Dengan kereta malam kupulang sendiri
Mengikuti rasa rindu pada kampung halamanku
Pada Ayah yang menunggu,
Pada Ibu yang mengasihiku.
Malam ini, entah mengapa aku memutuskan untuk langsung pulang ke Bandung tanpa menunggu besok. Setiap awal dan akhir bulan, memang jatah rutin untuk pulang, melepas rasa kangen pada keluarga, suasana Bandung, dan makanannya tentu saja. Biasanya, Sabtu pagi baru berangkat naik travel. Tetapi. Malam ini sepulang kantor ingin rasanya segera pulang tanpa menunggu lebih lama lagi.
Langsung kukemas barang-barang dan pesan tiket travel. Sialnya, semua travel dari Jakarta menuju Bandung waiting list. Terpaksa naik kereta. Walaupun perjalanan jadi lebih lama dan letak stasiun jauh dari rumah, tidak masalah asalkan malam ini aku sampai di rumah.
Duduk di hadapanku seorang Ibu
Dengan wajah sendu, sendu kelabu
Penuh rasa haru dia menatapku
Penuh rasa haru dia menatapku seakan ingin memeluk diriku
Di depanku, seorang Ibu duduk dengan kaku sambil terus memperhatikan gerak-gerikku. Tahu kan rasanya jika di amati lekat-lekat oleh seseorang apalagi dalam jarak kurang dari satu meter. Awalnya, aku tidak ambil pusing. Mungkin saja wajahku mirip dengan kenalannya, atau ada yang salah dengan penampilanku, apa jangan-jangan Ibu ini mau mencuri tasku dan menunggu aku terlelap. Banyak pencurian terjadi di kereta malam ini, pasti pencurinya menunggu target hingga tertidur. Tapi rasanya tidak mungkin Ibu ini mau mencuri, ah “Aku harus tetap waspada”, dalam benakku.
“Umurnya berapa?” tiba-tiba Ibu itu bertanya.
“25, Bu.”
Aneh. Biasanya orang menanyakan nama atau cuaca hari ini, basa-basi dulu. Ini tiba-tiba bertanya tentang umur, tapi tetap kujawab juga.
“Anak Ibu tahun ini 20 tahun.”
“Oh ...”
Harus jawab apalagi selain oh, lagipula aku tidak bertanya dan tidak peduli.
“Yah, kalau masih hidup.....” Ucapnya lirih hampir tak terdengar.
Sumpah, aku tidak tahu harus bilang apa. Hanya diam dan menatapnya, berharap dia melanjutkan ceritanya.
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada
Karena sakit dan tak terobati yang wajahnya mirip denganku
Yang wajahnya mirip denganku
“Mukanya mirip sekali dengan muka Mba. Namanya Halimun.”
Kemudian dia mengambil dompet di dalam tasnya, mengeluarkan foto, dan memberikannya padaku. Aku perhatikan dengan seksama. Entahlah fotonya sudah lama, tampak menjamur, wajahnya sekilas memang nampak mirip denganku.
“Mirip yah? Ibu tadi kaget begitu lihat Mba. Rasanya ingin ...”
Aku langsung mengambil tisu, belum sempat kuberikan, Ibu itu sudah memelukku erat.
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada
Halimun, gadis berusia 19 tahun. Dibesarkan dari keluarga yang tidak mampu, ayahnya hanya seorang buruh di pabrik, ibunya berjualan sayur di pasar. Halimun, terkena penyakit demam berdarah. Demam berdarah bukanlah penyakit mematikan jika ditangani secara serius. Demam yang tak kunjung reda, bintik-bintik merah yang mulai menyebar, dehidrasi akibat kurang cairan, kondisinya kian hari kian memburuk. Akhirnya, mereka membawanya ke Rumah Sakit Negeri Bandung dengan hanya membawa surat keterangan tidak mampu.
“Anakmu masih sakit?” Tanya Pak RT.
“Iya, Kang Asep. Sudah diberi obat tapi panasnya ngga turun-turun.”
“Ada bintik merahnya?”
“Ada! Tapi sudah dikasih bedak biar ngga gatal.”
“Demam Berdarah itu. Kenapa ngga di bawa ke dokter?”
“Belum ada uangnya.”
“Saya buatkan surat miskin. Suratnya kamu bawa ke Rumah Sakit, nanti kasih ke petugas yang ada di sana. Gratis.”
“Jadi saya ngga harus bayar, Kang?”
Dengan bermodalkan surat keterangan tidak mampu, mereka berharap Halimun dapat segera sembuh.
Nyatanya proses birokrasi tidak memperdulikan keselamatan seseorang. Mengurus surat saja diperlukan waktu selama satu hari. Halimun yang siang itu sudah berada di ruang gawat darurat hanya didiamkan saja, tanpa diambil-tindakan. Mereka, para suster menunggu komando dari secarik kertas yang sedang ditelusuri kebenarannya bahwa keluarga pasien benar miskin adanya.
Akhirnya surat itu selesai diproses, selesai pula derita yang ditanggung Halimun.
Dia sudah sembuh dan tidak akan pernah sakit lagi.
Ia lalu bercerita tentang anak gadisnya yang telah tiada
Karena sakit dan tak terobati yang wajahnya mirip denganku
Yang wajahnya mirip denganku
Sepanjang perjalanan kereta Jakarta-Bandung malam ini, Ibu itu terus menangis memelukku sambil sesekali mengelus-elus pipiku dan menyebut “Halimun, anakku”.
ditulis @ch_evaliana dalam http://3v4s-mind.blogspot.com
Showing posts with label Hari #10. Show all posts
Showing posts with label Hari #10. Show all posts
Tuesday, September 11, 2012
Menjagamu
Ohh…di kedalaman tidurmu
Kau tersenyum lugu
Hmm…mendekap damai dan tak berdosa
Mataku menatap ke arah anak perempuanku yang sedang tidur. Pasti dia tertidur karena kelelahan hari ini. Tadi kudengar dia bercerita pada ibunya mengenai kegiatannya hari ini. Sibuk sekali sepertinya. Dengan gayanya yang khas dia tadi bercerita tentang teman-teman barunya, guru-guru barunya, pelajaran berhitung yang diterimanya hari ini, dan seragam barunya yang terkena tumpahan es krim di sekolah tadi pagi. Wajahnya terlihat sangat tenang di tidurnya. Sesekali bibirnya tertarik dan membentuk senyum kecil di wajahnya yang bulat itu. Pasti dia sedang bermimpi indah tentang teman-teman dan sekolah barunya. Hidupnya baru saja dimulai. Aku akan menjaganya.
Tidurlah tidur bidadari kecilku
Setelah lelah kau bermain
Mimpikan dirimu dalam istana
Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka
Perlahan kuusap lembut pipinya untuk menghapus sisa airmata yang masih ada disana. Dia baru saja tertidur. Tadi kulihat dia menangis hampir sejam sambil menulis di buku hariannya. Tak sengaja aku mengintip isinya. Ternyata kekasihnya baru saja meninggalkannya. Entah apa masalahnya, aku tak tahu. Tapi dia terlihat sedih sekali. Rasanya hatiku ikut teriris melihat airmatanya mengalir di pipinya. Aku tahu ini cinta pertamanya, jadi pasti hatinya sangat terluka. Tapi tak apa, dia akan belajar mengenai beberapa hal mengenai hidup. Dan ini salah satunya. Dia akan belajar bahwa dia tak mungkin mendapatkan segala yang diinginkan. Dia akan belajar bahwa menemukan seseorang itu merupakan proses panjang. Dan dia akan belajar bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Namun selalu akan ada babak baru yang akan mengisi hidupnya setelahnya. Aku akan terus menjaganya hingga dia siap untuk babak baru itu.
Kubelai gelombang rambutmu
Menitipkan kasih sayang
Semoga berlimpah ruah bahagia
Kita reguk bersama
Bangga sekali aku melihatnya berdiri di barisan depan, di antara mahasiswa yang diwisuda hari ini. Akhirnya dia berhasil mencapai cita-citanya menjadi dokter. Perjuangannya 5 tahun ini tidak sia-sia. Dia berhasil lulus dengan predikat cum laude. Aku melihat semua usahanya selama ini. Belajar hingga menjelang pagi, mencari referensi tugas di perpustakaan hingga diusir secara halus karena perpustakaan itu akan tutup, dan sibuk praktikum saat anak-anak sebayanya sedang nongkrong di mal di akhir pekan. Semua kerja kerasnya terbayar lunas hari ini. Senyumnya terlihat sangat bahagia. Namun perjalanannya masih panjang, dan aku masih harus terus menjaganya.
Dan kukecup lembut keningmu
Rasa haru luluh jua
Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba
Menjemput hari
Aku memandang ke arah pelaminan. Kulihat anakku tersenyum bahagia menyambut tamu-tamu yang mengantri untuk bersalaman dengan mereka. Di sebelahnya duduk laki-laki yang telah resmi menikahinya tadi pagi. Aku sedikit menyesal tidak bisa hadir langsung pada acara itu. Namun adikku telah menggantikanku. Tapi tak apa, aku cukup bahagia menyaksikannya dari sini. Hatiku sedikit tersayat saat melihatnya menangis. Mungkin dia sedang mengingatku. Dan malam ini adalah akhir dari seluruh perjalananku menjaganya. Sekarang tugas itu telah berpindah pada suaminya. Aku percaya laki-laki itu akan menjaganya sebaik aku menjaganya selama ini. Ini waktunya aku meninggalkan mereka dan memulai perjalananku yang sempat tertunda. Sebelum pergi, aku melihat anakku memandang sekilas ke arahku. Dia pasti tahu aku, ayahnya, telah menjaganya selama ini walaupun dia tak pernah melihatku sepanjang hidupnya. Aku tenang sekarang.
ditulis @bernardls dalam http://bangbernard.com
Kau tersenyum lugu
Hmm…mendekap damai dan tak berdosa
Mataku menatap ke arah anak perempuanku yang sedang tidur. Pasti dia tertidur karena kelelahan hari ini. Tadi kudengar dia bercerita pada ibunya mengenai kegiatannya hari ini. Sibuk sekali sepertinya. Dengan gayanya yang khas dia tadi bercerita tentang teman-teman barunya, guru-guru barunya, pelajaran berhitung yang diterimanya hari ini, dan seragam barunya yang terkena tumpahan es krim di sekolah tadi pagi. Wajahnya terlihat sangat tenang di tidurnya. Sesekali bibirnya tertarik dan membentuk senyum kecil di wajahnya yang bulat itu. Pasti dia sedang bermimpi indah tentang teman-teman dan sekolah barunya. Hidupnya baru saja dimulai. Aku akan menjaganya.
Tidurlah tidur bidadari kecilku
Setelah lelah kau bermain
Mimpikan dirimu dalam istana
Menari (lincah dan bernyanyi merdu) penuh suka
Perlahan kuusap lembut pipinya untuk menghapus sisa airmata yang masih ada disana. Dia baru saja tertidur. Tadi kulihat dia menangis hampir sejam sambil menulis di buku hariannya. Tak sengaja aku mengintip isinya. Ternyata kekasihnya baru saja meninggalkannya. Entah apa masalahnya, aku tak tahu. Tapi dia terlihat sedih sekali. Rasanya hatiku ikut teriris melihat airmatanya mengalir di pipinya. Aku tahu ini cinta pertamanya, jadi pasti hatinya sangat terluka. Tapi tak apa, dia akan belajar mengenai beberapa hal mengenai hidup. Dan ini salah satunya. Dia akan belajar bahwa dia tak mungkin mendapatkan segala yang diinginkan. Dia akan belajar bahwa menemukan seseorang itu merupakan proses panjang. Dan dia akan belajar bahwa tiada yang abadi di dunia ini. Namun selalu akan ada babak baru yang akan mengisi hidupnya setelahnya. Aku akan terus menjaganya hingga dia siap untuk babak baru itu.
Kubelai gelombang rambutmu
Menitipkan kasih sayang
Semoga berlimpah ruah bahagia
Kita reguk bersama
Bangga sekali aku melihatnya berdiri di barisan depan, di antara mahasiswa yang diwisuda hari ini. Akhirnya dia berhasil mencapai cita-citanya menjadi dokter. Perjuangannya 5 tahun ini tidak sia-sia. Dia berhasil lulus dengan predikat cum laude. Aku melihat semua usahanya selama ini. Belajar hingga menjelang pagi, mencari referensi tugas di perpustakaan hingga diusir secara halus karena perpustakaan itu akan tutup, dan sibuk praktikum saat anak-anak sebayanya sedang nongkrong di mal di akhir pekan. Semua kerja kerasnya terbayar lunas hari ini. Senyumnya terlihat sangat bahagia. Namun perjalanannya masih panjang, dan aku masih harus terus menjaganya.
Dan kukecup lembut keningmu
Rasa haru luluh jua
Jangan dulu terjaga sampai pagi tiba
Menjemput hari
Aku memandang ke arah pelaminan. Kulihat anakku tersenyum bahagia menyambut tamu-tamu yang mengantri untuk bersalaman dengan mereka. Di sebelahnya duduk laki-laki yang telah resmi menikahinya tadi pagi. Aku sedikit menyesal tidak bisa hadir langsung pada acara itu. Namun adikku telah menggantikanku. Tapi tak apa, aku cukup bahagia menyaksikannya dari sini. Hatiku sedikit tersayat saat melihatnya menangis. Mungkin dia sedang mengingatku. Dan malam ini adalah akhir dari seluruh perjalananku menjaganya. Sekarang tugas itu telah berpindah pada suaminya. Aku percaya laki-laki itu akan menjaganya sebaik aku menjaganya selama ini. Ini waktunya aku meninggalkan mereka dan memulai perjalananku yang sempat tertunda. Sebelum pergi, aku melihat anakku memandang sekilas ke arahku. Dia pasti tahu aku, ayahnya, telah menjaganya selama ini walaupun dia tak pernah melihatku sepanjang hidupnya. Aku tenang sekarang.
ditulis @bernardls dalam http://bangbernard.com
Mudah Saja
Langit masih berwarna kelabu. Hujan baru saja berhenti setelah turun sederas – derasnya sejak pagi, menumpahkan tetes demi tetes air ke bumi. Bau daun – daun basah menguar, memberikan efek kesejukan jika menghirupnya.
Rena merapatkan tubuhnya. Sedikit menggigil akibat sejuk. Matanya sayu, ia sangat mengantuk. Hawa seperti ini adalah hawa yang paling ideal untuk tidur, bukannya untuk mendengarkan berbagai pemaparan teori atom mulai dari yang paling sederhana seperti yang diungkapkan Demokritus bahwa unsur terkecil suatu benda ialah atom, atau yang kompleks seperti teori atom Niels Bohr dan teori Mekanika Kuantum. Ah! Seperti mendengar dongeng sebelum tidur!
Ia lalu mengerling ke arah jam dinding. Masih lama, empat puluh menit lagi. Rasanya waktu berjalan sejuta kali lebih lambat siang ini. Pikirannya lalu bermain sendiri, berimajinasi, lalu tanpa sengaja teringat hal yang paling ia hindari…
Fathir. Mengingat nama itu saja bisa membawa beribu perasaan menyiksa. Seakan – akan semuanya memberontak di dada, ingin dikeluarkan paksa. Rena menarik nafas panjang, teringat sebuah kejadian yang masih teringat jelas di benaknya.
Malam itu seharusnya akan jadi malam yang sama seperti malam biasanya kalau saja Fathir tidak datang ke rumahnya mendadak. Tanpa memberitahu apa – apa. Rena tentu saja terkejut, walaupun ada perasaan senang yang melesak – lesak di hatinya. Fathir! Betapa ia sangat rindu padanya. Sangat – sangat rindu, hingga perasaan itu terkadang tak dapat diungkapkan lagi oleh kata – kata.
“Ada apa?” tanyanya riang setelah mempersilahkan Fathir duduk.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawab Fathir.
“You’re not good at lying, you know that?” Rena tertawa kecil. Basa – basi lama!
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…”
DEG!
Jantung Rena tiba – tiba saja berdetak lebih keras. Waktu serasa berhenti seketika.
Rena diam sejenak. Ia ingin sekali berkata bahwa ia juga merindukan Fathir sama besarnya. Bahkan mungkin lebih besar. Setiap hari, setiap menit, setiap detik mungkin selalu dihabiskan Rena untuk merindukannya. Tapi ia lantas teringat sesuatu.
“Hmm.. Dian tahu kamu kesini?” tanyanya hati – hati. Sekaligus takut.
“Nggak. Dia nggak tahu…” Fathir menunduk. Wajahnya semakin tak tampak.
Rena menghembuskan nafas berat. Hhh.. sudah disangka. Inilah yang paling ditakutkannya. Fathir… datang kesini tanpa sepengetahuan Dian. Fathir malah mengatakan hal – hal yang seharusnya tidak dikatakan kepadanya. Ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi.
“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkap Fathir lamat – lamat.
Rena tersentak. Tak dipungkiri, batinnya bergejolak senang tapi akal sehatnya mengingatkannya kepada Dian dan perasaan bersalah kembali menyelimutinya.
"Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Rena sengaja menggantung kalimatnya. Membiarkan diam menyelesaikan.
Keduanya larut dalam diam. Semuanya sibuk dengan pikiran sendiri – sendiri. Sibuk menyusun kata – kata apa yang harus diucapkan saat itu.
Hati Rena gemuruh. Pikirannya berkecamuk hebat. Kata – kata Fathir tadi jelas membuatnya senang. Rasanya bahkan lebih membahagiakan dibandingkan mendapat nilai 90 di pelajaran Fisika. Tapi Fathir milik Dian, bukan miliknya lagi. Dan karna itulah, ia merasa sangat bersalah. Dia sekarang tidak punya hak apa – apa. Kata – kata tadi bukanlah miliknya, melainkan milik Dian. Tidak seharusnya tertuju padanya, tapi pada aDian..
Namun di sisi lain, pengharapan Rena juga kembali membunga. Ia pun tak bisa menyangkal ia masih menginginkan Fathir dan jelas ia tak rela jika Dian merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Jikalau Fathir masih menyayanginya, bukankah seharusnya ia yang bersama Fathir bukan malah Dian?
“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rena. Memecah keheningan.
Fathir diam dan terlihat berpikir keras. Rena menunggu respon dengan gugup.
“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…”
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!”
“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…”
Rena jelas tahu. Tanpa perlu diberi tahu pun ia telah mengerti betul. Tapi ia juga tak terima dengan jawaban Fathir tadi. Hatinya memprotes keras. Seharusnya Fathir kembali saja padanya. Seharusnya Fathir meninggalkan Dian untuknya. Toh yang Fathir inginkan ialah dia, bukan Dian? Bukankah akan lebih baik jika kita bersama orang yang kita inginkan dan juga menginginkan kita?
“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…” Fathir mencoba membuat Rena mengerti kesulitannya.
Rena mau tak mau mengakui bahwa ucapan Fathir memang benar. Ini tak adil buat Dian. Sama sekali.
“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” Rena menyerah.
Fathir menarik nafas panjang. Ia lalu pamit untuk pulang. Sudah larut malam. Rena mengantarkannya hingga ke depan rumah. Ada perasaan berat melepaskan, seakan ada perasaan yang belum terselesaikan. Ia sebenarnya masih tak puas. Untuk apa Fathir datang kalau hanya menorehkan luka sekali lagi? Luka yang justru terasa lebih dalam.
Sebelum pulang, Fathir memandanginya sekali lagi, seolah – olah akan meninggalkan Rena untuk selamanya.
“Satu hal,” tukas Rena ketika Fathir menghidupkan motornya.
“Apa?”
“Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…” ucap Rena diiringi dengan senyum dan air mata yang dipaksa setengah mati agar tak keluar.
Fathir tersenyum. Ia menutup kaca helm, lalu melesat dengan motornya. Pergi. Ditelan malam.
Rena menangis sejadi – jadinya, seperti air mata diciptakan memang untuk dibuang begitu saja. Semua beban ingin dikeluarkan bersama – sama dengan air mata yang tak henti – henti menetes ke pipinya. Ia telah merasakan berbagai jenis rasa sakit, tetapi sepertinya rasa sakit inilah yang paling menusuk jiwa.
-0-
"Hoy! Ngelamun aja! Nggak nyatat?” tepukan kecil Nita mengejutkan Rena. Menghamburkan potongan – potongan cerita lama yang berputar dalam otaknya. Rena sontak memandangi jam. Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi. Ia bahkan tak sadar apa yang terjadi di kelas selama tiga puluh menit tadi. Nita menatapnya heran.
“Eh, lo kenapa? Sakit?” tanyanya khawatir. Rena menggeleng pelan. Ia memberi isyarat pada Nita untuk kembali fokus pada penjelasan di depan. Ia pun mencoba mengembalikan konsentrasinya ke pelajaran. Sebisa mungkin dicobanya untuk mengerti penjelasan Pak Tanto yang kini sudah sampai pada spektrum atom Hidrogen. Namun ternyata sangat sulit, mengingat masih ada hal yang menjadi beban pikirannya. Tak sampai dua menit, perhatiannya tak lagi tertuju pada Pak Tanto…
-0-
Beberapa hari sudah lewat sejak peristiwa malam itu. Jujur saja, sejak kejadian mengejutkan sekaligus menyakitkan tersebut, Rena tak bisa tenang. Batinnya bimbang dan benaknya seperti selalu terbebani oleh sesuatu. Lalu datanglah hari itu..
Handphone Rena berbunyi, dering yang sangat Rena kenal. Dari Fathir! Rena bergegas mengangkatnya.
“Halo…?”
“Halo, Ren…”
Rena tak ingat percakapan apapun setelah itu. Basa – basi biasa yang Rena sudah lupakan. Yang membekas hanyalah satu hal. Jelas dan tegas.
“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pinta Fathir, sepertinya setelah banyak pertimbangan.
Rena tak menjawab. Tanpa diminta, air mata meluncuri pipinya. Berlomba – lomba turun, membuat matanya basah dalam waktu singkat.
“Ren? Rena..?”
Sambungan telepon diputus seketika.
Beberapa saat kemudian tangisnya mereda. Ia telah banyak mengambil kesimpulan dalam air mata. Ia telah memantapkan hatinya untuk membuat sebuah keputusan. Keputusan yang sebenarnya tak pernah diinginkannya. Ia lalu menghubungi Fathir balik,
“Halo Ren? Kamu nggak papa kan?” dari suaranya, terdengar Fathir sangat cemas.
