Showing posts with label Sherina Munaf. Show all posts
Showing posts with label Sherina Munaf. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Cinta Monyet


Menunggu itu menyebalkan, saudara-saudari!

Entah sudah berapa lama aku duduk di sini. Menunggu makan siangku yang tak kunjung datang. Tahukah kalian betapa mengerikannya nafsu makan para remaja tanggung sepertiku? ABG yang bak mesin pengunyah tak kenal henti. Dan sekarang masih harus menunggu?

Sudah hilir mudik. Sudah menggaruk kepala yang jelas-jelas tak gatal. Sudah bertopang dagu sambil melihat sekeliling. Apalagi yang harus kulakukan? Hingga tiba-tiba ada sosok yang duduk diseberangku.

Astaga! Itu siapa? Tampan sekali!

Zip!

Seketika rasa laparku lenyap entah kemana. Tapi…sebentar. Masih ada getaran di rongga perutku. Bukan! Bukan para penghuni yang menuntut di beri makan. Tapi seperti kupu-kupu yang beterbangan didalamnya. Beda. Geli. Menyenangkan sekaligus mendebarkan.

Tapi kenapa bisa jadi begini? Atau gara-gara sosok tampan di seberang sana? Ah, mana mungkin! Hanya gara-gara dia aku jadi begini? Mustahil! Tapi, ini terjadi sejak dia muncul dihadapanku.

Aaaaarrgh! Aku harus bagaimana?

Makan siangku datang juga. Tapi nafsu makan sudah angkat kaki sejak tadi. Sepertinya dia di seberang sana masih menunggu. Apa yang harus aku lakukan? Makan, sudah tak ingin. Atau…kutawarkan saja padanya? Hitung-hitung aku bisa tahu siapa namanya. Tak ada salahnya, kan?

Perlahan, aku beringsut mendekatinya. Sepertinya, dia menyadari kehadiranku. Berusaha memasang senyum termanis yang aku punya. Dan dia juga melakukan hal yang sama.

Aduh, tampannya!

Aku tak boleh gagal! Aku harus tenang!

Harus!

Aku ulurkan tangan padanya. Dia menyambut dengan hangat. Makan siangku sudah berpindah tangan.

Pisang berkulit kuning nan ranum.


*) Diinspirasi dari lagu Geregetan - Sherina Munaf

Ditulis oleh @WahyuSN dalam http://wahyusiswaningrum.wordpress.com

Tuesday, September 4, 2012

KALAH


Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu

Teruntuk KAMU yang tak pernah pergi,

bahkan dalam diamku yang paling sunyi…

Kau tahu, terkadang perasaan ini membuatku sesak. Aku mencintaimu, tapi kamu tidak. Aku menyayangimu, tapi kamu mencintainya. Kau tahu seperti apa rasanya? Seperti saat kau menitipkan hatimu pada seseorang, lalu dia mencabik-cabiknya tanpa ampun. Melukai perasaan yang dengan sangat hati-hati kau jaga hanya untuknya. Dan lucunya, aku merasakan yang seperti itu setiap hari. Setiap kali aku menatapmu. Setiap kali aku mendengar suaramu. Setiap kali aku melihat kau bersamanya.

Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu


Kadang terbersit rasa untuk melupakanmu saja. Mengikis rasa yang tumbuh di seluruh celah hatiku. Begitu ingin menghapus gurat-gurat kerinduan yang amat menyesakkan. Tapi, Kau tahu, kan? Apa yang kita inginkan, tidak selalu bisa kita lakukan. Aku ingin memalingkan wajah darimu. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, aku tidak bisa. Bahkan untuk tidak menatapmu sehari saja, rasanya sulit sekali. Menatapmu sudah menjadi candu. Candu yang memburu. Aku mencintaimu. Katakan saja perasaanmu adalah sama. Apa itu permintaan yang terlalu sulit?

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Terkadang aku amat membenci perasaan ini. Perasaan yang selalu membisikiku bahwa aku seorang pecundang. Pecundang yang gagal memperjuangkan hatinya sendiri. Detak jantungku pun kerap mengingatkanku, bahwa faktanya, kau memang tak pernah mengingatku. Kau memang tak pernah menganggapku lebih.

