Monday, October 1, 2012

Aku Masih Disini...



Aku masih di sini. Menunggumu. Bersama janji yang entah kapan akan kau tepati. Akan membawaku pergi dari sini. Bersamamu. Menempuh hidup yang baru.

Aku masih di sini. Menunggumu. Yang tak jelas kapan akan menampakkan batang hidung. Yang datang dan pergi sesuka hati. Seolah lupa ada hati yang rindu setengah mati.

Aku masih di sini. Menunggumu. Si primadona bertubuh molek. Sedikit larik kain yang menutupi sebagian kecilnya. Rambut hitam panjang mengembang sempurna. Tanpa riasan berlebih, selain bibir merah menyala menantang setiap mata. Duduk bak manekin di sebuah etalase. Berteman botol-botol hijau keruh dan beberapa bungkus rokok aneka warna, nama dan rasa. Juga tawa, lirik iri dan teriak genit dari beberapa kolega. Namun merasa sepi. Sendiri.

Aku masih di sini. Menunggumu. Walau tak terhitung berapa lelaki sudi menemaniku. Menuntutku melakukan ini dan itu. Menandak-nandak gagah atasku. Saling beradu nafas. Saling lumat tanpa batas. Berkubang peluh dan lenguh. Berharap kau yang ada di sini. Mendaki, mengerang dan mengejang kencang bersama. Bukan yang lain.

Aku masih di sini. Menunggumu. Berharap kau mengembalikanku jadi suci. Menghalalkanku bagimu. Walau semua tahu, mahluk kotor sepertiku tak layak mendapat surga.

Aku masih di sini. Menunggumu. Menghitung waktu. Dengan kumpulan ceceran kesabaran dan harapan yang ku pungut satu demi satu. Aku tahu. Tak satupun yang bisa menjamin akhir bahagia bagiku.

Aku masih di sini. Menunggumu. Tetap mencintaimu. Walau itu berarti siksa dan sia-sia. Karena mencintaimu serupa membangun istana pasir di bibir pantai berombak.

Aku masih di sini. Menunggumu. Berkalang benci. Pun bergelung rindu.

Kamu. Datanglah. Padaku.



*) Diinspirasi dari lagu Benci Tapi Rindu – Ello

Ditulis oleh @WahyuSN dalam http://wahyusiswaningrum.wordpress.com

AUCH!!


“Ini sudah di kantor BPN. Nunggu Pak Agung yang urus Surat Ketetapannya, lagi rapat. Kata anak buahnya, mungkin sekitar jam sebelas sudah selesai. Nanti kalau ada kabar, langsung saya beritahu. Oke, iya…thank you mam”, jawab Farah lewat ponsel pada General Managernya.

Sambungan telepon terputus.

Urusan ini belum juga selesai padahal cuma urusan perpanjangan Sertipikat Hak Guna Bangunan. Kalau bukan gara-gara notaris yang enggak becus itu, masalah ini mungkin enggak pernah ada. Kalau begini yang ada malah capek tenaga, capek pikiran bahkan capek uang juga! Sudah berapa juta dibayar demi jasanya tapi tanpa hasil dan akhirnya membuatku, seorang Farah Putri Darmawan, terdampar di kantor Badan Pertanahan Nasional, di siang bolong yang panasnya tanpa ampun. Bukan Surabaya kalau enggak panas kan?.

“Lagi nungguin Pak Agung, mbak?”, sapa laki-laki yang duduk di sebelah Farah, membuka percakapan.

“Eh iya mas, lagi nungguin beliau”

“Maaf, tadi saya enggak sengaja curi dengar pembicaraan mbak di telepon”, jawabnya sambil memberikan senyumnya yang manis.

“Oh, enggak masalah. Mas mau ketemu Pak Agung juga?”

“Iya, kebetulan memang sudah ada janji sama beliau”.