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?” pinta Rena. Tegas dan jelas. Ia lalu memutuskan sambungan telepon sebelum Fathir sempat menjawab sepatah kata pun…
-0-
Dering bel mengejutkan Rena. Membuat angan – angannya buyar. Rena seperti baru terbangun dari tidur. Nita mengguncang – guncangkan tubuh Rena, memastikan bahwa temannya itu tidak apa – apa.
“Gue nggak kenapa – kenapa kok, Nit. Ini gara – gara hujan nih, jadi ngantuk banget. Gue nyaris tidur tadi.” ujar Rena seraya mengemaskan buku – bukunya.
“Ya.. kirain aja lo jadi terpesona ngeliatin Pak Tanto. Hahaha…” tukas Nita, lega temannya baik – baik saja.
“Ya nggak lah, asal banget! Lo kali tuh, sampe nggak kedip gitu ngeliatinnya…” Rena balik meledek.
Mereka berjalan keluar kelas sambil tertawa bersama. Saling meledek dan bercanda lalu tertawa lagi. Rena sejenak lupa akan kesedihannya sampai saat tak sengaja matanya menangkap Fathir sedang berjalan dari kejauhan, ada Dian di sisinya.
Rena berhenti tertawa. Ia buru – buru mengalihkan perhatian pada Nita yang menyerocos tentang betapa dinginnya hari ini. Sesekali ia tertawa dan menanggapi temannya yang tak berhenti berceloteh itu.
Diam – diam Rena mencuri pandang ke arah Fathir dan Dian lagi. Hatinya menangis.
Mudah saja bagimu untuk melupakan peristiwa waktu itu…
"Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku"
***
Malam itu mungkin bisa dikatakan malam paling melankolis bagi Fathir. Pikirannya galau, melayang – layang entah kemana. Beribu kata berkecamuk di kepalanya. Ia telah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan perasaan aneh itu, tapi apapun yang ia coba lakukan tampaknya hanya memperburuk perasaannya.
Tak lama ia memutuskan untuk pergi keluar, menghirup udara malam. Ia mengambil kunci motor yang digantungnya di tempat biasa dan bergegas ke garasi. Ketika akan menghidupkan motor, handphonenya berbunyi. Panggilan masuk.
“Kamu lagi apa?” Dian.
“Ga lagi apa – apa kok.” jawabnya pendek.
“Hmm, udah makan?” tanya Dian lagi. Pertanyaan basi! Pikirnya malas.
“Udah. Kamu juga udah kan?”
“Belum nih, belum laper.” jawab Dian dengan nada manja, minta dibujuk.
“Makan gih sana, udah malem gini. Nanti mag kamu kambuh baru deh panik…” setengah hati ia membujuk Dian.
“Iyaa… nanti aku pasti makan kok. Kamu..”
“Dian, udahan dulu ya. Aku ngantuk banget hari ini. Aku pengen tidur…” Fathir memotong perkataan Dian.
“Oh…, gitu ya? Ya udah, kamu tidur aja. Selamat tidur ya. Miss you…”
Fathir terdiam sesaat. Beberapa detik hening, baru ia menjawab. Singkat.
“Miss you too.”
Pembicaraan terputus. Tanpa membuang lebih banyak waktu, ia langsung menghidupkan motornya dan melesat pergi. Sekarang ia sudah tahu harus kemana.
-0-
Fathir memencet bel ragu. Bisa saja semua orang di rumah itu mengomelinya atau menganggapnya tidak punya jam sampai – sampai bertamu semalam ini. Ia melirik sekilas ke jam tangannya. Setengah sembilan malam. Beruntung sekali kalau ia tak sampai diusir dari sini.
Pintu dibuka dan keluarlah gadis yang sepertinya jadi alasan kebimbangannya selama ini.
“Fathir?” nyata sekali gadis itu begitu terkejut atas kedatangannya. Ia pun dipersilahkan duduk.
“Ada apa?” dari nada bicaranya, gadis itu terkesan senang.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawabnya mencoba berbasa – basi.
“You’re not good at lying, you know that?” Ya, gadis yang bernama Rena ini terlalu kenal dia.
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…” Fathir tidak tahu mengapa kata – kata yang selama ini menggedor – gedor hatinya itu keluar begitu saja. Tapi jujur saja, setelah mengungkapkannya, ia merasa seribu kali lebih baik.
“Hmm, Dian tahu kamu kesini?” senyum Fathir lenyap seketika. Mengapa Rena harus menyinggung nama itu? keluhnya di dalam hati.
“Nggak. Dia nggak tahu.” jawabnya singkat, berharap Rena tak membicarakan Dian lagi.
Tapi ternyata, Rena justru jadi bungkam. Fathir pun semakin resah. Tiba – tiba saja ia merasa harus mengatakan apa yang sebetulnya tak boleh dikatakan.
“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkapnya perlahan.
“Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Fathir bisa melihat perubahan warna pada raut wajah Rena.
Nama itu lagi! Fathir memaki dalam hati. Pikirannya mendadak kembali kacau. Mereka jadi sama – sama diam. Canggung.
“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” Jantung Fathir seperti ditarik paksa. Ia tahu, lama – kelamaan pertanyaan ini akan ditanyakan Rena dan sampai saat ini ia masih tak tahu harus menjawab apa.
“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…” ia berusaha agar tak terlihat gugup.
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!” nada suara Rena sedikit naik.
“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…” tiba - tiba saja wajah Dian membayanginya. Menghantuinya. Tiba – tiba ia jadi merasa sangat bersalah. Merasa tak seharusnya ini terjadi. Tiba – tiba ia terbayang Dian yang terluka apabila ia tahu tentang semua ini. Ia memang tak punya rasa yang lebih dalam untuk Dian sedalam rasanya pada Rena, tapi ia tetap tak suka perasaan tidak enak apabila ia menyakiti hati siapapun, apalagi Dian yang tak tahu apa – apa. Dian yang tak sengaja terseret dalam kehidupannya.
“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…”
Fathir tahu Rena tak akan menerima penjelasannya. Ia menyumpah – nyumpah dirinya sendiri karena telah menyakiti hati gadis yang sangat disayanginya itu. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksanya untuk bersikap demikian.
“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” tolak Rena lemah.
Sesungguhnya, Fathir berharap Rena memukuli atau memakinya saja.
Ia melihat jam tangannya, sudah sangat malam. Fathir permisi untuk pulang dengan perasaan tak lebih baik dari seorang pengecut dan pecundang. Ia memandang Rena, mencoba menunjukkan perasaan bersalah dari sorot matanya. Berharap dalam hati semoga Rena tak memutuskan kontak dengannya setelah ini.
“Satu hal,” baru saja Fathir menstarter motornya.
“Apa?” ia menoleh ke Rena dengan cemas.
“Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…”
Hatinya mendadak berbunga. Ia lantas tersenyum dan pergi. Jauh meninggalkan Rena. Berharap dapat melupakan pancaran lembut matanya. Tapi yang dirasa hanyalah kepahitan.
-0-
Beberapa hari setelahnya, Fathir semakin galau. Namun ia tetap bersikap tak ubahnya pacar yang sempurna bagi Dian. Ia tetap menelepon Dian, menyuruhnya makan, mendengarkan ceritanya dan berbagi cerita sehari – hari sekedarnya. Berkata ‘tidak ada apa – apa’ setiap kali Dian merasa ada kejanggalan dari tingkah lakunya. Fathir jadi merasa semakin bersalah. Ia terkadang mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa berterus terang pada Dian dan mengakhiri kepura – puraannya saja. Ia tak bisa, ia terlanjur masuk dalam kehidupan Dian. Ia terlanjur membuat Dian sayang padanya, dan ia tak bisa merusak begitu saja kebahagiaan seseorang, apalagi seseorang itu adalah pacarnya…
Lalu hari itu, ia memutuskan untuk menelepon Rena.
“Halo?”
“Halo Ren..”
Basa basi biasa, lalu ia langsung pada inti pembicaraan. Ia tak boleh menunda – nunda lagi. Sebelum ia kembali merasa berat untuk mengatakannya.
“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pintanya setelah berkali – kali menghela nafas panjang.
Lama Fathir menunggu reaksi dari Rena, tapi lawan bicaranya di seberang itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam.
“Ren? Rena..?” panggilnya. Memastikan komunikasi itu bukanlah komunikasi searah.
Tut.. tut.. tut… Telepon diputus.
Inilah yang Fathir takutkan. Ia telah menyiapkan sejuta argumen dan alasan untuk berbagai tanggapan yang kemungkinan akan dilontarkan Rena. Tapi ia tak punya persiapan apa – apa jika Rena menanggapinya dengan cara seperti ini. Dengan membungkam. Ia ingin menelpon Rena lagi tapi takut panggilannya hanya sia – sia. Ia memutuskan untuk menunggu saja, sambil memikirkan harus berbuat apa ketika tak lama handphonenya berdering. Rena menelponnya balik.
Ragu, dijawabnya telepon dari Rena penuh bimbang, “Halo Ren? Kamu nggak papa kan?”
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?”
Permintaan Rena ini terdengar seperti teriakan skak mat baginya.
-0-
“Kita mau makan dimana?” Dian memandangnya dengan tatapan sayang.
“Hmm, di tempat kemarin juga enak. Terserah kamu sih, kamu lagi pengen makan apa. Aku fleksibel kok.” jawabnya lembut.
“Oke deh. Makan sushi aja ya. Aku lagi ngidam nih.” Dian mencoba bergurau.
“Ngidam? Kayak ibu – ibu hamil aja…” Fathir tertawa kecil, menanggapi gurauan Dian. Ia berusaha menampilkan senyuman termanis. Setelah Dian tak memperhatikannya, ia mengedarkan pandangan ke penjuru sekolah lalu secara spontan memusatkan perhatiannya ke arah kelas Rena. Tanpa sadar, matanya mencari – cari sosok gadis itu. Ia menoleh lagi ke belakang. Melihat Rena yang sedang bersenda gurau dengan Nita. Menikmati cara tertawa Rena yang lepas sambil berharap ia juga dapat tertawa lepas seperti itu tiap kali Dian membuatnya berada di dalam situasi yang mengharuskannya untuk tertawa.
Pikirannya memutar kembali kenangan – kenangan bersama Rena, dan entah mengapa hatinya terasa perih luar biasa.
Mudah saja bagimu menganggap kita tidak pernah ada…
"Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku"
ditulis @ismarestii dalam http://ismapratiwii.blogspot.com
Rena merapatkan tubuhnya. Sedikit menggigil akibat sejuk. Matanya sayu, ia sangat mengantuk. Hawa seperti ini adalah hawa yang paling ideal untuk tidur, bukannya untuk mendengarkan berbagai pemaparan teori atom mulai dari yang paling sederhana seperti yang diungkapkan Demokritus bahwa unsur terkecil suatu benda ialah atom, atau yang kompleks seperti teori atom Niels Bohr dan teori Mekanika Kuantum. Ah! Seperti mendengar dongeng sebelum tidur!
Ia lalu mengerling ke arah jam dinding. Masih lama, empat puluh menit lagi. Rasanya waktu berjalan sejuta kali lebih lambat siang ini. Pikirannya lalu bermain sendiri, berimajinasi, lalu tanpa sengaja teringat hal yang paling ia hindari…
Fathir. Mengingat nama itu saja bisa membawa beribu perasaan menyiksa. Seakan – akan semuanya memberontak di dada, ingin dikeluarkan paksa. Rena menarik nafas panjang, teringat sebuah kejadian yang masih teringat jelas di benaknya.
Malam itu seharusnya akan jadi malam yang sama seperti malam biasanya kalau saja Fathir tidak datang ke rumahnya mendadak. Tanpa memberitahu apa – apa. Rena tentu saja terkejut, walaupun ada perasaan senang yang melesak – lesak di hatinya. Fathir! Betapa ia sangat rindu padanya. Sangat – sangat rindu, hingga perasaan itu terkadang tak dapat diungkapkan lagi oleh kata – kata.
“Ada apa?” tanyanya riang setelah mempersilahkan Fathir duduk.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawab Fathir.
“You’re not good at lying, you know that?” Rena tertawa kecil. Basa – basi lama!
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…”
DEG!
Jantung Rena tiba – tiba saja berdetak lebih keras. Waktu serasa berhenti seketika.
Rena diam sejenak. Ia ingin sekali berkata bahwa ia juga merindukan Fathir sama besarnya. Bahkan mungkin lebih besar. Setiap hari, setiap menit, setiap detik mungkin selalu dihabiskan Rena untuk merindukannya. Tapi ia lantas teringat sesuatu.
“Hmm.. Dian tahu kamu kesini?” tanyanya hati – hati. Sekaligus takut.
“Nggak. Dia nggak tahu…” Fathir menunduk. Wajahnya semakin tak tampak.
Rena menghembuskan nafas berat. Hhh.. sudah disangka. Inilah yang paling ditakutkannya. Fathir… datang kesini tanpa sepengetahuan Dian. Fathir malah mengatakan hal – hal yang seharusnya tidak dikatakan kepadanya. Ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi.
“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkap Fathir lamat – lamat.
Rena tersentak. Tak dipungkiri, batinnya bergejolak senang tapi akal sehatnya mengingatkannya kepada Dian dan perasaan bersalah kembali menyelimutinya.
"Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Rena sengaja menggantung kalimatnya. Membiarkan diam menyelesaikan.
Keduanya larut dalam diam. Semuanya sibuk dengan pikiran sendiri – sendiri. Sibuk menyusun kata – kata apa yang harus diucapkan saat itu.
Hati Rena gemuruh. Pikirannya berkecamuk hebat. Kata – kata Fathir tadi jelas membuatnya senang. Rasanya bahkan lebih membahagiakan dibandingkan mendapat nilai 90 di pelajaran Fisika. Tapi Fathir milik Dian, bukan miliknya lagi. Dan karna itulah, ia merasa sangat bersalah. Dia sekarang tidak punya hak apa – apa. Kata – kata tadi bukanlah miliknya, melainkan milik Dian. Tidak seharusnya tertuju padanya, tapi pada aDian..
Namun di sisi lain, pengharapan Rena juga kembali membunga. Ia pun tak bisa menyangkal ia masih menginginkan Fathir dan jelas ia tak rela jika Dian merebut tempat yang seharusnya menjadi miliknya. Jikalau Fathir masih menyayanginya, bukankah seharusnya ia yang bersama Fathir bukan malah Dian?
“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulut Rena. Memecah keheningan.
Fathir diam dan terlihat berpikir keras. Rena menunggu respon dengan gugup.
“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…”
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!”
“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…”
Rena jelas tahu. Tanpa perlu diberi tahu pun ia telah mengerti betul. Tapi ia juga tak terima dengan jawaban Fathir tadi. Hatinya memprotes keras. Seharusnya Fathir kembali saja padanya. Seharusnya Fathir meninggalkan Dian untuknya. Toh yang Fathir inginkan ialah dia, bukan Dian? Bukankah akan lebih baik jika kita bersama orang yang kita inginkan dan juga menginginkan kita?
“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…” Fathir mencoba membuat Rena mengerti kesulitannya.
Rena mau tak mau mengakui bahwa ucapan Fathir memang benar. Ini tak adil buat Dian. Sama sekali.
“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” Rena menyerah.
Fathir menarik nafas panjang. Ia lalu pamit untuk pulang. Sudah larut malam. Rena mengantarkannya hingga ke depan rumah. Ada perasaan berat melepaskan, seakan ada perasaan yang belum terselesaikan. Ia sebenarnya masih tak puas. Untuk apa Fathir datang kalau hanya menorehkan luka sekali lagi? Luka yang justru terasa lebih dalam.
Sebelum pulang, Fathir memandanginya sekali lagi, seolah – olah akan meninggalkan Rena untuk selamanya.
“Satu hal,” tukas Rena ketika Fathir menghidupkan motornya.
“Apa?”
“Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…” ucap Rena diiringi dengan senyum dan air mata yang dipaksa setengah mati agar tak keluar.
Fathir tersenyum. Ia menutup kaca helm, lalu melesat dengan motornya. Pergi. Ditelan malam.
Rena menangis sejadi – jadinya, seperti air mata diciptakan memang untuk dibuang begitu saja. Semua beban ingin dikeluarkan bersama – sama dengan air mata yang tak henti – henti menetes ke pipinya. Ia telah merasakan berbagai jenis rasa sakit, tetapi sepertinya rasa sakit inilah yang paling menusuk jiwa.
-0-
"Hoy! Ngelamun aja! Nggak nyatat?” tepukan kecil Nita mengejutkan Rena. Menghamburkan potongan – potongan cerita lama yang berputar dalam otaknya. Rena sontak memandangi jam. Sepuluh menit lagi bel sekolah berbunyi. Ia bahkan tak sadar apa yang terjadi di kelas selama tiga puluh menit tadi. Nita menatapnya heran.
“Eh, lo kenapa? Sakit?” tanyanya khawatir. Rena menggeleng pelan. Ia memberi isyarat pada Nita untuk kembali fokus pada penjelasan di depan. Ia pun mencoba mengembalikan konsentrasinya ke pelajaran. Sebisa mungkin dicobanya untuk mengerti penjelasan Pak Tanto yang kini sudah sampai pada spektrum atom Hidrogen. Namun ternyata sangat sulit, mengingat masih ada hal yang menjadi beban pikirannya. Tak sampai dua menit, perhatiannya tak lagi tertuju pada Pak Tanto…
-0-
Beberapa hari sudah lewat sejak peristiwa malam itu. Jujur saja, sejak kejadian mengejutkan sekaligus menyakitkan tersebut, Rena tak bisa tenang. Batinnya bimbang dan benaknya seperti selalu terbebani oleh sesuatu. Lalu datanglah hari itu..
Handphone Rena berbunyi, dering yang sangat Rena kenal. Dari Fathir! Rena bergegas mengangkatnya.
“Halo…?”
“Halo, Ren…”
Rena tak ingat percakapan apapun setelah itu. Basa – basi biasa yang Rena sudah lupakan. Yang membekas hanyalah satu hal. Jelas dan tegas.
“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pinta Fathir, sepertinya setelah banyak pertimbangan.
Rena tak menjawab. Tanpa diminta, air mata meluncuri pipinya. Berlomba – lomba turun, membuat matanya basah dalam waktu singkat.
“Ren? Rena..?”
Sambungan telepon diputus seketika.
Beberapa saat kemudian tangisnya mereda. Ia telah banyak mengambil kesimpulan dalam air mata. Ia telah memantapkan hatinya untuk membuat sebuah keputusan. Keputusan yang sebenarnya tak pernah diinginkannya. Ia lalu menghubungi Fathir balik,
“Halo Ren? Kamu nggak papa kan?” dari suaranya, terdengar Fathir sangat cemas.
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?” pinta Rena. Tegas dan jelas. Ia lalu memutuskan sambungan telepon sebelum Fathir sempat menjawab sepatah kata pun…
-0-
Dering bel mengejutkan Rena. Membuat angan – angannya buyar. Rena seperti baru terbangun dari tidur. Nita mengguncang – guncangkan tubuh Rena, memastikan bahwa temannya itu tidak apa – apa.
“Gue nggak kenapa – kenapa kok, Nit. Ini gara – gara hujan nih, jadi ngantuk banget. Gue nyaris tidur tadi.” ujar Rena seraya mengemaskan buku – bukunya.
“Ya.. kirain aja lo jadi terpesona ngeliatin Pak Tanto. Hahaha…” tukas Nita, lega temannya baik – baik saja.
“Ya nggak lah, asal banget! Lo kali tuh, sampe nggak kedip gitu ngeliatinnya…” Rena balik meledek.
Mereka berjalan keluar kelas sambil tertawa bersama. Saling meledek dan bercanda lalu tertawa lagi. Rena sejenak lupa akan kesedihannya sampai saat tak sengaja matanya menangkap Fathir sedang berjalan dari kejauhan, ada Dian di sisinya.
Rena berhenti tertawa. Ia buru – buru mengalihkan perhatian pada Nita yang menyerocos tentang betapa dinginnya hari ini. Sesekali ia tertawa dan menanggapi temannya yang tak berhenti berceloteh itu.
Diam – diam Rena mencuri pandang ke arah Fathir dan Dian lagi. Hatinya menangis.
Mudah saja bagimu untuk melupakan peristiwa waktu itu…
"Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Kau tak berhak tanyakan keadaanku
Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Andai saja cintamu seperti cintaku"
***
Malam itu mungkin bisa dikatakan malam paling melankolis bagi Fathir. Pikirannya galau, melayang – layang entah kemana. Beribu kata berkecamuk di kepalanya. Ia telah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan perasaan aneh itu, tapi apapun yang ia coba lakukan tampaknya hanya memperburuk perasaannya.
Tak lama ia memutuskan untuk pergi keluar, menghirup udara malam. Ia mengambil kunci motor yang digantungnya di tempat biasa dan bergegas ke garasi. Ketika akan menghidupkan motor, handphonenya berbunyi. Panggilan masuk.
“Kamu lagi apa?” Dian.
“Ga lagi apa – apa kok.” jawabnya pendek.
“Hmm, udah makan?” tanya Dian lagi. Pertanyaan basi! Pikirnya malas.
“Udah. Kamu juga udah kan?”
“Belum nih, belum laper.” jawab Dian dengan nada manja, minta dibujuk.
“Makan gih sana, udah malem gini. Nanti mag kamu kambuh baru deh panik…” setengah hati ia membujuk Dian.
“Iyaa… nanti aku pasti makan kok. Kamu..”
“Dian, udahan dulu ya. Aku ngantuk banget hari ini. Aku pengen tidur…” Fathir memotong perkataan Dian.
“Oh…, gitu ya? Ya udah, kamu tidur aja. Selamat tidur ya. Miss you…”
Fathir terdiam sesaat. Beberapa detik hening, baru ia menjawab. Singkat.
“Miss you too.”
Pembicaraan terputus. Tanpa membuang lebih banyak waktu, ia langsung menghidupkan motornya dan melesat pergi. Sekarang ia sudah tahu harus kemana.
