serius menatapku.
Aku diam. Jadi batu.
“Woi, diem lagi lo!” Katanya mengagetkan.
“Aa..a a.. Aku mau ke toilet, kebelet..”Kataku buru-buru mau kabur. Tapi kalah cepat. Dia sudah menahan di depan pintu dan menutup dan menguncinya. Mati aku. Jantungku..
“Jawab dulu pertanyaanku..”Katanya memandang tajam ke wajahku.
“Kenapa aku harus menjawab? Memangnya kamu sudah mencintai aku?”Tanyaku mulai memberanikan diri.
“Malam ini kita kencan. Sekarang kau ganti bajumu yang cantik. Titik!” Katanya. Dan mendorongku keluar kamar.
HEY?? HELLOO??? Apa-apaan sih laki-laki satu ini? Memangnya siapa yang mau kencan dengannya? Aku sudah janji dengan Sasti, rekan guruku, untuk ikut undangan makan malam pak KepSek di rumahnya. Dan dia seenaknya membuat janji dadakan begini?? Bah !!
DOK!DOK!DOK! (Suara ketukan pintu sangat keras)
“Aku udah selesai, kutunggu di ruang tamu. 10 menit ya, gak usah dandan menor!” Suara Isan mengagetkan.
Buru-buru kutelepon Sasti dan dengan terpaksa memohon maaf berjuta kali karena membatalkan janji ketemu. Dan mengganti baju kerjaku dengan gaun merah kesayanganku. Gaun (yang anehnya) kupersiapkan sejak lama, kalau-kalau Isan mengajakku kencan.
***
Setengah jam kemudian kami tiba di restoran kecil, lampunya temaram. Kami duduk berhadapan di bangku empuk berwarna cokelat. Hening. Pesananku tiba-tiba sudah datang. Tapi darimana dia tahu aku suka jus mangga?
“Mau makan apa?” Katanya.
“Pesan aja duluan” kataku
“Saya pesan nasi goreng ikan asin, mbak. Yang pedes, ya.”Katanya pada mbak-mbak pelayan yang sibuk mencatat pesanan.
“Loh, kamu dukun ya? Aku mau pesan itu juga.” Kataku melotot kagum.
“Berarti dua, mbak. Nganternya nanti, kalau sudah saya bunyikan bel.” katanya kepada pelayan tanpa menggubris kata-kataku.
Kembali hening.
Close your eyes, give me your hand, darlin’, do you feel my heart beating, do you understand, do you feel the same, am I only dreaming, is this burning, an eternal flame
Lagu kesukaanku mengalun pelan di ruangan ini, selain jus mangga dan nasi goreng ikan asin, apa hal ini masih kebetulan juga? Di ruangan ini tidak ada siapa-siapa. Tertutup untuk kami berdua.
Aku sibuk pada ujung taplak meja yang menjuntai di atas rokku. Sesekali menyeruput jus dan mencuri pandang pada dia yang terus menatapku.
“Kamu gak bisa ya ngelihatnya ke wajahku?” Tanyanya ketus.
“Ih, ngapain ngeliatin kamu. Kaya cakep aja.” Jawabku. memang cakep sih kata hatiku.
Dia bangkit dan aku berusaha menjauh, tapi ia buru-buru menyambar kedua tanganku.
“Lihat aku!” Katanya merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Wajahnya dekat sekali. Sial. Aku harus segera punya dokter jantung pribadi. Tangannya tak lagi mencengkram tanganku. Tapi sudah memeluk pinggangku.
“Maaf aku memang tidak romantis. Tapi percayalah, aku sudah mencintaimu sejak pertama kau buatkan sarapan nasi gorengmu yang keasinan di hari pertama kita menikah dulu.”
“Juga saat aku menemukan gitarku tak lagi berdebu dan kamarku bersih sepulang konserku.”
“Lalu aku semakin mencintaimu ketika ulang tahunku kau berhasil mengundang papaku yang tak pernah mau pulang sejak perceraian mereka dulu.”
“Dan aku semakin tak bisa lagi menahan rasa untuk memelukmu. Karena semakin hari semakin aku mencintaimu. Sekarang aku bertanya, apakah kau sudah mencintaiku?” Tanyanya. Masih sambil memelukku.
“Aku mencintaimu meskipun kau jahil. Meskipun kau tak pernah bersikap manis dan tak pernah merayuku. Meskipun kau lupa hari ulang tahunku. Dan memberiku hadiah boneka jelek yang kau beli di supermarket seminggu setelahnya. Kau memang bajingan menyebalkan, tapi sialnya aku menyayangimu.” Jawabku.
Dia tersenyum, lalu tiba-tiba menciumku di bibir. Kami sedang begitu terbakar nafsu sampai tiba-tiba dia bilang:
“aku lapar. Nanti lanjut lagi ya.”
Dasar brengsek.
ditulis @ikavuje dalam http://eqoxa.wordpress.com
Showing posts with label Hari #16. Show all posts
Showing posts with label Hari #16. Show all posts
Monday, September 17, 2012
Ksatria Sepeda Kumbang
Kepada:
Seorang yang pernah tak sengaja mengetuk pintu hati dan mencium rasa yang telah menunggu lama hingga terbangunkan.
Hai Ksatria Sepeda Kumbang, apa kabar?
Sejalan dengan aku menulis ini, aku memikirkan, merindui dan tetap mengasihi kamu. Jika saja setelah pertemuan terakhir kita memutuskan untuk bersama, mungkin saat ini kita telah merayakan tahun ke tujuh bersatunya kita. Dan sampai saat ini, aku masih terjebak dalam proses memaafkan dan melupakan. Dua hal yang menurutku cukup berat, karena keduanya mengenai kamu.
Apa kabar sepeda kumbangmu? Menilik dari keadaanmu saat terakhir kita bertemu, aku sangsi ia masih tersimpan di pojok kadang Kambing yang kerap kau panggil Si Jago. Kamu ingat, tujuh tahun lalu kamu yang memanggil namaku di tengah keramaian kami yang selesai beribadah. Aku memicingkan mataku, berusaha menangkap sosok pria yang memanggilku dengan lebih jelas. Kamu mungkin bisa melihatku terpekik melonjak saat menyadari itu adalah kamu.
Pada saat itu, hanya Tuhan dan semesta yang tahu bahwa aku telah menemukan kembali cinta pertamaku.
Aku menanyakan kabarmu sambil mengguncangkan jabatan tanganmu kuat-kuat. Kamu bersembunyi dimana dalam rentang penantian panjangku? Kamu tidak tahu betapa rindunya aku. Kamu tertawa. Kamu begitu mempesona. Jerat yang berusaha menghidupkan rasa yang telah berhasil kupadamkan saat kembali kau bertanya "Lalu kita akan bagaimana?"
Kamu hanya tidak tahu, betapa sakit aku ketika sekali lagi aku harus meninggalkanmu. Entah aku masih waras atau kegilaan sudah menginvasi otakku. Meski aku begitu menyayangimu, namun sulit untuk ada kata KITA diakhir cerita.
Ksatria Sepeda Kumbang,
Aku mencari pembenaran dari keputusan yang sudah tertalak dari mulutku. Lalu aku kembali terdampar di sini. Di Pura Penataran Agung. Kembali ke tempat tujuh tahun lalu kita bersua. Kembali membuka paksa celah memori yang tanpa kusadari telah menganga.Tapi aku yakin, di sinilah jawabnya.
Sudah lama aku tidak beribadah di sini. Ah, mungkin saja saat ini Dewa Brahma sedang mengutuk aku atas segala kealpaan menghadapnya. Atau saat ini dewa Syiwa sedang mengincarku yang sewaktu-waktu lengah. Tapi apakah ini murni salahku?
Ksatria Sepeda Kumbang,
Saat pembenaran itu datang, hal yang paling aku harapkan adalah kehadiranmu di seberang undakan Pura. Sehingga dengan pasti aku bisa mengacungkan jari telunjukku mengarah pada dadamu. Ini semua salahmu.
Salahmu yang datang kembali setelah aku meninggalkanmu.
Salahmu yang tidak mau menerima bahwa kita tidak mungkin bersatu dalam tingkatan yang lebih tinggi dari sepasang sahabat.
Kamu tidak tahu aku telah berdoa untukmu kepada Tuhanku, jauh sebelum kita bertemu, tanpa tahu akan seperti apa Ia jadikan kamu. Aku mohon kepada Tuhanku untuk memberikan aku teman yang bisa aku sebut sebagai sahabat. Seseorang yang ia pilih hanya untukku. Seseorang yang dengan kelembutan hati dan kebijaksanaannya bisa membantuku dan membimbingku melewati masa-masa suram atau sulitku.
Dulu aku lebih suka sendiri. Aku begitu takut untuk terlalu menyayangi dan memiiki seorang teman. Aku lebih memilih untuk membiarkan diriku pergi, daripada menyakiti. Tapi kamu tahu? Aku sungguh memerlukan seseorang. Hanya sekedar untuk mendengarkan saat aku berkisah. Seeorang yang tidak akan memicingkan mata, menyudutkan senyumnya, atau memberikan penilaian tanpa aku pinta. Seseorang yang akan mau repot “menangkap” ketika aku terjatuh. Dan tanpa sungkan aku pun akan melakukan hal yang sama.
Lalu kamu sungguh-sungguh datang.
Tuhanku memberikan lebih dari apa yang aku pinta. Karena kemudian ia mengirimkan kamu sebagai jawabannya. Tapi lagi-lagi aku takut. Karena mereka berkata bahwa persahabatan sejati itu tidak ada. Sesuatu yang hanya bisa dimimpikan untuk menjelma.
Apakah kamu menyadari bahwa ikatan yang terjadi antara kita begitu istimewa? Ia unik dengan cara kita yang sederhana. Sebuah ikatan yang mungkin tidak akan tergantikan. Dan akan semakin kuat seiring waktu berjalan. Ya, kita sudah melewatinya bersama. Meski baru seujung jengkal waktu yang ada di belakang kita. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Semua masa dimana kamu menunjukkan rasa perdulimu yang tidak terhingga.
Kamu tahu saat pertama Tuhanmu dan Tuhanku saling bertemu dalam wujud kita? Saat itu kita begitu malu-malu dalam seragam putih biru. Bahkan hanya untuk sekadar menyapa di gerbang Pura.
Aku ingat beberapa waktu kemudian kita tertawa mengenang saat pertama kita berjumpa. Ya, kita tertawa sampai meneteskan air mata. Lalu kita berkata semoga persahabatan kita akan selamanya. Semoga semakin kuat ikatan yang kita punya. Oh, aku sangat menyukai cara kau menyukaiku. Dan aku tidak bisa berterimakasih dengan cukup untuk menggantikan berkah yang menghampiriku.
Lalu kita berjanji bahwa kisah kita akan tetap tumbuh, seiring waktu berjalan. Karena aku sudah meletakkan kepercayaan atasmu, bahwa semuanya akan baik-baik saja dalam perjalanan pertemanan kita.
Lalu kita saling bertanya, Maukah kamu berjanji kita akan tetap begitu? Tetap bersahabat sampai waktu menghilang perlahan dalam catatan sejarah manusia?
Lalu kita menautkan kelingking satu sama lain.
Dan dari semenjak itu aku harus menepikan semua rasa padamu. Rasa yang tak biasa. Rasa yang tak seharusnya.
Ah Ksatria Sepeda Kumbang, mengapa harus kamu? Mengapa harus terjadi pada kita?
“Aku ingin kamu tahu. Aku sayang padamu.” Ucapmu tujuh tahun lalu saat kembali kita bertemu di Pura Basukian.
Dan aku tahu, itu adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengakhirinya. Karena jauh di dalam hatiku, aku merasakan hal yang sama. Sejak pertama kita berjumpa.
Maafkan aku. Ternyata ini bukan salahmu.
Adalah telunjukku, yang seharusnya mengarah dalam-dalam ke jantungku. Dan berharap ia tak pernah mengenal rasa yang berbeda selain persahabatan yang murni.
Tapi ia tidak bisa.
Jadi di sinilah aku, di tempat pertama kita bertemu. Dengan satu tekad yang bulat. Memaksa semua sinaps dalam otakku, tak lagi saling terhubung jika aku diingatkan kembali oleh sosokmu.
Terima kasih sudah memberikan begitu banyak kenangan manis di masa putih biruku. Terima kasih pula telah datang kembali tujuh tahun yang lalu. Namun yang terbaik adalah ini.
Selamat tinggal Ksatria Sepeda Kumbang.
Puteri Bebek Betutu.
Now Playing IF YOU"RE NOT THE ONE - Daniel Bedingfeld
I don't want to run away but I can't take it,
I don't understand,
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way I can stay in your arms?
ditulis @I_am_BOA dalam http://auntybety.blogspot.com
Seorang yang pernah tak sengaja mengetuk pintu hati dan mencium rasa yang telah menunggu lama hingga terbangunkan.
Hai Ksatria Sepeda Kumbang, apa kabar?
Sejalan dengan aku menulis ini, aku memikirkan, merindui dan tetap mengasihi kamu. Jika saja setelah pertemuan terakhir kita memutuskan untuk bersama, mungkin saat ini kita telah merayakan tahun ke tujuh bersatunya kita. Dan sampai saat ini, aku masih terjebak dalam proses memaafkan dan melupakan. Dua hal yang menurutku cukup berat, karena keduanya mengenai kamu.
Apa kabar sepeda kumbangmu? Menilik dari keadaanmu saat terakhir kita bertemu, aku sangsi ia masih tersimpan di pojok kadang Kambing yang kerap kau panggil Si Jago. Kamu ingat, tujuh tahun lalu kamu yang memanggil namaku di tengah keramaian kami yang selesai beribadah. Aku memicingkan mataku, berusaha menangkap sosok pria yang memanggilku dengan lebih jelas. Kamu mungkin bisa melihatku terpekik melonjak saat menyadari itu adalah kamu.
Pada saat itu, hanya Tuhan dan semesta yang tahu bahwa aku telah menemukan kembali cinta pertamaku.
Aku menanyakan kabarmu sambil mengguncangkan jabatan tanganmu kuat-kuat. Kamu bersembunyi dimana dalam rentang penantian panjangku? Kamu tidak tahu betapa rindunya aku. Kamu tertawa. Kamu begitu mempesona. Jerat yang berusaha menghidupkan rasa yang telah berhasil kupadamkan saat kembali kau bertanya "Lalu kita akan bagaimana?"
Kamu hanya tidak tahu, betapa sakit aku ketika sekali lagi aku harus meninggalkanmu. Entah aku masih waras atau kegilaan sudah menginvasi otakku. Meski aku begitu menyayangimu, namun sulit untuk ada kata KITA diakhir cerita.
Ksatria Sepeda Kumbang,
Aku mencari pembenaran dari keputusan yang sudah tertalak dari mulutku. Lalu aku kembali terdampar di sini. Di Pura Penataran Agung. Kembali ke tempat tujuh tahun lalu kita bersua. Kembali membuka paksa celah memori yang tanpa kusadari telah menganga.Tapi aku yakin, di sinilah jawabnya.