Farah menggangguk lalu perlahan memperhatikan laki-laki itu. Farah mengira umurnya sekitar dua puluh lima. Penampilannya cukup rapi walaupun dia menggulung lengan kemejanya yang berwarna coklat muda dengan garis- garis coklat tua vertikal, hingga batas siku. Dengan celana warna hitam dan sepatu warna coklat tua, aku menebak dia termasuk laki-laki yang memperhatikan penampilannya. Tapi siapa tahu, kalau ada wanita yang menjadikannya demikian. Pacar atau istrinya, mungkin? Bukankah di belakang laki-laki tampan, pasti ada wanita cantik yang rajin memperhatikan penampilannya? Farah tersenyum samar.

“Kalau boleh tahu, mbak mau ketemu Pak Agung untuk keperluan apa?. Oh ya kenalkan, saya Donny dan tolong jangan panggil mas. Rasanya umur kita tidak beda jauh”, ujarnya sambil tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya, mengajak Farah berjabat tangan.

“Saya Farah dan juga tolong jangan panggil mbak” jawabnya sambil berusaha memberikan senyum paling manis. “Ini, mau tanya soal Surat Ketetapan buat sertipikat Hak Guna Bangunan punya kantor”.

“Ada masalah? Kok sampai minta Surat Ketetapan?” Donny mengernyitkan dahi.

“Sertipikatnya telat diperpanjang, akhirnya masa berlakunya keburu habis dan walhasil, harus urus sertipikat mulai dari awal lagi”.

“Kok bisa telat? Masa enggak ada catatan khusus buat jadi pengingat?”.

Donny menanyakan hal ini sambil tersenyum yang seakan-akan menyindir. "Haduh, kenapa kesannya jadi aku yang disalahin?" pikir Farah dalam hati. Tapi dia memang enggak tahu gimana ceritanya kan? Jadi enggak perlu protes dong! Untung dia lumayan cakep, jadi aku enggak perlu marah duluan sama pertanyaannya. Eh tunggu, apa hubungannya? Fokus Farah, fokus!

“Sebenarnya ada. Jadi ceritanya, sertipikat itu dijadikan jaminan di bank, untuk dapat pinjaman. Sekitar satu tahun sebelum masa berlakunya habis, pihak bank sudah konfirmasi ke pihak kami soal itu. Pihak bank tanya mau pakai notaris siapa, bos besar sebut lah…nama notaris yang sudah sering dipakai jasanya sama kantor. Bos besar asal aja sebut nama si notaris, padahal jelas-jelas banyak karyawan yang tahu kalau kinerja dari notaris itu kayak koboi. Nekat. Tapi kadang juga suka menggampangkan masalah. Tapi kalau sudah bos besar yang bilang, karyawan bisa apa, ya kan?”

“Ternyata entah karena apa, dokumen pengurusan sertipikat itu ditaruh di mejanya gitu aja. Ditumpuk sama dokumen-dokumen yang lain, enggak diurus. Sampai akhirnya satu bulan sebelum masa berlaku habis, kami tanya perkembangannya, baru mereka sadar kalau sertipikat itu belum dikerjakan sama sekali.”

Donny lagi-lagi mengernyitkan dahi. “Kok gitu? Apa alasan pihak notaris yang sudah telantarin dokumenmu? Kalau telat gitu, tanahmu otomatis jadi tanah milik negara lagi dong”.

“Iya, memang. Makanya harus diukur ulang segala sama BPN, ribet. Si notaris malah balik nyalahin kantorku karena enggak pernah tanya atau sekedar cari info yang buat mereka jadi ingat”.

“Terus, tanggapan pihak notaris? Apa enggak ada usaha buat kerjain dalam waktu singkat?”

“Masa bisa, ngurusin perpanjangan gitu dalam waktu singkat? Hahaha, ini Indonesia lho, Don…masa kamu enggak tahu gimana birokrasi yang ada di sini?”.

“Hehehe, iya aku tahu. Maksudku apa mereka enggak ada usaha buat sering lobi orang BPN demi mempersingkat pengurusan?”