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….


AKU TIDAK MENYUKAIMU LAGI. Tapi, astaga! Kenapa perasaan aneh itu kerap berdiam di hatiku. Kenapa perasaan aneh yang aku tak tau namanya apa itu masih setia menemani malam-malam sunyiku. TUHAN, bantu aku menghilangkannya. Aku bahkan tak sanggup menahan bulir-bulir yang jatuh dari mataku. Apa aku selemah itu, Tuhan? Aku hanya ingin melupakannya.

Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu


Aku membencimu! Tapi disisi lain aku amat mencintaimu. Hanya kau yang bisa membuatku menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Kau! Memang hanya kau! Kau yang mengikat hatiku. Kau yang sejak mataku matamu bertemu pandang telah kuletakkan dalam sebuah tempat terindah dalam hatiku. Kau yang telah menyimpan orang lain dihatimu ….


Terkadang aku berharap kau tuliskan satu kata perpisahan yang nyata. Ya, satu saja! Sekalipun sulit bagiku melepas kau pergi. Katakan saja:

“Pergilah. Aku tak akan pernah mencintaimu.”

Maka aku akan mundur dengan hati yang lega. Sungguh ….



*) Diinspirasi oleh lagu Simfoni Hitam - Sherina

Ditulis oleh @ulyauhirayra dalam http://ulyauhirayra.wordpress.com

Pura - Pura


Cinta itu kamu, kamu itu cinta, bagiku. Bagimu, cinta itu aku, dan itu pura-pura.

Pura-pura bahagia…

Pura-pura sedih…

Pura-pura menyayangi…

Pura-pura memperhatikan…

Pura-pura mengagumi…

Pura-pura menyanjung…

Pura-pura berdosa…

Pura-pura malu…

Pura-pura segan,

dan pura-pura mencintaiku.

Hahaha, konyol…

Aku dan kamu merupakan pemeran utama dalam sandiwara busuk ini. Ini bukan cerita dalam alur yang sama, sejalan… Yang biasa kau sebut cinta itu tadi. Terlalu nyaring, jika dibanding dengan sebuah tong. Bahkan tak lebih pintar, dari mereka yang terlalu banyak omong kosong. Bukan orang hebat namanya, jika tak dapat menundukkan ego yang meraja. Eh, bukankah kau terlalu terampil memainkan hijau, merah, dan kuning borokmu hingga tercipta manipulasi warna membutakan asa?

Hey, cinta…

Aku pun tak sempurna. Sebagai pendengar yang baik, misalnya, untuk semua bualan cinta khayalanmu. Amarah yang terkadang meluap, umpatan seringkali terucap… Seluruh kesabaranku telah kau pangkas hingga akar. Hebat! Kau tukar akal sehatku dengan cintamu.

Ups…

Maaf jika aku berpura-pura terlalu jujur. Menyesal? Pikirkan kembali, aku hanya berpura-pura menyesalinya.

Juga berpura-pura bersedih…

Pura-pura menangis…

Pura-pura tertawa…

Pura-pura bahagia,

dan pura-pura bangga memilikimu.

Hahahahaha… Lantanglah tawaku sekarang. Karena aku tak perlu mencinta, yang artinya berpura-pura sepertimu :)


*) Diinspirasi oleh lagu 1000 Topeng - Sherina


Ditulis oleh @yayajoleisa dalam http://yayajoleisa.tumblr.com

Monday, September 3, 2012

Simfoni Tiga Dara


Rumah itu jelas tidak terlalu mewah, tapi ruangannya cukup besar untuk menampung keluarga Handyono beserta ketiga putri kembarnya :  Shinta, Julie dan Dewi. Sedikit aneh memang, kenapa nama mereka sama sekali tidak mirip, padahal mereka bertiga kembar identik. Rose—ibu mereka yang keturunan Belanda—mengatakan, dengan memberi nama itu ia berharap suatu saat nanti Shinta, Julie, dan Dewi akan menemukan pangeran yang tepat untuk menjadi Rama, Romeo, dan Dewa mereka.