Sudah lama aku tidak beribadah di sini. Ah, mungkin saja saat ini Dewa Brahma sedang mengutuk aku atas segala kealpaan menghadapnya. Atau saat ini dewa Syiwa sedang mengincarku yang sewaktu-waktu lengah. Tapi apakah ini murni salahku?
Ksatria Sepeda Kumbang,
Saat pembenaran itu datang, hal yang paling aku harapkan adalah kehadiranmu di seberang undakan Pura. Sehingga dengan pasti aku bisa mengacungkan jari telunjukku mengarah pada dadamu. Ini semua salahmu.
Salahmu yang datang kembali setelah aku meninggalkanmu.
Salahmu yang tidak mau menerima bahwa kita tidak mungkin bersatu dalam tingkatan yang lebih tinggi dari sepasang sahabat.
Kamu tidak tahu aku telah berdoa untukmu kepada Tuhanku, jauh sebelum kita bertemu, tanpa tahu akan seperti apa Ia jadikan kamu. Aku mohon kepada Tuhanku untuk memberikan aku teman yang bisa aku sebut sebagai sahabat. Seseorang yang ia pilih hanya untukku. Seseorang yang dengan kelembutan hati dan kebijaksanaannya bisa membantuku dan membimbingku melewati masa-masa suram atau sulitku.
Dulu aku lebih suka sendiri. Aku begitu takut untuk terlalu menyayangi dan memiiki seorang teman. Aku lebih memilih untuk membiarkan diriku pergi, daripada menyakiti. Tapi kamu tahu? Aku sungguh memerlukan seseorang. Hanya sekedar untuk mendengarkan saat aku berkisah. Seeorang yang tidak akan memicingkan mata, menyudutkan senyumnya, atau memberikan penilaian tanpa aku pinta. Seseorang yang akan mau repot “menangkap” ketika aku terjatuh. Dan tanpa sungkan aku pun akan melakukan hal yang sama.
Lalu kamu sungguh-sungguh datang.
Tuhanku memberikan lebih dari apa yang aku pinta. Karena kemudian ia mengirimkan kamu sebagai jawabannya. Tapi lagi-lagi aku takut. Karena mereka berkata bahwa persahabatan sejati itu tidak ada. Sesuatu yang hanya bisa dimimpikan untuk menjelma.
Apakah kamu menyadari bahwa ikatan yang terjadi antara kita begitu istimewa? Ia unik dengan cara kita yang sederhana. Sebuah ikatan yang mungkin tidak akan tergantikan. Dan akan semakin kuat seiring waktu berjalan. Ya, kita sudah melewatinya bersama. Meski baru seujung jengkal waktu yang ada di belakang kita. Tapi aku tidak akan pernah lupa. Semua masa dimana kamu menunjukkan rasa perdulimu yang tidak terhingga.
Kamu tahu saat pertama Tuhanmu dan Tuhanku saling bertemu dalam wujud kita? Saat itu kita begitu malu-malu dalam seragam putih biru. Bahkan hanya untuk sekadar menyapa di gerbang Pura.
Aku ingat beberapa waktu kemudian kita tertawa mengenang saat pertama kita berjumpa. Ya, kita tertawa sampai meneteskan air mata. Lalu kita berkata semoga persahabatan kita akan selamanya. Semoga semakin kuat ikatan yang kita punya. Oh, aku sangat menyukai cara kau menyukaiku. Dan aku tidak bisa berterimakasih dengan cukup untuk menggantikan berkah yang menghampiriku.
Lalu kita berjanji bahwa kisah kita akan tetap tumbuh, seiring waktu berjalan. Karena aku sudah meletakkan kepercayaan atasmu, bahwa semuanya akan baik-baik saja dalam perjalanan pertemanan kita.
Lalu kita saling bertanya, Maukah kamu berjanji kita akan tetap begitu? Tetap bersahabat sampai waktu menghilang perlahan dalam catatan sejarah manusia?
Lalu kita menautkan kelingking satu sama lain.
Dan dari semenjak itu aku harus menepikan semua rasa padamu. Rasa yang tak biasa. Rasa yang tak seharusnya.
Ah Ksatria Sepeda Kumbang, mengapa harus kamu? Mengapa harus terjadi pada kita?
“Aku ingin kamu tahu. Aku sayang padamu.” Ucapmu tujuh tahun lalu saat kembali kita bertemu di Pura Basukian.
Dan aku tahu, itu adalah saat yang tepat bagi kita untuk mengakhirinya. Karena jauh di dalam hatiku, aku merasakan hal yang sama. Sejak pertama kita berjumpa.
Maafkan aku. Ternyata ini bukan salahmu.
Adalah telunjukku, yang seharusnya mengarah dalam-dalam ke jantungku. Dan berharap ia tak pernah mengenal rasa yang berbeda selain persahabatan yang murni.
Tapi ia tidak bisa.
Jadi di sinilah aku, di tempat pertama kita bertemu. Dengan satu tekad yang bulat. Memaksa semua sinaps dalam otakku, tak lagi saling terhubung jika aku diingatkan kembali oleh sosokmu.
Terima kasih sudah memberikan begitu banyak kenangan manis di masa putih biruku. Terima kasih pula telah datang kembali tujuh tahun yang lalu. Namun yang terbaik adalah ini.
Selamat tinggal Ksatria Sepeda Kumbang.
Puteri Bebek Betutu.
Now Playing IF YOU"RE NOT THE ONE - Daniel Bedingfeld
I don't want to run away but I can't take it,
I don't understand,
If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way I can stay in your arms?
ditulis @I_am_BOA dalam http://auntybety.blogspot.com
Boleh Aku Berkenalan?
Boleh Aku Berkenalan??
Perjodohan itu menurutku hal mengesalkan selain menunggu di ruang praktik dokter saat badan sedang nggreges. Alasannya sederhana. Ini bukan lagi tentang memilihkan baju atau kolor saat aku cuma bisa menetek pasrah. Ini tentang kehidupanku. Aku yang menjalaninya hari ini dan kelak. Seharusnya sudah cukup jelas bagi mereka untuk menghormatinya. Bukan justru memaksakan ukuran dan standardnya padaku. Sudah lama aku tidak sreg dengan pilihan mereka. Sejak aku duduk di bangku SMP, aku sudah berniat akan menolak. Tapi saat itu aku masih terlalu kecil. Alasan apapun akan dianggap tak logis. Kuakui saat itu keberanianku pun masih seujung kuku untuk mengambil keputusan besar.
“Biarlah Along cari sendiri, Mah. Along sudah dewasa. Tua malah. Tak perlu lagi Mamah dan Bapak mengarahkan Along harus ikut ini atau ikut itu. Mamah repot sendiri, Along belum tentu suka,” kataku suatu hari.
“Siapa bilang kami repot, Nak?? Kami tidak merasa repot. Kami cuma meneruskan. Ini sudah tradisi. Sebagai garis keluarga, kau tidak akan melanggarnya bukan?? Kau tidak akan durhaka pada Mamahmu ini kan??”
Selalu begitu. Alasan klise yang diulang-ulang. Apa hubungannya antara tradisi dan durhaka kepada orang tua?? Apa iya harus tetap melanjutkan tradisi jika sudah tak lagi baik untuk kehidupan sendiri?? Kaku. Keluarga ini tak siap pemikiranku berubah.
Karena sudah tak tahan lagi, aku memutuskan melakukan pencarian ini sendiri. Yang jelas aku tak bisa menerima apapun alasan perjodohan ini. Dengan hanya berbekal backpack besar, aku keluar dari rumah. Pecah tangis Mamah ketika itu. Anak lelaki tertuanya berani melawannya. Sedang Bapak terlihat marah meski diam. Adik-adik kecilku ikutan menangis melihat Mamahnya menangis. Segera kupalingkan punggung. Tekad ini sudah tak terbendung.
-
Kudatangi acara ceramah demi ceramah. Kuikuti tiap ritual yang kutemui di perjalananku. Aku mau menemukan apa yang mereka cintai, kemudian aku belajar mencintainya pula. Aku berusaha mendekatkan diri ini pada apa yang membuat mereka terikat. Kujelajahi tempat-tempat yang orang bilang sakral. Namun aku masih belum puas. Rindu ini masih belum menemukan pemiliknya.
Hingga kemudian kurasakan pencarian ini sudah sampai batasnya. Dua tahun delapan bulan sudah aku buang-buang waktu. Hati ini tetap tak menemukan pautan. Kosong, hampa, tak ada cinta. Seketika terbayang wajah Mamah dan Bapakku dengan raut memandangku kasihan. Ah, apakah ini berarti aku harus menerima perjodohan itu?? Tapi ini adalah hidupku. Apa aku bisa menjalani hidup dengan pilihan keyakinan dari orang lain?? Aku pusing. Kurasakan leherku seketika menegang. Rasa kesal, marah, putus asa, dan lapar ini akhirnya membuatku pingsan.
Saat aku sadar, kutemukan aku tengah berbaring di atas tumpukan kardus dekil. Kepala ini masih pusing, pandanganku masih berputar-putar. Kulihat seekor kecoa melintasi betisku. Sebelum tanganku sempat mengusirnya, seorang bocah sudah menangkapnya duluan lalu membuang ke luar.
“Abang udah bangun?? Minum dulu, Bang,” disodorkannya segelas air putih padaku. Aku kemudian duduk. Kuminum air itu tanpa rasa curiga. Saat dia masuk ke dalam, ku amati tempatku kini berada. Sebuah bedeng kumuh dari kardus-kardus yang disusun. Tidak ada tembok batu-bata. Semuanya kertas. Aku mulai menebak aku ada di mana dan bersama siapa.
Bocah itu kembali lagi. Kali ini dia membawa semangkok bakso.
“Abang, makan dulu. Kami cuma punya ini. Abang makanlah biar sehat,” katanya ramah. Tubuhnya dekil. Hitam dekil. Kurasa dia ini pemulung. Seorang bocah lain yang lebih kecil ada di belakangnya dan menatapku polos. Saat kutatap dia balik, dia tersenyum. Aku balas senyum.
“Abang mau kemana?? Abang tadi pingsan. Aku yang bawa Abang kesini. Maaf tapi tadi Abang aku seret. Nggak ada orang yang bisa dimintain tolong,” katanya.
“Makasih ya. Siapa namamu??”
“Rizal. Ini adik saya, Marwa.”
“Teddy. Orang tua kalian ada??”
“Enggak, Bang. Udah mati pas ikutan demo nolak digusur,” katanya enteng.
“Abang makan baksonya gih. Nanti keburu dingin. Kami sholat dulu ya Bang.” Kemudian aku ditinggalkannya masuk ke dalam. Kupandangi bakso yang sudah menjadi hangat ini. Kerucuuukkk…….perut ini memang jujur. Kumakan dengan lahapnya. Tak sampai lima menit bakso itu sudah ludes kumakan.
Kudengar suara denting sendok beradu dengan piring dari dalam. Mereka sedang makan, batinku. Aku berniat mengembalikan mangkok ini dan mencucinya. Aku harus tahu diri sebagai tamu. Kuberanikan diri untuk melongok ke dalam. Tirai tipis dari kain kafan yang sudah tidak putih lagi ini kusibak sedikit. Bisa kulihat kedua kakak beradik ini sedang duduk di atas kardus. Di hadapannya ada piring dan sendok yang…….kosong. Kuperhatikan dengan lebih seksama. Piring itu kosong dan bersih. Tidak ada sisa makanan apapun di dalamnya. Rizal dan Marwapun tak terlihat seperti sedang mengunyah. Aku bingung. Apa mereka sedang melakukan sebuah ritual?? Ritual apa??
“Kalian sudah makan??” kataku. Rizal tampak kaget.
“Euh…ss…sudah Bang.”
Kudekati mereka dan mengangkat piring yang ada di hadapan Rizal.
“Ini kan piring bersih. Mana?? Nggak ada bekas makanan sedikitpun. Kalian makan apa tadi??”
Keduanya tampak kebingungan. Rizal menunduk tak berani melihatku. Sedang adiknya, Marwa bersembunyi di balik badan kakaknya.
“Boleh kutahu kalian tadi sedang apa?? Kenapa memukul-mukul piring dengan sendok??”
Agak lama suasana bedeng ini menjadi sepi hingga kemudian Rizal menjawab.”
“Maaf Bang. Kami….kami terpaksa begitu. Uang kami cuma cukup buat beli semangkok bakso buat Abang tadi.”
“Kenapa tidak bilang?? Kenapa repot begitu??” kataku kaget. Mereka diam. Ah kenapa pula aku marahi mereka. Mereka pasti cuma ingin berbuat baik.
“Lalu kenapa memukul piring dengan sendok??”
“Kata Emak dulu, kalo kami kedatangan tamu lalu kami cuma punya makanan cukup buat kami maka kami harus memberikannya pada tamu. Lalu kami akan pura-pura makan biar tamunya nggak merasa nggak enak hati, Bang. Emak juga bilang, kami nggak usah khawatir nggak bisa makan. Tuhan pasti ngasih gantinya.”
Seketika aku seperti dilolosi seluruh tulang sendiku. Jantungku berdetak kencang. Aku meneteskan air mata haru. Sekelibat otakku memutarkan cerita Ibrahim yang akhirnya menemukan apa yang dia cari.
“Boleh aku berkenalan dengan Tuhan kalian??”
Di hadapan anak-anak kecil ini, aku mengucapkan cinta untuk pertama kalinya.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku
Hanya diriMu yang bisa membuatku tenang….”
ditulis @ildesperados dalam http://whatthehhh.tumblr.com
Perjodohan itu menurutku hal mengesalkan selain menunggu di ruang praktik dokter saat badan sedang nggreges. Alasannya sederhana. Ini bukan lagi tentang memilihkan baju atau kolor saat aku cuma bisa menetek pasrah. Ini tentang kehidupanku. Aku yang menjalaninya hari ini dan kelak. Seharusnya sudah cukup jelas bagi mereka untuk menghormatinya. Bukan justru memaksakan ukuran dan standardnya padaku. Sudah lama aku tidak sreg dengan pilihan mereka. Sejak aku duduk di bangku SMP, aku sudah berniat akan menolak. Tapi saat itu aku masih terlalu kecil. Alasan apapun akan dianggap tak logis. Kuakui saat itu keberanianku pun masih seujung kuku untuk mengambil keputusan besar.
“Biarlah Along cari sendiri, Mah. Along sudah dewasa. Tua malah. Tak perlu lagi Mamah dan Bapak mengarahkan Along harus ikut ini atau ikut itu. Mamah repot sendiri, Along belum tentu suka,” kataku suatu hari.
“Siapa bilang kami repot, Nak?? Kami tidak merasa repot. Kami cuma meneruskan. Ini sudah tradisi. Sebagai garis keluarga, kau tidak akan melanggarnya bukan?? Kau tidak akan durhaka pada Mamahmu ini kan??”