“Oh, ada. Mereka juga menawarkan itu, istilahnya percepatan. Tapi mereka minta tambah bayar, tiga setengah juta. Kantor setuju buat percepatan tapi dibayar waktu Surat Ketetapan sudah keluar. Padahal sebelumnya, kantorku sudah bayar dia entah berapa puluhan juta. Janjinya, lewat percepatan itu bisa mempersingkat waktu buat dapat Surat Ketetapan dari yang awalnya tiga bulan, jadi cuma dua bulan. Tapi ini sudah hampir lewat dua bulan, hasilnya enggak ada. Padahal setelah Surat Ketetapan keluar, aku masih harus nunggu tiga bulan lagi sampai akhirnya Sertipikatku jadi. Lama banget! Aku enggak ngerti deh, notaris ini maunya apa. Mungkin dia memang kayak gitu kinerjanya.”

“Lho, enggak bisa gitu dong. Harusnya notaris itu yang tanggung jawab, lobi sana sini. Gimana caranya walaupun pengurusan sudah telat tapi tetap harus diusahakan. Enggak bisa lepas tangan gitu aja, tergantung apa kata BPN tapi minta tambahan biaya. Wah, enggak becus beneran deh notaris itu”.

Melihat Donny ikut emosi, Farah merasa mendapat angin dan semakin berapi-api.

“Oh iya Don, ditambah lagi ternyata notaris ini sampai sekarang belum juga kasih Berita Negara dari salah satu perusahaan punya bosku, padahal pengurusannya sudah mulai tahun dua ribu delapan. Bayangin Don, empat tahun! Setiap diminta, jawabannya selalu masih dicari, minta ditelepon lagi satu atau dua hari lagi tapi sampai sekarang belum ketemu juga. Tuh, kelewatan banget kan? Baru kali ini, ketemu sama notaris yang isinya janji-janji melulu”.

“Far, kalau itu sih sudah kelewatan banget. Kalau aku jadi kamu, pasti kantor notarisnya sudah aku buat berantakan! Bikin emosi aja itu orang. Kamu rasanya sudah di-PHP-in sama notarisnya deh, jadi korban harapan palsu, hehehe. Kebetulan aku juga kerja di kantor notaris sih, Beny Sudarman yang di jalan Anggrek itu, tapi kinerja kami enggak kayak gitu, sama sekali berbeda. Buat kami, klien itu raja. Jadi enggak mungkin sampai ada kejadian kayak gitu, dijamin. Andai kita sudah saling kenal lebih dulu, mending dulu kamu minta bantuan kantorku aja deh. Memangnya kantormu pakai notaris siapa sih?”

“Notaris Lukman Tri Harsono”

“Hah, Lukman Tri Harsono? Yang kantornya di jalan Imam Bonjol 135? Apa enggak salah, Far?”. Donny tertegun sejenak. “Aku tahu orangnya sih tapi masa iya, cara kerjanya kayak gitu. Yang aku tahu, dia orangnya professional kok. Aku enggak percaya ah…”

“Kamu boleh enggak percaya tapi buktinya, aku udah jadi korbannya. Gila ya, ternyata enggak cuma orang pacaran sama politikus aja yang suka kasih harapan palsu. Bahkan sekarang notaris pun juga! Dan parahnya, aku jadi korbannya, ckckck…”

“Yahh, kamu harus lebih sabar kalau gitu”, ujar Donny bijak sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.

“Hmm, sepertinya begitu” jawab Farah sambil menghembuskan nafas panjang. Kejengkelannya benar-benar tampak jelas.

Seorang petugas BPN tiba-tiba memanggil Farah dan memberitahu kalau Pak Agung sudah selesai rapat dan sudah punya waktu untuk bertemu. Dia sigap mengambil tasnya dan beberapa dokumen yang dia letakkan di meja yang ada disampingnya.

“Don, aku duluan ya. Pak Agung sudah selesai rapat tuh. Senang bisa ngobrol bareng kamu”. Farah pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Oh iya, sama-sama. Senang juga bisa ngobrol bareng kamu. Lain kali hati-hati pilih notaris, biar enggak dikasih harapan palsu lagi. Ngomong-ngomong, ini kartu namaku, siapa tahu kapan-kapan kamu butuh bantuanku”

“Oke, aku pasti ingat pesanmu. Daaannn….” Farah sibuk membuka tasnya, “ini kartu namaku. Sukses buat kamu ya. Kamu juga ingat, kinerjamu jangan kayak notaris yang aku ceritain tadi”

“Siap, laksanakan! “

“Bye Donny!”