-0-
Fathir memencet bel ragu. Bisa saja semua orang di rumah itu mengomelinya atau menganggapnya tidak punya jam sampai – sampai bertamu semalam ini. Ia melirik sekilas ke jam tangannya. Setengah sembilan malam. Beruntung sekali kalau ia tak sampai diusir dari sini.
Pintu dibuka dan keluarlah gadis yang sepertinya jadi alasan kebimbangannya selama ini.
“Fathir?” nyata sekali gadis itu begitu terkejut atas kedatangannya. Ia pun dipersilahkan duduk.
“Ada apa?” dari nada bicaranya, gadis itu terkesan senang.
“Hmm, cuma numpang singgah. Tadi kebetulan lewat sini.” Jawabnya mencoba berbasa – basi.
“You’re not good at lying, you know that?” Ya, gadis yang bernama Rena ini terlalu kenal dia.
“Yeaah, I know. But you know what? I’m missing you that’s why I’m here…” Fathir tidak tahu mengapa kata – kata yang selama ini menggedor – gedor hatinya itu keluar begitu saja. Tapi jujur saja, setelah mengungkapkannya, ia merasa seribu kali lebih baik.
“Hmm, Dian tahu kamu kesini?” senyum Fathir lenyap seketika. Mengapa Rena harus menyinggung nama itu? keluhnya di dalam hati.
“Nggak. Dia nggak tahu.” jawabnya singkat, berharap Rena tak membicarakan Dian lagi.
Tapi ternyata, Rena justru jadi bungkam. Fathir pun semakin resah. Tiba – tiba saja ia merasa harus mengatakan apa yang sebetulnya tak boleh dikatakan.
“Aku.. masih sayang sama kamu, Ren…” ungkapnya perlahan.
“Aku juga sayang kamu. Tapi kamu…, Dian…” Fathir bisa melihat perubahan warna pada raut wajah Rena.
Nama itu lagi! Fathir memaki dalam hati. Pikirannya mendadak kembali kacau. Mereka jadi sama – sama diam. Canggung.
“Kamu nggak bisa putusin dia ya?” Jantung Fathir seperti ditarik paksa. Ia tahu, lama – kelamaan pertanyaan ini akan ditanyakan Rena dan sampai saat ini ia masih tak tahu harus menjawab apa.
“Ini nggak sesimpel kelihatannya, Rena. Aku nggak mau nyakitin siapapun, termasuk Dian…” ia berusaha agar tak terlihat gugup.
“Tapi kalau kayak gini, kamu nyakitin aku….!” nada suara Rena sedikit naik.
“Aku– ah.. Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku bingung aku harus gimana. Dian.., dia nggak tahu apa – apa. Aku nggak akan bisa tiba – tiba ninggalin dia. Kamu tau kan posisi aku gimana…” tiba - tiba saja wajah Dian membayanginya. Menghantuinya. Tiba – tiba ia jadi merasa sangat bersalah. Merasa tak seharusnya ini terjadi. Tiba – tiba ia terbayang Dian yang terluka apabila ia tahu tentang semua ini. Ia memang tak punya rasa yang lebih dalam untuk Dian sedalam rasanya pada Rena, tapi ia tetap tak suka perasaan tidak enak apabila ia menyakiti hati siapapun, apalagi Dian yang tak tahu apa – apa. Dian yang tak sengaja terseret dalam kehidupannya.
“Aku mau kamu, Ren. Tapi aku nggak bisa putus dengan Dian gitu aja. Coba kamu yang di posisi Dian. Pasti sakit diputusin tanpa sebab. Kamu nggak salah apa – apa, nggak tau apa – apa tapi hubungan kamu berakhir gitu aja. Nggak adil kan rasanya? Dan lagi, aku harus bilang apa sama Dian? Gimana cara aku ngejelasin ke dia supaya aku bisa putus sama dia? Aku serba salah, Rena…”
Fathir tahu Rena tak akan menerima penjelasannya. Ia menyumpah – nyumpah dirinya sendiri karena telah menyakiti hati gadis yang sangat disayanginya itu. Tapi mau bagaimana lagi, keadaan memaksanya untuk bersikap demikian.
“Hah, sudahlah. Jangan dibahas lagi.” tolak Rena lemah.
Sesungguhnya, Fathir berharap Rena memukuli atau memakinya saja.
Ia melihat jam tangannya, sudah sangat malam. Fathir permisi untuk pulang dengan perasaan tak lebih baik dari seorang pengecut dan pecundang. Ia memandang Rena, mencoba menunjukkan perasaan bersalah dari sorot matanya. Berharap dalam hati semoga Rena tak memutuskan kontak dengannya setelah ini.
“Satu hal,” baru saja Fathir menstarter motornya.
“Apa?” ia menoleh ke Rena dengan cemas.
“Bukan cuma kamu yang rindu. Aku juga…”
Hatinya mendadak berbunga. Ia lantas tersenyum dan pergi. Jauh meninggalkan Rena. Berharap dapat melupakan pancaran lembut matanya. Tapi yang dirasa hanyalah kepahitan.
-0-
Beberapa hari setelahnya, Fathir semakin galau. Namun ia tetap bersikap tak ubahnya pacar yang sempurna bagi Dian. Ia tetap menelepon Dian, menyuruhnya makan, mendengarkan ceritanya dan berbagi cerita sehari – hari sekedarnya. Berkata ‘tidak ada apa – apa’ setiap kali Dian merasa ada kejanggalan dari tingkah lakunya. Fathir jadi merasa semakin bersalah. Ia terkadang mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa berterus terang pada Dian dan mengakhiri kepura – puraannya saja. Ia tak bisa, ia terlanjur masuk dalam kehidupan Dian. Ia terlanjur membuat Dian sayang padanya, dan ia tak bisa merusak begitu saja kebahagiaan seseorang, apalagi seseorang itu adalah pacarnya…
Lalu hari itu, ia memutuskan untuk menelepon Rena.
“Halo?”
“Halo Ren..”
Basa basi biasa, lalu ia langsung pada inti pembicaraan. Ia tak boleh menunda – nunda lagi. Sebelum ia kembali merasa berat untuk mengatakannya.
“Ren, aku mau kamu lupakan peristiwa malam itu… Bisa kan?” pintanya setelah berkali – kali menghela nafas panjang.
Lama Fathir menunggu reaksi dari Rena, tapi lawan bicaranya di seberang itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya diam.
“Ren? Rena..?” panggilnya. Memastikan komunikasi itu bukanlah komunikasi searah.
Tut.. tut.. tut… Telepon diputus.
Inilah yang Fathir takutkan. Ia telah menyiapkan sejuta argumen dan alasan untuk berbagai tanggapan yang kemungkinan akan dilontarkan Rena. Tapi ia tak punya persiapan apa – apa jika Rena menanggapinya dengan cara seperti ini. Dengan membungkam. Ia ingin menelpon Rena lagi tapi takut panggilannya hanya sia – sia. Ia memutuskan untuk menunggu saja, sambil memikirkan harus berbuat apa ketika tak lama handphonenya berdering. Rena menelponnya balik.
Ragu, dijawabnya telepon dari Rena penuh bimbang, “Halo Ren? Kamu nggak papa kan?”
“Fathir…”
“Ya?”
“Lupakan aja kita pernah ada. Bisa kan?”
Permintaan Rena ini terdengar seperti teriakan skak mat baginya.
-0-
“Kita mau makan dimana?” Dian memandangnya dengan tatapan sayang.
“Hmm, di tempat kemarin juga enak. Terserah kamu sih, kamu lagi pengen makan apa. Aku fleksibel kok.” jawabnya lembut.
“Oke deh. Makan sushi aja ya. Aku lagi ngidam nih.” Dian mencoba bergurau.
“Ngidam? Kayak ibu – ibu hamil aja…” Fathir tertawa kecil, menanggapi gurauan Dian. Ia berusaha menampilkan senyuman termanis. Setelah Dian tak memperhatikannya, ia mengedarkan pandangan ke penjuru sekolah lalu secara spontan memusatkan perhatiannya ke arah kelas Rena. Tanpa sadar, matanya mencari – cari sosok gadis itu. Ia menoleh lagi ke belakang. Melihat Rena yang sedang bersenda gurau dengan Nita. Menikmati cara tertawa Rena yang lepas sambil berharap ia juga dapat tertawa lepas seperti itu tiap kali Dian membuatnya berada di dalam situasi yang mengharuskannya untuk tertawa.
Pikirannya memutar kembali kenangan – kenangan bersama Rena, dan entah mengapa hatinya terasa perih luar biasa.
Mudah saja bagimu menganggap kita tidak pernah ada…
"Mudah saja bagimu
Mudah saja untukmu
Coba saja lukamu seperti lukaku"
ditulis @ismarestii dalam http://ismapratiwii.blogspot.com
Seharusnya Jujur Saja
“Kamu cinta aku nggak sih, Nat?”
Pertanyaan itu tiba-tiba diucapkan oleh kekasihku, Mas Rama, saat kami sedang makan malam berdua, merayakan ulang tahunnya.
“Cinta.” jawabku singkat.
Mas Rama terdiam. Keheningan melanda. Aku dan dia sama-sama sibuk dengan makanan kami masing-masing. Ini sudah ketiga kalinya dia bertanya seperti itu hari ini. Kujawab dengan jawaban yang sama.
“Kenapa sih? Seharian ini kamu tanya itu terus. Ada yang mengganggu pikiranmu?” aku balik bertanya. Memecah keheningan di antara kami berdua. Mencoba mencairkan suasana.
“Maaf, aku cuma masih belum bisa percaya aja aku bener-bener bisa jadian sama kamu.” dia menjawab.
“Hei, kita udah pacaran lebih dari setahun, dan kamu masih mikirin itu, Mas?” tanyaku lagi.
“Ya. Seringkali aku merasa kamu nggak sungguh-sungguh padaku. Dan kamu nerima aku cuma karena kasian sama aku. Aku merasa aku terlalu beruntung karena bisa memilikimu.” katanya sambil menyendok nasi di piringnya.
“Aku kan udah bilang dari dulu, jangan terlau tinggi menilaiku. Kamu ini aneh, justru aku ini yang minder bisa jadian sama kamu, Mas.” sahutku.
Lalu keheningan melanda lagi. Dia terdiam lagi. Lalu menghela nafasnya perlahan. Kemudian menatap kedua mataku sambil tersenyum.
“Kamu sendiri, cinta aku nggak?” aku bertanya lagi.
“Kalo aku nggak cinta ngapain aku bertahun-tahun nungguin kamu?” katanya.
“Ya udah, kalo gitu kita sama-sama cinta kan. Beres.” jawabku singkat.
“Tapi, Nat, kamu beneran udah lupa sama mantanmu itu?” tanyanya lagi.
“Siapa?” tanyaku.
“Gerald.” jawabnya.
“Ya ampun, Mas, kamu masih mikir aku belum bisa move on dari dia? Kalo belum bisa move on ngapain aku jadian sama kamu? Udah sih, Mas. Nggak usah nanya-nanya itu lagi ya. Ngapain sih bahas-bahas masa lalu, yang penting kan sekarang aku sama kamu. Iya kan?” aku mencoba meyakinkannya.
“Iya sih. Ya udah diselesaiin makannya biar bisa cepet pulang.” sahutnya.
Mas Rama pulang setelah mengecup keningku. Kubiarkan mobilnya berlalu sebelum aku masuk ke dalam rumahku. Ada ragu yang melanda hatiku. Ada rasa bersalah yang mengusik nuraniku. Ya. Karena sesungguhnya, aku telah berdusta padanya.
Kutatap sebuah foto berpigura di atas meja belajarku. Sosok seorang pria yang sedang asyik dengan kameranya terpampang di sana. Pria itu, Gerald. Mantan kekasihku. Kami putus 3 tahun yang lalu. Dan jujur, aku masih belum melupakannya sampai saat ini. Kami putus bukan karena kami sudah tak saling cinta lagi. Tapi karena dia harus pergi jauh melanjutkan studinya ke luar negeri. Dia tak ingin mengikatku karena keberadaannya di sana entah sampai kapan. Dan dia tak ingin aku menunggu, meski sesungguhnya, aku pasti akan menunggu walau dia tak meminta. Tapi, setelah dia pergi, dia sama sekali tak pernah menghubungiku. Komunikasi di antara kami berdua pun terputus sejak saat itu.
Lalu, Mas Rama datang. Sebenarnya kami berdua sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan sebelum aku mengenal Gerald. Dia calon idaman kedua orangtuaku. Sosok pria yang mapan, sopan, dewasa, mandiri, bertanggung jawab dan bisa menjagaku. Dia mulai benar-benar ‘hadir’ setahun setelah Gerald pergi. Dia mulai mendekatiku, selalu ada setiap waktu. Tak lama kemudian akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dia bilang dia cinta aku. Dia bilang dia sudah menaruh hati padaku sejak beberapa tahun yang lalu. Dia bilang dia akan menjagaku. Dan saat itu, aku langsung menerimanya.
Jujur saja, sejak awal aku tak pernah jatuh hati padanya. Namun aku butuh sosok baru yang bisa membantuku melupakan Gerald. Dan Mas Rama hadir di saat yang tepat.
Selama ini aku tak pernah menganggap Mas Rama kekasihku. Dia seperti sosok kakak bagiku. Aku tak bisa mencintainya seperti dia mencintaiku. Aku hanya mencoba mencintainya. Aku tak bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan. Aku sayang padanya, aku tak ingin menyakitinya. Tapi, perasaan sayangku ini bukanlah seperti yang dia harapkan.
Sampai saat ini, masih Gerald yang ada di hatiku. Aku belum bisa lupa. Aku masih merindukannya, aku masih mengharapkannya, dan aku masih menunggunya. Aku tahu Mas Rama pasti merasa. Pasti karena itu juga seharian tadi dia terus saja bertanya. Sungguh, ini juga menyiksaku. Aku tahu seharusnya aku tak berdusta, bahkan setelah sekian lama kami bersama. Tapi aku belum bisa mengatakan semua ini padanya.
Kuambil fotoku bersama Mas Rama yang kusimpan di dalam notes kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Kutatap wajah Mas Rama yang ada di foto itu.
“Maaf, Mas. Aku egois. Aku pasti akan mengatakan yang sesungguhnya suatu hari nanti. Tapi nggak sekarang, karena aku masih butuh kamu.”
ditulis @gandess dalam http://gandessitoresmi.tumblr.com
Pertanyaan itu tiba-tiba diucapkan oleh kekasihku, Mas Rama, saat kami sedang makan malam berdua, merayakan ulang tahunnya.
“Cinta.” jawabku singkat.
Mas Rama terdiam. Keheningan melanda. Aku dan dia sama-sama sibuk dengan makanan kami masing-masing. Ini sudah ketiga kalinya dia bertanya seperti itu hari ini. Kujawab dengan jawaban yang sama.
“Kenapa sih? Seharian ini kamu tanya itu terus. Ada yang mengganggu pikiranmu?” aku balik bertanya. Memecah keheningan di antara kami berdua. Mencoba mencairkan suasana.
“Maaf, aku cuma masih belum bisa percaya aja aku bener-bener bisa jadian sama kamu.” dia menjawab.
“Hei, kita udah pacaran lebih dari setahun, dan kamu masih mikirin itu, Mas?” tanyaku lagi.
“Ya. Seringkali aku merasa kamu nggak sungguh-sungguh padaku. Dan kamu nerima aku cuma karena kasian sama aku. Aku merasa aku terlalu beruntung karena bisa memilikimu.” katanya sambil menyendok nasi di piringnya.
“Aku kan udah bilang dari dulu, jangan terlau tinggi menilaiku. Kamu ini aneh, justru aku ini yang minder bisa jadian sama kamu, Mas.” sahutku.
Lalu keheningan melanda lagi. Dia terdiam lagi. Lalu menghela nafasnya perlahan. Kemudian menatap kedua mataku sambil tersenyum.
“Kamu sendiri, cinta aku nggak?” aku bertanya lagi.
“Kalo aku nggak cinta ngapain aku bertahun-tahun nungguin kamu?” katanya.
“Ya udah, kalo gitu kita sama-sama cinta kan. Beres.” jawabku singkat.
“Tapi, Nat, kamu beneran udah lupa sama mantanmu itu?” tanyanya lagi.
“Siapa?” tanyaku.
“Gerald.” jawabnya.
“Ya ampun, Mas, kamu masih mikir aku belum bisa move on dari dia? Kalo belum bisa move on ngapain aku jadian sama kamu? Udah sih, Mas. Nggak usah nanya-nanya itu lagi ya. Ngapain sih bahas-bahas masa lalu, yang penting kan sekarang aku sama kamu. Iya kan?” aku mencoba meyakinkannya.
“Iya sih. Ya udah diselesaiin makannya biar bisa cepet pulang.” sahutnya.
Mas Rama pulang setelah mengecup keningku. Kubiarkan mobilnya berlalu sebelum aku masuk ke dalam rumahku. Ada ragu yang melanda hatiku. Ada rasa bersalah yang mengusik nuraniku. Ya. Karena sesungguhnya, aku telah berdusta padanya.
Kutatap sebuah foto berpigura di atas meja belajarku. Sosok seorang pria yang sedang asyik dengan kameranya terpampang di sana. Pria itu, Gerald. Mantan kekasihku. Kami putus 3 tahun yang lalu. Dan jujur, aku masih belum melupakannya sampai saat ini. Kami putus bukan karena kami sudah tak saling cinta lagi. Tapi karena dia harus pergi jauh melanjutkan studinya ke luar negeri. Dia tak ingin mengikatku karena keberadaannya di sana entah sampai kapan. Dan dia tak ingin aku menunggu, meski sesungguhnya, aku pasti akan menunggu walau dia tak meminta. Tapi, setelah dia pergi, dia sama sekali tak pernah menghubungiku. Komunikasi di antara kami berdua pun terputus sejak saat itu.
Lalu, Mas Rama datang. Sebenarnya kami berdua sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan sebelum aku mengenal Gerald. Dia calon idaman kedua orangtuaku. Sosok pria yang mapan, sopan, dewasa, mandiri, bertanggung jawab dan bisa menjagaku. Dia mulai benar-benar ‘hadir’ setahun setelah Gerald pergi. Dia mulai mendekatiku, selalu ada setiap waktu. Tak lama kemudian akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Dia bilang dia cinta aku. Dia bilang dia sudah menaruh hati padaku sejak beberapa tahun yang lalu. Dia bilang dia akan menjagaku. Dan saat itu, aku langsung menerimanya.
Jujur saja, sejak awal aku tak pernah jatuh hati padanya. Namun aku butuh sosok baru yang bisa membantuku melupakan Gerald. Dan Mas Rama hadir di saat yang tepat.
Selama ini aku tak pernah menganggap Mas Rama kekasihku. Dia seperti sosok kakak bagiku. Aku tak bisa mencintainya seperti dia mencintaiku. Aku hanya mencoba mencintainya. Aku tak bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan. Aku sayang padanya, aku tak ingin menyakitinya. Tapi, perasaan sayangku ini bukanlah seperti yang dia harapkan.
Sampai saat ini, masih Gerald yang ada di hatiku. Aku belum bisa lupa. Aku masih merindukannya, aku masih mengharapkannya, dan aku masih menunggunya. Aku tahu Mas Rama pasti merasa. Pasti karena itu juga seharian tadi dia terus saja bertanya. Sungguh, ini juga menyiksaku. Aku tahu seharusnya aku tak berdusta, bahkan setelah sekian lama kami bersama. Tapi aku belum bisa mengatakan semua ini padanya.
Kuambil fotoku bersama Mas Rama yang kusimpan di dalam notes kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Kutatap wajah Mas Rama yang ada di foto itu.
“Maaf, Mas. Aku egois. Aku pasti akan mengatakan yang sesungguhnya suatu hari nanti. Tapi nggak sekarang, karena aku masih butuh kamu.”
ditulis @gandess dalam http://gandessitoresmi.tumblr.com
Perpisahan
Siapa yang suka perpisahan? Aku yakin hampir tak ada; atau bahkan tak ada. Peti mati yang telah aku kubur dalam, isinya berhamburan. Berputar dalam satu kesatuan. Memecah pandanganku. Kemana lagi selain pada masa lampau?
Kalimat yang memekakkan telinga saling berloncatan. Bahkan piring dan gelas kaca ikut berterbangan. Cacian, tuduhan, bahkan hujatan. Entah apa yang tersirat dalam otak mereka.
Aku menutup telingaku. Tak mengizinkan satu kata pun melintas. Mata juga kupejamkan. Menahan air yang hendak meluncur.
“Kau mementingkan dirimu sendiri. Egois!!!”
“Terus saja bilang begitu. Sadar, kaulah yang egois!!!”
Kutekan makin kencang telingaku.
“Aku egois? Lalu kau apa? Urusi saja jalangmu itu!!! Wanita penggoda penghancur!”
Plak...
Tamparan keras sepertinya baru saja mendarat. Aku menunduk makin dalam dan mengunci mataku kuat. Walau tak terlalu kuat menahan aliran air bening yang turun seketika.
“Jaga ucapanmu!!! Aku muak denganmu!”
Bantingan keras berasal dari pintu terdengar. Nampaknya ada yang angkat kaki dari situ. Sedetik kemudian, senandung tangis yang memenuhi ruangan. Tangis yang terkandung unsur lelah, juga luka dan kecewa. Aku ikut menangis –dalam diam.
Hidangan mengunggah selera tersedia dihadapanku. Tapi aku sama sekali malas bahkan untuk menyentuhnya. Aku bahkan berharap tak disini.
“Apa yang kau lakukan dengan foto di saku baju kerjaku?”
“Fotomu bersama jalang itu?!”
Gebrakan meja mengagetkan.
“Sudah berapa kali aku bilang?! Jaga ucapanmu!!!”
Ah! Bukankah ini saatnya makan? Ada apa dengan mereka ini. Siapa lagi? Tentu saja kedua orang tuaku.
Apa mereka tak pernah menganggap keberadaanku? Mungkin aku disangka boneka tak bernyawa. Tidak melihat, mendengar, dan merasa. Ini rumah, atau penjara? Sepertinya penjara pun tampak lebih nyaman.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Kalau itu maumu, baik aku akan bersama dia!”
“Silahkan! Aku mau cerai!”