Selalu begitu. Alasan klise yang diulang-ulang. Apa hubungannya antara tradisi dan durhaka kepada orang tua?? Apa iya harus tetap melanjutkan tradisi jika sudah tak lagi baik untuk kehidupan sendiri?? Kaku. Keluarga ini tak siap pemikiranku berubah.
Karena sudah tak tahan lagi, aku memutuskan melakukan pencarian ini sendiri. Yang jelas aku tak bisa menerima apapun alasan perjodohan ini. Dengan hanya berbekal backpack besar, aku keluar dari rumah. Pecah tangis Mamah ketika itu. Anak lelaki tertuanya berani melawannya. Sedang Bapak terlihat marah meski diam. Adik-adik kecilku ikutan menangis melihat Mamahnya menangis. Segera kupalingkan punggung. Tekad ini sudah tak terbendung.
-
Kudatangi acara ceramah demi ceramah. Kuikuti tiap ritual yang kutemui di perjalananku. Aku mau menemukan apa yang mereka cintai, kemudian aku belajar mencintainya pula. Aku berusaha mendekatkan diri ini pada apa yang membuat mereka terikat. Kujelajahi tempat-tempat yang orang bilang sakral. Namun aku masih belum puas. Rindu ini masih belum menemukan pemiliknya.
Hingga kemudian kurasakan pencarian ini sudah sampai batasnya. Dua tahun delapan bulan sudah aku buang-buang waktu. Hati ini tetap tak menemukan pautan. Kosong, hampa, tak ada cinta. Seketika terbayang wajah Mamah dan Bapakku dengan raut memandangku kasihan. Ah, apakah ini berarti aku harus menerima perjodohan itu?? Tapi ini adalah hidupku. Apa aku bisa menjalani hidup dengan pilihan keyakinan dari orang lain?? Aku pusing. Kurasakan leherku seketika menegang. Rasa kesal, marah, putus asa, dan lapar ini akhirnya membuatku pingsan.
Saat aku sadar, kutemukan aku tengah berbaring di atas tumpukan kardus dekil. Kepala ini masih pusing, pandanganku masih berputar-putar. Kulihat seekor kecoa melintasi betisku. Sebelum tanganku sempat mengusirnya, seorang bocah sudah menangkapnya duluan lalu membuang ke luar.
“Abang udah bangun?? Minum dulu, Bang,” disodorkannya segelas air putih padaku. Aku kemudian duduk. Kuminum air itu tanpa rasa curiga. Saat dia masuk ke dalam, ku amati tempatku kini berada. Sebuah bedeng kumuh dari kardus-kardus yang disusun. Tidak ada tembok batu-bata. Semuanya kertas. Aku mulai menebak aku ada di mana dan bersama siapa.
Bocah itu kembali lagi. Kali ini dia membawa semangkok bakso.
“Abang, makan dulu. Kami cuma punya ini. Abang makanlah biar sehat,” katanya ramah. Tubuhnya dekil. Hitam dekil. Kurasa dia ini pemulung. Seorang bocah lain yang lebih kecil ada di belakangnya dan menatapku polos. Saat kutatap dia balik, dia tersenyum. Aku balas senyum.
“Abang mau kemana?? Abang tadi pingsan. Aku yang bawa Abang kesini. Maaf tapi tadi Abang aku seret. Nggak ada orang yang bisa dimintain tolong,” katanya.
“Makasih ya. Siapa namamu??”
“Rizal. Ini adik saya, Marwa.”
“Teddy. Orang tua kalian ada??”
“Enggak, Bang. Udah mati pas ikutan demo nolak digusur,” katanya enteng.
“Abang makan baksonya gih. Nanti keburu dingin. Kami sholat dulu ya Bang.” Kemudian aku ditinggalkannya masuk ke dalam. Kupandangi bakso yang sudah menjadi hangat ini. Kerucuuukkk…….perut ini memang jujur. Kumakan dengan lahapnya. Tak sampai lima menit bakso itu sudah ludes kumakan.
Kudengar suara denting sendok beradu dengan piring dari dalam. Mereka sedang makan, batinku. Aku berniat mengembalikan mangkok ini dan mencucinya. Aku harus tahu diri sebagai tamu. Kuberanikan diri untuk melongok ke dalam. Tirai tipis dari kain kafan yang sudah tidak putih lagi ini kusibak sedikit. Bisa kulihat kedua kakak beradik ini sedang duduk di atas kardus. Di hadapannya ada piring dan sendok yang…….kosong. Kuperhatikan dengan lebih seksama. Piring itu kosong dan bersih. Tidak ada sisa makanan apapun di dalamnya. Rizal dan Marwapun tak terlihat seperti sedang mengunyah. Aku bingung. Apa mereka sedang melakukan sebuah ritual?? Ritual apa??
“Kalian sudah makan??” kataku. Rizal tampak kaget.
“Euh…ss…sudah Bang.”
Kudekati mereka dan mengangkat piring yang ada di hadapan Rizal.
“Ini kan piring bersih. Mana?? Nggak ada bekas makanan sedikitpun. Kalian makan apa tadi??”
Keduanya tampak kebingungan. Rizal menunduk tak berani melihatku. Sedang adiknya, Marwa bersembunyi di balik badan kakaknya.
“Boleh kutahu kalian tadi sedang apa?? Kenapa memukul-mukul piring dengan sendok??”
Agak lama suasana bedeng ini menjadi sepi hingga kemudian Rizal menjawab.”
“Maaf Bang. Kami….kami terpaksa begitu. Uang kami cuma cukup buat beli semangkok bakso buat Abang tadi.”
“Kenapa tidak bilang?? Kenapa repot begitu??” kataku kaget. Mereka diam. Ah kenapa pula aku marahi mereka. Mereka pasti cuma ingin berbuat baik.
“Lalu kenapa memukul piring dengan sendok??”
“Kata Emak dulu, kalo kami kedatangan tamu lalu kami cuma punya makanan cukup buat kami maka kami harus memberikannya pada tamu. Lalu kami akan pura-pura makan biar tamunya nggak merasa nggak enak hati, Bang. Emak juga bilang, kami nggak usah khawatir nggak bisa makan. Tuhan pasti ngasih gantinya.”
Seketika aku seperti dilolosi seluruh tulang sendiku. Jantungku berdetak kencang. Aku meneteskan air mata haru. Sekelibat otakku memutarkan cerita Ibrahim yang akhirnya menemukan apa yang dia cari.
“Boleh aku berkenalan dengan Tuhan kalian??”
Di hadapan anak-anak kecil ini, aku mengucapkan cinta untuk pertama kalinya.
“Kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku
Hanya diriMu yang bisa membuatku tenang….”
ditulis @ildesperados dalam http://whatthehhh.tumblr.com
Transparan
Aku mengamatimu saat kamu tengah mencecap kopi hitam yang masih mengepul. Wajahmu masih sama, wajah yang selalu kurindukan sedari awal kita bertemu. Mereka bilang ini adalah cinta pertama. Dan dulu kubilang itu adalah omong kosong. Tapi sejak hal magis itu terjadi, bayanganmu selalu berlarian tanpa henti dalam kepalaku.
Seperti saat ini. Aku mengamatimu di dalam sebuah kedai kopi sedang duduk melamun memandang keluar jendela. Menunggu seseorang? Mungkin iya. Walaupun dari bibirmu tidak terucap apapun, aku bisa melihat kalau kamu sedang menunggu.
Menungguku? Aku ingin sekali kamu menjawabnya sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi aku tetap diam. Tidak ingin suaraku ataupun keberadaanku membuyarkan lamunanmu.
Seorang pelayan perempuan mendekati mejamu, dia membawakan sepiring pancake dengan tambahan sirup maple seperti kesukaanmu ke hadapanmu. Kamu mengucapkan terima kasih pada perempuan itu lalu kembali menekuni kegiatan yang tadi terputus.
Aku melihat pelayan wanita tadi menyimpan baki di sebelah meja kasir lalu mendekati temannya.
“Kasian ya dia. Ganteng padahal, tapi terus saja gak bisa lupa sama mantan pacarnya.”
“Loh, kok loe tahu?” Selidik kasir kedai kopi itu.
“Lu gak tahu sih ceritanya karena belum bekerja di sini. Dulu dia sama mantannya itu sering ke sini. Kalau lihat mereka, jelas ngiri banget gue. Mesra banget dan cowoknya romantis banget.”
“Terus suatu hari, mereka bertengkar hebat di kedai ini. Sampai-sampai semua pengunjung mendengar. Yang perempuan lari keluar kedai sambil menangis, padahal di luar hujan lebat. Lalu gak lama dari itu, terdengar suara tabrakan beruntun. Perempuan itu tertabrak oleh sebuah truk yang berisi bahan makanan dan langsung meninggal di tempat.”
“Nah sejak saat itu, laki-laki itu selalu ke sini di hari perempuan itu meninggal. Setiap minggu selama 6 bulan ini.” Jelas pelayan itu panjang lebar.
Terdengar nada terkesiap dari teman kasirnya. “Kasian ya…”
Mereka hanya mengangguk lalu kemudian diam tak mau berkata-kata lagi.
Aku menghela nafas panjang.
Fathur, ternyata kamu masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Jika saja aku bisa berada di sampingmu saat ini.
Aku berjalan pelan menuju mejamu. Berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun.
Aku kemudian dan kini duduk di hadapanmu. Tapi kamu masih terus saja melamun menatap jalanan di luar sana. Seakan-akan aku tak terlihat lagi. Seakan-akan aku transparan.
Aku menyentuh tanganmu. Tapi tanganku kini tak bisa menangkap ragamu. Air mata yang sedari tadi kutahan, kini mulai melesak keluar dengan deras.
Fathur, aku ada di sini. Delia yang kamu tunggu. Delia yang kamu rindukan. Aku cinta kamu. Dari awal, sekarang, dan selamanya.
ditulis @alizarinnn dalam http://myalizarin.wordpress.com
Seperti saat ini. Aku mengamatimu di dalam sebuah kedai kopi sedang duduk melamun memandang keluar jendela. Menunggu seseorang? Mungkin iya. Walaupun dari bibirmu tidak terucap apapun, aku bisa melihat kalau kamu sedang menunggu.
Menungguku? Aku ingin sekali kamu menjawabnya sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi aku tetap diam. Tidak ingin suaraku ataupun keberadaanku membuyarkan lamunanmu.
Seorang pelayan perempuan mendekati mejamu, dia membawakan sepiring pancake dengan tambahan sirup maple seperti kesukaanmu ke hadapanmu. Kamu mengucapkan terima kasih pada perempuan itu lalu kembali menekuni kegiatan yang tadi terputus.
Aku melihat pelayan wanita tadi menyimpan baki di sebelah meja kasir lalu mendekati temannya.
“Kasian ya dia. Ganteng padahal, tapi terus saja gak bisa lupa sama mantan pacarnya.”
“Loh, kok loe tahu?” Selidik kasir kedai kopi itu.
“Lu gak tahu sih ceritanya karena belum bekerja di sini. Dulu dia sama mantannya itu sering ke sini. Kalau lihat mereka, jelas ngiri banget gue. Mesra banget dan cowoknya romantis banget.”
“Terus suatu hari, mereka bertengkar hebat di kedai ini. Sampai-sampai semua pengunjung mendengar. Yang perempuan lari keluar kedai sambil menangis, padahal di luar hujan lebat. Lalu gak lama dari itu, terdengar suara tabrakan beruntun. Perempuan itu tertabrak oleh sebuah truk yang berisi bahan makanan dan langsung meninggal di tempat.”
“Nah sejak saat itu, laki-laki itu selalu ke sini di hari perempuan itu meninggal. Setiap minggu selama 6 bulan ini.” Jelas pelayan itu panjang lebar.
Terdengar nada terkesiap dari teman kasirnya. “Kasian ya…”
Mereka hanya mengangguk lalu kemudian diam tak mau berkata-kata lagi.
Aku menghela nafas panjang.
Fathur, ternyata kamu masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Jika saja aku bisa berada di sampingmu saat ini.
Aku berjalan pelan menuju mejamu. Berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun.
Aku kemudian dan kini duduk di hadapanmu. Tapi kamu masih terus saja melamun menatap jalanan di luar sana. Seakan-akan aku tak terlihat lagi. Seakan-akan aku transparan.
Aku menyentuh tanganmu. Tapi tanganku kini tak bisa menangkap ragamu. Air mata yang sedari tadi kutahan, kini mulai melesak keluar dengan deras.
Fathur, aku ada di sini. Delia yang kamu tunggu. Delia yang kamu rindukan. Aku cinta kamu. Dari awal, sekarang, dan selamanya.
ditulis @alizarinnn dalam http://myalizarin.wordpress.com
Buku Memori
Aku bukan penulis kelas kakap, begitupun kamu. Cuma penyair kelas kutu. Hanya dua onggok makhluk berakal yang sok-sokan mengarang buku, bertahun-tahun yang lalu.
Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.
Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.
Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.
Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap perlengkapan musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.
Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.
Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.
Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.
Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.
Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis
Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.
Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.
Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya.
Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?
I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard
I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories
#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You
Well, memories is the best book ever in human's history.
ditulis @heykandela dalam http://ceritahujancandella.blogspot.com
Bukunya pun sudah berdebu. Berada di tumpukan terbawah brankas pribadi dalam perpustakaan otakmu. Aku pernah menitipkannya padamu, aku ingat persis. Aku memberikannya ketika hujan tiba, dimana tetesan air itu sangat identik denganku. Dan kamu memberikanku pelukan virtual, yang hanya bisa disimbolkan dengan kedipan mata. Aku bisa membaca pertanda tanpa kau sebut dengan bicara, tenang saja.
Buku itu punya banyak cerita. Tentang aku yang bertindak bodoh, dan kamu yang menanggapi kebodohanku dengan aneh.
Tentang aku yang percaya bahwa aku adalah makhluk Planet Hujan. Bahwa aku turun ke muka Bumi sebagai utusan rindu dari Langit, yang tak bisa bersama karena kasta.
Tentang kamu yang mempercayai perkataanku itu, mendatangi rumahku dengan kostum lengkap perlengkapan musim hujan – mantel dan payung kuning – di kala matahari sedang terik-teriknya. Kamu tahu kalau bertemu denganku, hujan akan mampir dalam duniamu. Dasar bodoh.
Tentang aku yang bertemu denganmu di kala hujan tiba. Dan kamu yang merekam kejadian itu jelas dalam ingatanmu.
Tentang aku yang senang melihat angkasa. Tentang kamu yang menyukai rangkaian konstelasi di atas sana. Tentang tribun yang menjadi saksi bincang hangat kita tentang alam semesta.
Kemudian, aku dan kamu, perlahan beranjak menjadi diksi “kita” tanpa banyak tanya.