Rosemary Van Houtten, sang ibu yang memang asli keturunan Belanda itu telah meninggal tujuh belas tahun yang lalu, tepat saat ia melahirkan ketiga putri kembarnya. Dan dalam rentang jarak selama itu, tiga dara ini hanya tinggal bersama ayah mereka.


Shinta, Julie dan Dewi memang identik dari segi wajah mereka yang cantik, tapi mereka sama sekali tidak identik dalam segi kegemaran.

Shinta lebih suka memetik gitarnya seharian sambil menciptakan lagu baru atau sekedar bernyanyi mengisi waktu luang. Julie lebih suka melukis. Banyak lukisannya yang sudah terpajang di rumah, bahkan di kamarnya sendiri. Sedangkah Dewi lebih suka menulis. Menulis adalah hobinya sejak kecil, menulis apa saja—cerpen, puisi, essay, cerbung, bahkan novel.

Pagi itu jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, embun masih menetes membasahi dedaunan di taman, udara pun masih terasa cukup dingin. Begitulah jika tinggal di daerah ketinggian, biasanya panas mentari akan datang sedikit terlambat.

***

TENTANG DEWI

“Shinta !” Aku keluar rumah dan menghampiri saudari kembarku yang sedang asik memetik gitar kesayangannya di taman, “Lagi ngapain lo ?”

Shinta menulis beberapa not di atas kertas, lalu menjawab pertanyaanku dengan nada tidak begitu peduli, “biasa, bikin lagu.”

“Kenapa harus pagi buta begini ? Lagian, di kamar aja kan bisa. Nanti malah sakit lagi.” Aku mengambil tempat duduk di samping gadis itu.

Shinta menghela nafas, “Soalnya yah sekarang ini idenya ada. Kalo harus nunggu nanti siang, ide gue keburu ilang. Kalo di kamar malah suntuk. Asikan di taman, udaranya segar. Brrr..” Shinta menirukan gaya orang sedang kedinginan.

“Huu.. Ya yaa, terserahlah. Mending gue nonton si Julie melukis di dalam.” Aku lalu beranjak meninggalkan Shinta yang masih cuek dengan gitarnya.

***

Setelah masuk ke rumah, aku mendapati Julie duduk di depan kanvas di kamarnya. Matanya sibuk meneliti warna-warna di atas kanvas, sambil sesekali menyapukan kuas ke kanvas untuk merapikan susunan warna. Pasti ia sedang membuat lukisan baru lagi !

“Ngelukis apa, Jul ?” Aku memperhatikan lukisannya yang baru setengah jadi.

“Menurut pandangan lo ini apa?” Julie menghentikan gerakan tangannya dan balik bertanya. Ia menoleh dan memperhatikan reaksiku.

Aku menyipitkan mata, “Hmm, kayak wajah orang ya. Tapi belum sepenuhnya jadi sih. Wajah, wajah cowok gitu!” Aku menebak.

“Right!” Julie mengangguk, “ini cowok gue,” perlahan ia meraba lukisannya.

Aku hanya diam, sambil terus berfikir, Rasanya belum pernah aku melihat Julie jalan dengan cowok, dan wajah cowok ini rasanya familiar. Tidak asing lagi. Dia adalah… !

***

                Malam itu juga aku tidak sengaja mendengar percakapan Julie dengan seseorang di taman. Mereka terlihat dekat sekali, tapi wajahnya tidak kelihatan, wajah cowok itu! Ia melihat ke arah lain. Tapi tanpa melihat wajahpun, aku sudah mengenali karakter suaranya..

“Kenapa kok nggak mau masuk dulu?” Julie menyahut.

“Nggak, disini aja. Nggak bisa lama-lama, Sayang.” Cowok itu membelai pipi Julie.

“Ya udah deh. Tapi besok Mas Bhima datang lagi kan? Katanya mau kenalan sama Ayah..”