“Bye! Tapi…Farah tunggu!”, teriak Donny ketika Farah sudah beranjak dari tempatnya berdiri.

“Ya? Ada apa lagi, Don?”

“By the way, kalau aku boleh ngomong sedikit lagi, hmm…sebenarnya notaris Lukman Tri Harsono itu seseorang yang setiap hari aku panggil dengan sebutan ayah lho”, ujar Donny sambil nyengir.

Brak!

Farah menjatuhkan semua dokumennya dan melongo sejadi-jadinya.

AUCH!!!

Ku ajak kau melayang tinggi

Dan ku hempaskan ke bumi…



*) Diinspirasi dari lagu Baby Doll - Utopia

Ditulis oleh @vandakemala dalam http://myredstrawberry.blogspot.com

Dugaan

Aku bermimpi tentangnya lagi!

Iya, dia!

Seniorku di kampus!

Dia yang selalu menemani malam-malam sunyiku dengan bayangannya beberapa minggu terakhir. Dia yang mengunci hatiku sejak pertama kali melihatnya. Dia yang tampan, atletis, juga baik sekali. Ramah … selalu perhatian kepadaku. Iya iya, aku tahu dia mungkin juga ramah pada semua orang. Ah, tapi semua kelakuannya itu, semua sifat baiknya itu membuatku makin cinta! Aku cinta dia. Senyumnya yang tulus, membekukanku. Matanya yang teduh, menenangkan hatiku. Tawanya yang renyah, membuat hatiku seketika hangat. Seperti dialiri cinta yang menjalar ke seluruh tubuhku. Aku merasa hangat. Aku merasa seperti dilindungi. Aih, bahkan sekarang aku memiliki hobi baru: mencari-cari dimana dia berdiri, kemudian menatapnya dari jauh, melihat teduh matanya, dan menunggu sampai dia tertawa. Iya, bodoh, kan? Biarkan saja. Karena jika dia telah tertawa, aku merasa hangat, seperti yang kubilang tadi.

Aku kuliah dari Senin sampai Jum’at. Itu berarti kemungkinanku untuk bertemu dengannya hanya di hari-hari itu. Jadi aku suka merutuki Sabtu dan Minggu yang seolah melarangku untuk melihatnya. Kakian tahu apa kebiasaan baruku di hari weekend itu? Aku kerap mencoba menerka. Mengira-ngira apa yang sedang dia lakukan. Mereka-reka di dalam hati kemana hatinya akan bermuara. Iya, tentu saja aku berharap hatinya akan bermuara dihatiku juga. Walaupun aku tahu harapan itu sia-sia. seperti mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi!

Hai, kalian tahu? Hari ini hari Sabtu! Yang itu artinya aku takkan bertemu dengannya hari ini. Dan kebetulan besok adalah hari ulang tahunku. Aku marah kepada Tuhan kenapa ulang tahunku jatuh pada hari Minggu. Aku kecewa. Kau dengar? Aku kecewa sekali. Aku hanya ingin bertemu dengannya besok, di hari istimewaku. Walaupun dia tidak tahu kapan aku berulang tahun, tapi setidaknya aku masih bisa melihatnya tertawa. Aku masih bisa melihatnya tersenyum. Aku masih bisa mendengar suaranya saat menyapaku. Bahkan itu saja sudah menjadi hadiah terindah dalam hidupku! Tapi kenyataannya apa? Aku malah berulang tahun di hari aku tidak bisa bertemu dengannya.