Tentang aku yang bergumul dengan semua konflik batinku. Tentang kamu yang selalu mendengarkan semua benang kusut yang menjelimet dalam sudut hatiku.
Tentang aku yang selalu menangis. Tentang kamu yang selalu menenangkan gerombolan air mataku itu dengan senyuman manis
Tentang waktu yang tak pernah menghapus kamu. Tentang masa yang tak bisa menyapu kita.
Tentang sebuah rasa, yang tak pernah bisa dilafalkan dengan kata.
Dan kamu bisa menemukan nama kita – aku dan kamu – tergurat rapi di atas sampulnya.
Apakabar buku itu, hey kamu? Masihkah berdebu? Masihkah berada di tumpukan terbawah lemarimu?
I'm so tired but I can't sleep
Standin' on the edge of something much to deep
It's funny how we feel so much but we cannot say a word
We are screaming inside, but we can't be heard
I will remember you, will you remember me?
Don't let your life pass you by
Weep not for the memories
#nowplaying Sarah McLachlan – I Will Remember You
Well, memories is the best book ever in human's history.
ditulis @heykandela dalam http://ceritahujancandella.blogspot.com
kgn bdg.
Ketika mencintai sebuah kota karena keberadaan seseorang di dalamnya, kau harus siap jika suatu saat kau membenci orang itu lalu kotanya tidak.
Begitulah. Hari ini adalah siang yang panas di bulan September. Hujan jarang turun. Bahkan hampir langka. Di setiap rumah dengan perekonomian menengah ke atas, kipas angin ataupun pendingin ruangan dipasang nonstop 24jam. Sisanya melebar-lebarkan ventilasi. Memperbesar kemungkinan bergeraknya udara.
Aku sedang berdamai dengan kegerahan dan mendapati linimasaku mengabarkan kecemburuan sosial. Jakarta 34 derajat dan Bandung hujan. Sial. Aku tiba-tiba kangen Bandung. Lalu aku tiba-tiba kangen cinta pertamaku.
Mungkin kita memang tidak pernah tau kapan rindu meminta eksistensi. Ketiba-tibaan yang bodoh kupikir, bagaimana mungkin dengan mudahnya aku mengakui kangen dia padahal baru beberapa menit yang lalu linimasanya kuteliti. Mungkin pengaruh panas. Mungkin pengaruh kicauan tadi. Aku kangen Bandung sepaket dengan aku kangen dia.
And i am temporarily broken
It does not get me off watching you walk
Mungkin kalau tidak panas, tidak ada kabar Bandung sedang hujan, aku tak perlu merasakan rindu sebodoh ini.
Takdirku melewati lima tahun masa-masa mudaku di kota ini, Jakarta. Menikmati panasnya. Macet dimana-mana. Sumpek. Terlalu banyak manusia dengan tipikal khas ibukota. Emosi yang mudah terpancing dan langkah-langkah kaki yang selalu tergesa-gesa. Sementara di Bandung sana, sejak pertama kali menonton Petualangan Sherina, aku mencintai kota itu dengan kekaguman yang sungguh. Jika di Jakarta gedung-gedung pencakar langit membumi, di Bandung banyak pohon-pohon hijau menjulang tinggi. Disana aku lebih mudah membayangkan bentuk pepohonan tempat Edward Cullen dan Bella Swan menghabiskan kencan pertama mereka. Aku mencintai Bandung dengan segala keteduhannya. Apalagi sejak aku menemukan keberadaannya di kota itu.
I fall for your normal tone
I wanna take part in your tonight’s
dream
This idiocy’s just all over me
Those butterflies won’t stop flying
Mungkin karena rutinitas dan kewajiban menjemukan di hari-hariku, jatuh cinta pada kehidupan dia di kotanya begitu mudah. Bahkan hal-hal kecil yang terjadi disana, bersamanya, menjadi sesuatu yang indah. Dia yang baik dengan kotanya yang apik. Dia yang membuat kisahku berakhir dengan tanda titik-titik. Sebenarnya aku menginginkan tanda baca titik-titik di kisah ini. Sementara dia sepertinya memberi titik. Tapi aku juga tidak yakin, dia seperti tak memberi tanda baca. Terakhir kali kami berkomunikasi dia hanya diam.
I am temporarily broken
When it’s clear and bright i’m
confused
Sejak dia memilih diam, aku menyimpulkan aku mengalami patah hati. Semacam aku berteman dengan sepi, enggan menyapanya duluan lagi. Ah, aku berhak membencinya. Seharusnya dia tidak sepihak begitu menyelesaikan kisah kami. Bahkan dengan tanda baca yang hanya bisa kutebak-tebak. Aku masih ingin menjelajahi Bandung tapi aku tidak ingin kekesalanku padanya memuai lagi.
Panasnya Jakarta makin menjadi-jadi. Mengabaikan semua rasa atas seseorang dari masa lalu itu, kutelusuri linimasa. Jakarta sedang diwarnai politik. Di tab mensyen, seseorang yang menginginkanku untuk menjadi bagian dari masa depannya memberi kabar sesejuk angin beranda.
“ay, minggu depan, abis nyoblos pilkada maen ke bdg yuk!”
Sialnya, sejujurnya, yang terlintas di kepalaku adalah andai mensyen itu dari dia..
I am temporarily broken
When it’s clear and bright i’m confused
And i am temporarily broken
It does not get me off yet flatters me watching you walk
ditulis @ezapia dalam http://komidiputar16.wordpress.com
Begitulah. Hari ini adalah siang yang panas di bulan September. Hujan jarang turun. Bahkan hampir langka. Di setiap rumah dengan perekonomian menengah ke atas, kipas angin ataupun pendingin ruangan dipasang nonstop 24jam. Sisanya melebar-lebarkan ventilasi. Memperbesar kemungkinan bergeraknya udara.
Aku sedang berdamai dengan kegerahan dan mendapati linimasaku mengabarkan kecemburuan sosial. Jakarta 34 derajat dan Bandung hujan. Sial. Aku tiba-tiba kangen Bandung. Lalu aku tiba-tiba kangen cinta pertamaku.
Mungkin kita memang tidak pernah tau kapan rindu meminta eksistensi. Ketiba-tibaan yang bodoh kupikir, bagaimana mungkin dengan mudahnya aku mengakui kangen dia padahal baru beberapa menit yang lalu linimasanya kuteliti. Mungkin pengaruh panas. Mungkin pengaruh kicauan tadi. Aku kangen Bandung sepaket dengan aku kangen dia.
And i am temporarily broken
It does not get me off watching you walk
Mungkin kalau tidak panas, tidak ada kabar Bandung sedang hujan, aku tak perlu merasakan rindu sebodoh ini.
Takdirku melewati lima tahun masa-masa mudaku di kota ini, Jakarta. Menikmati panasnya. Macet dimana-mana. Sumpek. Terlalu banyak manusia dengan tipikal khas ibukota. Emosi yang mudah terpancing dan langkah-langkah kaki yang selalu tergesa-gesa. Sementara di Bandung sana, sejak pertama kali menonton Petualangan Sherina, aku mencintai kota itu dengan kekaguman yang sungguh. Jika di Jakarta gedung-gedung pencakar langit membumi, di Bandung banyak pohon-pohon hijau menjulang tinggi. Disana aku lebih mudah membayangkan bentuk pepohonan tempat Edward Cullen dan Bella Swan menghabiskan kencan pertama mereka. Aku mencintai Bandung dengan segala keteduhannya. Apalagi sejak aku menemukan keberadaannya di kota itu.
I fall for your normal tone
I wanna take part in your tonight’s
dream
This idiocy’s just all over me
Those butterflies won’t stop flying
Mungkin karena rutinitas dan kewajiban menjemukan di hari-hariku, jatuh cinta pada kehidupan dia di kotanya begitu mudah. Bahkan hal-hal kecil yang terjadi disana, bersamanya, menjadi sesuatu yang indah. Dia yang baik dengan kotanya yang apik. Dia yang membuat kisahku berakhir dengan tanda titik-titik. Sebenarnya aku menginginkan tanda baca titik-titik di kisah ini. Sementara dia sepertinya memberi titik. Tapi aku juga tidak yakin, dia seperti tak memberi tanda baca. Terakhir kali kami berkomunikasi dia hanya diam.
I am temporarily broken
When it’s clear and bright i’m
confused
Sejak dia memilih diam, aku menyimpulkan aku mengalami patah hati. Semacam aku berteman dengan sepi, enggan menyapanya duluan lagi. Ah, aku berhak membencinya. Seharusnya dia tidak sepihak begitu menyelesaikan kisah kami. Bahkan dengan tanda baca yang hanya bisa kutebak-tebak. Aku masih ingin menjelajahi Bandung tapi aku tidak ingin kekesalanku padanya memuai lagi.
Panasnya Jakarta makin menjadi-jadi. Mengabaikan semua rasa atas seseorang dari masa lalu itu, kutelusuri linimasa. Jakarta sedang diwarnai politik. Di tab mensyen, seseorang yang menginginkanku untuk menjadi bagian dari masa depannya memberi kabar sesejuk angin beranda.
“ay, minggu depan, abis nyoblos pilkada maen ke bdg yuk!”
Sialnya, sejujurnya, yang terlintas di kepalaku adalah andai mensyen itu dari dia..
I am temporarily broken
When it’s clear and bright i’m confused
And i am temporarily broken
It does not get me off yet flatters me watching you walk
ditulis @ezapia dalam http://komidiputar16.wordpress.com
Julia
Dia Julia. Biar kuceritakan tentangnya. Tentang tragedi yang telah kehabisan air mata dan akhirnya cuma terserakkan jejak-jejaknya.
Julia memberi hatinya pada Cinta Pertama. Cinta Pertama jadi kekasih yang terutama. Julia mencinta. Tak terbayang akan lara. Belum mengenal luka. Dalam setia, sepasti langit yang menyelimut dunia, asal bersama, hingga matipun Julia bersedia. Namun, apa daya. Cinta Pertama mati dalam raga yang menderita. Cinta Pertama tak tersembuhkan doa. Dalam pelukan tanah, Cinta Pertama beku tak berdaya. Bagaimanapun, Julia mesti rela, meski Julia tak bisa lupa.
Julia telah patah hatinya. Dia habiskan sendiri malam-malam yang berduka. Selalu dia bangun pada pagi yang merana. Sampai akhirnya datang Cinta Kedua. Walau tak sepenuh hatinya pada Cinta Pertama, Julia kembali mencinta. Julia kembali menerima. Ya. Meski telah patah hatinya. Ya. Meski tak sama rasanya seperti pada Cinta Pertama.
Lama bagi Julia, untuk sampai pada pikir bahwa Cinta Kedua memang jiwa yang pantas dipuja. Hari melalu, tahun melaju, Cinta Kedua bagai menafaskan cerita. Julia percaya, bahwa hidup adalah nyata. Namun, Cinta Kedua memberinya mimpi yang bisa dipercaya. Maka, Julia tiba-tiba terlupa pada Cinta Pertama. Hatinya kembali utuh bagi Cinta Kedua. Namun, lagi-lagi, apa daya. Berbekal abdi pada orang tua, Cinta Kedua harus mengembara. Tanpa bisa membantah pada takdir yang tak pernah adil, Julia kembali patah hatinya.
Julia tak mau lagi jatuh cinta. Dengan hati yang tersisa, bagaimana bisa. Dia habiskan lagi sendiri malam-malam yang berduka. Setiap hari bangun pada pagi yang merana. Awan dan hujan pun tak sampai hati melihatnya. Maka, semesta memberinya Cinta Ketiga. Meski tak tahu caranya, Julia memasrahkan hati pada Cinta Ketiga. Mungkin ini lebih baik daripada sekadar putus asa, pikirnya. Ya. Meski telah menyerpih hatinya. Ya. Meski tak sama rasanya seperti pada Cinta Kedua. Apalagi Cinta Pertama. Kali ini, hanya getir terasa pada Cinta Ketiga.
Saat bersama Cinta Ketiga, teringat Julia pada Cinta Pertama, yang telah lama terkubur di palung jiwanya. Dalam pekat malam kelam, Julia berdoa. Julia mencari suara Cinta Pertama entah di mana. Padanya, Julia berkata: tak mau lagi jatuh cinta. Padanya, Julia bertanya: dengan hati yang tersisa, bagaimana bisa. Cinta Pertama menjawabnya: entah bagaimana, hanya Julia yang tahu caranya. Maka, dalam pekat malam kelam, Julia bilang pada dirinya: jangan lagi mau tersakiti.
Maka, pada hari yang dibalut nyeri, Cinta Ketiga mesti sakit hati. Tanpa alasan dan tanpa perpisahan, Julia tak mau kenal pada cinta dan setia lagi. Itulah mengapa Cinta Ketiga kini sendiri. Karena Julia pergi. Dan, Julia tak akan kembali. Karena isi hatinya kini, hanya balas dendam pada bumi.
Julia sudah tak mungkin mencinta lagi. Karena Julia sudah bilang pada dirinya: jangan lagi mau tersakiti. Semua berbalik, Julia yang kini menyakiti. Maka, pada Cinta Keempat, Julia mendua hati. Di tepi hari bahagia bersama Cinta Kelima, dengan sengaja Julia membunuh mimpi. Terlebih pada Cinta Keenam, Julia tak termaafkan lagi.
Semesta memandangi, dan semesta tak ingin Julia lepas kendali. Maka, semesta mengambil peran kembali. Cinta Ketujuh turun ke bumi. Dengan cara yang tak terjelaskan, Julia kembali jatuh cinta.
Ini rasa yang persis sama, seperti saat Julia bertemu Cinta Pertama. Kini, Cinta Ketujuh jadi kekasih yang terutama. Julia mencinta. Tak teringat akan lara. Ataupun luka. Dalam setia, sepasti langit yang menyelimut dunia, asal bersama, hingga matipun Julia bersedia. Namun, apa daya. Julia akhirnya mati dalam raga yang menderita. Julia tak tersembuhkan doa. Dalam pelukan tanah, Julia beku tak berdaya. Bagaimanapun, Cinta Ketujuh mesti rela, meski Cinta Ketujuh tak bisa lupa.
Ya. Cinta Ketujuh tak bisa lupa. Karena, Julia adalah Cinta Pertama baginya.
Luka meruah, semua t’lah berlalu
Kusemaikan duka, kau tak pernah kembali
Oh, angin malam bawa laguku
Ungkapan rindu menggebu
Ku masih tetap bertahan
Kar’na kenangan
- Katon Bagaskara ~ Lara Hati -
ditulis @augustalks dalam http://petikanbulan.wordpress.com
Julia memberi hatinya pada Cinta Pertama. Cinta Pertama jadi kekasih yang terutama. Julia mencinta. Tak terbayang akan lara. Belum mengenal luka. Dalam setia, sepasti langit yang menyelimut dunia, asal bersama, hingga matipun Julia bersedia. Namun, apa daya. Cinta Pertama mati dalam raga yang menderita. Cinta Pertama tak tersembuhkan doa. Dalam pelukan tanah, Cinta Pertama beku tak berdaya. Bagaimanapun, Julia mesti rela, meski Julia tak bisa lupa.