Kalimat itu takkan pernah terbuang dari ingatanku walau untuk seumur hidup. Kumpulan kosakata terburuk sepanjang yang pernah terdengar olehku. Dan, awal dari kelamnya masa remaja yang mestinya indah.
Mereka yang diapit oleh keluarga yang damai dan suasana rumah nyaman; izinkan aku iri pada mereka. Andai aku punya kesempatan untuk memilih posisi hidup yang aku inginkan.
Tak pernah terbayang orang tuaku akan berpisah. Aku hampir maklum dengan ‘kicauan’ mereka setiap hari, juga terbiasa. Bahkan lebih baik. Selanjutnya, aku akan memilih –atau dipilih– tinggal bersama Bunda, atau ikut Ayah. Bukan pilihan mudah, sangat bukan pilihan mudah.
Aku merasa diabaikan, dicampakkan, bukan pilihan, dan tak diinginkan. Pernah terbesit dalam otakku, mengapa Ayah tak memilihku dan pergi dari rumah? Tapi kalau aku ikut, Bunda sama siapa? Kemudian aku melakukan yang aku bisa; menangis.
I watched you die, I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young, you should have known better than to lean on me
You never thought of anyone else
You just saw your pain
Setiap malam bisikan tangis Bunda memenuhi kamarnya. Aku masih terlalu kecil untuk memahami perih dan pahitnya perpisahan. Kubiarkan telingaku mendengar, tanpa berusaha menghibur atau sekedar bertanya. Rasanya, percuma.
Hidupku, berubah, sejak saat itu. Aku tak pernah dibasuh kehangatan keluarga lagi. Bahkan lupa rasa kasih dan sayang. Bentuk perhatian sederhana dari kedua orang tua pun, lenyap sama sekali. Ah, merananya hidupku.
---
I will not make the same mistakes that you did
I will not let myself cause my heart so much misery
Déjà vu. Aku terperangah. Kata tak lagi terlontar. Aku membisu didekap hal fana. Entahlah, sepertinya aku kenal saat ini. Tak asing lagi bagi jiwa rapuhku.
Terlihat anak perempuan manis di sudut pintu saat aku menoleh. Matanya nampak basah, hidungnya memerah, dan napasnya terseguk. Guling kecil yang dibawanya tampak terjerat erat dalam pelukan. Lagi-lagi, bukan bagian yang tersisih dari ingatanku.
Di depanku, teriakan tak lagi terdengar. Hanya gerak dagu juga tatapan yang berapi. Mengapa di saat seperti ini, terpancar jelas pada dua bola mata itu cinta yang begitu dalam?
And now I cry, in the middle of the night
Over the same damn thing
Nyawaku seperti baru kembali. Dari perjalanan waktu. Akhirnya, aku sudah sadar keadaan.
Tiap doaku, aku berharap waktu berlalu. Hingga aku temukan lagi secercah kebahagiaan, yang pernah hilang. Cukup kesengsaraan untuk selama ini, aku hanya ingin pergi. Menemukan lembaran baru.
Perjuangan Bunda, membuatku menjadi wanita yang tegar dan kuat. Sampai aku merasakan berada di posisinya. Sekarang aku sangat mengerti perasaannya, terutama bagian terpedih. Entahlah, kini alasanku menitihkan air mata, sama seperti Bunda. Mengapa ada pertengkaran di tengah pengakuan saling cinta?
Ia masih terus memaki, memuntahkan kata tak enak bagi hati. Tapi aku, cuma mengulas senyum tulus. Biarlah ia puas, hingga tak perlu lagi memendam. Beberapa saat berlalu, mulutnya berhenti menguntai kata. Tergurat air muka heran di wajahnya. Tatapannya pun tak sepanas tadi.
“Aku mencintaimu. Maafkan aku ya.”
Kupeluk erat tubuhnya. Ia tersentak, lalu detik selanjutnya membalas pelukanku. Aku bisa merasakan ia tengah tersenyum.
Gadis manis itu menghampiri kami. Aku juga menenggelamkan kesayanganku yang berharga itu dalam pelukan hangat.
“Maafkan Mama, sayang.”
Aku berbisik di telinga mungil, dan terasa mulai memanas kedua pipiku.
Betapa bodohnya aku. Menyia-nyiakan tawaran kebahagiaan yang selama ini aku cari. Bertumpu pada masa suram, membutakan hal indah di depan mata. Bahagia itu tak murah ya. Aku harus merasakan hatiku dicambuk dulu baru bisa mendapatkannya.
Terimakasih, Bunda. Perihnya perpisahanmu mengajariku banyak arti kehidupan; bagaimana cara menjadi tegar dan bertahan. Aku takkan melupakan pelajaran berharga ini. Hanya karena aku pernah sakit hingga tak bisa bangkit, aku bukan seorang egois yang tega membiarkan orang yang kucinta merasa juga.
Keluarga itu, segalanya.
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you
I learned to play on the safe side
So I don't get hurt
Because of you
I find it hard to trust
Not only me, but everyone around me
Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you
I don't know how to let anyone else in
Because of you
I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you
I am afraid
ditulis @anarostiana dalam http://anarostiana.blogspot.com
Kalimat yang memekakkan telinga saling berloncatan. Bahkan piring dan gelas kaca ikut berterbangan. Cacian, tuduhan, bahkan hujatan. Entah apa yang tersirat dalam otak mereka.
Aku menutup telingaku. Tak mengizinkan satu kata pun melintas. Mata juga kupejamkan. Menahan air yang hendak meluncur.
“Kau mementingkan dirimu sendiri. Egois!!!”
“Terus saja bilang begitu. Sadar, kaulah yang egois!!!”
Kutekan makin kencang telingaku.
“Aku egois? Lalu kau apa? Urusi saja jalangmu itu!!! Wanita penggoda penghancur!”
Plak...
Tamparan keras sepertinya baru saja mendarat. Aku menunduk makin dalam dan mengunci mataku kuat. Walau tak terlalu kuat menahan aliran air bening yang turun seketika.
“Jaga ucapanmu!!! Aku muak denganmu!”
Bantingan keras berasal dari pintu terdengar. Nampaknya ada yang angkat kaki dari situ. Sedetik kemudian, senandung tangis yang memenuhi ruangan. Tangis yang terkandung unsur lelah, juga luka dan kecewa. Aku ikut menangis –dalam diam.
Hidangan mengunggah selera tersedia dihadapanku. Tapi aku sama sekali malas bahkan untuk menyentuhnya. Aku bahkan berharap tak disini.
“Apa yang kau lakukan dengan foto di saku baju kerjaku?”
“Fotomu bersama jalang itu?!”
Gebrakan meja mengagetkan.
“Sudah berapa kali aku bilang?! Jaga ucapanmu!!!”
Ah! Bukankah ini saatnya makan? Ada apa dengan mereka ini. Siapa lagi? Tentu saja kedua orang tuaku.
Apa mereka tak pernah menganggap keberadaanku? Mungkin aku disangka boneka tak bernyawa. Tidak melihat, mendengar, dan merasa. Ini rumah, atau penjara? Sepertinya penjara pun tampak lebih nyaman.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Kalau itu maumu, baik aku akan bersama dia!”
“Silahkan! Aku mau cerai!”
Kalimat itu takkan pernah terbuang dari ingatanku walau untuk seumur hidup. Kumpulan kosakata terburuk sepanjang yang pernah terdengar olehku. Dan, awal dari kelamnya masa remaja yang mestinya indah.
Mereka yang diapit oleh keluarga yang damai dan suasana rumah nyaman; izinkan aku iri pada mereka. Andai aku punya kesempatan untuk memilih posisi hidup yang aku inginkan.
Tak pernah terbayang orang tuaku akan berpisah. Aku hampir maklum dengan ‘kicauan’ mereka setiap hari, juga terbiasa. Bahkan lebih baik. Selanjutnya, aku akan memilih –atau dipilih– tinggal bersama Bunda, atau ikut Ayah. Bukan pilihan mudah, sangat bukan pilihan mudah.
Aku merasa diabaikan, dicampakkan, bukan pilihan, dan tak diinginkan. Pernah terbesit dalam otakku, mengapa Ayah tak memilihku dan pergi dari rumah? Tapi kalau aku ikut, Bunda sama siapa? Kemudian aku melakukan yang aku bisa; menangis.
I watched you die, I heard you cry
Every night in your sleep
I was so young, you should have known better than to lean on me
You never thought of anyone else
You just saw your pain
Setiap malam bisikan tangis Bunda memenuhi kamarnya. Aku masih terlalu kecil untuk memahami perih dan pahitnya perpisahan. Kubiarkan telingaku mendengar, tanpa berusaha menghibur atau sekedar bertanya. Rasanya, percuma.
Hidupku, berubah, sejak saat itu. Aku tak pernah dibasuh kehangatan keluarga lagi. Bahkan lupa rasa kasih dan sayang. Bentuk perhatian sederhana dari kedua orang tua pun, lenyap sama sekali. Ah, merananya hidupku.
---
I will not make the same mistakes that you did
I will not let myself cause my heart so much misery
Déjà vu. Aku terperangah. Kata tak lagi terlontar. Aku membisu didekap hal fana. Entahlah, sepertinya aku kenal saat ini. Tak asing lagi bagi jiwa rapuhku.
Terlihat anak perempuan manis di sudut pintu saat aku menoleh. Matanya nampak basah, hidungnya memerah, dan napasnya terseguk. Guling kecil yang dibawanya tampak terjerat erat dalam pelukan. Lagi-lagi, bukan bagian yang tersisih dari ingatanku.
Di depanku, teriakan tak lagi terdengar. Hanya gerak dagu juga tatapan yang berapi. Mengapa di saat seperti ini, terpancar jelas pada dua bola mata itu cinta yang begitu dalam?
And now I cry, in the middle of the night
Over the same damn thing
Nyawaku seperti baru kembali. Dari perjalanan waktu. Akhirnya, aku sudah sadar keadaan.
Tiap doaku, aku berharap waktu berlalu. Hingga aku temukan lagi secercah kebahagiaan, yang pernah hilang. Cukup kesengsaraan untuk selama ini, aku hanya ingin pergi. Menemukan lembaran baru.
Perjuangan Bunda, membuatku menjadi wanita yang tegar dan kuat. Sampai aku merasakan berada di posisinya. Sekarang aku sangat mengerti perasaannya, terutama bagian terpedih. Entahlah, kini alasanku menitihkan air mata, sama seperti Bunda. Mengapa ada pertengkaran di tengah pengakuan saling cinta?
Ia masih terus memaki, memuntahkan kata tak enak bagi hati. Tapi aku, cuma mengulas senyum tulus. Biarlah ia puas, hingga tak perlu lagi memendam. Beberapa saat berlalu, mulutnya berhenti menguntai kata. Tergurat air muka heran di wajahnya. Tatapannya pun tak sepanas tadi.
“Aku mencintaimu. Maafkan aku ya.”
Kupeluk erat tubuhnya. Ia tersentak, lalu detik selanjutnya membalas pelukanku. Aku bisa merasakan ia tengah tersenyum.
Gadis manis itu menghampiri kami. Aku juga menenggelamkan kesayanganku yang berharga itu dalam pelukan hangat.
“Maafkan Mama, sayang.”
Aku berbisik di telinga mungil, dan terasa mulai memanas kedua pipiku.
Betapa bodohnya aku. Menyia-nyiakan tawaran kebahagiaan yang selama ini aku cari. Bertumpu pada masa suram, membutakan hal indah di depan mata. Bahagia itu tak murah ya. Aku harus merasakan hatiku dicambuk dulu baru bisa mendapatkannya.
Terimakasih, Bunda. Perihnya perpisahanmu mengajariku banyak arti kehidupan; bagaimana cara menjadi tegar dan bertahan. Aku takkan melupakan pelajaran berharga ini. Hanya karena aku pernah sakit hingga tak bisa bangkit, aku bukan seorang egois yang tega membiarkan orang yang kucinta merasa juga.
Keluarga itu, segalanya.
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you
I learned to play on the safe side
So I don't get hurt
Because of you
I find it hard to trust
Not only me, but everyone around me
Because of you
I tried my hardest just to forget everything
Because of you
I don't know how to let anyone else in
Because of you
I'm ashamed of my life because it's empty
Because of you
I am afraid
ditulis @anarostiana dalam http://anarostiana.blogspot.com
Tergelitik
Jakarta, 10 September 2012,
Pagi masih belum mau membuka mata. Wajar saja, masih pukul dua. Matahari pun masih belum siap menggeliat, membangunkan diri dari mimpi.
Jarang ada yang terbangun segar di area komplek perumahanku. Hanya makhluk-makhluk nokturnal saja yang terjaga, salah satunya adalah burung hantu, kecoak, dan aku.
Domba-domba maya beterbangan di atas kepala. Aku sudah mulai tidur ayam, berada di antara batas dimensi nyata dan mimpi, tapi itu sebelum kamu datang. Sebelum kamu mengubahku menjadi si gadis nokturnal kembali. Mengetuk jendela kaca dengan batu kecil, memberikan sapaan malam yang selalu kunanti dalam dimensi virtual?
Kamu datang dengan senyummu yang biasa. Lalu, kamu memaksaku berkebun pagi-pagi. Menanam sejumput gelitik kupu-kupu dalam perutku, yang sebenarnya telah tersimpan sejak lama. Sejak gelitik itu masih berbentuk ulat bulu, berjalan pelan dari tahun demi tahun. Kutahan dan kuhilangkan paksa karena satu diksi bernama norma.
Kamu menyebarkan kembali virus demam metamorfosis ini dengan berbagai cara dan alibi. Tak heran bila aku mudah menanam bibit gelitik, gampang memiliki rasa tanpa nama.
Kamu menggenggam tanganku, menyentuhkannya ke pipimu yang dingin, sehabis terkena angin. "Tangan kamu hangat," ujarmu seraya menerbitkan senyum bulan sabit yang manis.
Aku cuma bisa mengikuti cara senyummu, tapi lidahku kelu. Aku sudah meleleh, mencair. Kebun gelitik yang sudah kuanggap mati itu, kembali merekah, memerah.
Lalu kamu terlelap dan memejamkan mata. Tapi, tanganmu masih dalam posisi menggenggam erat pergelangan tanganku, membiarkanku mengusap lembut wajahmu dengan seribu pro kontra dalam hati.
Apa-apaan ini, batinku bertanya tanpa henti. Tapi apa daya, tanganku enggan berpindah. "Aku masih mau disana!" ujarnya lugas. Bahkan tubuhku pun melawan logika.
Beberapa puluh menit kulalui, hanya dengan menunggumu bangun dari mimpi panjangmu. Menanti kenyataan, apakah kamu ingat saat tanganku menyentuh wajahmu.
Apakah kamu tahu, bahwa kali ini, tak dipungkiri, aku menanam gelitik itu kembali. Aku menyimpan rasa anonim itu tanpa seijinmu.
Ataukah bagimu, aku hanya sebagai alat? Aku hanya sebagai material substansi?
Ataukah bagiku, kamu hanyalah pengisi sepi? Menjadi partner penikmat sebuah spasi?
Ataukah, gelitik ini hanya fiksi? Apakah aku dan kamu, hanya menjadi sebuah cerita, bukan untuk menjadi nyata?
Mungkin kamu bidadari yang ku cari
Mungkin kamu hanya teman yang kusayangi
Mungkin semua telah tertulis dan kujalani
Mungkin aku hanya pusing ku tak mengerti
Mungkin semua tak seperti yang kurasa
Mungkin rasa hati ini tak ada arti
Mungkin aku hanya bingung merasa sepi
Mungkin aku hanya pusing ku tak mengerti
ditulis @heykandela dalam http://ceritahujancandella.blogspot.com
Pagi masih belum mau membuka mata. Wajar saja, masih pukul dua. Matahari pun masih belum siap menggeliat, membangunkan diri dari mimpi.
Jarang ada yang terbangun segar di area komplek perumahanku. Hanya makhluk-makhluk nokturnal saja yang terjaga, salah satunya adalah burung hantu, kecoak, dan aku.
Domba-domba maya beterbangan di atas kepala. Aku sudah mulai tidur ayam, berada di antara batas dimensi nyata dan mimpi, tapi itu sebelum kamu datang. Sebelum kamu mengubahku menjadi si gadis nokturnal kembali. Mengetuk jendela kaca dengan batu kecil, memberikan sapaan malam yang selalu kunanti dalam dimensi virtual?
Kamu datang dengan senyummu yang biasa. Lalu, kamu memaksaku berkebun pagi-pagi. Menanam sejumput gelitik kupu-kupu dalam perutku, yang sebenarnya telah tersimpan sejak lama. Sejak gelitik itu masih berbentuk ulat bulu, berjalan pelan dari tahun demi tahun. Kutahan dan kuhilangkan paksa karena satu diksi bernama norma.
Kamu menyebarkan kembali virus demam metamorfosis ini dengan berbagai cara dan alibi. Tak heran bila aku mudah menanam bibit gelitik, gampang memiliki rasa tanpa nama.
Kamu menggenggam tanganku, menyentuhkannya ke pipimu yang dingin, sehabis terkena angin. "Tangan kamu hangat," ujarmu seraya menerbitkan senyum bulan sabit yang manis.
Aku cuma bisa mengikuti cara senyummu, tapi lidahku kelu. Aku sudah meleleh, mencair. Kebun gelitik yang sudah kuanggap mati itu, kembali merekah, memerah.
Lalu kamu terlelap dan memejamkan mata. Tapi, tanganmu masih dalam posisi menggenggam erat pergelangan tanganku, membiarkanku mengusap lembut wajahmu dengan seribu pro kontra dalam hati.
Apa-apaan ini, batinku bertanya tanpa henti. Tapi apa daya, tanganku enggan berpindah. "Aku masih mau disana!" ujarnya lugas. Bahkan tubuhku pun melawan logika.
Beberapa puluh menit kulalui, hanya dengan menunggumu bangun dari mimpi panjangmu. Menanti kenyataan, apakah kamu ingat saat tanganku menyentuh wajahmu.
Apakah kamu tahu, bahwa kali ini, tak dipungkiri, aku menanam gelitik itu kembali. Aku menyimpan rasa anonim itu tanpa seijinmu.
Ataukah bagimu, aku hanya sebagai alat? Aku hanya sebagai material substansi?
Ataukah bagiku, kamu hanyalah pengisi sepi? Menjadi partner penikmat sebuah spasi?
Ataukah, gelitik ini hanya fiksi? Apakah aku dan kamu, hanya menjadi sebuah cerita, bukan untuk menjadi nyata?
Mungkin kamu bidadari yang ku cari
Mungkin kamu hanya teman yang kusayangi
Mungkin semua telah tertulis dan kujalani
Mungkin aku hanya pusing ku tak mengerti
Mungkin semua tak seperti yang kurasa
Mungkin rasa hati ini tak ada arti
Mungkin aku hanya bingung merasa sepi
Mungkin aku hanya pusing ku tak mengerti
ditulis @heykandela dalam http://ceritahujancandella.blogspot.com
Rahasia Air dan Api
“Kenapa kau membenci hujan?” pertanyaanmu memecah keheningan. Aku masih menatap keluar. Dibalik kaca yang terpasang ditoko ini aku bisa melihat hujan sedang menyapu jalan. Aku menggigit bibir bawahku. Kau sudah sering sekali mengulang pertanyaan ini.
“Karena aku membenci air.” Aku menjawab sekenanya. Kau menatapku lekat. Kau genggam tanganku, aku menatapmu. Bukan karena genggaman itu. Tapi aku bosan dengan pertanyaanmu. Aku yakin, setelah ini kau hanya terdiam. Tak ada respon lebih lanjut. Kau memang menyebalkan. Lebih suka menikmati hujan ketimbang berbicara denganku.
Benar saja. Kau tidak bergeming, hanya mempererat genggaman tanganmu. Aku merasa hangat disekujur tubuhku. Tidak kah kau tahu kalau aku suka saat seperti ini? Aku bisa melihat kau tersenyum setiap kali melihat percikan air hujan yang turun dari langit. Sebahagia itukah kau melihat hujan turun Naara? Kutelusuri wajahmu dengan tatapanku. Wajah yang teduh yang selalu berhasil menenangkanku. Garis rahang yang mempertegas ketampananmu. Dan senyum itu. Senyum yang selalu aku rindu.
Aku suka melihatmu menatap hujan. Aku suka semburat senyum yang terukir saat kau melihat hujan. Tapi itu semua tidak cukup membuat aku mencintai hujan. Mencintaimu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencintai hujan. Entahlah.
“Kenapa kau membenci hujan? Bukankah kau suka pelangi?” Suaramu yang lembut kembali memecah keheningan. Kau masih menggenggam tanganku. Perasaan hangat itu masih menjalar disekujur tubuhku.
“Membenci hujan dan menyukai pelangi adalah hal yang berbeda. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu banyak membuatu tidak bisa bergerak. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu lama membuat pelangiku tak kunjung tiba. Aku membenci hujan, karena hujan membuat jarakku dengan air semakin dekat. Dan kau tahu naara, aku membenci air walaupun ada banyak hal yang bisa membuatku menyukainya. Dan aku membenci air, karena air menghalangi api menunjukkan kemegahannya.” Aku menatapmu yang masih menerawang mendengar pernyataanku. Aku bisa mendengar helaan nafasmu yang panjang. Kau menatapku. Tepat dimanik mataku. Nafasku tercekat ditatap dengan cara seperti itu. Tubuhku terbujur aku. Naara kau membuatku mati rasa.
Kau mempererat genggamanmu. Menatapku lekat. Tidak seperti Naara yang biasanya, kali ini Naara yang aku kenal seperti menanggung sebuah beban berat.
“kau tahu Agniya, Air dan api tidak selamanya dicipkatan untuk saling terpisah. Ada kalanya air meredam api untuk melindungi api dari sesuatu yang ia ciptakan sendiri” katamu perlahan. Aku tidak bisa menangkap maksud perkataanmu. Mungkin otakku yang terlalu lamban untuk bereaksi.
“Air dan api berbeda. Tapi perbedaan itu yang membuat mereka sempurna. Mungkin mereka tidak akan bersatu tetapi mereka bisa hidup berdampingan. Saling melengkapi untuk mengisi kekurangan. Agniya, mungkin kau tidak setuju dengan pernyataanku. Bukankah memang selalu seperti itu. Tak pernah ada sesuatu yang kita setujui tanpa melalui perdebatan?” Aku mengangguk perlahan. Sedikit banyak aku sudah bisa mencerna kata-katamu.