Hahaha!
***

Aku terbangun karena ketukan pintu di depan rumahku. Kepalaku berat sekali karena begadang semalaman. Aku berniat untuk pura-pura tidak mendengar ketukan itu. Tapi karena orang itu tetap mengetuk pintu, maka aku bergegas ke kamar mandi untuk menyikat gigi dan mencuci muka. Saat membuka pintu … AKU MELIHAT DIA! Ya TUHAN! Dia yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Dia yang membuatku tidak bisa tidur tadi malam—juga malam-malam sebelumnya. Iya, aku melihat dia sedang tersenyum di depan rumahku. Di depan rumahku! Rasanya seperti mimpi. Semua pertanyaan langusung memenuhi otakku. Seakan menyeruak untuk keluar dari kepalaku. Dari mana dia tahu rumahku? Apa yang lakukan di depan rumahku? Apa tujuannya datang ke rumahku. Aku rasanya ingin pingsan!

“Halo, Tiara. Kok kelihatan kaget gitu?” dia bertanya sambil tersenyum ke arahku. Tuhan, aku benar-benar ingin pingsan.

“eh, Nggak apa-apa, Kak. Kaget aja, sih. hehehe. Oh iya, ada apa, Kak?” Aku menjawab sambil berusaha menenangkan gemuruh di dalam hati.

“Gini, aku mau ditemenin sarapan sama kamu. Mau nggak? Kita makan disini aja. Masak bareng. Kamu bisa masak, kan?” rentetan kalimat yang diucapkannya membuatku yakin kalau aku sedang bermimpi. SIAPAPUN, TOLONG BANGUNKAN AKU!

Aku masih tercengang dengan kalimatnya sebelum kemudian dia melanjutkan.

“Kenapa bengong lagi? Eh, iyaa. Selamat ulang tahun yaa, Tiara! Aku doain semua yang terbaik buat kamu! Aku doain juga kamu mau nolongin aku! Ah, tapi bahasnya nanti aja, ya. Yaudah, yuk sarapan.” Dia tersenyum dan menarik tanganku ke dapur.
Aku bahkan baru ingat kalau hari ini hari ulang tahunku. Dia memberiku kado. Dia memberiku kue ulang tahun. Dia merayakan ulang tahunku. Dia mengajakku sarapan! Ya Tuhan. Ini hadiah paling indah dihidupku!

“Oh iya, Kak, emang kakak mau minta tolong apa?” bahkan saat mengatakan kalimat itu setelah makan, gemuruh di dadaku itu masih belum berhenti. Aku terlalu degdegan. Aku terlalu berharap, pada akhirnya. Iya. Aku terlalu berharap.

“Tapi kamu janji ya gak bakal ngetawain? Janji juga bakal bantuin, kan?” senyumnya masih mengambang saat mengatakan itu semua. Aku hanya bisa mengangguk, karena kalau aku bersuara, dapat dipastikan suaraku akan terdengar gemetar sekali. Hahaha.

Senyumnya benar-benar membuatku gila. Dia pun melanjutkan,

“gini … beberapa hari ini aku jadi susah tidur. Halah. Seharusnya aku gak cerita ini sama kamu. Tapi yaa … aku nggak mungkin cerita ke temen-temenku. Aku harus mastiin keadaannya gimana dulu. sepertinya … sepertinya aku jatuh cinta.” Kalimat terakhirnya itu benar-benar membuatku melayang. Membuatku ingin terbang. Pasti dia menyukaiku juga. Pasti! Ya Tuhan, akhirnya perasaanku terbalas. Ternyata kebaikannya selama ini memang hanya untukku. He is into me! Yeay!

“Memangnya sama siapa, Kak?” aku semakin susah bernapas. Bahkan saat menanyakan hal itu, aku berusaha tidak tersenyum lebar. Aku berusaha mengeluarkan muka se-innocent mungkin. Seingin tahu mungkin. Pasti dia sebentar lagi akan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Ah, kalo begitu tidak perlu meminta tolong, Kak. Sudah pasti aku terima! gemuruh itu perlahan menjelma jadi ribuan kupu-kupu yang mengguncang hatiku.