Julia telah patah hatinya. Dia habiskan sendiri malam-malam yang berduka. Selalu dia bangun pada pagi yang merana. Sampai akhirnya datang Cinta Kedua. Walau tak sepenuh hatinya pada Cinta Pertama, Julia kembali mencinta. Julia kembali menerima. Ya. Meski telah patah hatinya. Ya. Meski tak sama rasanya seperti pada Cinta Pertama.
Lama bagi Julia, untuk sampai pada pikir bahwa Cinta Kedua memang jiwa yang pantas dipuja. Hari melalu, tahun melaju, Cinta Kedua bagai menafaskan cerita. Julia percaya, bahwa hidup adalah nyata. Namun, Cinta Kedua memberinya mimpi yang bisa dipercaya. Maka, Julia tiba-tiba terlupa pada Cinta Pertama. Hatinya kembali utuh bagi Cinta Kedua. Namun, lagi-lagi, apa daya. Berbekal abdi pada orang tua, Cinta Kedua harus mengembara. Tanpa bisa membantah pada takdir yang tak pernah adil, Julia kembali patah hatinya.
Julia tak mau lagi jatuh cinta. Dengan hati yang tersisa, bagaimana bisa. Dia habiskan lagi sendiri malam-malam yang berduka. Setiap hari bangun pada pagi yang merana. Awan dan hujan pun tak sampai hati melihatnya. Maka, semesta memberinya Cinta Ketiga. Meski tak tahu caranya, Julia memasrahkan hati pada Cinta Ketiga. Mungkin ini lebih baik daripada sekadar putus asa, pikirnya. Ya. Meski telah menyerpih hatinya. Ya. Meski tak sama rasanya seperti pada Cinta Kedua. Apalagi Cinta Pertama. Kali ini, hanya getir terasa pada Cinta Ketiga.
Saat bersama Cinta Ketiga, teringat Julia pada Cinta Pertama, yang telah lama terkubur di palung jiwanya. Dalam pekat malam kelam, Julia berdoa. Julia mencari suara Cinta Pertama entah di mana. Padanya, Julia berkata: tak mau lagi jatuh cinta. Padanya, Julia bertanya: dengan hati yang tersisa, bagaimana bisa. Cinta Pertama menjawabnya: entah bagaimana, hanya Julia yang tahu caranya. Maka, dalam pekat malam kelam, Julia bilang pada dirinya: jangan lagi mau tersakiti.
Maka, pada hari yang dibalut nyeri, Cinta Ketiga mesti sakit hati. Tanpa alasan dan tanpa perpisahan, Julia tak mau kenal pada cinta dan setia lagi. Itulah mengapa Cinta Ketiga kini sendiri. Karena Julia pergi. Dan, Julia tak akan kembali. Karena isi hatinya kini, hanya balas dendam pada bumi.
Julia sudah tak mungkin mencinta lagi. Karena Julia sudah bilang pada dirinya: jangan lagi mau tersakiti. Semua berbalik, Julia yang kini menyakiti. Maka, pada Cinta Keempat, Julia mendua hati. Di tepi hari bahagia bersama Cinta Kelima, dengan sengaja Julia membunuh mimpi. Terlebih pada Cinta Keenam, Julia tak termaafkan lagi.
Semesta memandangi, dan semesta tak ingin Julia lepas kendali. Maka, semesta mengambil peran kembali. Cinta Ketujuh turun ke bumi. Dengan cara yang tak terjelaskan, Julia kembali jatuh cinta.
Ini rasa yang persis sama, seperti saat Julia bertemu Cinta Pertama. Kini, Cinta Ketujuh jadi kekasih yang terutama. Julia mencinta. Tak teringat akan lara. Ataupun luka. Dalam setia, sepasti langit yang menyelimut dunia, asal bersama, hingga matipun Julia bersedia. Namun, apa daya. Julia akhirnya mati dalam raga yang menderita. Julia tak tersembuhkan doa. Dalam pelukan tanah, Julia beku tak berdaya. Bagaimanapun, Cinta Ketujuh mesti rela, meski Cinta Ketujuh tak bisa lupa.
Ya. Cinta Ketujuh tak bisa lupa. Karena, Julia adalah Cinta Pertama baginya.
Luka meruah, semua t’lah berlalu
Kusemaikan duka, kau tak pernah kembali
Oh, angin malam bawa laguku
Ungkapan rindu menggebu
Ku masih tetap bertahan
Kar’na kenangan
- Katon Bagaskara ~ Lara Hati -
ditulis @augustalks dalam http://petikanbulan.wordpress.com
Gadis Kecil dan Pria Mungil
Gadis kecil menari di tengah padang savana, merasakan diri sebagai angin yang membelai pucuk-pucuk ilalang dan dandelion. Kedua tangannya direntangkan, matanya terpejam, mengikut tarian angin. Tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan mata seorang pria mungil yang mengamatinya dari jauh, sang pria berlari menuju arah isak. Gadis kecil rupa-rupanya terjatuh, kaki terantuk batu. Dan dengan senyum ramah pria mungil merelakan kaosnya yang bergambar Spongebob Squarepant kesukaannya jadi pembalut lutut gadis kecil yang terluka. Senja menjelang, dengan bertelanjang dada pria mungil menggendong gadis kecil yang tertatih, meninggalkan padang savana dan angin yang masih saja menari bersama rangkaian ilalang dan semerbak dandelion.
Hari berganti, dan tahun kian menua. Gadis kecil kini dewasa, begitu pula dengan pria mungil kini tubuhnya tak semungil dulu, dadanya bidang, dan otot-otot bahunya kian terlihat, serta beberapa tattoo merajah bagian tubuhnya. Di padang savana tempat ilalang dan dandelion kerap menari bersama angin mereka bertemu kembali.
“Kau tahu, aku menunggumu. Menunggumu datang hingga senja tiba. Tapi kau tak pernah datang kembali.”
“Mengapa kau menungguku?”
“Aku cuma ingin mengembalikan kaosmu dan mengucapkan terima kasih. Itu saja.”
“Kau masih mengingat hal itu, ah bahkan aku sudah lama sekali melupakannya. Kalau kau tak menari seperti tadi, aku mungkin tak ingat pernah memapahmu yang terjatuh.”
Lalu gadis kecil menyerahkan kotak berwarna cokelat yang ia letakan di bawah pohon, di antara ilalang-ilalang yang menjuntai.
“Apa ini?”
“Kau lihat saja, sudah lama kusimpan dan selalu kubawa ke padang ini.”
Pria mungil itu membuka dan mendapati di dalamnya terdapat sehelai kaos berwarna biru dengan gambar Spongebob Squarepant, lalu ia mengembangkan senyum, dan tatapnya tak lepas dari manik-manik mata gadis kecil.
“Kau masih menyimpannya?”
“Tentu saja masih.”
“Ini kaos kesayangan aku.”
“Ya aku tahu, sebab itu aku menjaganya.”
“Darimana kau tahu?”
“Karena kaos itu sering kau pakai, ketika kau mengintipku menari di sini dulu. Kau kira aku tak tahu, kau kan mengagumi tarianku.”
“Apa aku mengagumi tarianmu? Hahaha… Aku hanya tertarik keanehanmu saja menari di tengah rimbunan ilalang.”
“Sudahlah akui saja, kau mengagumiku kan?”
“Hahaha…”
“Kau tahu, ini tempat rahasiaku dan cuma kau saja yang tahu. Sebab itu sekalipun sekarang tubuhmu tak seperti dulu, aku tahu kau pemilik kaos itu.”
“Lalu kenapa kau menyimpan kaosku, bukankah itu tandanya kau yang mengagumiku?”
Gadis kecil itu hanya terdiam, dan wajahnya menyemu merah.
“Oh, sudahlah. Menarilah kembali, aku ingin melihatnya. Tentu sekarang tidak pakai terjatuh lagi kan?”
“Tidak. Tidak mau. Aku tak mengenalmu, jadi untuk apa aku menari untuk orang yang tidak aku kenal.”
“Aku Catur Indrawan. Sudah cukup, sekarang menarilah.”
“Kau tak ingin mengenalku? Ah ya, siapalah aku, gadis desa tak berarti apapun untukmu kan, baiklah tak apa.”
“Arine Emilialita…”
Setelah menyebutkan nama gadis kecil itu, pria mungil menggamit lengan gadis kecil, menggamitnya dan berlari hingga ke tengah padang savana yang tumbuhi ilalang. Sementara gadis kecil masih saja tercenung.
“Tunggu, kau mengenalku?”
“Kau tadi bilang aku pengagummu, jadi wajar kan aku mencari tahu tentangmu. Ayolah ajari aku menari.”
“Tapi kau harus janji, takkan meninggalkanku lagi.”
“Janji? Untuk apa?”
“Karena kau…, kau telah mencuri hatiku. Sebab itu kau harus tanggung jawab dengan berjanji padaku.”
“Baiklah, aku janji.”
Gadis kecil, di bawah siraman cahaya senja sewarna lembayung di antara juntai-juntai ilalang dan semerbak dandelion yang dimasaikan angin, menari dengan lebih gemulai. Matanya terpejam, namun sesekali manik-manik matanya melirik ke arah pria mungil yang berdiri tertegun menikmati tarian gadis kecil.
Dan pada akhirnya pria mungil itu harus kembali ke kotanya, sementara gadis kecil tetap tinggal, menunggu sampai akhirnya ia sendiri bosan menunggu dan datang menjemput pria mungil. Mungkin ada benarnya bahwa wanita adalah makhluk yang pandai menyimpan perasaan terdalamnya, bahkan waktu tak mampu menyentuhnya. Itulah cinta pertama, cinta begitu saja tiba dengan sebab-sebab sederhana yang tak mampu dinalar logika. Sekalipun tak termiliki selamanya, rasa-rasanya berjanji untuk tidak saling meninggalkan adalah sebaik-baiknya cinta yang baik. Setidaknya untuk aku, Catur Indrawan, pria mungil itu.
Aku takut kamu pergi
Kamu hilang, kamu sakit
Aku ingin kau di sini
Di sampingku selamanya
ditulis @acturindra dalam http://senjasorepetang.wordpress.com
Hari berganti, dan tahun kian menua. Gadis kecil kini dewasa, begitu pula dengan pria mungil kini tubuhnya tak semungil dulu, dadanya bidang, dan otot-otot bahunya kian terlihat, serta beberapa tattoo merajah bagian tubuhnya. Di padang savana tempat ilalang dan dandelion kerap menari bersama angin mereka bertemu kembali.
“Kau tahu, aku menunggumu. Menunggumu datang hingga senja tiba. Tapi kau tak pernah datang kembali.”
“Mengapa kau menungguku?”
“Aku cuma ingin mengembalikan kaosmu dan mengucapkan terima kasih. Itu saja.”
“Kau masih mengingat hal itu, ah bahkan aku sudah lama sekali melupakannya. Kalau kau tak menari seperti tadi, aku mungkin tak ingat pernah memapahmu yang terjatuh.”
Lalu gadis kecil menyerahkan kotak berwarna cokelat yang ia letakan di bawah pohon, di antara ilalang-ilalang yang menjuntai.
“Apa ini?”
“Kau lihat saja, sudah lama kusimpan dan selalu kubawa ke padang ini.”
Pria mungil itu membuka dan mendapati di dalamnya terdapat sehelai kaos berwarna biru dengan gambar Spongebob Squarepant, lalu ia mengembangkan senyum, dan tatapnya tak lepas dari manik-manik mata gadis kecil.
“Kau masih menyimpannya?”
“Tentu saja masih.”
“Ini kaos kesayangan aku.”
“Ya aku tahu, sebab itu aku menjaganya.”
“Darimana kau tahu?”
“Karena kaos itu sering kau pakai, ketika kau mengintipku menari di sini dulu. Kau kira aku tak tahu, kau kan mengagumi tarianku.”
“Apa aku mengagumi tarianmu? Hahaha… Aku hanya tertarik keanehanmu saja menari di tengah rimbunan ilalang.”
“Sudahlah akui saja, kau mengagumiku kan?”
“Hahaha…”
“Kau tahu, ini tempat rahasiaku dan cuma kau saja yang tahu. Sebab itu sekalipun sekarang tubuhmu tak seperti dulu, aku tahu kau pemilik kaos itu.”
“Lalu kenapa kau menyimpan kaosku, bukankah itu tandanya kau yang mengagumiku?”
Gadis kecil itu hanya terdiam, dan wajahnya menyemu merah.
“Oh, sudahlah. Menarilah kembali, aku ingin melihatnya. Tentu sekarang tidak pakai terjatuh lagi kan?”
“Tidak. Tidak mau. Aku tak mengenalmu, jadi untuk apa aku menari untuk orang yang tidak aku kenal.”
“Aku Catur Indrawan. Sudah cukup, sekarang menarilah.”
“Kau tak ingin mengenalku? Ah ya, siapalah aku, gadis desa tak berarti apapun untukmu kan, baiklah tak apa.”
“Arine Emilialita…”
Setelah menyebutkan nama gadis kecil itu, pria mungil menggamit lengan gadis kecil, menggamitnya dan berlari hingga ke tengah padang savana yang tumbuhi ilalang. Sementara gadis kecil masih saja tercenung.
“Tunggu, kau mengenalku?”
“Kau tadi bilang aku pengagummu, jadi wajar kan aku mencari tahu tentangmu. Ayolah ajari aku menari.”
“Tapi kau harus janji, takkan meninggalkanku lagi.”
“Janji? Untuk apa?”
“Karena kau…, kau telah mencuri hatiku. Sebab itu kau harus tanggung jawab dengan berjanji padaku.”
“Baiklah, aku janji.”
Gadis kecil, di bawah siraman cahaya senja sewarna lembayung di antara juntai-juntai ilalang dan semerbak dandelion yang dimasaikan angin, menari dengan lebih gemulai. Matanya terpejam, namun sesekali manik-manik matanya melirik ke arah pria mungil yang berdiri tertegun menikmati tarian gadis kecil.
Dan pada akhirnya pria mungil itu harus kembali ke kotanya, sementara gadis kecil tetap tinggal, menunggu sampai akhirnya ia sendiri bosan menunggu dan datang menjemput pria mungil. Mungkin ada benarnya bahwa wanita adalah makhluk yang pandai menyimpan perasaan terdalamnya, bahkan waktu tak mampu menyentuhnya. Itulah cinta pertama, cinta begitu saja tiba dengan sebab-sebab sederhana yang tak mampu dinalar logika. Sekalipun tak termiliki selamanya, rasa-rasanya berjanji untuk tidak saling meninggalkan adalah sebaik-baiknya cinta yang baik. Setidaknya untuk aku, Catur Indrawan, pria mungil itu.