“Agniya, bisakah kau tidak lagi membenci hujan? Atau mungkin tidak lagi membenci air?” Baru saja aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kau sudah megisyaratkan untuk diam.
“Kalau kau tanya mengapa, karena air mencintai api jawabannya. Tidakkah kau tahu itu? Karena air ingin selalu melindungi api yang selalu ingir berkobar. Karena air ingin melindungi api dari kecerobohan yang sering ia lakukan.Karea air ingin membuat api tidak melalukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya dan orang lain.” Lanjutmu. Dan pernyataan itu berhenti sampai disitu. Aku mengerjap beberapa kali, menunggu kalimat selanjutnya. Tapi tidak ada yang keluar. Kau masih menatapku penuh harap. Aku mengerjap lagi. Aku yakin seribu persen kalau api yang kau maksud dikalimat itu adalah aku dan air adalah dirimu.
Glek. Aku menelan ludahku. Tidak percaya dengan apa yang kudengar. Api dalam bahasa Sansekerta adalah Agni. Dan itu namaku.Sedangkan nama lain dari Air dalam bahasa Sansekerta adalah Naara, dan itu dirimu. Aku mengerjap lagi. Seolah ini hanya sebuah mimpi. Aku tidak terlalu yakin dengan perkataanmu. Apa pernyataan itu berarti kau ingin aku menjadi kekasihmu? Benarkah?
“Agniya, kenapa kau diam saja. Kau baik-baik saja?” Kau mengguncang-guncangkan tubuhku. Sedangkan aku masih terdiam seperti orang bodoh.
“Maksud dari kata-katamu tadi, kau ingin aku jadi kekasihmu?” Aku melontarkan kata-kata yang mungkin akan aku sesali seumur hidupku. Oh tuhan, kalau kau tidak menganggukkan kepalamu. Aku berjanji tidak akan pernah menemuimu lagi.
“Dasar bodoh. Apa aku harus memperjelas kata-kataku. Kenapa kau sangat tidak romantis Agni! Baiklah, akan aku perjelas. Apakah kau mau menjadi kekasihku?” Kau menatapku. Dari sorot matamu aku tahu kau tidak sabar mendengar jawabanku.
Aku mengangguk. Benar-benar terlihat bodoh kurasa. Sedetik kemudian, kau sudah memelukku. Berteriak sampai seluruh toko memperhatikan kita. Aku rasa, air sudah tercemar oleh kobaran api.
ditulis @aymagochi dalam http://aymagochi.blogspot.com
“Karena aku membenci air.” Aku menjawab sekenanya. Kau menatapku lekat. Kau genggam tanganku, aku menatapmu. Bukan karena genggaman itu. Tapi aku bosan dengan pertanyaanmu. Aku yakin, setelah ini kau hanya terdiam. Tak ada respon lebih lanjut. Kau memang menyebalkan. Lebih suka menikmati hujan ketimbang berbicara denganku.
Benar saja. Kau tidak bergeming, hanya mempererat genggaman tanganmu. Aku merasa hangat disekujur tubuhku. Tidak kah kau tahu kalau aku suka saat seperti ini? Aku bisa melihat kau tersenyum setiap kali melihat percikan air hujan yang turun dari langit. Sebahagia itukah kau melihat hujan turun Naara? Kutelusuri wajahmu dengan tatapanku. Wajah yang teduh yang selalu berhasil menenangkanku. Garis rahang yang mempertegas ketampananmu. Dan senyum itu. Senyum yang selalu aku rindu.
Aku suka melihatmu menatap hujan. Aku suka semburat senyum yang terukir saat kau melihat hujan. Tapi itu semua tidak cukup membuat aku mencintai hujan. Mencintaimu tidak bisa dijadikan alasan untuk mencintai hujan. Entahlah.
“Kenapa kau membenci hujan? Bukankah kau suka pelangi?” Suaramu yang lembut kembali memecah keheningan. Kau masih menggenggam tanganku. Perasaan hangat itu masih menjalar disekujur tubuhku.
“Membenci hujan dan menyukai pelangi adalah hal yang berbeda. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu banyak membuatu tidak bisa bergerak. Aku membenci hujan, karena hujan yang turun terlalu lama membuat pelangiku tak kunjung tiba. Aku membenci hujan, karena hujan membuat jarakku dengan air semakin dekat. Dan kau tahu naara, aku membenci air walaupun ada banyak hal yang bisa membuatku menyukainya. Dan aku membenci air, karena air menghalangi api menunjukkan kemegahannya.” Aku menatapmu yang masih menerawang mendengar pernyataanku. Aku bisa mendengar helaan nafasmu yang panjang. Kau menatapku. Tepat dimanik mataku. Nafasku tercekat ditatap dengan cara seperti itu. Tubuhku terbujur aku. Naara kau membuatku mati rasa.
Kau mempererat genggamanmu. Menatapku lekat. Tidak seperti Naara yang biasanya, kali ini Naara yang aku kenal seperti menanggung sebuah beban berat.
“kau tahu Agniya, Air dan api tidak selamanya dicipkatan untuk saling terpisah. Ada kalanya air meredam api untuk melindungi api dari sesuatu yang ia ciptakan sendiri” katamu perlahan. Aku tidak bisa menangkap maksud perkataanmu. Mungkin otakku yang terlalu lamban untuk bereaksi.
“Air dan api berbeda. Tapi perbedaan itu yang membuat mereka sempurna. Mungkin mereka tidak akan bersatu tetapi mereka bisa hidup berdampingan. Saling melengkapi untuk mengisi kekurangan. Agniya, mungkin kau tidak setuju dengan pernyataanku. Bukankah memang selalu seperti itu. Tak pernah ada sesuatu yang kita setujui tanpa melalui perdebatan?” Aku mengangguk perlahan. Sedikit banyak aku sudah bisa mencerna kata-katamu.
“Agniya, bisakah kau tidak lagi membenci hujan? Atau mungkin tidak lagi membenci air?” Baru saja aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi kau sudah megisyaratkan untuk diam.
“Kalau kau tanya mengapa, karena air mencintai api jawabannya. Tidakkah kau tahu itu? Karena air ingin selalu melindungi api yang selalu ingir berkobar. Karena air ingin melindungi api dari kecerobohan yang sering ia lakukan.Karea air ingin membuat api tidak melalukan hal bodoh yang bisa merugikan dirinya dan orang lain.” Lanjutmu. Dan pernyataan itu berhenti sampai disitu. Aku mengerjap beberapa kali, menunggu kalimat selanjutnya. Tapi tidak ada yang keluar. Kau masih menatapku penuh harap. Aku mengerjap lagi. Aku yakin seribu persen kalau api yang kau maksud dikalimat itu adalah aku dan air adalah dirimu.
Glek. Aku menelan ludahku. Tidak percaya dengan apa yang kudengar. Api dalam bahasa Sansekerta adalah Agni. Dan itu namaku.Sedangkan nama lain dari Air dalam bahasa Sansekerta adalah Naara, dan itu dirimu. Aku mengerjap lagi. Seolah ini hanya sebuah mimpi. Aku tidak terlalu yakin dengan perkataanmu. Apa pernyataan itu berarti kau ingin aku menjadi kekasihmu? Benarkah?
“Agniya, kenapa kau diam saja. Kau baik-baik saja?” Kau mengguncang-guncangkan tubuhku. Sedangkan aku masih terdiam seperti orang bodoh.
“Maksud dari kata-katamu tadi, kau ingin aku jadi kekasihmu?” Aku melontarkan kata-kata yang mungkin akan aku sesali seumur hidupku. Oh tuhan, kalau kau tidak menganggukkan kepalamu. Aku berjanji tidak akan pernah menemuimu lagi.
“Dasar bodoh. Apa aku harus memperjelas kata-kataku. Kenapa kau sangat tidak romantis Agni! Baiklah, akan aku perjelas. Apakah kau mau menjadi kekasihku?” Kau menatapku. Dari sorot matamu aku tahu kau tidak sabar mendengar jawabanku.
Aku mengangguk. Benar-benar terlihat bodoh kurasa. Sedetik kemudian, kau sudah memelukku. Berteriak sampai seluruh toko memperhatikan kita. Aku rasa, air sudah tercemar oleh kobaran api.
ditulis @aymagochi dalam http://aymagochi.blogspot.com
Menunggu
Langit sudah memerah, menyemburatkan cahaya jingga yang kemilau meneduhkan. Satria duduk di bangku taman memandangi orang-orang yang lalu lalang di sana. Memperhatikan senyum dan tawa anak-anak yang sedang bermain dengan orang tuanya, pasangan muda mudi yang sedang tertawa bersama, dan para lansia yang sedang berjalan sore dengan cucu mereka. Semua terlihat bahagia sore ini, sementara Satria terlihat cemas. Berkali-kali dia melirik jam tangan dan ponselnya.
Jam tangan digitalnya sudah menunjukkan pukul lima sore. Satria gelisah, itu artinya sudah hampir satu jam dia menunggu. Menunggu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan, begitu pun dengan yang dirasakan oleh Satria sore ini. Gelisah terpancar dari wajahnya, sudah meleset dari satu jam dari waktu yang dijanjikan. Dia membuka ponselnya berkali-kali, namun tak juga ada pesan balasan yang masuk.
Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call desperate for your voice
Kamu dimana? Kita jadi ketemu, ‘kan? ketik Satria, segera dia mengirim pesan pendek yang kesekian kepada seseorang yang ditunggunya.
Dalam sebuah proses menunggu, waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Terasa ada jeda yang panjang kala berdiam diri hanya untuk menantikan kedatangan seseorang. Satria mengeluarkan headset dari saku celananya, mencoba membunuh waktu dengan playlist kesukaan. Berusaha membunuh bosan akibat yang ditunggu tak kunjung datang.
Matahari hampir benar-benar tenggelam. Sebentar lagi senja akan benar-benar padam. Keramaian orang-orang di taman mulai berkurang, perlahan mereka berangsur-angsur meninggalkan taman dan kembali ke rumahnya masing-masing, hingga yang tersisa hanya Satria seorang.
Satria menghembuskan nafas panjang, seolah melepas lelah yang dideritanya. Dia menatap nanar pada layar ponselnya. Rencana bertemu hari ini gagal total. Hatinya menciut, merasa bahwa dirinya tak dihargai. “Mau ketemu aja kok rasanya susah banget. Apa kamu udah males buat ketemu aku?” ucap Satria berbicara pada ponselnya.
Langit mulai menggelap saat Satria memutuskan untuk pulang. Di telinganya sayup-sayup terdengar suara John Vesely membawakan lagu Your Call. Satria memejamkan matanya, menikmati lagu yang menjadi kesukaannya, dan juga kesukaan Dinata, orang yang ditunggunya sejak tadi.
Listening to the song we used to sing
In the Car, do you remember
Butterfly, early summer
It’s playing on repeat, just like when we would meet
Like whe we would meet
***
Kadang, sebuah masalah kecil bisa menjadi sebuah awal dari masalah besar jika terjadi disaat yang sangat tidak tepat atau terjadi disaat kondisi emosional sedang sangat tidak stabil. Semua prasangka baik dikalahkan prasangka buruk, sebuah hal yang selalu sukses membuat sebuah masalah menjadi besar.
“Satria, aku tahu kamu marah. A–,”
“Sudahlah, Di, aku tahu. Iya, aku tahu kalo kamu sibuk, dan tetiba nggak bisa dateng. Aku ngerti banget,” ucap Satria dengan nada malas.
“Sa, aku nggak maksud kayak gitu,” ujar Dinata mencoba memberian penjelasan, “sebenarnya–“
“Udah deh ya, Di. Aku capek. Malem ini aku mau istirahat cepet. Soalnya besok subuh udah harus ada di Bandara. First flight.” Satria langsung memutuskan panggilan telepon. Kemudian dihembuskan lagi nafas panjang olehnya, melepas sesak yang memenuhi kepala dan dadanya.
Direbahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa frustasi menderanya. Pikirannya yang sering negative thinking membuat Satria merasa hubungan antara dirinya dan Dinata tidak akan berjalan lama lagi. Kesibukannya dan kesibukan Dinata menjadi faktor utama renggangnya hubungan keduanya. Kesibukan Dinata sebagai karyawati yang memiliki jam kerja padat dan Satria sebagai manajer sebuah band yang mengharuskannya sering keluar kota seringkali menjadi penyebab perselisihan kecil yang menjadi besar ini.
Satria menggenggam kotak kecil yang tadi dibawanya saat ingin bertemu Dinata, sebuah hadiah kecil untuk kekasihnya setelah hampir sebulan tak bertemu. Kemudian dilemparnya kota tersebut ke atas kasur, rasa kesal kembali menderanya saat mengingat kembali kejadian sore tadi.
***
Kamu dimana? Kita jadi ketemu, ‘kan?
Dinata membaca kembali beberapa pesan yang masuk sejak sore tadi. Matanya memanas menahan getir. “Kamu pasti berpikiran kalo aku lupa kita janjian hari ini. Kamu salah, aku nggak mungkin lupa.” Suara parau terdengar dari ucapan Dinata, perempuan itu sedang berusaha menahan agar tangis tak pecah di pipinya. Dinata meremas selimutnya, menahan diri untuk merutuki kebodohannya yang tertidur sehingga tidak menemui Satria. Malam telah larut, matanya tak juga terpejam, walau sembab di matanya sudah terlihat jelas.
Dinata mengetik dan mengirim sebuah pesan kepada Satria sebelum dia benar-benar memejamkan matanya.
***
Satria melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu keberangkatannya, sementara belum terlihat kedatangan Dinata. Pagi tadi, sebuah pesan dari Dinata masuk di ponselnya. Kekasihnya itu meminta dirinya agar tidak langsung masuk ke pesawat. Dinata memintanya menunggu, sebab Dinata akan datang.
“Satria,” terdengar panggilan dari Dinata. Terlihat kekasihnya itu berjalan semi berlari menghampiri Satria.
“Ada apa?” tanya Satria dengan nada setengah bertanya dan heran.
“Aku tahu kamu marah sebab kemarin aku nggak datang. Aku minta maaf. Kemarin aku ngga datang bukan karena lupa, tapi karena ini.” Dinata menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Satria.
Satria mengambil kotak tersebut dan membukanya. Dirinya tercengang saat melihat isi kotak tersebut. Dia memandang Dinata. Terlihat binar mata Dinata disertai anggukan kecil.
“Selamat ulang tahun, dan juga happy anniversary hubungan kita,” ucap Dinata.
Isi kotak tersebut adalah scrap book yang berisi foto mereka berdua. Foto mereka sejak awal pacaran hingga kini. Satria menutup kotak tesebut. Dia tersenyum gembira. Segala pikiran negatif di kepalanya sirna. Dipeluknya erat kekasihnya itu. Sebuah kecupan di ubun-ubun kepala Dinata menjadi pengganti ucapan perpisahan mereka.
“Aku bakal seminggu di sana, ketika aku pulang. Sambut kedatanganku,” ucap Satria yang dijawab dengan anggukan oleh Dinata. “Love you,” bisik Satria.
“Yes, I do.” Dinata melepaskan pelukan Satria. Seperti biasa, Dinata melepas kembali kepergian Satria, dan akan menunggu kepulangannya.
Cause I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
ditulis @danissyamra dalam http://syamra-danis.blogspot.com
Jam tangan digitalnya sudah menunjukkan pukul lima sore. Satria gelisah, itu artinya sudah hampir satu jam dia menunggu. Menunggu adalah hal yang sangat tidak menyenangkan, begitu pun dengan yang dirasakan oleh Satria sore ini. Gelisah terpancar dari wajahnya, sudah meleset dari satu jam dari waktu yang dijanjikan. Dia membuka ponselnya berkali-kali, namun tak juga ada pesan balasan yang masuk.
Waiting for your call, I’m sick, call I’m angry
Call desperate for your voice
Kamu dimana? Kita jadi ketemu, ‘kan? ketik Satria, segera dia mengirim pesan pendek yang kesekian kepada seseorang yang ditunggunya.
Dalam sebuah proses menunggu, waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Terasa ada jeda yang panjang kala berdiam diri hanya untuk menantikan kedatangan seseorang. Satria mengeluarkan headset dari saku celananya, mencoba membunuh waktu dengan playlist kesukaan. Berusaha membunuh bosan akibat yang ditunggu tak kunjung datang.
Matahari hampir benar-benar tenggelam. Sebentar lagi senja akan benar-benar padam. Keramaian orang-orang di taman mulai berkurang, perlahan mereka berangsur-angsur meninggalkan taman dan kembali ke rumahnya masing-masing, hingga yang tersisa hanya Satria seorang.
Satria menghembuskan nafas panjang, seolah melepas lelah yang dideritanya. Dia menatap nanar pada layar ponselnya. Rencana bertemu hari ini gagal total. Hatinya menciut, merasa bahwa dirinya tak dihargai. “Mau ketemu aja kok rasanya susah banget. Apa kamu udah males buat ketemu aku?” ucap Satria berbicara pada ponselnya.
Langit mulai menggelap saat Satria memutuskan untuk pulang. Di telinganya sayup-sayup terdengar suara John Vesely membawakan lagu Your Call. Satria memejamkan matanya, menikmati lagu yang menjadi kesukaannya, dan juga kesukaan Dinata, orang yang ditunggunya sejak tadi.
Listening to the song we used to sing
In the Car, do you remember
Butterfly, early summer
It’s playing on repeat, just like when we would meet
Like whe we would meet
***
Kadang, sebuah masalah kecil bisa menjadi sebuah awal dari masalah besar jika terjadi disaat yang sangat tidak tepat atau terjadi disaat kondisi emosional sedang sangat tidak stabil. Semua prasangka baik dikalahkan prasangka buruk, sebuah hal yang selalu sukses membuat sebuah masalah menjadi besar.
“Satria, aku tahu kamu marah. A–,”
“Sudahlah, Di, aku tahu. Iya, aku tahu kalo kamu sibuk, dan tetiba nggak bisa dateng. Aku ngerti banget,” ucap Satria dengan nada malas.
“Sa, aku nggak maksud kayak gitu,” ujar Dinata mencoba memberian penjelasan, “sebenarnya–“
“Udah deh ya, Di. Aku capek. Malem ini aku mau istirahat cepet. Soalnya besok subuh udah harus ada di Bandara. First flight.” Satria langsung memutuskan panggilan telepon. Kemudian dihembuskan lagi nafas panjang olehnya, melepas sesak yang memenuhi kepala dan dadanya.
Direbahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa frustasi menderanya. Pikirannya yang sering negative thinking membuat Satria merasa hubungan antara dirinya dan Dinata tidak akan berjalan lama lagi. Kesibukannya dan kesibukan Dinata menjadi faktor utama renggangnya hubungan keduanya. Kesibukan Dinata sebagai karyawati yang memiliki jam kerja padat dan Satria sebagai manajer sebuah band yang mengharuskannya sering keluar kota seringkali menjadi penyebab perselisihan kecil yang menjadi besar ini.
Satria menggenggam kotak kecil yang tadi dibawanya saat ingin bertemu Dinata, sebuah hadiah kecil untuk kekasihnya setelah hampir sebulan tak bertemu. Kemudian dilemparnya kota tersebut ke atas kasur, rasa kesal kembali menderanya saat mengingat kembali kejadian sore tadi.
***
Kamu dimana? Kita jadi ketemu, ‘kan?
Dinata membaca kembali beberapa pesan yang masuk sejak sore tadi. Matanya memanas menahan getir. “Kamu pasti berpikiran kalo aku lupa kita janjian hari ini. Kamu salah, aku nggak mungkin lupa.” Suara parau terdengar dari ucapan Dinata, perempuan itu sedang berusaha menahan agar tangis tak pecah di pipinya. Dinata meremas selimutnya, menahan diri untuk merutuki kebodohannya yang tertidur sehingga tidak menemui Satria. Malam telah larut, matanya tak juga terpejam, walau sembab di matanya sudah terlihat jelas.
Dinata mengetik dan mengirim sebuah pesan kepada Satria sebelum dia benar-benar memejamkan matanya.
***
Satria melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu keberangkatannya, sementara belum terlihat kedatangan Dinata. Pagi tadi, sebuah pesan dari Dinata masuk di ponselnya. Kekasihnya itu meminta dirinya agar tidak langsung masuk ke pesawat. Dinata memintanya menunggu, sebab Dinata akan datang.
“Satria,” terdengar panggilan dari Dinata. Terlihat kekasihnya itu berjalan semi berlari menghampiri Satria.
“Ada apa?” tanya Satria dengan nada setengah bertanya dan heran.
“Aku tahu kamu marah sebab kemarin aku nggak datang. Aku minta maaf. Kemarin aku ngga datang bukan karena lupa, tapi karena ini.” Dinata menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Satria.
Satria mengambil kotak tersebut dan membukanya. Dirinya tercengang saat melihat isi kotak tersebut. Dia memandang Dinata. Terlihat binar mata Dinata disertai anggukan kecil.
“Selamat ulang tahun, dan juga happy anniversary hubungan kita,” ucap Dinata.
Isi kotak tersebut adalah scrap book yang berisi foto mereka berdua. Foto mereka sejak awal pacaran hingga kini. Satria menutup kotak tesebut. Dia tersenyum gembira. Segala pikiran negatif di kepalanya sirna. Dipeluknya erat kekasihnya itu. Sebuah kecupan di ubun-ubun kepala Dinata menjadi pengganti ucapan perpisahan mereka.
“Aku bakal seminggu di sana, ketika aku pulang. Sambut kedatanganku,” ucap Satria yang dijawab dengan anggukan oleh Dinata. “Love you,” bisik Satria.
“Yes, I do.” Dinata melepaskan pelukan Satria. Seperti biasa, Dinata melepas kembali kepergian Satria, dan akan menunggu kepulangannya.
Cause I was born to tell you I love you
And I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
ditulis @danissyamra dalam http://syamra-danis.blogspot.com
Sebaris Bangku Kosong
Sore ini aku melihat lagi sepasang kekasih itu berpelukan di bangku peron stasiun Lempuyangan. Sebuah peristiwa rutin tiap 3 bulan sekali, peristiwa yang selalu saja diakhiri dengan tangisan si wanita. Barangkali adegan seperti ini sudah menjadi ritual wajib bagi pasangan beda kota. Ini sudah keempat kalinya aku melihat mereka di sini.