“Aku … aku suka sama temen kamu. Aku liat di twitter-nya sih, dia masih single. Semoga aku masih ada kesempatan. Oh iya, aku tau kamu ulang tahun juga dari kepo-in timeline-nya dia tadi malam, lho. Dia yang ngucapin pertama kali kan, ya? Aku udah suka dia sejak pertama kali ngeliat dia di kampus. Kalo aku perhatiin, dia paling deket ya sama kamu. Makanya aku sering curi pandang ke kalian kalo kalian lagi bareng. Eh, kamu pasti udah nebak siapa dia. Iya. Dia Wina. Kamu mau nolongin aku buat deketin dia, kan?” cerocosnya tanpa henti membuatku merasa ingin sekali menghilang dari muka bumi.

Ternyata dia tidak menyukaiku.

Ternyata semua yang telah dia lakukan bukan untukku.

Ternyata semua kebaikannya bukan untukku. Ternyata dia menyukai sahabatku.

Lagu GOODBYE yang dinyanyikan oleh SECONDHAND SERENADE perlahan tapi pasti mulai terngiang-ngiang di kepalaku. Hello, ada yang mau membunuhku sekarang …?


Ditulis oleh @ulyauhirayra dalam http://ulyauhirayra.wordpress.com

Melangkah Pergi


♫ di ujung jalan itu setahun kemarin

ku teringat ku menunggumu
bidadari belahan jiwaku
entah berapa lama satu jam menanti
kutermenung
kencan pertama hilang tak bertepi di anganku


***

Di ujung jalan masuk menuju rumah Mita, aku menyandarkan sepeda balapku. Menantinya.

Kami sudah berjanji tadi di sekolah, bahwa aku menunggu di sini. Kata-kataku kepada Mita jelas terdengar oleh teman-temanku, walau aku sudah berbisik lirih padanya. Tentu saja mengundang sorak sorai membahana. Mukaku menjadi merah menyimpan segala prasangka asing tentang diriku.

Aku menengok jam tangan Ben Ten ku. Lima belas menit berlalu. Aku mengibas kaosku yang mulai berkeringat. Pukul 15.15. Mita belum juga keluar dari gang itu.

Tiga puluh menit sudah. Aku berdiri, mengebaskan penat kakiku sesudah jongkok. Aku membuka topiku, dan menggaruk kepalaku, rambut cepakku mulai basah. Aku mulai berjalan di depan gang.

Masuk ke jalan dan mengetuk rumah Mita? Itu pasti kalian tanyakan. Tidak. Itu jawabku. Setelah kejadian seminggu lalu hari yang sama, aku diusir oleh Papanya. Ketahuan… ah sudahlah aku tak mau juga kalian berprasangka yang tidak-tidak kepadaku.

Mengapa mesti Mita? Ya, dia perempuan paling cantik di sekolahku. Aku harus berjuang keras, sangat keras bersaing dengan para cowok di sekolah, juga para kakak kelas. Aku dan Mita sebangku, kami kelas delapan. Mita memilihku. Eh, belum… Bukan begitu.

Mita lebih suka dekat denganku. Katanya lebih baik dan aman bersamaku. Percaya kepadaku. Aku sih, senang-senang saja. Setidaknya, jalanku menembak cinta Mita semakin dekat. Aiiih…

Sebelum menunggu, dari ujung jalan aku bisa melihat rumah Mita. Di depan rumahnya aku melihat motor besar warna merah. Siapa lagi kalau bukan Kak Roni. Cowok ganteng, kakak kelas kami, yang juga sama denganku menyukai Mita. Bisa kalah nih… Apalagi aku begini.

Sedikit lagi sudah satu jam. Aku kembali duduk di atas sepeda balapku. Mungkin benar Mita lebih memilih Roni. Cowok tulen dan ganteng. Sedangkan aku, teman sebangku yang hanya bisa melindunginya dari jauh.

Benar. Satu jam kemudian. Aku mendengar motor besar itu mulai menderukan kemenangan. Hampir menuju aku dan sepeda balapku, sebentar lagi.

Lihat… lihat itu mereka, Roni dan Mita, dan sepeda motor besar warna merah, seperti menuju garis finish di ujung jalan ini.