Aku takut kamu pergi
Kamu hilang, kamu sakit
Aku ingin kau di sini
Di sampingku selamanya
ditulis @acturindra dalam http://senjasorepetang.wordpress.com
Flash Fiction: Terjebak Nostalgia
“Sampai kapan lo mau diginiin sama si Ken?”
Praya mengunci rapat mulutnya. Seolah sibuk dengan laporannya.
Pesanan sudah datang, Praya tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.
Alex membereskan tasnya, lalu hendak beranjak. Segera Praya meraih tangannya.
“Jangan tinggalin gue sendiri Lex.”
Alex kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Menemani Praya hingga entah kapan.
*
Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh.
“Balik yuk.”
Praya tak bergeming. Cappuccino sedari tadi tak disentuhnya. Dia hanya terbengong di hadapan laptop yang di hadapannya.
“Praya..”
“Gue gak mau balik, Ken pasti udah nunggu di rumah.”
“Terus lo mau ke mana?”
Praya menggeleng lemah.
*
“Kalo lo masih bengong gini, kita gak akan bisa check out. Praya ini udah jam setengah dua belas.”
“Lo balik duluan aja deh, biar gue di sini dulu.”
Sudah dua hari Alex dan Praya menginap di sebuah cottege di daerah Garut Selatan. Senin malam itu Praya berkeras tak ingin pulang, Alex lalu memacu mobilnya hinga mereka sampai ke Garut. Pemandangan pantai yang indah tak dihiraukan, Praya hanya berdiam diri di dalam kamar atau paling duduk di balkon.
“Ya udah, gue balik duluan. Terserah lo mau sampe kapan di sini.”
Alex menyambar tasnya lalu berjalan menuju pintu.
“Lex..” Praya memanggil lemah sahabatnya, “lo balik lagi ke sini kan?”
Alex berjalan kembali menuju ke sofa Praya, mencium keningnya lalu keluar dari kamar.
Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Belum lagi telepon dari Ken yang terus menerus menanyakan kabar Praya.
Praya adalah sahabatnya semenjak sekolah menengah. Keseriusan Alex berimbang dengan sikap ceria Praya. Dia menemani Praya di setiap gadis itu jatuh cinta, patah hati, bahagia, sedih.
Cinta? Tentu saja Alex mencintainya. Tidak ada yang kurang dari gadis itu. Tapi ia tidak mau merusak persahabatannya. Maka beginilah kini. Belasan tahun bersahabat, menjadi tempat membagi tawa, berkeluh kesah juga sebagai pelarian.
Dua hari Alex membereskan urusannya, Ia bahkan membeli beberapa makanan untuk Praya. Entah apakah ia sedih atau senang melihat keadaan Praya saat ini. Di satu sisi ia tak suka melihat keadaan Praya seperti ini, bersedih dan nyaris hancur. Tapi di sisi lain ia juga senang, karena Praya bersama dirinya. Menggantungkan hidupnya pada Alex seorang.
*
Terdengar suara pintu kamar diketuk, malas-malas Praya beranjak dari tempat tidur. Setelah dibuka muncul Alex dengan sekantung makanan. Ia segera memeluknya.
“Gue kira lo gak akan balik lagi.”
“Masa gue tega ninggalin panda kesayangan di sini sendirian sih.”
“Enak aja gue disamain sama panda.”
“Tuh mata udah kaya panda gitu. Ngaca deh. Kalo bukan panda apa namanya?”
Praya mencubit manja sahabatnya, tenang rasanya melihat Alex kembali. Dua hari ini sungguh ia tidak kerasan. Jangankan mau beranjak makan, Sarapan yang dikirim dari kitchen hanya disentuh sekenanya.”
*
“Gak pegel tidur di sofa?”
Alex tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tidur sini aja.”
Praya menggeserkan tubuhnya ke sisi ranjang, memberi tempat agar Alex bisa tidur di sampingnya.
*
“Praya…”
“Apa?”
“Boleh gue bilang sesuatu?”
“Bilang aja, ada apa?”
“Gue…”
“Lo kenapa”
“Gue sebenernya cinta sama lo.”
Alex terkejut sendiri dengan apa yang telah diucapkannya. Praya tak kalah kaget. Ia membalikan badan menghadap Alex.
“Gak salah?”
Alex menggeleng.
“Sejak kapan?”
“Sejak lo numpahin teh botol ke celana gue.”
“Numpahin teh botol? Itu kan jaman kita sekolah.”
“Ah udahlah, gue ngawur. Jangan dianggap. Udah tidur!” Alex berbalik memunggungi Praya. Membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Dan berharap besok pagi Praya amnesia.
*
Alex membantu Praya membawa tasnya. Tidak berat sih, tapi sepertinya untuk membawa dirinya sendiri Praya sudah sempoyongan.
Akhirnya Praya mau pulang, ia kembali ke rumah orang tuanya.
“Ini ditaro di mana?”
“Di atas lemari aja.”
“Oke, semua udah masuk. Gue tinggal gak apa-apa kan?”
“Iya, makasih ya lex.”
Alex mengelus bahu Praya. “Iya panda. Gue mau langsung ke kantor.”
“Lex tunggu. Ini nanti dengerin ya.”
“Apaan?”
Praya menyerahkan ipodnya. “Ada di playlist ini.”
Alex mengangguk lalu hendak berpamitan pergi. Belum sempat ia sampai ke pintu, terdengar suara Ken, kekasih Praya.
Alex mengurungkan niatnya, lalu berjalan menuju teras belakang. Ia pasang earphone ke kupingnya lalu mendengarkan playlist yang dibuat Praya.
Telah lama ku tahu engkau
Punya rasa untukku
Kini saat dia tak kembali
Kau nyatakan cintamu
Namun aku takkan pernah bisa, ku
Takkan pernah merasa
Rasakan cinta yang kau beri
Ku terjebak di ruang nostalgia
Semua yang kurasa kini
Tak berubah sejak dia pergi
Maafkanlah ku hanya ingin sendiri
Alex menghela napas. Praya tidak amnesia seperti yang diharapkannya.
ditulis @faannniiii_ dalam http://tetehna9a.blogspot.com
Praya mengunci rapat mulutnya. Seolah sibuk dengan laporannya.
Pesanan sudah datang, Praya tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.
Alex membereskan tasnya, lalu hendak beranjak. Segera Praya meraih tangannya.
“Jangan tinggalin gue sendiri Lex.”
Alex kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Menemani Praya hingga entah kapan.
*
Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh.
“Balik yuk.”
Praya tak bergeming. Cappuccino sedari tadi tak disentuhnya. Dia hanya terbengong di hadapan laptop yang di hadapannya.
“Praya..”
“Gue gak mau balik, Ken pasti udah nunggu di rumah.”
“Terus lo mau ke mana?”
Praya menggeleng lemah.
*
“Kalo lo masih bengong gini, kita gak akan bisa check out. Praya ini udah jam setengah dua belas.”
“Lo balik duluan aja deh, biar gue di sini dulu.”
Sudah dua hari Alex dan Praya menginap di sebuah cottege di daerah Garut Selatan. Senin malam itu Praya berkeras tak ingin pulang, Alex lalu memacu mobilnya hinga mereka sampai ke Garut. Pemandangan pantai yang indah tak dihiraukan, Praya hanya berdiam diri di dalam kamar atau paling duduk di balkon.
“Ya udah, gue balik duluan. Terserah lo mau sampe kapan di sini.”
Alex menyambar tasnya lalu berjalan menuju pintu.
“Lex..” Praya memanggil lemah sahabatnya, “lo balik lagi ke sini kan?”
Alex berjalan kembali menuju ke sofa Praya, mencium keningnya lalu keluar dari kamar.
Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Belum lagi telepon dari Ken yang terus menerus menanyakan kabar Praya.
Praya adalah sahabatnya semenjak sekolah menengah. Keseriusan Alex berimbang dengan sikap ceria Praya. Dia menemani Praya di setiap gadis itu jatuh cinta, patah hati, bahagia, sedih.
Cinta? Tentu saja Alex mencintainya. Tidak ada yang kurang dari gadis itu. Tapi ia tidak mau merusak persahabatannya. Maka beginilah kini. Belasan tahun bersahabat, menjadi tempat membagi tawa, berkeluh kesah juga sebagai pelarian.
Dua hari Alex membereskan urusannya, Ia bahkan membeli beberapa makanan untuk Praya. Entah apakah ia sedih atau senang melihat keadaan Praya saat ini. Di satu sisi ia tak suka melihat keadaan Praya seperti ini, bersedih dan nyaris hancur. Tapi di sisi lain ia juga senang, karena Praya bersama dirinya. Menggantungkan hidupnya pada Alex seorang.
*
Terdengar suara pintu kamar diketuk, malas-malas Praya beranjak dari tempat tidur. Setelah dibuka muncul Alex dengan sekantung makanan. Ia segera memeluknya.
“Gue kira lo gak akan balik lagi.”
“Masa gue tega ninggalin panda kesayangan di sini sendirian sih.”
“Enak aja gue disamain sama panda.”
“Tuh mata udah kaya panda gitu. Ngaca deh. Kalo bukan panda apa namanya?”
Praya mencubit manja sahabatnya, tenang rasanya melihat Alex kembali. Dua hari ini sungguh ia tidak kerasan. Jangankan mau beranjak makan, Sarapan yang dikirim dari kitchen hanya disentuh sekenanya.”
*
“Gak pegel tidur di sofa?”
Alex tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tidur sini aja.”
Praya menggeserkan tubuhnya ke sisi ranjang, memberi tempat agar Alex bisa tidur di sampingnya.
*
“Praya…”
“Apa?”
“Boleh gue bilang sesuatu?”
“Bilang aja, ada apa?”
“Gue…”
“Lo kenapa”
“Gue sebenernya cinta sama lo.”
Alex terkejut sendiri dengan apa yang telah diucapkannya. Praya tak kalah kaget. Ia membalikan badan menghadap Alex.
“Gak salah?”
Alex menggeleng.
“Sejak kapan?”
“Sejak lo numpahin teh botol ke celana gue.”
“Numpahin teh botol? Itu kan jaman kita sekolah.”
“Ah udahlah, gue ngawur. Jangan dianggap. Udah tidur!” Alex berbalik memunggungi Praya. Membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Dan berharap besok pagi Praya amnesia.
*
Alex membantu Praya membawa tasnya. Tidak berat sih, tapi sepertinya untuk membawa dirinya sendiri Praya sudah sempoyongan.
Akhirnya Praya mau pulang, ia kembali ke rumah orang tuanya.
“Ini ditaro di mana?”
“Di atas lemari aja.”
“Oke, semua udah masuk. Gue tinggal gak apa-apa kan?”
“Iya, makasih ya lex.”
Alex mengelus bahu Praya. “Iya panda. Gue mau langsung ke kantor.”
“Lex tunggu. Ini nanti dengerin ya.”
“Apaan?”
Praya menyerahkan ipodnya. “Ada di playlist ini.”
Alex mengangguk lalu hendak berpamitan pergi. Belum sempat ia sampai ke pintu, terdengar suara Ken, kekasih Praya.
Alex mengurungkan niatnya, lalu berjalan menuju teras belakang. Ia pasang earphone ke kupingnya lalu mendengarkan playlist yang dibuat Praya.
Telah lama ku tahu engkau
Punya rasa untukku
Kini saat dia tak kembali
Kau nyatakan cintamu
Namun aku takkan pernah bisa, ku
Takkan pernah merasa
Rasakan cinta yang kau beri
Ku terjebak di ruang nostalgia
Semua yang kurasa kini
Tak berubah sejak dia pergi
Maafkanlah ku hanya ingin sendiri
Alex menghela napas. Praya tidak amnesia seperti yang diharapkannya.
ditulis @faannniiii_ dalam http://tetehna9a.blogspot.com
Mencari Pencarian
Aku tidak mencarimu. Aku mencari teman main masa kecilku. Tidak ada satu haripun kala itu yang tidak kulewati dengan bermain bersamamu. Iya, bermain. Kamu membawa semua koleksi Lego dan Gundammu ke rumahku dan aku mengijinkanmu menjadi partner setiaku menamatkan game di kaset-kaset Nintendoku. Oh iya, kadang kalau bosan, gantian aku yang ke rumahmu, main Sega sampai sore. Sampai Ibuku menjemputku pulang. Kamu mengajakku bermain robot-robotan, mobil-mobilan, dan kita ini partner bermain tembak-tembakan yang tak terkalahkan. Kamu pun, walau kutahu dengan terpaksa, tidak menolak ajakanku untuk menemaniku bermain boneka. Aku mengalahkanmu dalam hal koleksi Tazos dan kamu mengalahkanku dalam lomba sepeda. Kamu selalu berhasil menemukan tempat persembunyianu saat bermain petak umpet dan kalau kamu tidak ada di kamarmu, aku pasti menemukanmu sedang berenang di bak kamar mandi rumahmu yang akan dikuras. Its obvious, we have chemistry. Kamu teman bermain yang menyenangkan.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari tetangga terbaikku. Rumahmu hanya berselang satu rumah dari rumahku. Setengah tujuh pagi, kamu pasti sudah berdiri dengan seringai usilmu di depan pagar rumahku, mengajakku berangkat ke sekolah bersama. Lebih tepatnya kamu menebeng mobil Ibuku yang mengantarku ke sekolah. Begitu pula saat pulang sekolah, kamu juga nebeng Ibuku yang menjemputku. Jadilah kamu partner berangkat-pulang sekolahku yang setia dua tahun lamanya. Setiap hari, pagi dan siang hari, di dalam mobil, kita saling berbagi kisah keseharian. Meributkan tugas yang begitu banyak, menyusun jadwal les mingguan kita, merencanakan akan bermain apa sepulang sekolah nanti, membahas film Jurassic Park yang seru itu sambil sesekali berteriak ikut menyayikan lagu “Bujangan” yang di putar Ibuku di tape mobil. Kamu teman sekolah yang menyenangkan.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari kakak kelasku waktu SD dulu. Kakak kelas yang sering membantuku mengerjakan tugas sekolah. Kamu dua tingkat di atasku. Saat aku mulai masuk SD, kamu sudah menginjak kelas tiga. Tapi kita berteman bahkan sejak aku belum masuk TK. Kita bertetangga dekat. Orang tuaku dan orang tuamu berteman akrab. Katanya, Ibumu dulu berniat mengangkatku menjadi anak mengingat kamu dan kedua kakak laki-lakimu begitu menyebalkan tingkah lakunya. Ibumu sayang sekali padaku. Beliau mengijinkanku bermain di rumahmu seharian, menyediakan makan siang yang enak-enak, dan beberapa kali membelikanku pakaian yang lucu. Ibumu sangat baik kepadaku, begitu juga Ayahmu, dan kedua kakak laki-lakimu. Aku sayang sekali pada Ibumu, keluargamu. Aku juga sayang kamu.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari sahabat masa kecilku. Sahabatku yang satu sekolah denganku dan menjadi murid tempat les yang sama denganku. Sahabatku yang bahkan tetap nekat memainkan robot-robotan yang dibawanya dari rumah di teras rumahku sendirian karena aku ngambek kepadanya dan menolak untuk membukakan pintu rumahku. Aku marah padamu dan menolak sama sekali bertemu denganmu. Aku mengunci pintu rumahku agar kamu tidak masuk menemuiku. Aku bermain sendirian di dalam rumah dan tanpa kusangka ternyata sampai sore kamu masih tengkurap di teras depan rumahku memainkan mainanmu sendirian. Diam-diam aku mengintipmu dari balik jendela. Ibuku tahu dan Ia memarahiku. Aku disuruh membuka pintu dan meminta maaf kepadamu. Aku menemuimu, ditemani Ibuku, tapi mulutku tetap terkunci rapat. Kamu cuma nyengir, tertawa sedikit sambil membereskan mainanmu lalu pamit kepada Ibuku untuk pulang. Cuma kamu sahabatku yang membuatku marah namun membuatku tertawa juga di waktu yang sama.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari cinta pertamaku. Dia yang menangisi kepergianku meninggalkan kotamu. Lima tahun masa kecilku kuhabiskan dengan mengenalnya sampai tiba saatnya aku harus pergi jauh meninggalkan kota kecil kita. Aku melihatnya melambaikan tangan dengan wajah muram saat perlahan mobilku pergi meninggalkan halaman rumahku menuju bandara. Aku menoleh berkali-kali sampai mobilku berbelok dan aku melihatnya tetap berdiri di tempatnya sambil melambai pelan. Aku menangis di dalam mobil seraya memeluk Ibuku. Dia yang sosoknya terakhir kali kulihat. Dia itu kamu.