“Hmm, iya.. Besok datang lag,” hanya itu kalimat terakhir yang ku dengar, tepat setelah itu aku melihat Shinta berlari ke kamarnya dari arah lain. Ia menangis! Sepertinya ia juga baru saja memperhatikan Bhima dan Julie. Ada apa dengan rumah ini…?

***

TENTANG SHINTA

Aku masuk kamar lalu membanting pintu, tidak peduli ada orang yang mendengarnya, lalu menjatuhkan diri di tempat tidur. Keterlaluan !! Julie keterlaluan ! Dia ada hubungan  apa dengan Bhima ? Padahal kemarin Bhima janji akan mendengarkan lagu baruku, tapi hari ini ia malah datang menemui Julie !

Pengkhianat !

“Shinta..”

Tok tok… Terdengar suara pintu diketuk, itu Julie.

Aku berusaha mengubah air mukaku agar menjadi datar seperti biasanya, lalu membukakan pintu. Julie masuk dan mengikutiku duduk di kasur, “hey, tebak deh ! Barusan cowok gue datang !” ujarnya sumringah. Daun telingaku bagai terbakar. Bhima dan Julie…?

“Sejak kapan, Jul?” Aku meliriknya.

“Sejak dua bulan lalu. Bhima nembak gue. Terus kemaren kan gue bikin lukisan wajah dia. Besok dia mau kenalan sama Ayah,” pipi Julie bersemu merah.

Aku lalu beringsut ke arah meja belajar dan membuka laci meja. Sebuah kotak musik berwarna hitam kuraih dan kuberikan pada Julie, “liat deh.. Coba baca nama di dalamnya !”

“Bhima Love Shinta..” Julie menirukan tulisan di kotak musik itu, “Nama cowok lo Bhima juga? Kok bisa kembar gitu sama gue? Berarti kita…”

“Bukan, Julie ! Mereka orang yang sama !” Aku menggeleng, menahan emosi, “lo tau ? Itu dikasih dua bulan lalu, tepat waktu kami jadian ! Dan lo ngerebut cowok gue !”

Julie diam, perlahan matanya menyipit, “LO YANG REBUT BHIMA ! DIA PUNYA GUE !” Gadis itu mendadak histeris.

Aku tidak sempat menghindar lagi, Julie tiba-tiba maju dan menyerangku!

***

TENTANG JULIE

Aku tidak terima ! Shinta dengan gampangnya berkata bahwa kotak musik itu juga pemberian Bhima, sedangkan aku memiliki kotak musik dengan model dan warna yang sama di kamarku! Disana jelas tertera nama Julie & Bhima! Shinta merebut Bhima dariku diam-diam.

“JULIE ! APA – APAAN LO ?! LEPASIN GUE !” Shinta berteriak saat aku menjambak rambutnya. Aku tidak berfikir panjang lagi. Persetan!

Shinta merapat ke meja, perlahan tangannya meraih benda-benda di atas meja..

CROSS!

“AAAAARRRGGHH…!” Aku berteriak. Gadis itu menyerangku dengan silet. Tanganku terluka, mengeluarkan darah segar.

Kesabaranku habis sudah, aku kembali maju untuk menyerang, tapi Shinta bertindak lebih cepat dengan mencekik leherku dan menjatuhkan tubuhku ke lantai.

“Lo mau nyerang gue, hah ?!! Liat aja, gue bunuh lo !!” Shinta kalap, lebih kalap daripada tingkahku barusan. Barangkali kami sudah terlalu gelap mata.

Shinta mencekik leherku dengan tenaga yang amat kuat, aku terbatuk-batuk berusaha menahan serangannya. Dalam hitungan detik aku mulai pusing, aku butuh udara ! Nafasku tersengal-sengal, mungkin sebentar lagi aku akan mati dan Shinta akan menang.

BRUK !!

Tubuh Shinta ambruk oleh hantaman guci yang tiba-tiba menimpanya, aku dapat melihat jelas.. Di belakangnya Dewi berdiri dengan wajah pucat.

“De.. Dewi..” Aku berusaha mengatur nafasku.