“Lalaaa… Aku pergi dulu yaa..” suara Mita menjauh dan melambaikan satu tangan kemudian memeluk pinggang Kak Roni.

***

♫ melangkah pergi

berteman sepi
berbayang teduh matamu

sayang,
walau bulan tak bercahaya
cintaku
selalu dalam jiwa
di lubuk hati terdalam

sayang,
jika memang kau sungguh sayang
diriku
takkan berpaling lagi
kupeluk selamanya…


(Setahun Kemarin – Kahitna)


Ditulis oleh @_bianglala dalam http://pelangiaksara.wordpress.com

Sunday, September 30, 2012

Terbingkai Sepi

Hampa, itulah yang saya rasakan saat ini setelah melihatnya pergi dan semakin jauh. Terasa sangat menyakitkan memang, ketika harus mengetahui hal ini akan terjadi. Lebih menyakitkan lagi karena harus melewatinya dan menerimanya sebagai bagian akhir dari awal pertemuan yang indah.

            Semua harapan itu kini pupus sudah. Sekarang hanyalah tersisa kenangan tentangnya. Kenangan yang hanya akan diingat seumur sisa hidup dan akan membuat tersenyum kelak dimasa tua. Ataukah, kenangan yang hanya akan disimpan dalam kotak box, dikunci, dan dibuang dalam-dalam di jurang kepekatan. Semua itu pilihan.

            Karenanya saya bahagia, karenanya saya sedih, dan karenanya saya murka. Karenanya, hidup saya lebih berwarna. Perasaan ini muncul karenanya. Apakah saya harus menangis meratapi kenyataan ini, apakah saya harus murka karena diperlakukan tak adil, ataukah saya harus bahagia karena ditinggalkan oleh orang yang tidak tepat. Naif memang jika pura-pura bahagia, tapi kesedihan pastinya suatu hal yang akan menyelimuti suatu perpisahan.

            Dibalik semua itu, suatu kata sepi lah yg menyelimuti. Sepi yang mendera dan tak kunjung pergi, itulah yang saya rasakan. Sepi dikarenakan keadaan, sehingga membuat kita tidak bisa saling bersama. Saya berpikir, akankah waktu membuat semuanya lebih baik. Tapi waktulah yang membuat sepi ini terus bergulir, waktulah yang membuat adanya perpisahan, dan waktu pulalah yang mengobatinya.

            Kita memang pacaran jarak jauh antara Bandung dan Jakarta, meskipun sesaat jika melewati Tol Cipularang. Dengan jarak sekian kilometer, sepi ini terus saja berkecamuk. Meskipun komunikasi terus terjalin dengan telepon seluler dan media lainnya, sepilah yang terus merajai.

            Saya hanya ingin satu darimu, kepastian dan titik terang. Saya bosan ditemani sepi, sendiri. Meskipun saya banyak teman ataupun di temapat ramai, saya tetap merasa hampa. Tolong mengertilah… 

            Saya selalu menunggu, sampai kapankah sepi ini terus menyertai. Apakah akan ada kebahagiaan pada akhirnya atau hanyalah waktu percuma. Semua penantian itu terbayar sudah, bahwa perpisahanlah jawaban bijak pada akhirnya.

            Sedih pasti, tapi jodoh di tangan Tuhan memang benar adanya. Saya hanya akan menunggu seorang Adam, entah siapapun itu. Saya akan tersenyum, jika waktu mengijinkan. Saya akan bahagia, jika takdir mengatakan. Kenangan-kenangan tentangnya, akan saya simpan sampai akhir masa dan akan saya bawa dalam suatu memori. Semoga dia bahagia…

ditulis @talithaYa dalam http://talithayurdhika.tumblr.com | Lagu Kesepian

Fin [… But Not The End]

Kegiatan menulis #30HariLagukuBercerita sudah berakhir.

Seru.

Saya follow @PosCinta sudah sejak lama. Sering mondar-mandir blognya untuk sekedar membaca postingan yang keren. Tapi untuk ikut menulis, saya belum berani.