Pencarianku tentang sosok cinta pertamaku berhenti di kamu. Aku tidak mencarimu, aku mencari pencarian cinta pertamaku. Aku tidak mencarimu, aku mencari semua kenangan tentang kamu. Aku mencari cinta masa kecilku, mencari cinta yang dulu aku berikan untuk kamu. Baby, I don’t know what love is, maybe I’m a fool. I just know what I’m feeling and it’s all because of you. Don’t tell me, I don’t know. I want the truth, cause they call it we call it you call it I call it love. Kamu yang tak kuketahui kabarnya kini. Kamu yang tak kutahu kebaradannya saat ini. Kamu yang jejaknya hilang sama sekali dari hidupku namun meninggalkan jejak tak terhapuskan dari ingatanku.
I call it love, I call you love.
ditulis @andhkctra dalam http://chaznologic.tumblr.com
Aku tidak mencarimu. Aku mencari tetangga terbaikku. Rumahmu hanya berselang satu rumah dari rumahku. Setengah tujuh pagi, kamu pasti sudah berdiri dengan seringai usilmu di depan pagar rumahku, mengajakku berangkat ke sekolah bersama. Lebih tepatnya kamu menebeng mobil Ibuku yang mengantarku ke sekolah. Begitu pula saat pulang sekolah, kamu juga nebeng Ibuku yang menjemputku. Jadilah kamu partner berangkat-pulang sekolahku yang setia dua tahun lamanya. Setiap hari, pagi dan siang hari, di dalam mobil, kita saling berbagi kisah keseharian. Meributkan tugas yang begitu banyak, menyusun jadwal les mingguan kita, merencanakan akan bermain apa sepulang sekolah nanti, membahas film Jurassic Park yang seru itu sambil sesekali berteriak ikut menyayikan lagu “Bujangan” yang di putar Ibuku di tape mobil. Kamu teman sekolah yang menyenangkan.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari kakak kelasku waktu SD dulu. Kakak kelas yang sering membantuku mengerjakan tugas sekolah. Kamu dua tingkat di atasku. Saat aku mulai masuk SD, kamu sudah menginjak kelas tiga. Tapi kita berteman bahkan sejak aku belum masuk TK. Kita bertetangga dekat. Orang tuaku dan orang tuamu berteman akrab. Katanya, Ibumu dulu berniat mengangkatku menjadi anak mengingat kamu dan kedua kakak laki-lakimu begitu menyebalkan tingkah lakunya. Ibumu sayang sekali padaku. Beliau mengijinkanku bermain di rumahmu seharian, menyediakan makan siang yang enak-enak, dan beberapa kali membelikanku pakaian yang lucu. Ibumu sangat baik kepadaku, begitu juga Ayahmu, dan kedua kakak laki-lakimu. Aku sayang sekali pada Ibumu, keluargamu. Aku juga sayang kamu.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari sahabat masa kecilku. Sahabatku yang satu sekolah denganku dan menjadi murid tempat les yang sama denganku. Sahabatku yang bahkan tetap nekat memainkan robot-robotan yang dibawanya dari rumah di teras rumahku sendirian karena aku ngambek kepadanya dan menolak untuk membukakan pintu rumahku. Aku marah padamu dan menolak sama sekali bertemu denganmu. Aku mengunci pintu rumahku agar kamu tidak masuk menemuiku. Aku bermain sendirian di dalam rumah dan tanpa kusangka ternyata sampai sore kamu masih tengkurap di teras depan rumahku memainkan mainanmu sendirian. Diam-diam aku mengintipmu dari balik jendela. Ibuku tahu dan Ia memarahiku. Aku disuruh membuka pintu dan meminta maaf kepadamu. Aku menemuimu, ditemani Ibuku, tapi mulutku tetap terkunci rapat. Kamu cuma nyengir, tertawa sedikit sambil membereskan mainanmu lalu pamit kepada Ibuku untuk pulang. Cuma kamu sahabatku yang membuatku marah namun membuatku tertawa juga di waktu yang sama.
Aku tidak mencarimu. Aku mencari cinta pertamaku. Dia yang menangisi kepergianku meninggalkan kotamu. Lima tahun masa kecilku kuhabiskan dengan mengenalnya sampai tiba saatnya aku harus pergi jauh meninggalkan kota kecil kita. Aku melihatnya melambaikan tangan dengan wajah muram saat perlahan mobilku pergi meninggalkan halaman rumahku menuju bandara. Aku menoleh berkali-kali sampai mobilku berbelok dan aku melihatnya tetap berdiri di tempatnya sambil melambai pelan. Aku menangis di dalam mobil seraya memeluk Ibuku. Dia yang sosoknya terakhir kali kulihat. Dia itu kamu.
Pencarianku tentang sosok cinta pertamaku berhenti di kamu. Aku tidak mencarimu, aku mencari pencarian cinta pertamaku. Aku tidak mencarimu, aku mencari semua kenangan tentang kamu. Aku mencari cinta masa kecilku, mencari cinta yang dulu aku berikan untuk kamu. Baby, I don’t know what love is, maybe I’m a fool. I just know what I’m feeling and it’s all because of you. Don’t tell me, I don’t know. I want the truth, cause they call it we call it you call it I call it love. Kamu yang tak kuketahui kabarnya kini. Kamu yang tak kutahu kebaradannya saat ini. Kamu yang jejaknya hilang sama sekali dari hidupku namun meninggalkan jejak tak terhapuskan dari ingatanku.
I call it love, I call you love.
ditulis @andhkctra dalam http://chaznologic.tumblr.com
Kapten
“Tumben kamu nonton Master Chef Den, nga main bole sama temen temen ?”
“nga deh Bu, aku lagi pengen tau si Juna juna itu kayak apa”
“lah emang kenapa sama chef Juna, Den ?”
Deg. Pertanyaan ibu membuatku gelagepan, aku merasa keringat dingin dan hawa yang sangat menyebalkan menyelimuti tubuhku.
“enggg... nga papa, udah ibu masak aja gih sana..”
Aku menjawab pertanyaan ibu dengan sedikit malu. Mungkin Ibu tau apa yang sudang kurasa, tapi ia tak ingin membiarkan anaknya bertambah malu di depan Ibunya sendiri. Maka ia hanya tersenyum dan pergi meningalkan aku yang sedang asik memperhatikan televisi.
“Oh ini toh si Juna Juna yang sering di omongin ica. Ganteng sih tapi kan dia om om, ko ica demen yang begituan sih. Eh tapi rambutnya keren juga. Besok aku mau miripin gaya dia ah”.
Batinku terus berdiskusi, sembari merekam setiap gaya dan prilaku Juna. Apa ini yang namanya cinta, duh indahnya. Tampa kusadari di sudut dapur, Ibu dan Tiara sedang menertawakanku yang sedang tersenyum sendiri.
“Deni aneh ih, senyum senyum nga jelas gitu”
“udah ah, kamu nga usah usil sama adekmu, dia tuh lagi jatuh cinta”
“ibu sok tau ah, kelas 6 sd mana ngerti cinta?”
“nanti kalo kamu udah jadi seorang ibu, pasti ngerasain deh. Ini namanya naluri seorang ibu”.
***
Entah mowhawk, spike atau jambul gaya rambut yang sedang kukenakan saat ini. Dan Untuk mendirikan rambutku, Aku harus sedikit bekerja keras merayu Ibu. Sedikit pengorbanan, menyapu dan mengepel, untuk sebuah gel pembentuk gaya rambut. Bagiku pengorbanan ini setimpal, demi rambutku agar dapat berdiri kokoh seperti rambut Juna.
Namanya Marissa Laraswati, anak kelas 6B beda kelas denganku. Perempuan yang sukses menurunkan posisiku sebagai straiker menjadi seorang gelandang, lantaran aku tak mau gaya rambutku rusak karena harus menyundul bola. Dia perempuan yang sukses membuatku alim, getol mengaji setiap sore di TPA masjid. Kerena belakangan ini aku baru tau dia juga mengaji di situ.
Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jantung berdegup kencang, hati terasa nyeri nyeri tapi sensasinya nikmat. Dunia ini jadi berasa lebih indah saat memikirkan dia. Merasa senang setengah mati saat bersamanya dan rindu setengah mati saat menjelang malam.
***
“Den rambutmu keren deh, kalo didiriin kaya gitu”
“hehehee, bisa aja kamu ca. Kamu juga tambah cantik kalo lagi pake kerudung”
Ica tersenyum manis saat aku bilang dia cantik. Demi layangan, sepedah, play station, kartun minggu dan apapun yang membuat hidupku senang. Kamu berada diurutan teratas ca.
“oh ya Den, biasanya kalo habis pulang sekolah kamu ngapain ?”
“yah kalo nga main ps bareng Robi, paling aku main layangan sama dia, kadang main bola juga sih”
“oh” (ica terlihat bimbang, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu)
“emangnya kenapa?”
“nga papa ko” ica tersenyum ke arahku.
Perjalanan pulang mengaji ini pun berhenti tepat di depan rumah nya. Perjalanan pulang mengaji menuju rumah kami memang searah, hanya berbeda beberapa block saja dari rumah ku dan rumah ica.
Malam itu Ica terlihat sedikit berbeda tidak seperti biasanya. Dia langsung masuk tampa basa basi mengajaku main kerumahnya. Yah walaupun selama ini aku selalu menolak lantaran rasa malu yang sangat menganggu ku, saat berduaan dengannya dirumahnya berasa lain saja. Aku lebih suka bersama ica saat di sekolah, di TPA, di kantin sekolah ataupun bermain di lapangan komplek ketimbang berdua dirumahnya. Entah rasanya aneh saja.
Malam itu Ica membuat lubang pertanyaan yang sangat besar dimalamku, entah mengapa aku sangat merindukan dia. Malam itu tampa sadar aku meneteskan air mata. Bukan karena rasa takut, bukan karena rasa sakit dan bukan karena rasa malu juga. Aku juga tak tau apa rasanya ini, belakangan aku tau inilah yang dinamakan patah hati. Rasa yang sangat menyebalkan.
***
Tiga hari sudah aku tak melihat Ica di sekolah, di tempat mengaji pun demikian, rumahnya sepi saat ku kunjungi. Saat itu aku curiga, Ica pindah rumah. Esokan hari di sekolah, aku bertanya pada walikelasnya sepulang sekolah. Dan ternyata benar Ica memang sudah pindah sekolah tiga hari yang lalu.
Baru kali ini hidupku penuh dengan tampa selera. Playstation kecintaanku di bajak Tiara tapi aku sama sekali tak peduli. Sepedahku di pinjam Robi dan aku masih tak peduli. Bahkan rasa rendang kesukaanku tak bisa membuatku menambah selera makanku. Aku sedih melihat Ibu yang juga sedih melihat kesedihanku. Tiga hari aku mendekam dikamar. Tiga hari aku membuat teman temanku geram, karena tim bola kami dikalahkan dengan mudah. Tiga hari aku merasa ini buaknlah diriku, sampai surat darimu datang.
Ucapan yang seharusnya malam itu kau katakan langsung padaku kini datang dan menjelma berupa secarik surat. Surat yang ku tunggu tunggu, sampai sampai aku harus mendekam sendirian disini, menjadi orang lain yang sangat menyebalkan. Kubuka suratmu...
Bandung, 15-09-2012
Dear Deni Anggoro Putra,
Surat ini kutulis karena aku terus menerus rindu kamu Den. Mau percaya apa nga nya itu terserah kamu, tapi aku sudah tiga hari bermimpi tentang kamu, bermimpi tentang masa masa kita disekolah, di TPA, di lapangan kompek dan aku rindu senyumu serta candaan khas tentangmu.
Maaf malam itu aku nga bisa nyampein perpisahan ini. Aku takut nangis didepan kamu, aku juga bingung musti gimana. Aku pengennya papah nga usah naik pangkat aja biar kita nga pisah. Tapi aku nga tega saat liat papah dengan wajah senangnya bilang ke mamah, “aku naik pangkat mah” dan memeluku. Dia bilang kami akan pindah ke Bandung, dan aku akan melanjutkan sekolah disana.
Aku tau kamu pasti marah sama aku tentang ini, tapi aku mau kamu coba ngertiin aku ya.
Oh ya, sebelum aku pergi aku sempet nitipin kenang kenangan untukmu berupa kalung ke Rere temen sebangku ku. Tadinya kubilang jangan dikasih ke Deni, kalo kamu nga nanyain kabar aku duluan ke dia, tapi aku sekarang nga peduli tentang perasaan kamu yang mau peduli sama aku, apa nga. Aku mau kamu nerima pemberian dariku itu.
Oh ya kalo lagi banyak waktu di antara, playtation, sepedah dan bola. Tolong sempetin bales suratku atau nga sms aku di nomer 0812345*** ya. Aku baru dapet handphone dari papah.
Aku rindu Kamu Deni Anggoro Putra J
Marissa Laraswati
Kututup suratmu dengan tangisan yang langsung membanjiri mataku. Ibu yang saat itu melihatku langsung memeluku dan menenagkan aku.
” Kita hanya selintasan Den, kamu hanya diterpa secuil taji hati. Dengan sekelumit sibuk, dibuai waktu yang tak berlama lama. Maka kau akan baik baik saja, sayang”
Aku kemudian tersenyum kearah ibu. Dan tak lama suara Robi berserta teman temanku diluar menyeruak memangil namaku.