Entah tak peduli atau memang tak peka lingkungan, apa yang mereka lakukan itu telah menarik perhatian banyak orang. Termasuk aku, satu-satunya yang duduk di belakang mereka. Wajar saja kalau aku sampai mendengar potongan-potongan percakapan mereka.
“Maafkan aku, Rahma. Aku harus menuruti permintaan ayahku untuk menikahi gadis pilihannya” kata si pria.
“Mungkin memang benar apa yang dikatakan mas Pandu, laju karma memang tak secepat hempasan peluru, tapi itu akan datang sewaktu-waktu.”
“Siapa itu Pandu?”
“Dia lelaki yang sengaja aku tinggalkan demi kamu setahun yang lalu”
“Kembalilah padanya, katakan kalau kamu masih mencintainya”
“Tidak mungkin, dia sudah tenang di makamnya”
Suasana menjadi hening, mereka hanya diam hingga akhirnya sebuah kereta datang dari arah timur.
“Derasnya sisi religi, mengasah alur hidup kita. Jangan sesali, coba kuatkan hati. Sudahlah, aku pergi” lelaki itu melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju kereta yang sudah ditunggunya dari tadi. Meninggalkan Rahma.
Entah apa yang bisa aku lakukan untuk menenangkan Rahma, dia hanya bisa menangis seadanya. Tapi aku berterimakasih karena setidaknya dia masih mengingat namaku, walaupun di satu sisi aku juga menyesal atas sumpah serapahku dulu. Ah, seandainya saja aku tidak menerobos palang kereta itu.
***
ditulis @ajenxris dalam http://baitbiru.tumblr.com
Entah tak peduli atau memang tak peka lingkungan, apa yang mereka lakukan itu telah menarik perhatian banyak orang. Termasuk aku, satu-satunya yang duduk di belakang mereka. Wajar saja kalau aku sampai mendengar potongan-potongan percakapan mereka.
“Maafkan aku, Rahma. Aku harus menuruti permintaan ayahku untuk menikahi gadis pilihannya” kata si pria.
“Mungkin memang benar apa yang dikatakan mas Pandu, laju karma memang tak secepat hempasan peluru, tapi itu akan datang sewaktu-waktu.”
“Siapa itu Pandu?”
“Dia lelaki yang sengaja aku tinggalkan demi kamu setahun yang lalu”
“Kembalilah padanya, katakan kalau kamu masih mencintainya”
“Tidak mungkin, dia sudah tenang di makamnya”
Suasana menjadi hening, mereka hanya diam hingga akhirnya sebuah kereta datang dari arah timur.
“Derasnya sisi religi, mengasah alur hidup kita. Jangan sesali, coba kuatkan hati. Sudahlah, aku pergi” lelaki itu melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju kereta yang sudah ditunggunya dari tadi. Meninggalkan Rahma.
Entah apa yang bisa aku lakukan untuk menenangkan Rahma, dia hanya bisa menangis seadanya. Tapi aku berterimakasih karena setidaknya dia masih mengingat namaku, walaupun di satu sisi aku juga menyesal atas sumpah serapahku dulu. Ah, seandainya saja aku tidak menerobos palang kereta itu.
***
ditulis @ajenxris dalam http://baitbiru.tumblr.com
Tentang Angkasa
1.
Dia menyukai hujan. Sama seperti aku. Namun aku membenci air. Sedangkan dia, menyukainya. Aku lebih senang menikmati hujan dari balik jendela kamarku. Mendengarkan suaranya yang menyejukkan, serta menyesap baunya yang menenangkan. Sedangkan dia, lebih suka menikmatinya secara langsung.
Ketika langit mulai mendung, dia pasti akan tersenyum gembira, lalu bergegas keluar dari rumahnya. Merentangkan kedua tangannya, dan menunggu sampai hujan turun. Karena itu, dia sangat membenci mendung yang tak hujan.
Jika sudah ada tetesan hujan yang mengenai tubuh atau wajahnya, dia akan mulai menari. Dia sangat pandai menari. Gerakannya sangat luwes dan gemulai. Namun dia hanya mau menari jika ada hujan. Dia akan berputar-putar, menggerak-gerakkan tangannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berlarian mengelilingi halaman rumahnya. Begitu seterusnya hingga hujan berhenti.
Pernah sesekali dia juga menyanyi di bawah hujan. Suaranya sangat indah. Jika sudah bernyanyi, dia tidak akan berhenti sebelum hujan reda. Bahkan dia akan terus bernyanyi, meskipun suaranya sudah mulai serak. Dia tak kan pernah mempedulikannya. Dia akan terus bernyanyi hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru kota.
2.
Ayahnya seorang petani jeruk. Mereka juga memiliki kebun jeruk yang sangat luas di belakang rumahnya. Dia pernah memberiku jeruk dari kebunnya itu. Kalau tidak salah, bulan November tahun lalu. Dan kau harus percaya, jeruk dari kebunnya adalah jeruk terenak dan tersegar di seluruh dunia. Saat aku bertanya bagaimana bisa, dia hanya menjawab karena hujan yang merawatnya.
Dia menyukai warna oranye dan senja, pasti jeruk lah alasannya. Dia pernah datang ke rumahku, membawa sebuah jaring yang biasa digunakan oleh ayahnya untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan di kebun jeruk mereka.
“Kamu mau menemaniku menangkap senja?”
Dahiku mengernyit. Aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku justru mengangguk. Seperti terhipnotis oleh kata-katanya.
“Kalau begitu ayo ikut!”
Ia meraih tanganku. Menariknya agar aku bergegas mengikuti jejak langkahnya. Baru kali ini aku melihatnya begitu bersemangat. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang mengajak ibunya untuk pergi ke toko boneka atau toko es krim. Raut bahagia terukir jelas di wajahnya. Sedari tadi, bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan sebuah senyum.
“Kita mau kemana?”
“Ke bukit belakang rumah Raga!”
Raga adalah sepupuku, dan juga temannya. Di belakang rumah Raga terdapat sebuah bukit yang menawan. Tidak terlalu tinggi memang. Tapi dari atasnya, kita sudah bisa melihat hampir seluruh isi kota. Tidak ada pohon ataupun bunga di sana, namun tetap saja indah. Karena padang rumput yang sangat hijau, terhampar luas disana.
Senja sore itu memang sangat indah. Semburatnya berwarna oranye menyala, persis seperti warna kesukaannya. Tak heran dia ingin sekali untuk menangkapnya. Mungkin dia ingin menjadikannya sebagai penghias kamar, agar dia bisa melihat senja setiap saat. Mungkin dia akan memasangnya di dinding kamarnya sebelah barat, di atas rak bukunya, dan berdampingan dengan pigura yang berisikan foto ibunya.
“Kamu ke atas bukit yang sebelah utara ya, terus bawa senjanya ke sini. Nanti aku tangkap mereka pake jaring ini.”
Aku segera berjalan menaiki bukit sebelah utara. Sesampainya di sana, aku terdiam beberapa saat. Selain menikmati keindahan senja, aku juga memikirkan bagaimana cara agar senja dapat bergerak ke arahnya. Awalnya, aku mencoba-coba untuk meniupnya. Tapi tentu saja angin yang dibuatku tak cukup kuat untuk menerbangkan senja ke arah selatan. Dan di saat aku masih kebingungan, tiba-tiba aku melihat seorang penggembala yang sedang menggiring domba-dombanya untuk menuruni bukit. Ia seorang diri, namun bisa menggiring domba yang puluhan jumlahnya. Aku pun mencoba untuk mencontohnya. Kurentangkan tanganku selebar mungkin, lalu aku kibas-kibaskan tanganku ke depan, persis seperti apa yang dilakukan penggembala tadi. Benar saja, senja di langit tiba-tiba bergerak menuruti arah kibasan tanganku.
Senja semakin cepat bergerak turun ke arah selatan. Dia, yang sudah menunggu dari tadi, segera mengayunkan jaringnya ke udara. Dia berlari kesana kemari, sambil sesekali melompat. Mencoba untuk menangkap senja sebanyak mungkin.
Namun anehnya, tidak ada satu pun senja yang berhasil ditangkapnya. Ternyata lubang di jaringnya terlalu besar, sehingga senja yang ada di dalamnnya, dapat lolos begitu saja. Tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Dia masih tetap saja melompat-lompat sambil mengayunkan jaringnya.
Tidak lama kemudian, dia tiba tiba berhenti. Kepalanya tertunduk, dan diam tak bergerak. Dia terlihat sangat lemas. Aku segera menuruni bukit untuk datang menghampirinya, kemudian mendekati tubuhnya secara perlahan. Kusibakkan rambut panjang yang menutupi wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Buliran air, perlahan keluar membasahi kedua pipinya.
“Aku tak bisa menangkap senja” ujarnya sambil terisak.
Aku terhenyak. Baru kali ini aku melihatnya menangis di depanku. Aku benar-benar merasa bersalah karena tak bisa memenuhi keinginannya.
“Sudahlah, besok kita coba lagi, ya?”
Aku memeluknya, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Namun, dia justru semakin menangis.
“Aku ingin menangkap senja” bisiknya berulang-ulang di dalam pelukanku.
3.
Kami berdua menyukai buku. Bahkan pertemuan pertama kami pun terjadi di sebuah toko buku. Namun aku lebih suka menulis dan mendengar. Sedangkan ia lebih senang membaca dan berbicara. Dia sangat suka membaca buku tentang semesta.
“Kamu ingin menjadi Matahari?” tanyaku suatu ketika.
“Emm, tidak”
“Kenapa? Bukankah ia sempurna?”
“Menurutku tidak ada yang sempurna di alam ini. Matahari sekalipun. Mungkin ia memang indah dan memberi kehidupan bagi semua. Tapi bukankah kita hanya akan nyaman jika berjarak dengannya?”
“Kalau Bulan?”
“Ia cantik. Ia juga setia kepada Bumi. Namun sayangnya, ia tidak jujur. Ia hanya menampakkan satu sisi terangnya. Kita tak pernah tahu bagaimana sisi gelapnya.”
“Emm, kalau Bintang?
“Mereka mengagumkan. Meskipun terlihat acak, namun sebenarnya mereka membentuk suatu konstelasi yang indah. Tapi aku tak ingin membagi diriku. Aku ingin menjadi sesuatu yang utuh.”
“Lalu, kamu ingin menjadi apa?”
“Aku sudah menjadi Angkasa” jawabnya sembari tersenyum.
4.
Namanya Angkasa. Angkasa Putri Melodia. Dan kepadanya, aku jatuh cinta.
ditulis @bumihr dalam http://bumiherarihlatu.tumblr.com
Dia menyukai hujan. Sama seperti aku. Namun aku membenci air. Sedangkan dia, menyukainya. Aku lebih senang menikmati hujan dari balik jendela kamarku. Mendengarkan suaranya yang menyejukkan, serta menyesap baunya yang menenangkan. Sedangkan dia, lebih suka menikmatinya secara langsung.
Ketika langit mulai mendung, dia pasti akan tersenyum gembira, lalu bergegas keluar dari rumahnya. Merentangkan kedua tangannya, dan menunggu sampai hujan turun. Karena itu, dia sangat membenci mendung yang tak hujan.
Jika sudah ada tetesan hujan yang mengenai tubuh atau wajahnya, dia akan mulai menari. Dia sangat pandai menari. Gerakannya sangat luwes dan gemulai. Namun dia hanya mau menari jika ada hujan. Dia akan berputar-putar, menggerak-gerakkan tangannya, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berlarian mengelilingi halaman rumahnya. Begitu seterusnya hingga hujan berhenti.
Pernah sesekali dia juga menyanyi di bawah hujan. Suaranya sangat indah. Jika sudah bernyanyi, dia tidak akan berhenti sebelum hujan reda. Bahkan dia akan terus bernyanyi, meskipun suaranya sudah mulai serak. Dia tak kan pernah mempedulikannya. Dia akan terus bernyanyi hingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru kota.
2.
Ayahnya seorang petani jeruk. Mereka juga memiliki kebun jeruk yang sangat luas di belakang rumahnya. Dia pernah memberiku jeruk dari kebunnya itu. Kalau tidak salah, bulan November tahun lalu. Dan kau harus percaya, jeruk dari kebunnya adalah jeruk terenak dan tersegar di seluruh dunia. Saat aku bertanya bagaimana bisa, dia hanya menjawab karena hujan yang merawatnya.
Dia menyukai warna oranye dan senja, pasti jeruk lah alasannya. Dia pernah datang ke rumahku, membawa sebuah jaring yang biasa digunakan oleh ayahnya untuk menangkap kupu-kupu yang berterbangan di kebun jeruk mereka.
“Kamu mau menemaniku menangkap senja?”
Dahiku mengernyit. Aku tak tahu apa maksudnya. Tapi aku justru mengangguk. Seperti terhipnotis oleh kata-katanya.
“Kalau begitu ayo ikut!”
Ia meraih tanganku. Menariknya agar aku bergegas mengikuti jejak langkahnya. Baru kali ini aku melihatnya begitu bersemangat. Tingkahnya persis seperti anak kecil yang mengajak ibunya untuk pergi ke toko boneka atau toko es krim. Raut bahagia terukir jelas di wajahnya. Sedari tadi, bibirnya tak pernah berhenti menyunggingkan sebuah senyum.
“Kita mau kemana?”
“Ke bukit belakang rumah Raga!”
Raga adalah sepupuku, dan juga temannya. Di belakang rumah Raga terdapat sebuah bukit yang menawan. Tidak terlalu tinggi memang. Tapi dari atasnya, kita sudah bisa melihat hampir seluruh isi kota. Tidak ada pohon ataupun bunga di sana, namun tetap saja indah. Karena padang rumput yang sangat hijau, terhampar luas disana.
Senja sore itu memang sangat indah. Semburatnya berwarna oranye menyala, persis seperti warna kesukaannya. Tak heran dia ingin sekali untuk menangkapnya. Mungkin dia ingin menjadikannya sebagai penghias kamar, agar dia bisa melihat senja setiap saat. Mungkin dia akan memasangnya di dinding kamarnya sebelah barat, di atas rak bukunya, dan berdampingan dengan pigura yang berisikan foto ibunya.
“Kamu ke atas bukit yang sebelah utara ya, terus bawa senjanya ke sini. Nanti aku tangkap mereka pake jaring ini.”
Aku segera berjalan menaiki bukit sebelah utara. Sesampainya di sana, aku terdiam beberapa saat. Selain menikmati keindahan senja, aku juga memikirkan bagaimana cara agar senja dapat bergerak ke arahnya. Awalnya, aku mencoba-coba untuk meniupnya. Tapi tentu saja angin yang dibuatku tak cukup kuat untuk menerbangkan senja ke arah selatan. Dan di saat aku masih kebingungan, tiba-tiba aku melihat seorang penggembala yang sedang menggiring domba-dombanya untuk menuruni bukit. Ia seorang diri, namun bisa menggiring domba yang puluhan jumlahnya. Aku pun mencoba untuk mencontohnya. Kurentangkan tanganku selebar mungkin, lalu aku kibas-kibaskan tanganku ke depan, persis seperti apa yang dilakukan penggembala tadi. Benar saja, senja di langit tiba-tiba bergerak menuruti arah kibasan tanganku.
Senja semakin cepat bergerak turun ke arah selatan. Dia, yang sudah menunggu dari tadi, segera mengayunkan jaringnya ke udara. Dia berlari kesana kemari, sambil sesekali melompat. Mencoba untuk menangkap senja sebanyak mungkin.
Namun anehnya, tidak ada satu pun senja yang berhasil ditangkapnya. Ternyata lubang di jaringnya terlalu besar, sehingga senja yang ada di dalamnnya, dapat lolos begitu saja. Tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Dia masih tetap saja melompat-lompat sambil mengayunkan jaringnya.
Tidak lama kemudian, dia tiba tiba berhenti. Kepalanya tertunduk, dan diam tak bergerak. Dia terlihat sangat lemas. Aku segera menuruni bukit untuk datang menghampirinya, kemudian mendekati tubuhnya secara perlahan. Kusibakkan rambut panjang yang menutupi wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Buliran air, perlahan keluar membasahi kedua pipinya.
“Aku tak bisa menangkap senja” ujarnya sambil terisak.
Aku terhenyak. Baru kali ini aku melihatnya menangis di depanku. Aku benar-benar merasa bersalah karena tak bisa memenuhi keinginannya.
“Sudahlah, besok kita coba lagi, ya?”
Aku memeluknya, dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Namun, dia justru semakin menangis.
“Aku ingin menangkap senja” bisiknya berulang-ulang di dalam pelukanku.
3.
Kami berdua menyukai buku. Bahkan pertemuan pertama kami pun terjadi di sebuah toko buku. Namun aku lebih suka menulis dan mendengar. Sedangkan ia lebih senang membaca dan berbicara. Dia sangat suka membaca buku tentang semesta.
“Kamu ingin menjadi Matahari?” tanyaku suatu ketika.
“Emm, tidak”
“Kenapa? Bukankah ia sempurna?”
“Menurutku tidak ada yang sempurna di alam ini. Matahari sekalipun. Mungkin ia memang indah dan memberi kehidupan bagi semua. Tapi bukankah kita hanya akan nyaman jika berjarak dengannya?”
“Kalau Bulan?”
“Ia cantik. Ia juga setia kepada Bumi. Namun sayangnya, ia tidak jujur. Ia hanya menampakkan satu sisi terangnya. Kita tak pernah tahu bagaimana sisi gelapnya.”
“Emm, kalau Bintang?
“Mereka mengagumkan. Meskipun terlihat acak, namun sebenarnya mereka membentuk suatu konstelasi yang indah. Tapi aku tak ingin membagi diriku. Aku ingin menjadi sesuatu yang utuh.”
“Lalu, kamu ingin menjadi apa?”
“Aku sudah menjadi Angkasa” jawabnya sembari tersenyum.
4.
Namanya Angkasa. Angkasa Putri Melodia. Dan kepadanya, aku jatuh cinta.
ditulis @bumihr dalam http://bumiherarihlatu.tumblr.com
Sesalku Tak Berujung, Ayah
Aku sedang duduk menyelesaikan sebuah laporan yang harus segera ku laporkan pada atasanku, ketika ponselku berdering. ‘AYAH’ itu nama yang ku lihat pada display ponselku. Aku mencoba menebak maksud kenapa dia menghubungiku. Hmm, paling dia hanya membutuhkan uang.
“Halo, Ayah. Kenapa?” kataku cuek.
“Assalamu Alaikum, nak. Bagaimana kabarmu?” kata Ayah dari seberang.
“Baik saja, Ayah. Ayah kenapa? Butuh uang lagi? Nantinya saya transfer. Ayah mau berapa?” kataku sambil mengamati laporan pada display laptop.
“Bukan, nak. Bukan itu. Ayah rindu padamu. Ayah ingin bertemu denganmu,” kata ayah dengan nada bergetar.
“Oh, begitu. Maaf, ayah. Saya sedang sibuk. Tak ada waktu untuk pulang,” kataku.
“Wah, kamu sibuk, nak. Ayah sangat rindu ingin mengobrol denganmu. Kapan kamu akan menikah, nak?” kata ayah membuka pembicaraan.
“Aduh, maaf ayah. Saya sedang sibuk,” kataku singkat.
“Nak, apa ibadahmu teratur? Kamu masih sering mengirimkan doa untuk almarhuma ibumu kan?” kata ayah lagi.
“Iya, Ayah. Nanti saya akan menghubungi ayah kembali,” kataku kemudian mematikan ponselku. “Mengganggu saja orang tua ini.” kataku dalam hati.
Kembali aku melanjutkan pekerjaanku. Tak lama kemudian, nada pesan berbunyi dari ponselku. Aku membacanya karena berfikir itu pesan penting. Dan ternyata pesan itu datang dari ayahku.
Akbar, ayah ingin ke Jakarta.
Ayah ingin berkunjung ke rumahmu.
Ayah merindukanmu, nak.
Hah? Ayah mau kesini? Oh, tidak! Itu hanya akan membuatku malu. Segera ku balas pesan itu dengan pesan bertuliskan “Tidak, Ayah!”. Lalu ku lanjutkan kembali pekerjaanku. Lima menit kemudian ayah kembali membalas pesanku.
Kalau begitu, kapan kau akan mengunjungi ayah, nak?
Ayah sangat merindukanmu! Ingin sekali ayah memelukmu.
Berkunjunglah kemari. Bawa calon istrimu dan perkenalkan pada ayah.
Aku hanya membaca tanpa membalas pesannya. Mengganggu saja ayah ini. Membuat konsentrasiku buyar. Huuhhh…
Aku kemudian bersandar di kursi kemudian berbalik memandangi langit biru dari kaca jendela kantorku. Sejenak aku berfikir. Tidak. Ayah tidak boleh berkunjung kesini. Itu hanya akan membuatku malu. Mau disimpan dimana mukaku ini ketika nanti teman-temanku melihat orang tua miskin dan kolot itu kesini? Lagi pula, dia tidak akan bisa tinggal di apartemen mewahku. Dia tidak terbiasa dengan lingkungan mewah, juga tidak bisa menggunakan teknologi canggih.
Aku masih ingat saat pertama kali ayah menginjakkan kaki di Jakarta. Waktu itu dia memilih menggunakan kapal daripada pesawat. Katanya lebih murah naik kapal. Padahal kan yang membayar bukan dia tapi aku. Hmm, itu alasan dia saja. Dianya saja yang takut naik pesawat. Kampungan sih.
Yang lebih menyebalkan lagi ketika dia muntah di dalam mobilku. Dia beralasan mual saat mencium bau parfum mobilku. Dasar wong ndeso. Kebiasaan naik angkot sih. Dikasi tumpangan mobil mewah malah muntah.
Yang tak kalah, menyebalkan adalah ketika dia ku ajak menginap di apartemenku yang dulu. Dia kembali muntah ketika menggunakan lift. Hal tersebut seperti mencoreng mukaku di hadapan tetangga-tetangga dan pengelola apartemen. Terlanjur malu, aku terpaksa meninggalkan apatemen itu dan mencari apartemen baru.