“Gue udah denger semuanya.” Dewi bergumam, nadanya dingin, tidak seperti biasanya, “Lo berdua pengkhianat ! Lo berdua ngerebut Bhima dari gue ! Dia cowok gue !!”

Aku kembali kaget, ada apa dengan seisi rumah ini?! Kenapa semuanya jadi begini?! Hanya karena Bhim?!

“Wi, sebenernya..”

“Tapi lo cukup seneng kan Shinta udah ‘gugur’ sebelum perang ? Harusnya lo berterimakasih, gue udah bantuin lo. Kalo nggak ada gue, lo bakal mati di tangan Shinta tadi.” Dewi tersenyum sinis, seolah mengejek.

“Terus lo mau apa ?! Mau kalap juga kayak dia ? Norak lo !” Aku berusaha mengalihkan perhatian Dewi. Di tangannya sudah tergenggam sebuah pisau dapur.

“Kalo Bhima cuma ada satu. Sedangkan kita bertiga. Berarti harus ada dua orang dong yang mundur?” Dewi melangkah pelan, maju mendekatiku, “Shinta udah ‘gugur’, sekarang tinggal lo dan gue!” Dewi berlari ke arahku dan siap menghantamkan mata pisau yang amat tajam itu. Aku menoleh ke kiri kanan, berusaha mencari bantuan.

BRAKK!

Tubuh Dewi limbung dan terkulai lemah di lantai, sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadaran. Aku tadi tiba-tiba saja meraih vas bunga yang cukup berat dan berhasil menghantam kepalanya sebelum ia menusukku dengan pisau.

Hening. Kamar ini seolah dipenuhi bayang malaikat kegelapan. Perlahan aku melihat kotak musik tadi terbuka dan mengalunkan simfoni sendu. Kotak musik itu adalah kotak musik yang sama seperti yang ada padaku dan Dewi.

Kotak musik itu..

Simfoni itu..

Aku pembunuh!…

***

TENTANG MEREKA

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok ?” Seorang pria setengah baya menghampiri dokter dengan wajah cemas.

Dokter hanya menggeleng, “luka yang ada pada Shinta dan Dewi parah sekali, Pak. Mereka sedang koma. Saya harap bapak bisa bersabar, butuh waktu lama untuk proses penyembuhan keduanya.”

Lelaki itu menggeleng sedih, “Lalu, ada apa dengan Julie ? Saya tidak habis pikir, ia menjadi kalap dan bisa menyerang bahkan hampir membunuh kedua kembarannya sendiri.”

Dokter itu terdiam sejenak, lalu mengajak sang lelaki berbicara empat mata di ruangannya.

“Menurut saya, ketiga anak Bapak menderita sebuah penyakit kejiwaan. Mungkin penyakit itu tumbuh sedari mereka kecil, atau mungkin juga mereka baru terserang setelah dewasa. Mereka bertiga berkhayal bertemu seseorang yang abstrak. Tidak terlihat mata manusia biasa, namun hanya ada dalam bayangan mereka. Dan gilanya lagi, mungkin ketiga orang yang ada dalam banyangan mereka adalah orang yang sama.”

“Bagaimana dokter bisa tahu ? Siapa orang itu ?”

Dokter Bram menggeleng lemah, “itu ilmu medis dari sudut kejiwaan, Pak. Tadi saya sudah diskusi dengan salah satu teman saya yang ahli jiwa. Tentang siapa orangnya, saya sendiri tidak tahu. Orang itu hanya ada dalam ilusi Shinta, Julie dan Dewi. Jadi, hanya mereka yang tahu bagaimana sosok manusia abstraknya itu.”

“Terima kasih, Dok..” Lelaki tua itu mengakhiri pembicaraan mereka dan menyalami Dokter Bram.

“Ya, sama-sama Pak..”

***

TENTANG BHIMA DAN SEBUAH ILUSI

Bhima, ia memang ada. Tapi ia hanya hidup di dalam bayang – bayang ilusi Shinta, Julie dan Dewi. Manusia biasa tidak akan merasakan kehadirannya. Bahkan Bhima yang berkunjung malam itu sebenarnya juga tidak ada. Jika dilihat baik-baik, malam itu Julie bicara sendiri di taman depan rumahnya.