“ kapteeennn.. mau main bola nga?”
Aku bergegas bangkit dari pelukan ibu, menuju kamar mandi, mencuci jejak airmataku dan dengan lantang ku hadapi lagi arena bermainku.
“ hayooo jalan temen temen, kita hajar anak komplek B. Oh ya tapi kali ini aku jadi staiker lagi ya!!!”
“yeeeeeaaayyyyy .... serbuuuuu!!!!!!!”
It's all your love, that keeps me hanging on
I count the days without you by my side
It's all your love, that keeps my dreams alive
And girl I can't thank you enough
For all your love
Tell me, child, will you love me when I grow old
Will your tender touch be the same?
ditulis @baskorodien dalam http://horohorooroi.posterous.com
“nga deh Bu, aku lagi pengen tau si Juna juna itu kayak apa”
“lah emang kenapa sama chef Juna, Den ?”
Deg. Pertanyaan ibu membuatku gelagepan, aku merasa keringat dingin dan hawa yang sangat menyebalkan menyelimuti tubuhku.
“enggg... nga papa, udah ibu masak aja gih sana..”
Aku menjawab pertanyaan ibu dengan sedikit malu. Mungkin Ibu tau apa yang sudang kurasa, tapi ia tak ingin membiarkan anaknya bertambah malu di depan Ibunya sendiri. Maka ia hanya tersenyum dan pergi meningalkan aku yang sedang asik memperhatikan televisi.
“Oh ini toh si Juna Juna yang sering di omongin ica. Ganteng sih tapi kan dia om om, ko ica demen yang begituan sih. Eh tapi rambutnya keren juga. Besok aku mau miripin gaya dia ah”.
Batinku terus berdiskusi, sembari merekam setiap gaya dan prilaku Juna. Apa ini yang namanya cinta, duh indahnya. Tampa kusadari di sudut dapur, Ibu dan Tiara sedang menertawakanku yang sedang tersenyum sendiri.
“Deni aneh ih, senyum senyum nga jelas gitu”
“udah ah, kamu nga usah usil sama adekmu, dia tuh lagi jatuh cinta”
“ibu sok tau ah, kelas 6 sd mana ngerti cinta?”
“nanti kalo kamu udah jadi seorang ibu, pasti ngerasain deh. Ini namanya naluri seorang ibu”.
***
Entah mowhawk, spike atau jambul gaya rambut yang sedang kukenakan saat ini. Dan Untuk mendirikan rambutku, Aku harus sedikit bekerja keras merayu Ibu. Sedikit pengorbanan, menyapu dan mengepel, untuk sebuah gel pembentuk gaya rambut. Bagiku pengorbanan ini setimpal, demi rambutku agar dapat berdiri kokoh seperti rambut Juna.
Namanya Marissa Laraswati, anak kelas 6B beda kelas denganku. Perempuan yang sukses menurunkan posisiku sebagai straiker menjadi seorang gelandang, lantaran aku tak mau gaya rambutku rusak karena harus menyundul bola. Dia perempuan yang sukses membuatku alim, getol mengaji setiap sore di TPA masjid. Kerena belakangan ini aku baru tau dia juga mengaji di situ.
Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Jantung berdegup kencang, hati terasa nyeri nyeri tapi sensasinya nikmat. Dunia ini jadi berasa lebih indah saat memikirkan dia. Merasa senang setengah mati saat bersamanya dan rindu setengah mati saat menjelang malam.
***
“Den rambutmu keren deh, kalo didiriin kaya gitu”
“hehehee, bisa aja kamu ca. Kamu juga tambah cantik kalo lagi pake kerudung”
Ica tersenyum manis saat aku bilang dia cantik. Demi layangan, sepedah, play station, kartun minggu dan apapun yang membuat hidupku senang. Kamu berada diurutan teratas ca.
“oh ya Den, biasanya kalo habis pulang sekolah kamu ngapain ?”
“yah kalo nga main ps bareng Robi, paling aku main layangan sama dia, kadang main bola juga sih”
“oh” (ica terlihat bimbang, sepertinya ingin menyampaikan sesuatu)
“emangnya kenapa?”
“nga papa ko” ica tersenyum ke arahku.
Perjalanan pulang mengaji ini pun berhenti tepat di depan rumah nya. Perjalanan pulang mengaji menuju rumah kami memang searah, hanya berbeda beberapa block saja dari rumah ku dan rumah ica.
Malam itu Ica terlihat sedikit berbeda tidak seperti biasanya. Dia langsung masuk tampa basa basi mengajaku main kerumahnya. Yah walaupun selama ini aku selalu menolak lantaran rasa malu yang sangat menganggu ku, saat berduaan dengannya dirumahnya berasa lain saja. Aku lebih suka bersama ica saat di sekolah, di TPA, di kantin sekolah ataupun bermain di lapangan komplek ketimbang berdua dirumahnya. Entah rasanya aneh saja.
Malam itu Ica membuat lubang pertanyaan yang sangat besar dimalamku, entah mengapa aku sangat merindukan dia. Malam itu tampa sadar aku meneteskan air mata. Bukan karena rasa takut, bukan karena rasa sakit dan bukan karena rasa malu juga. Aku juga tak tau apa rasanya ini, belakangan aku tau inilah yang dinamakan patah hati. Rasa yang sangat menyebalkan.
***
Tiga hari sudah aku tak melihat Ica di sekolah, di tempat mengaji pun demikian, rumahnya sepi saat ku kunjungi. Saat itu aku curiga, Ica pindah rumah. Esokan hari di sekolah, aku bertanya pada walikelasnya sepulang sekolah. Dan ternyata benar Ica memang sudah pindah sekolah tiga hari yang lalu.
Baru kali ini hidupku penuh dengan tampa selera. Playstation kecintaanku di bajak Tiara tapi aku sama sekali tak peduli. Sepedahku di pinjam Robi dan aku masih tak peduli. Bahkan rasa rendang kesukaanku tak bisa membuatku menambah selera makanku. Aku sedih melihat Ibu yang juga sedih melihat kesedihanku. Tiga hari aku mendekam dikamar. Tiga hari aku membuat teman temanku geram, karena tim bola kami dikalahkan dengan mudah. Tiga hari aku merasa ini buaknlah diriku, sampai surat darimu datang.
Ucapan yang seharusnya malam itu kau katakan langsung padaku kini datang dan menjelma berupa secarik surat. Surat yang ku tunggu tunggu, sampai sampai aku harus mendekam sendirian disini, menjadi orang lain yang sangat menyebalkan. Kubuka suratmu...
Bandung, 15-09-2012
Dear Deni Anggoro Putra,
Surat ini kutulis karena aku terus menerus rindu kamu Den. Mau percaya apa nga nya itu terserah kamu, tapi aku sudah tiga hari bermimpi tentang kamu, bermimpi tentang masa masa kita disekolah, di TPA, di lapangan kompek dan aku rindu senyumu serta candaan khas tentangmu.
Maaf malam itu aku nga bisa nyampein perpisahan ini. Aku takut nangis didepan kamu, aku juga bingung musti gimana. Aku pengennya papah nga usah naik pangkat aja biar kita nga pisah. Tapi aku nga tega saat liat papah dengan wajah senangnya bilang ke mamah, “aku naik pangkat mah” dan memeluku. Dia bilang kami akan pindah ke Bandung, dan aku akan melanjutkan sekolah disana.
Aku tau kamu pasti marah sama aku tentang ini, tapi aku mau kamu coba ngertiin aku ya.
Oh ya, sebelum aku pergi aku sempet nitipin kenang kenangan untukmu berupa kalung ke Rere temen sebangku ku. Tadinya kubilang jangan dikasih ke Deni, kalo kamu nga nanyain kabar aku duluan ke dia, tapi aku sekarang nga peduli tentang perasaan kamu yang mau peduli sama aku, apa nga. Aku mau kamu nerima pemberian dariku itu.
Oh ya kalo lagi banyak waktu di antara, playtation, sepedah dan bola. Tolong sempetin bales suratku atau nga sms aku di nomer 0812345*** ya. Aku baru dapet handphone dari papah.
Aku rindu Kamu Deni Anggoro Putra J
Marissa Laraswati
Kututup suratmu dengan tangisan yang langsung membanjiri mataku. Ibu yang saat itu melihatku langsung memeluku dan menenagkan aku.
” Kita hanya selintasan Den, kamu hanya diterpa secuil taji hati. Dengan sekelumit sibuk, dibuai waktu yang tak berlama lama. Maka kau akan baik baik saja, sayang”
Aku kemudian tersenyum kearah ibu. Dan tak lama suara Robi berserta teman temanku diluar menyeruak memangil namaku.
“ kapteeennn.. mau main bola nga?”
Aku bergegas bangkit dari pelukan ibu, menuju kamar mandi, mencuci jejak airmataku dan dengan lantang ku hadapi lagi arena bermainku.
“ hayooo jalan temen temen, kita hajar anak komplek B. Oh ya tapi kali ini aku jadi staiker lagi ya!!!”
“yeeeeeaaayyyyy .... serbuuuuu!!!!!!!”
It's all your love, that keeps me hanging on
I count the days without you by my side
It's all your love, that keeps my dreams alive
And girl I can't thank you enough
For all your love
Tell me, child, will you love me when I grow old
Will your tender touch be the same?
ditulis @baskorodien dalam http://horohorooroi.posterous.com
First Love
Sejujurnya, saya kurang mengerti apa definisi “cinta pertama” yang sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa cinta pertama adalah cinta yang kita alami pertama kali dalam hidup, ketika umur kita masih sangat muda. Ada yang mengatakan bahwa cinta pertama adalah cinta terdalam yang kita rasakan untuk pertama kalinya.
Yang pertama, belum tentu jadi yang terdalam dan terbesar.
Bagi saya, jika kedua definisi itu digabungkan menjadi satu, maka cinta pertama saya adalah almarhumah Ibu saya. Dan saya bisa jadi cinta pertamanya, dan bukan Ayah saya.
Kerap kali semasa beliau masih hidup, Ayah sering merasa iri dengan perhatian Ibu kepada saya, dan selalu membanding-bandingkan betapa Ibu lebih mencintai saya dibanding mencintai beliau. Haha.
Sudahlah. Saya tidak mau menangis saat ini.
Anyway, jika cinta pertama itu harus dikaitkan dengan cinta antara lelaki dengan perempuan, terus terang saya tidak begitu ingat siapa cinta pertama saya. Bisa jadi dia lelaki kecil yang selalu menggandeng tangan saya ketika saya duduk di taman kanak-kanak dulu. Atau dia yang saya temui ketika saya lulus kuliah dan menjadi penyebab Ibu menangis berhari-hari dan Ayah marah karena saya telah membuat Ibu memangis.
Terlalu naif rasanya, dan semacam tidak penting sebetulnya membahas tentang cinta pertama bagi saya. Mungkin yang sensasinya paling dahsyat memang cinta pertama, tapi tetap tidak pernah sepenting cinta terakhir.
Bisa jadi cinta terakhir itu bukanlah cinta saya kepada orang yang saya nikahi nanti, tapi cinta saya kepada laki-laki yang kepadanya cinta saya tidak pernah mengenal kata lelah, bosan, bahkan mati.
Cinta pertama memang lebih mungkin lebih tulus dibandingkan dengan cinta terakhir, karena ketika hati kita masih muda, kita hanya tahu mencintai tanpa pernah tahu apa itu cinta yang sesungguhnya, bagaimana seharusnya mencintai, bagaimana rasanya dicintai. Sementara cinta-cinta yang datang selanjutnya, adalah cinta yang lebih penuh pertimbangan. Cinta yang kadang timbul bukan semata-mata karena cinta.
Kadang yang paling kita gila-gilai, bisa jadi bukan yang terbaik untuk kita.
Dan cinta terakhir? Itu cinta yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga cinta yang menjadi pelabuhan terakhir saya itu adalah cinta terbaik yang pernah saya rasakan dan berikan.
Mungkin benar apa kata Oscar Wilde:
“Men always want to be a woman’s first love - women like to be a man’s last romance.”
Jika memang begitu, kamukah lelaki yang terakhir dalam hidup saya?
Semoga.
ditulis @Dear_Connie dalam http://poeticonnie.tumblr.com
Yang pertama, belum tentu jadi yang terdalam dan terbesar.
Bagi saya, jika kedua definisi itu digabungkan menjadi satu, maka cinta pertama saya adalah almarhumah Ibu saya. Dan saya bisa jadi cinta pertamanya, dan bukan Ayah saya.
Kerap kali semasa beliau masih hidup, Ayah sering merasa iri dengan perhatian Ibu kepada saya, dan selalu membanding-bandingkan betapa Ibu lebih mencintai saya dibanding mencintai beliau. Haha.
Sudahlah. Saya tidak mau menangis saat ini.
Anyway, jika cinta pertama itu harus dikaitkan dengan cinta antara lelaki dengan perempuan, terus terang saya tidak begitu ingat siapa cinta pertama saya. Bisa jadi dia lelaki kecil yang selalu menggandeng tangan saya ketika saya duduk di taman kanak-kanak dulu. Atau dia yang saya temui ketika saya lulus kuliah dan menjadi penyebab Ibu menangis berhari-hari dan Ayah marah karena saya telah membuat Ibu memangis.
Terlalu naif rasanya, dan semacam tidak penting sebetulnya membahas tentang cinta pertama bagi saya. Mungkin yang sensasinya paling dahsyat memang cinta pertama, tapi tetap tidak pernah sepenting cinta terakhir.
Bisa jadi cinta terakhir itu bukanlah cinta saya kepada orang yang saya nikahi nanti, tapi cinta saya kepada laki-laki yang kepadanya cinta saya tidak pernah mengenal kata lelah, bosan, bahkan mati.
Cinta pertama memang lebih mungkin lebih tulus dibandingkan dengan cinta terakhir, karena ketika hati kita masih muda, kita hanya tahu mencintai tanpa pernah tahu apa itu cinta yang sesungguhnya, bagaimana seharusnya mencintai, bagaimana rasanya dicintai. Sementara cinta-cinta yang datang selanjutnya, adalah cinta yang lebih penuh pertimbangan. Cinta yang kadang timbul bukan semata-mata karena cinta.
Kadang yang paling kita gila-gilai, bisa jadi bukan yang terbaik untuk kita.
Dan cinta terakhir? Itu cinta yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga cinta yang menjadi pelabuhan terakhir saya itu adalah cinta terbaik yang pernah saya rasakan dan berikan.
Mungkin benar apa kata Oscar Wilde:
“Men always want to be a woman’s first love - women like to be a man’s last romance.”
Jika memang begitu, kamukah lelaki yang terakhir dalam hidup saya?
Semoga.
ditulis @Dear_Connie dalam http://poeticonnie.tumblr.com
Subscribe to:
Posts (Atom)