Selain itu, cara berfikir ayah masih kolot. Dia sangat kaget melihat wanita-wanita kota dengan pakaian terbuka serta pola kehidupan di kota ini yang sangat jauh berbeda dari kehidupan di kampung sana. Dasar orang kampung memang.
Yang membuatku muak adalah penampilannya yang tidak modis sama sekali. Dia memilih menggunakan baju kokoh murahan dengan celana kain atau pun sarung murahan. Baju mewah yang kubeli dari toko-toko ternama enggan di pakainya. Dan juga, peci hitam itu yang sering dipakainya kemana-mana. Itu membuatku muak dan malu mengakuinya sebagai ayah.
Kita beda ayah, cara hidup kita beda. Aku kaya dan engkau miskin. Aku modern dan engkau kolot. Akan sangat memalukan ketika teman-teman dan relasiku mengetahui seperti apa engkau, ayahku.
Kau ingin bertemu dengan calon istriku? Oh, jangan! Tidak, ayah. Tidak akan ku biarkan. Apa kata calon istriku nanti? Apa kata keluarganya? Aku akan sangat malu ketika istriku mengetahui bahwa aku berasal dari keluarga yang miskin. Asal kau tahu, ayah. Istriku berasal dari keluarga yang kaya raya. Dia juga seorang dokter. Mana mungkin aku membawanya ke rumahmu, di kampung yang jauh disana. Kau fikir calon istriku mau tinggal di gubuk tuamu itu?
Aku menghela nafas panjang. Kemudian mempersiapkan diri untuk menghadiri rapat yang akan berlangsung lima menit lagi. Ku coba menghilangkan ingatanku dari segala cerita tentang ayahku. Aku melangkah memasuki ruang rapat dan peserta rapat lainnya telah menunggu.
Tiga jam kemudian rapat selesai dengan hasil sesuai dengan yang ku inginkan. Ya, aku sukses. Sekali lagi aku sukses. Aku memang selalu sukses, nyaris tak pernah gagal. Saat ku melihat ponsel-ku Nampak pada display enam belas pesan masuk. Ketika ku membuka semua pesan berasal dari Ayah. Isinya tak begitu penting. Hanya ungkapan rindunya sertanya ungkapan ingin bertemu denganku. Segera saja kubalas pesan itu.
Ayah, aku akan mengirimkanmu uang. Tolong jangan terus menggangguku.
Aku sibuk!
***
Seminggu berlalu dengan cepat. Segala urusan dan pekerjaanku berjalan dengan baik. Aku melakukan rutinitasku dengan lancar setiap harinya. Setiap hari Ayah terus saja mengirimiku pesan masih dengan maksud yang sama. Pesan yang berisi ungkapan rindu dan ingin bertemu. Tetapi ku biarkan saja dan tak kuhiraukan.
Ku akui sudah tiga tahun aku tak pernah pulang ke rumahnya, kampung halamanku. Aku memang malas kembali ke kampung itu. Suasananya membuatku tak nyaman. Tak ada minimarket, banyak serangga yang mengganggu, kasur yang tak empuk, dan suasana yang membosankan. Saat hari raya tiba, aku hanya menelpon atau mengirim pesan singkat.
Setelah seminggu lebih ayah terus-terusan menggangguku dengan mengirim pesan atau menelpon, tiga hari belakangan ini ayah tidak lagi melakukannya. Mungkin capek sendiri dia tak ku pedulikan.
Malam menujukkan pukul delapan ketika aku sedang berada di apartemenku. Aku berniat memindahkan lemari tua dan usang dari rotan yang menghiasi ruang kerjaku ke gudang. Aku berniat menggantinya dengan yang baru.
Saat meletakkan lemari tua tersebut di gudang, aku tak sengaja menyenggol sebuah kardus dan menumpahkan isinya. Ku mendekati memeriksa isi kardus tersebut. Isinya dua buah album foto dan lembaran-lembaran kertas tua dengan tulisan tangan yang masih jelas terbaca. Aku mengambil dan membawanya keluar untuk memeriksa isinya.
Ini adalah album foto tua yang berisi foto-foto diriku dari masa lalu. Serta surat-surat yang rutin ayah kirimkan untukku saat aku masih kuliah dulu. Aku tersenyum melihat diriku yang kecil dan polos didampingi kedua orang tuaku dengan senyum bahagianya pada sebuah foto hitam putih. Aku anak ayah dan ibu satu-satunya. Ku buka lembar demi lembar dan terus tersenyum melihat gambar-gambar hitam putih itu.
Nampak di foto ini, ayah sedang memeluk diriku memegang sebuah piala. Yah, itu saat aku menjadi juara pada lomba matematika sekabupaten. Betapa bangga ayah pada diriku saat itu. Aku tersenyum kembali melihat fotoku bersama ayah di sebuah pelabuhan dengan kapal besar sebagai latarnya. Itu adalah saat pertama kali aku akan berangkat ke Jakarta, memenuhi undangan dari pihak Universitas Indonesia untuk melanjutkan kuliahku disana.
Terus kubuka lembar demi lembar album foto itu. Dadaku bergetar ketika ku melihat foto ayah bersama diriku dengan pakaian wisuda dan topi toga. Aku tiba-tiba merindukan ayah. Masih teringat saat ayah menitihkan airmata memelukku sambil berkata, “Kini kau seorang sarjana, nak. Anak ayah seorang insinyur. Ayah bangga padamu. Ibumu juga pasti sangat bangga padamu.”
Kulihat surat-surat ayah yang dulu sering dia kirimkan untukku. Masih teringat jelas di kepalaku. Setiap bulan aku dan teman-teman kuliahku menantikan kiriman amplop dari orang tua masing-masing. Bedanya, isi amplop mereka adalah uang, sedangkan amplop untukku berisi surat dari ayahku. Saat itu aku mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliahku sehingga ayah tak perlu pusing memikirkan biaya kuliahku.
Air mataku tiba-tiba menetes. Aku menyesali diriku sendiri. Dulu, ketika komunikasi dengan ayah masih sangat sulit dengan jasa pos, aku masih sering berkomunikasi dengannya. Namun, mengapa kini ketika komunikasi demikian mudah dengan ponsel, aku malah jarang berkomunikasi dengannya.Aku kemudian mengambil ponselku dan mencoba menghubungi ayahku. Dadaku semakin bergetar.
“Halo,” kata suara dari seberang namun bukanlah ayahku.
“Halo, ini siapa? Mana ayahku?”
“Ini Pak Amin, nak. Tetangga sebelah. Masih kamu ingatkan?”
“Oh, iya. Mana ayah saya, pak?”
“Begini, nak. Ayahmu sedang sakit. Sudah tiga hari dia terbaring lemah di rumah,”
“Sakit? Kenapa tak di bawa ke dokter?” kataku dengan nada tinggi.
“Disini tak ada dokter nak. Rumah sakit sangat jauh. Kami sudah membawanya ke puskesmas kampung sini.”
“Apa? Puskesmas? Ya, Tuhan. Sakit apa ayahku?”
“Kau tak tahu, nak? Ayahmu menderita penyakit paru-paru sejak lama. Kemarin dia muntah darah,”
“Apa? Kenapa dia tak pernah memberitahuku? Tolong dekatkan ponsel itu padanya. Aku ingin berbicara dengannya,”
“Akbar,” suara ayah terlihat lemah dari seberang.
Aku menangis lalu berkata ”Ayah, maafkan aku. Betapa sombongnya aku padamu, ayah. Kau yang membesarkanku hingga seperti ini. Lalu, apa balasanku padamu? Uang? Maafkan aku, ayah. Betapa bodohnya aku ini. Maafkan aku, ayah. Aku durhaka terhadapmu. Maafkan aku, ayah.”
“Ayah memaafkanmu. Ayah menyayangimu, Akbar.” Suara ayah terdengar sangat lemah dari seberang. Tak dapat ku tahan air mataku.
“Tunggu aku ayah. Aku akan datang menjengukmu. Sabar ya, Ayah. Aku segera pulang,” kataku.
Tak lama kemudian aku memutuskan sambungan telepon kemudian mengemas barangku bermaksud pulang menjenguk ayahku. Aku teringat pesan ayah yang ingin melihat calon istriku. Calon istriku seorang dokter ayah. Sudah sepatutnya dia mengobatimu. Dia seharusnya mengenalmu ayah.
Ku ambil ponselku mencoba menghubungi Dina, dokter cantik yang sangat kucintai dan akan ku nikahi nantinya.
“Halo,” suara lembut dari seberang.
“Din, aku membutuhkanmu.” kataku sambil terisak.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Apa kau benar-benar mencintaiku?”
“Tentu saja, Akbar. Ada apa? Kenapa kau ini?”
“Bukankah kau ingin mengenal keluargaku? Aku ingin mengajakmu menemui ayahku.”
“Tentu saja aku mau, Akbar.”
“Tapi berjanjilah. Kau akan tetap bersamaku, kau akan tetap mau menikah denganku setelah kau mengetahui seperti apa keluargaku dan seperti apa tempat asalku.”
“Akbar, ada apa ini. Apa maksudmu?”
“Aku berasal dari kampung kecil, Din. Aku berasal dari keluarga miskin. Tak sepertimu,”
“Hey, Akbar. Lalu apa masalahnya? Lagi pula kenapa aku harus mempermasalahkannya?”
“Berkemaslah. Kita harus berangkat ke Sulawesi. Ayahku sakit keras. Ku mohon ikutlah denganku. Dia ingin mengenalmu. Kau pun harus mengobatinya.”
“Baiklah. Aku berkemas. Ku tunggu kau menjemputku.”
Aku bergegas mempersiapkan diriku. Menghubungi salah satu temanku di sebuah maskapai penerbangan bermaksud memesan dua buah tiket pesawat yang akan segera berangkat ke bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Beruntung aku mendapatkan tiket pesawat yang akan berangkat tiga jam lagi.
Aku berangkat menjemput Dina, lalu menuju bandara. Aku memeluknya. Tak dapat ku tahan tangisku. Aku kemudian menangis di pelukannya, mencurahkan semua penyesalanku. Dia melepaskan pelukannya lalu mengusap air mataku, kemudian tersenyum sambil berkata, “Belum terlambat, sayang. Kau bisa berubah dari sekarang. Percayalah, aku akan tetap bersamamu apa pun yang terjadi,”.
***
Kami mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan merental sebuah mobil Avansa ke sebuah desa di Kabupaten Sidrap. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, sampailah kami ke sebuah desa kecil. Dadaku semakin bergetar saat menginjakkan kaki di depan rumah. Rumah panggung yang masih kokoh dengan dinding bambu di bawahnya sebagai kandang ayam. Sumur tua di halaman rumah masih dimanfaatkan hingga kini. Suara bebek dan angsa terdengar dari kolam di samping rumah. Tak ada yang berubah kecuali bendera putih yang berkibar di pagar depan rumahku.
Aku menggenggam tangan Dina erat kemudian melangkah memasuki halaman. Tetangga berkumpul ramai di halaman rumah menyambut kedatangan kami. Terdengar lantunan surat Yasin dari dalam rumah. Aku melangkah gontai didampingin Dina, menahan tangis dan perih di dalam dada.
Aku dan Dina melangkah menaiki anak tangga kemudian memasuki pintu. Aku bungkam melihat sosok ayahku yang terbaring tertutup kain. Aku melangkah mendekatinya. Perlahan air mataku menetes. Aku tak kuasa menahan tangis ketika kubuka kain yang menutupi wajahnya yang Nampak bercahaya sambil tersenyum. Aku memeluknya kemudian menangis sejadi-jadinya. Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata penyesalan diriku. Wajah ini terakhir kulihat tiga tahun yang lalu. Dan wajah ini kulihat untuk terakhir kalinya hari ini.
Dina mencoba menenangkan diriku. Di genggamnya tanganku kemudian berbisik, “Sayang, sudahlah. Tak ada gunanya kau menangis. Lebih baik kita mendoakannya dan melepas kepergiannya dengan ikhlas. Itu akan membuatnya lebih tenang,”.
“Kau tak tahu, Din. Kau tak merasakan apa yang kurasakan. Aku durhaka terhadapnya. Aku menelantarkannya. Aku menyia-nyiakannya di saat-saat akhir hidupnya. Seminggu yang lalu di terus merengek ingin bertemu denganku, dia ingin mengobrol denganku, dia ingin mengenalmu. Tapi tak kuhiraukan. Dan kau tak akan tahu pedih yang kurasakan. Aku tak sempat bertemu dengannya, Din. Aku tak sempat merasakan hangat peluknya, tak sempat mendengar nasehatnya, tak sempat mengenalkanmu padanya,” aku menunduk sambil menangis terisak-isak.
“Hei, dia masih disini. Raganya terbaring di depanmu dan mungkin saja jiwanya ada di samping atau dihadapanmu,” katanya sambil memegang kedua pipiku.
Aku hanya menangis dan menyesali diriku. Ku pegang tangannya yang masih menempel di pipiku kemudian menggenggamnya erat. Aku duduk di bersama Dina di samping jasad ayah, kemudian berkata, “Ayah, maafkan aku. Aku durhaka terhadapmu. Aku tak memperdulikanmu selama beberapa tahun ini, Ayah. Maafkan aku telah menyia-nyiakanmu. Aku bahkan tak sempat merawatmu. Aku menyayangimu, Ayah. Maafkan aku yang dibutakan oleh harta. Aku ini bodoh, Ayah.” aku menarik nafas menahan tangis yang terisak-isak. Aku menggenggam erat tangan Dina lalu berkata “Ayah, ini Dina. Ini calon menantumu, Ayah. Harusnya kuperkenalkan dari dulu padamu agar dia bisa mengobatimu. Dia seorang dokter, Ayah. Betapa bodohnya aku ini,” aku tak kuasa menahan tangis kemudian kembali memeluk jasad ayahku.
***
Lima tahun kemudian…
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku duduk santai di sofa ruang keluarga rumahku. Tak sengaja ku temukan remote radio-tape di sampingku. Iseng aku menekan tombol on, kemudian terdengar lantunan lagu berjudul Ayah yang dinyanyikan oleh Ariel feat Candil:
Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi
Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi
Air mataku mentes mendengar alunan lagi itu. Ayah, aku merindukanmu. aku sangat menyesali diriku ayah. Mengapa saat dulu kau masih hidup, aku tak merindukanmu. Kini, saat kau tiada aku merindukanmu. Aku merindukan suaramu, Ayah. Aku merindukan pesansingkatmu yang selalu memenuhi inbox ponselku. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memelukmu, Ayah. Aku merindukanmu, amat sangat merindukanmu. Ayah…Aku mencintaimu...
ditulis @Ddeedott dalam http://hanyasekedarceritaa.blogspot.com
“Halo, Ayah. Kenapa?” kataku cuek.
“Assalamu Alaikum, nak. Bagaimana kabarmu?” kata Ayah dari seberang.
“Baik saja, Ayah. Ayah kenapa? Butuh uang lagi? Nantinya saya transfer. Ayah mau berapa?” kataku sambil mengamati laporan pada display laptop.
“Bukan, nak. Bukan itu. Ayah rindu padamu. Ayah ingin bertemu denganmu,” kata ayah dengan nada bergetar.
“Oh, begitu. Maaf, ayah. Saya sedang sibuk. Tak ada waktu untuk pulang,” kataku.
“Wah, kamu sibuk, nak. Ayah sangat rindu ingin mengobrol denganmu. Kapan kamu akan menikah, nak?” kata ayah membuka pembicaraan.
“Aduh, maaf ayah. Saya sedang sibuk,” kataku singkat.
“Nak, apa ibadahmu teratur? Kamu masih sering mengirimkan doa untuk almarhuma ibumu kan?” kata ayah lagi.
“Iya, Ayah. Nanti saya akan menghubungi ayah kembali,” kataku kemudian mematikan ponselku. “Mengganggu saja orang tua ini.” kataku dalam hati.
Kembali aku melanjutkan pekerjaanku. Tak lama kemudian, nada pesan berbunyi dari ponselku. Aku membacanya karena berfikir itu pesan penting. Dan ternyata pesan itu datang dari ayahku.
Akbar, ayah ingin ke Jakarta.
Ayah ingin berkunjung ke rumahmu.
Ayah merindukanmu, nak.
Hah? Ayah mau kesini? Oh, tidak! Itu hanya akan membuatku malu. Segera ku balas pesan itu dengan pesan bertuliskan “Tidak, Ayah!”. Lalu ku lanjutkan kembali pekerjaanku. Lima menit kemudian ayah kembali membalas pesanku.
Kalau begitu, kapan kau akan mengunjungi ayah, nak?
Ayah sangat merindukanmu! Ingin sekali ayah memelukmu.
Berkunjunglah kemari. Bawa calon istrimu dan perkenalkan pada ayah.
Aku hanya membaca tanpa membalas pesannya. Mengganggu saja ayah ini. Membuat konsentrasiku buyar. Huuhhh…
Aku kemudian bersandar di kursi kemudian berbalik memandangi langit biru dari kaca jendela kantorku. Sejenak aku berfikir. Tidak. Ayah tidak boleh berkunjung kesini. Itu hanya akan membuatku malu. Mau disimpan dimana mukaku ini ketika nanti teman-temanku melihat orang tua miskin dan kolot itu kesini? Lagi pula, dia tidak akan bisa tinggal di apartemen mewahku. Dia tidak terbiasa dengan lingkungan mewah, juga tidak bisa menggunakan teknologi canggih.
Aku masih ingat saat pertama kali ayah menginjakkan kaki di Jakarta. Waktu itu dia memilih menggunakan kapal daripada pesawat. Katanya lebih murah naik kapal. Padahal kan yang membayar bukan dia tapi aku. Hmm, itu alasan dia saja. Dianya saja yang takut naik pesawat. Kampungan sih.
Yang lebih menyebalkan lagi ketika dia muntah di dalam mobilku. Dia beralasan mual saat mencium bau parfum mobilku. Dasar wong ndeso. Kebiasaan naik angkot sih. Dikasi tumpangan mobil mewah malah muntah.
Yang tak kalah, menyebalkan adalah ketika dia ku ajak menginap di apartemenku yang dulu. Dia kembali muntah ketika menggunakan lift. Hal tersebut seperti mencoreng mukaku di hadapan tetangga-tetangga dan pengelola apartemen. Terlanjur malu, aku terpaksa meninggalkan apatemen itu dan mencari apartemen baru.
Selain itu, cara berfikir ayah masih kolot. Dia sangat kaget melihat wanita-wanita kota dengan pakaian terbuka serta pola kehidupan di kota ini yang sangat jauh berbeda dari kehidupan di kampung sana. Dasar orang kampung memang.
Yang membuatku muak adalah penampilannya yang tidak modis sama sekali. Dia memilih menggunakan baju kokoh murahan dengan celana kain atau pun sarung murahan. Baju mewah yang kubeli dari toko-toko ternama enggan di pakainya. Dan juga, peci hitam itu yang sering dipakainya kemana-mana. Itu membuatku muak dan malu mengakuinya sebagai ayah.
Kita beda ayah, cara hidup kita beda. Aku kaya dan engkau miskin. Aku modern dan engkau kolot. Akan sangat memalukan ketika teman-teman dan relasiku mengetahui seperti apa engkau, ayahku.
Kau ingin bertemu dengan calon istriku? Oh, jangan! Tidak, ayah. Tidak akan ku biarkan. Apa kata calon istriku nanti? Apa kata keluarganya? Aku akan sangat malu ketika istriku mengetahui bahwa aku berasal dari keluarga yang miskin. Asal kau tahu, ayah. Istriku berasal dari keluarga yang kaya raya. Dia juga seorang dokter. Mana mungkin aku membawanya ke rumahmu, di kampung yang jauh disana. Kau fikir calon istriku mau tinggal di gubuk tuamu itu?
Aku menghela nafas panjang. Kemudian mempersiapkan diri untuk menghadiri rapat yang akan berlangsung lima menit lagi. Ku coba menghilangkan ingatanku dari segala cerita tentang ayahku. Aku melangkah memasuki ruang rapat dan peserta rapat lainnya telah menunggu.
Tiga jam kemudian rapat selesai dengan hasil sesuai dengan yang ku inginkan. Ya, aku sukses. Sekali lagi aku sukses. Aku memang selalu sukses, nyaris tak pernah gagal. Saat ku melihat ponsel-ku Nampak pada display enam belas pesan masuk. Ketika ku membuka semua pesan berasal dari Ayah. Isinya tak begitu penting. Hanya ungkapan rindunya sertanya ungkapan ingin bertemu denganku. Segera saja kubalas pesan itu.
Ayah, aku akan mengirimkanmu uang. Tolong jangan terus menggangguku.
Aku sibuk!
***
Seminggu berlalu dengan cepat. Segala urusan dan pekerjaanku berjalan dengan baik. Aku melakukan rutinitasku dengan lancar setiap harinya. Setiap hari Ayah terus saja mengirimiku pesan masih dengan maksud yang sama. Pesan yang berisi ungkapan rindu dan ingin bertemu. Tetapi ku biarkan saja dan tak kuhiraukan.
Ku akui sudah tiga tahun aku tak pernah pulang ke rumahnya, kampung halamanku. Aku memang malas kembali ke kampung itu. Suasananya membuatku tak nyaman. Tak ada minimarket, banyak serangga yang mengganggu, kasur yang tak empuk, dan suasana yang membosankan. Saat hari raya tiba, aku hanya menelpon atau mengirim pesan singkat.
Setelah seminggu lebih ayah terus-terusan menggangguku dengan mengirim pesan atau menelpon, tiga hari belakangan ini ayah tidak lagi melakukannya. Mungkin capek sendiri dia tak ku pedulikan.
Malam menujukkan pukul delapan ketika aku sedang berada di apartemenku. Aku berniat memindahkan lemari tua dan usang dari rotan yang menghiasi ruang kerjaku ke gudang. Aku berniat menggantinya dengan yang baru.
Saat meletakkan lemari tua tersebut di gudang, aku tak sengaja menyenggol sebuah kardus dan menumpahkan isinya. Ku mendekati memeriksa isi kardus tersebut. Isinya dua buah album foto dan lembaran-lembaran kertas tua dengan tulisan tangan yang masih jelas terbaca. Aku mengambil dan membawanya keluar untuk memeriksa isinya.