Julie sekarang duduk meringkuk di sebuah ruangan, ruangan yang gelap, dingin dan di pagari oleh jeruji besi. Dari sini ia tidak bisa berfikir lagi, yang terngiang di kepalanya hanya Shinta, Dewi dan Simfoni kegelapan itu. Simfoni yang muncul dari kotak musik tepat setelah tubuh Shinta dan Dewi rebah ke lantai.

“Pembunuh.. Pembunuh !” Julie menarik-narik rambutnya sendiri. Histeris.

“Julie..” Perlahan Julie menatap ke balik jeruji, disana ada Bhima yang sedang tersenyum sinis padanya sambil mengenggam sebuah kotak musik.

Julie terbelalak. Tiba-tiba di samping Bhima muncul bayangan Shinta dan Dewi. Berlumuran darah..

Bhima, yang hanya sesosok ilusi berhasil menguasai pikiran tiga dara itu, hanya dengan sebuah simfoni.

***

 “Di hatiku terukir namamu …

Cinta rindu beradu satu..

Namun s’lalu aku bertanya…

Adakah aku di hatimu?”

(Simfoni Hitam –  Sherina)

***
NOTE:
salah satu cerpen lama yang (nggak terlalu sempat) diedit lagi. Pernah dimuat di Kumcer “Dosa Terindah” self publishing by Nulisbuku w/ Jenny Thalia F & Ivana Yusti. *sekalian iklan


ditulis @PPutriNL dalam http://petronelaputri.wordpress.com

: But I Neet to Know



Dear @Sukab,

Seemed impossible, seemed absurd, I didn’t even know you before
Kept my distance, closing in, I don’t mind caressing your skin

Kebingaran. Itulah aku. Aku adalah manusia keterangan. Segala yang kualami rasanya harus kusampaikan kembali kepada orang lain seterang-terangnya. Segala sesuatu harus diberi keterangan. Semakin banyak kalimat pengurai, semakin terasa jelas apa yang dimaksudkan. Lalu aku mulai menerangkan segala yang terasa baru. keterangan menjadi keseharian. mampu menerangkan apa yang dirasakan padamu menjadi kebahagiaan amat sangat. mungkin waktu itu tujuanku hanya satu, menerjemahkan apa yang aku rasakan agar kamu mengeri dan merasakan hal yang sama. Namun aku lupa, taksemua orang perlu keterangan.

Kebisuan. Itulah kamu. Kamu adalah manusia yang takperlu keterangan. Segala sesuatu yang kamu alamai cukup dirasakan sedalam-dalamnya. Takperlu sedikitpun keterangan. Semakin dalam perasaan yang kamu rasakan, semakin ringkas pernyataan yang tersampaikan. Singkatan menjadi keseharian. Akhirnya aku taktahu banyak soal kamu. Rahasia adalah inti dirimu. Namun kamu taksadar, taksemua orang bisa menerima kebisuan.

Waktu mengajari kita belajar tentang kebingaran dan kebisuan. Bila taksatupun yang mengambil pelajaran, yang akan muncul pasti pertanyaan soal keterangan tentang kita. Tapi tetap saja jawabannya adalah kebisuan. Lalu pada sebuah jeda, aku sangat suka bernyataan manusiawimu tentang pertanyaan dan jawaban:

“Lah? Mana ada orang gak boleh tanya kalau gak tau jawabannya.

Ada juga orang nanya karena butuh jawaban”

That’s right! Pernyataanmu benar dan sangat tepat. Tapi mengapa itu terdengar agak aneh ya? Semua yang kamu katakan menyelisihi apa yang kamu lakukan.