Ini adalah album foto tua yang berisi foto-foto diriku dari masa lalu. Serta surat-surat yang rutin ayah kirimkan untukku saat aku masih kuliah dulu. Aku tersenyum melihat diriku yang kecil dan polos didampingi kedua orang tuaku dengan senyum bahagianya pada sebuah foto hitam putih. Aku anak ayah dan ibu satu-satunya. Ku buka lembar demi lembar dan terus tersenyum melihat gambar-gambar hitam putih itu.
Nampak di foto ini, ayah sedang memeluk diriku memegang sebuah piala. Yah, itu saat aku menjadi juara pada lomba matematika sekabupaten. Betapa bangga ayah pada diriku saat itu. Aku tersenyum kembali melihat fotoku bersama ayah di sebuah pelabuhan dengan kapal besar sebagai latarnya. Itu adalah saat pertama kali aku akan berangkat ke Jakarta, memenuhi undangan dari pihak Universitas Indonesia untuk melanjutkan kuliahku disana.
Terus kubuka lembar demi lembar album foto itu. Dadaku bergetar ketika ku melihat foto ayah bersama diriku dengan pakaian wisuda dan topi toga. Aku tiba-tiba merindukan ayah. Masih teringat saat ayah menitihkan airmata memelukku sambil berkata, “Kini kau seorang sarjana, nak. Anak ayah seorang insinyur. Ayah bangga padamu. Ibumu juga pasti sangat bangga padamu.”
Kulihat surat-surat ayah yang dulu sering dia kirimkan untukku. Masih teringat jelas di kepalaku. Setiap bulan aku dan teman-teman kuliahku menantikan kiriman amplop dari orang tua masing-masing. Bedanya, isi amplop mereka adalah uang, sedangkan amplop untukku berisi surat dari ayahku. Saat itu aku mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliahku sehingga ayah tak perlu pusing memikirkan biaya kuliahku.
Air mataku tiba-tiba menetes. Aku menyesali diriku sendiri. Dulu, ketika komunikasi dengan ayah masih sangat sulit dengan jasa pos, aku masih sering berkomunikasi dengannya. Namun, mengapa kini ketika komunikasi demikian mudah dengan ponsel, aku malah jarang berkomunikasi dengannya.Aku kemudian mengambil ponselku dan mencoba menghubungi ayahku. Dadaku semakin bergetar.
“Halo,” kata suara dari seberang namun bukanlah ayahku.
“Halo, ini siapa? Mana ayahku?”
“Ini Pak Amin, nak. Tetangga sebelah. Masih kamu ingatkan?”
“Oh, iya. Mana ayah saya, pak?”
“Begini, nak. Ayahmu sedang sakit. Sudah tiga hari dia terbaring lemah di rumah,”
“Sakit? Kenapa tak di bawa ke dokter?” kataku dengan nada tinggi.
“Disini tak ada dokter nak. Rumah sakit sangat jauh. Kami sudah membawanya ke puskesmas kampung sini.”
“Apa? Puskesmas? Ya, Tuhan. Sakit apa ayahku?”
“Kau tak tahu, nak? Ayahmu menderita penyakit paru-paru sejak lama. Kemarin dia muntah darah,”
“Apa? Kenapa dia tak pernah memberitahuku? Tolong dekatkan ponsel itu padanya. Aku ingin berbicara dengannya,”
“Akbar,” suara ayah terlihat lemah dari seberang.
Aku menangis lalu berkata ”Ayah, maafkan aku. Betapa sombongnya aku padamu, ayah. Kau yang membesarkanku hingga seperti ini. Lalu, apa balasanku padamu? Uang? Maafkan aku, ayah. Betapa bodohnya aku ini. Maafkan aku, ayah. Aku durhaka terhadapmu. Maafkan aku, ayah.”
“Ayah memaafkanmu. Ayah menyayangimu, Akbar.” Suara ayah terdengar sangat lemah dari seberang. Tak dapat ku tahan air mataku.
“Tunggu aku ayah. Aku akan datang menjengukmu. Sabar ya, Ayah. Aku segera pulang,” kataku.
Tak lama kemudian aku memutuskan sambungan telepon kemudian mengemas barangku bermaksud pulang menjenguk ayahku. Aku teringat pesan ayah yang ingin melihat calon istriku. Calon istriku seorang dokter ayah. Sudah sepatutnya dia mengobatimu. Dia seharusnya mengenalmu ayah.
Ku ambil ponselku mencoba menghubungi Dina, dokter cantik yang sangat kucintai dan akan ku nikahi nantinya.
“Halo,” suara lembut dari seberang.
“Din, aku membutuhkanmu.” kataku sambil terisak.
“Sayang, kamu kenapa?”
“Apa kau benar-benar mencintaiku?”
“Tentu saja, Akbar. Ada apa? Kenapa kau ini?”
“Bukankah kau ingin mengenal keluargaku? Aku ingin mengajakmu menemui ayahku.”
“Tentu saja aku mau, Akbar.”
“Tapi berjanjilah. Kau akan tetap bersamaku, kau akan tetap mau menikah denganku setelah kau mengetahui seperti apa keluargaku dan seperti apa tempat asalku.”
“Akbar, ada apa ini. Apa maksudmu?”
“Aku berasal dari kampung kecil, Din. Aku berasal dari keluarga miskin. Tak sepertimu,”
“Hey, Akbar. Lalu apa masalahnya? Lagi pula kenapa aku harus mempermasalahkannya?”
“Berkemaslah. Kita harus berangkat ke Sulawesi. Ayahku sakit keras. Ku mohon ikutlah denganku. Dia ingin mengenalmu. Kau pun harus mengobatinya.”
“Baiklah. Aku berkemas. Ku tunggu kau menjemputku.”
Aku bergegas mempersiapkan diriku. Menghubungi salah satu temanku di sebuah maskapai penerbangan bermaksud memesan dua buah tiket pesawat yang akan segera berangkat ke bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Beruntung aku mendapatkan tiket pesawat yang akan berangkat tiga jam lagi.
Aku berangkat menjemput Dina, lalu menuju bandara. Aku memeluknya. Tak dapat ku tahan tangisku. Aku kemudian menangis di pelukannya, mencurahkan semua penyesalanku. Dia melepaskan pelukannya lalu mengusap air mataku, kemudian tersenyum sambil berkata, “Belum terlambat, sayang. Kau bisa berubah dari sekarang. Percayalah, aku akan tetap bersamamu apa pun yang terjadi,”.
***
Kami mendarat di bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan merental sebuah mobil Avansa ke sebuah desa di Kabupaten Sidrap. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima jam, sampailah kami ke sebuah desa kecil. Dadaku semakin bergetar saat menginjakkan kaki di depan rumah. Rumah panggung yang masih kokoh dengan dinding bambu di bawahnya sebagai kandang ayam. Sumur tua di halaman rumah masih dimanfaatkan hingga kini. Suara bebek dan angsa terdengar dari kolam di samping rumah. Tak ada yang berubah kecuali bendera putih yang berkibar di pagar depan rumahku.
Aku menggenggam tangan Dina erat kemudian melangkah memasuki halaman. Tetangga berkumpul ramai di halaman rumah menyambut kedatangan kami. Terdengar lantunan surat Yasin dari dalam rumah. Aku melangkah gontai didampingin Dina, menahan tangis dan perih di dalam dada.
Aku dan Dina melangkah menaiki anak tangga kemudian memasuki pintu. Aku bungkam melihat sosok ayahku yang terbaring tertutup kain. Aku melangkah mendekatinya. Perlahan air mataku menetes. Aku tak kuasa menahan tangis ketika kubuka kain yang menutupi wajahnya yang Nampak bercahaya sambil tersenyum. Aku memeluknya kemudian menangis sejadi-jadinya. Tak dapat kulukiskan dengan kata-kata penyesalan diriku. Wajah ini terakhir kulihat tiga tahun yang lalu. Dan wajah ini kulihat untuk terakhir kalinya hari ini.
Dina mencoba menenangkan diriku. Di genggamnya tanganku kemudian berbisik, “Sayang, sudahlah. Tak ada gunanya kau menangis. Lebih baik kita mendoakannya dan melepas kepergiannya dengan ikhlas. Itu akan membuatnya lebih tenang,”.
“Kau tak tahu, Din. Kau tak merasakan apa yang kurasakan. Aku durhaka terhadapnya. Aku menelantarkannya. Aku menyia-nyiakannya di saat-saat akhir hidupnya. Seminggu yang lalu di terus merengek ingin bertemu denganku, dia ingin mengobrol denganku, dia ingin mengenalmu. Tapi tak kuhiraukan. Dan kau tak akan tahu pedih yang kurasakan. Aku tak sempat bertemu dengannya, Din. Aku tak sempat merasakan hangat peluknya, tak sempat mendengar nasehatnya, tak sempat mengenalkanmu padanya,” aku menunduk sambil menangis terisak-isak.
“Hei, dia masih disini. Raganya terbaring di depanmu dan mungkin saja jiwanya ada di samping atau dihadapanmu,” katanya sambil memegang kedua pipiku.
Aku hanya menangis dan menyesali diriku. Ku pegang tangannya yang masih menempel di pipiku kemudian menggenggamnya erat. Aku duduk di bersama Dina di samping jasad ayah, kemudian berkata, “Ayah, maafkan aku. Aku durhaka terhadapmu. Aku tak memperdulikanmu selama beberapa tahun ini, Ayah. Maafkan aku telah menyia-nyiakanmu. Aku bahkan tak sempat merawatmu. Aku menyayangimu, Ayah. Maafkan aku yang dibutakan oleh harta. Aku ini bodoh, Ayah.” aku menarik nafas menahan tangis yang terisak-isak. Aku menggenggam erat tangan Dina lalu berkata “Ayah, ini Dina. Ini calon menantumu, Ayah. Harusnya kuperkenalkan dari dulu padamu agar dia bisa mengobatimu. Dia seorang dokter, Ayah. Betapa bodohnya aku ini,” aku tak kuasa menahan tangis kemudian kembali memeluk jasad ayahku.
***
Lima tahun kemudian…
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku duduk santai di sofa ruang keluarga rumahku. Tak sengaja ku temukan remote radio-tape di sampingku. Iseng aku menekan tombol on, kemudian terdengar lantunan lagu berjudul Ayah yang dinyanyikan oleh Ariel feat Candil:
Dimana akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku selalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi
Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Denganmu aku bernyanyi
Air mataku mentes mendengar alunan lagi itu. Ayah, aku merindukanmu. aku sangat menyesali diriku ayah. Mengapa saat dulu kau masih hidup, aku tak merindukanmu. Kini, saat kau tiada aku merindukanmu. Aku merindukan suaramu, Ayah. Aku merindukan pesansingkatmu yang selalu memenuhi inbox ponselku. Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin memelukmu, Ayah. Aku merindukanmu, amat sangat merindukanmu. Ayah…Aku mencintaimu...
ditulis @Ddeedott dalam http://hanyasekedarceritaa.blogspot.com
Pengakuan Hati
Sedikit terengah-engah aku sampai di rumah, disambut ibu yang duduk merajut, melirik sekilas dari balik kacamatanya yang melorot ke ujung hidungnya yang mancung.
“Dari mana kamu ngos-ngosan begitu?” Tanyanya sambil terus merajut.
“Ketemu bapak. Di Halte.” Jawabku datar.
“Jangan ngawur kamu. Semua orang juga tahu kalau dia sudah meninggal.” Kali ini diletakkannya rajutannya dan memandangku serius.
“Yasudah kalau ndak percaya. Aku mandi dulu bu, gerah.”Ucapku tak menunggu responnya.
“Ya begitu anak sekarang. Suka lari dari masalah. Mandi sana yang bersih, sekalian segarkan isi kepala kamu yang mulai ruwet itu.” Tutup ibu.
Memang begitu kalau janda. Sensitif. Apalagi kalau menyangkut bapak. Kasihan ibu. Tapi aku memang bertemu bapak. Mungkin ini hadiah, atas rinduku pada beliau dalam bentuk halusinasi.
***
Akhirnya aku mendapat pekerjaan setelah dua belas hari luntang-lantung mencari di seputaran Jakarta yang ganas ini. Pelayan, di sebuah kedai kopi modern. Biarlah, asal halal.
Padahal aku tak suka kopi. Aroma kopi sering membuat mataku berair sembari kembali ke masa lalu, saat bapak masih ada. Ia duduk minum kopi dan membaca koran, dan aku bermain masak-masakan di sekitarnya.
Aku dan ibu memang tidak akrab. Entahlah, kami memang seolah dipasangkan pada garis darah yang salah. Dia dengan segala tingkah kunonya yang berlebihan, dan aku yang terlalu kekinian dan keras kepala.
Bahkan dulu mereka bilang, dia bukanlah ibu kandungku. Perbedaan kami terlalu jelas dari segi manapun, baik fisik, kegemaran, dan banyak hal lainnya. Ah, mungkin aku terbaca terlalu membesar-besarkan.
***
Keesokan pagi aku bangun. Sepi. Hanya suaraku yang sedang menguap dan hembusan angin pada horden yang menampar-nampar kawat anti nyamuk pada jendela kamar yang bersuara. Tak ada gemericik air cuci piring, atau bunyi krompyangan dapur biasa ibu memasak, juga tak ada suara siaran berita samar-samar dari tivi di ruang tengah. Kemana ibu?
Aku melawan rasa malasku dan bangkit mencari-cari sebab sepi ini. Berkeliling rumah dan menemukan ibu tersungkur di dapur tentu membuat aku sadar seketika dan panik.
Dengan pakaian seadanya aku menuju rumah sakit, setelah dibantu para tetangga mengangkat ibu ke mobil. Kenapa ibu?
–
Mamma, you gave life to me, turned a baby, into a lady
Mamma, all you had to offer, was the promise of, a lifetime of love
Now I know, there is no other, love like a mother’s love for her child
And I know, a love so complete, someday must leave, must say goodbye ..
Perasaanku berantakan, lagu ini semakin membuatku menyesali semuanya. Sikap kasar dan tak peduliku pada ibu, jawaban-jawaban ketus yang tak semestinya kulontarkan. Keangkuhanku. Maafkan aku, bu.
Selama kurang lebih dua jam menunggu di ruang tunggu Unit Gawat Darurat, akhirnya dokter keluar menemuiku.
“Ibumu sudah membaik, ia kekurangan banyak cairan. Kapan kau lihat terakhir kali ia makan?” Ini pertanyaan yang menampar keras wajahku. Kapan ya dia makan terakhir kali? Aku tidak tahu. Terdiam lama, dokter menepuk pundakku.
“Kalian bertengkar?” Katanya lagi. Dia memang dokter keluarga kami. Rasa-rasanya banyak yang sudah dikeluhkan ibu padanya.
“Sedikit dok” jawabku akhirnya.
“Ibumu sedikit tertekan, dia sudah sadar. Tapi masih enggan bicara. Sepertinya sedang sangat sedih. Ajak dia makan.” Kata dokter lagi.
“Baik dokter, terima kasih.” Ucapku.
Aku sudah duduk di samping tempat tidur ibu. Tangan kanannya dipenuhi selang infus. Wajahnya pucat.
“Kapan terakhir kali ibu makan?”Kataku akhirnya setelah hening sekian menit.
“Sudahlah tak usah diperpanjang.”Ujarnya
“Apanya yang diperpanjang? Aku cuma nanya.”Kataku
“Dua hari yang lalu.”Jawabnya
“Sial. Untuk ap..”
“Ibu bilang sudah tak usah diperpanjang.” Katanya memotong ucapanku
“Urusan ini memang sudah panjang karena ibu sampai harus dirawat di ruangan ini, bu. Sekarang mari kita bicara saja, agar tidak membesar masalah kita.” Kataku sedikit menekankan suaraku.
“Ibu kangen bapakmu. Sejak dua hari ke makam beliau, justru semakin rindu. Rasa-rasanya ingin menyusulnya.” Ucapnya menerawang
“Apa aku kelihatan tak begitu berartinya bagi ibu? Sampai ingin menyusul bapak segala. Mau membiarkan aku menghadapi kesedihan ini sendirian begitu?” Tanyaku
“Bukan.. Ibu..” Suaranya terhenti. Bibirnya bergetar dan menetes air matanya.
“Sekarang ibu makan. Aku benci ibu cengeng. Harusnya kita saling menguatkan, bukan saling meninggalkan. Maafkan sikapku selama ini. Aku menyayangimu, bu. Ini aku bawakan sup kesukaan ibu.”Kataku menghapus air matanya.
Akhirnya keluar juga kata sayang itu, kata-kata yang seharusnya lebih sering kuucapkan kepada ibu.
ditulis @ikavuje dalam http://eqoxa.wordpress.com/
“Dari mana kamu ngos-ngosan begitu?” Tanyanya sambil terus merajut.
“Ketemu bapak. Di Halte.” Jawabku datar.
“Jangan ngawur kamu. Semua orang juga tahu kalau dia sudah meninggal.” Kali ini diletakkannya rajutannya dan memandangku serius.
“Yasudah kalau ndak percaya. Aku mandi dulu bu, gerah.”Ucapku tak menunggu responnya.
“Ya begitu anak sekarang. Suka lari dari masalah. Mandi sana yang bersih, sekalian segarkan isi kepala kamu yang mulai ruwet itu.” Tutup ibu.
Memang begitu kalau janda. Sensitif. Apalagi kalau menyangkut bapak. Kasihan ibu. Tapi aku memang bertemu bapak. Mungkin ini hadiah, atas rinduku pada beliau dalam bentuk halusinasi.
***
Akhirnya aku mendapat pekerjaan setelah dua belas hari luntang-lantung mencari di seputaran Jakarta yang ganas ini. Pelayan, di sebuah kedai kopi modern. Biarlah, asal halal.
Padahal aku tak suka kopi. Aroma kopi sering membuat mataku berair sembari kembali ke masa lalu, saat bapak masih ada. Ia duduk minum kopi dan membaca koran, dan aku bermain masak-masakan di sekitarnya.
Aku dan ibu memang tidak akrab. Entahlah, kami memang seolah dipasangkan pada garis darah yang salah. Dia dengan segala tingkah kunonya yang berlebihan, dan aku yang terlalu kekinian dan keras kepala.
Bahkan dulu mereka bilang, dia bukanlah ibu kandungku. Perbedaan kami terlalu jelas dari segi manapun, baik fisik, kegemaran, dan banyak hal lainnya. Ah, mungkin aku terbaca terlalu membesar-besarkan.
***
Keesokan pagi aku bangun. Sepi. Hanya suaraku yang sedang menguap dan hembusan angin pada horden yang menampar-nampar kawat anti nyamuk pada jendela kamar yang bersuara. Tak ada gemericik air cuci piring, atau bunyi krompyangan dapur biasa ibu memasak, juga tak ada suara siaran berita samar-samar dari tivi di ruang tengah. Kemana ibu?
Aku melawan rasa malasku dan bangkit mencari-cari sebab sepi ini. Berkeliling rumah dan menemukan ibu tersungkur di dapur tentu membuat aku sadar seketika dan panik.
Dengan pakaian seadanya aku menuju rumah sakit, setelah dibantu para tetangga mengangkat ibu ke mobil. Kenapa ibu?
–
Mamma, you gave life to me, turned a baby, into a lady
Mamma, all you had to offer, was the promise of, a lifetime of love
Now I know, there is no other, love like a mother’s love for her child
And I know, a love so complete, someday must leave, must say goodbye ..
Perasaanku berantakan, lagu ini semakin membuatku menyesali semuanya. Sikap kasar dan tak peduliku pada ibu, jawaban-jawaban ketus yang tak semestinya kulontarkan. Keangkuhanku. Maafkan aku, bu.
Selama kurang lebih dua jam menunggu di ruang tunggu Unit Gawat Darurat, akhirnya dokter keluar menemuiku.
“Ibumu sudah membaik, ia kekurangan banyak cairan. Kapan kau lihat terakhir kali ia makan?” Ini pertanyaan yang menampar keras wajahku. Kapan ya dia makan terakhir kali? Aku tidak tahu. Terdiam lama, dokter menepuk pundakku.
“Kalian bertengkar?” Katanya lagi. Dia memang dokter keluarga kami. Rasa-rasanya banyak yang sudah dikeluhkan ibu padanya.
“Sedikit dok” jawabku akhirnya.
“Ibumu sedikit tertekan, dia sudah sadar. Tapi masih enggan bicara. Sepertinya sedang sangat sedih. Ajak dia makan.” Kata dokter lagi.
“Baik dokter, terima kasih.” Ucapku.
Aku sudah duduk di samping tempat tidur ibu. Tangan kanannya dipenuhi selang infus. Wajahnya pucat.
“Kapan terakhir kali ibu makan?”Kataku akhirnya setelah hening sekian menit.
“Sudahlah tak usah diperpanjang.”Ujarnya
“Apanya yang diperpanjang? Aku cuma nanya.”Kataku
“Dua hari yang lalu.”Jawabnya
“Sial. Untuk ap..”
“Ibu bilang sudah tak usah diperpanjang.” Katanya memotong ucapanku
“Urusan ini memang sudah panjang karena ibu sampai harus dirawat di ruangan ini, bu. Sekarang mari kita bicara saja, agar tidak membesar masalah kita.” Kataku sedikit menekankan suaraku.
“Ibu kangen bapakmu. Sejak dua hari ke makam beliau, justru semakin rindu. Rasa-rasanya ingin menyusulnya.” Ucapnya menerawang
“Apa aku kelihatan tak begitu berartinya bagi ibu? Sampai ingin menyusul bapak segala. Mau membiarkan aku menghadapi kesedihan ini sendirian begitu?” Tanyaku
“Bukan.. Ibu..” Suaranya terhenti. Bibirnya bergetar dan menetes air matanya.
“Sekarang ibu makan. Aku benci ibu cengeng. Harusnya kita saling menguatkan, bukan saling meninggalkan. Maafkan sikapku selama ini. Aku menyayangimu, bu. Ini aku bawakan sup kesukaan ibu.”Kataku menghapus air matanya.
Akhirnya keluar juga kata sayang itu, kata-kata yang seharusnya lebih sering kuucapkan kepada ibu.
ditulis @ikavuje dalam http://eqoxa.wordpress.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)