Setiap pertanyaan perlu jawaban. Setiap orang yang bertanya perlu jawaban atas pertanyaannya. Dalam hidup, banyak pertanyaan yang menyediakan pilihan: boleh dijawab atau tidak. Namun, ada juga pertanyaan yang harus dijawab. Banyak juga pertanyaan yang tidak dapat ditimpali dengan kalimat “terserahku dong, mau dijawab atau enggak!” Ada pertanyaan yang benar-benar harus dijawab. Celakanya, kebisuan tidak dapat dihitung sebagai jawaban.

Seperti halnya ujian sekolah, setiap pertanyaan bebas kamu jawab dengan jenis jawaban manapun. Namun, jangan lupa! Setiap ujian punya batas waktu menjawab. Setiap pertanyaan punya usianya. Setiap jawaban punya masa kadaluarsa. Mungkin ada pertanyaan yang bisa kamu tangguhkan menjawabnya, tapi ada pertanyaan yang harus kamu jawab saat itu juga.

Waktu mengajariku tentang kebisuanmu. Aku mencoba menerjemahkan setiap kebisuan sebagai sebuah keterangan. Namun, hasilnya hanya membuatku tersesat dalam makna ketiadaan dan kelemahan. Jawabanmu mungkin berumur panjang, tapi pertanyaanku berbatas waktu. Huffh.. Aku rindu keteranganmu. Terangkanlah…

Something old, something new, something I didn’t thought could be true
Love’s too strong and a bit cliché, For now this is enough, I’ve got a long way
Something old, something new, Something I didn’t thought could be true
I’m afraid to ask but I need to know, Would you want me to stay?Or would you want me to go?

These are my feeling I hope you’ll understand  It might not be much, but it’s more than I can spend

Penuh Cinta

Maneka


ditulis @langitshabrina dalam http://langitshabrina.wordpress.com

Sunday, September 2, 2012

Sherina Munaf - Simfoni Hitam



Adakah aku di hatimu?

Kau benar-benar datang. Setelah hampir dua tahun kita tak bertemu. Sesekali, kita mengobrol dari balik gagang telepon atau hanya saling menyapa dengan pesan singkat. Seperti biasa, aku menikmati hal ini ketika tanganku mendingin dan degup jantungku mencepat. Hampir dua jam kita duduk dan hanya beberapa kalimat saja yang mampu terucap. Entahlah. Lama tak bertemu membuatku canggung. Sekalipun bertemu, toh keadaannya sudah berbeda.

“Apa kabar?”, kalimat pertama yang kau tujukan untukku.

“Adakah aku di hatimu?”

“Gimana kuliahmu?”, kalimat keduamu. Aku menghela napas dalam-dalam. Berusaha meredam rasa sakit yang tiba-tiba menikam.

“Adakah aku di hatimu?”

Kau hanya diam.

Dan aku ulangi. "Adakah aku di hatimu?". 

"Cukup!!!", kalimat terakhirmu. Semakin sesak. Sekuat tenaga, aku menahan bulir-bulir agar tidak tumpah dari ujung kelopakku.

Kenapa kamu menyiksaku dengan cara seperti ini? Tidakkah kamu sadar ketika mataku berpura-pura tegar dan berusaha menyembunyikan airmata didepanmu? Walaupun pada akhirnya, aku menyesal bertemu denganmu kali ini. Ketika satu per satu yang kamu sembunyikan terkuak. Aku benci menyebut namanya. Aku benci ketika mendengar  kamu mengakuinya. Mungkin benar atas apa yang aku dengar dari orang-orang  bahwa cinta itu terkadang berwujud mengikhlaskan dan membiarkan pergi.

Kali ini aku tidak akan banyak bicara. Aku juga tidak akan mencacimu. Aku hanya ingin menangis dan bersandar di pundakmu. Memastikan bahwa aku akan baik-baik saja tanpamu. Memastikan bahwa aku akan baik-baik saja atas apa yang sudah kamu lakukan dengannya. Lalu, pergilah dan bahagiakan dia. Luka ini biar menjadi urusanku.

Malam sunyi, ku impikanmu. Ku lukiskan kita bersama. Namun tak henti aku bertanya. Adakah aku di hatimu?





ditulis @crystalzizahh dalam http://rumahcrystal.blogspot.com