Proyek menulis selama 30 hari sepertinya terlalu melelahkan buat saya (pada saat itu). Sekitar satu atau dua tahun lalu, saya pernah ditantang di bulan Oktober, membuat satu cerita atau surat setiap hari. Tapi saya mundur. Alasannya simpel, ndak ada waktu. Bagaimana mungkin bisa konsisten untuk membuat sebuah karya yang penuh kata tiap hari? Apalagi selama ini saya tidak pernah membuat tulisan fiksi. Ide tidak bisa keluar dengan semena-mena. Dia muncul kapan saja. Tapi buat saya, tidak setiap hari.

Di akhir bulan Agustus, setelah @PosCinta mengumumkan akan ada proyek menulis #30HariLagukuBercerita di bulan September. Saya mulai menimbang-nimbang lagi. Sebagai orang yang mengaku ‘suka musik’, banci menyanyi dan sering menyombongkan skor saat berkaraoke di Inul Vista, harga diri saya mulai terusik. Hey, kenapa tidak? Hampir setiap hari saya menggembar-gemborkan betapa musik bisa mempengaruhi hidup, hati dan jalan hidup. Lalu mengapa sekarang tidak ditambah, “musik itu menginspirasi”? (Eh… bukannya sama aja, Chil? Ya pokoknya gitu…)

Oke. Saya ikut. Tidak peduli apakah nanti stok ide itu habis di tengah jalan. Atau kata-kata saya tersendat karena memang kurang banyak membaca. Atau rangkaian kata yang saya sajikan tidak menggetarkan karena kurang kreatif meraciknya. Atau koneksi internet di Alor yang naik turun seperti dada orang yang menanti ajal. Saya ikut proyek ini.

Diawali dengan sebuah skenario khayalan yang sudah lama bertengger di otak saya, tentang putus asa dan harapan, saya memulai kisah tentang Biana VS Gema. Bagi saya, proses menemukan kembali sebuah harapan itu tidak mudah. Menggulingkan hati yang sudah beku karena tidak berani berharap dan tersungkur di keputusasaan itu sangat berat. Entah itu tentang cita-cita maupun cinta. Merangkak naik lebih berat daripada berjalan dan berlari. Tubuh kita harus bisa melawan gravitasi. Kedua tangan kita harus kuat menggenggam tebing yang tajam dan menyakitkan. Kaki kita harus pandai memijak bebatuan yang bisa tergelincir setiap saat. Dan mata kita terarah ke satu titik, berusaha melekatkan cahaya di sensoris, meneruskannya ke sistem berpikir kita dan memerangkapnya erat-erat sebagai motivasi juang.

Lalu apa yang terjadi saat kita mampu mencapai tebing harapan? Sebagian dari kita, mungkin akan duduk sejenak dan menikmati udara sebanyak-banyaknya. Tubuh kita akan meminta paru-paru untuk bernafas sebebas-bebasnya. Mata kita terpejam, menikmati semilir angin yang mendinginkan pipi penuh luka. Kepuasan itu tidak bisa dideskripsikan. Kepuasan itu hanya kita yang rasakan. Seperti Biana yang menemukan harapan pada Gema (meski pada akhirnya mereka ‘dibunuh’). Biana sendirilah yang bisa memahami rasanya. Bahkan penulisnya pun tidak bisa ikut merasakan (lha?).

Sama seperti kepuasan saya saat ‘bisa menulis lagi’. Saat ada berita bahwa Multiply akan ditutup, saya kembali mengunjungi blog saya, dan terkejut saat mendapati banyaknya postingan blog saya di situ. Bahasanya memang kacau balau, seperti dibuat dengan terburu-buru karena minimnya waktu saat koass dan banyaknya kejadian-kejadian unik saat itu. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap menulis. Dan menyampaikan isi kepala saya yang berantakan itu pada khalayak ramai. Dan kebahagiaan tersendiri saat akhirnya saya bisa meramu lagi kata-kata yang sempat terbelenggu menjadi satu tulisan yang bisa dibaca orang lain. Entah itu bagus atau tidak. Saya kembali menulis. Dan itu menjadi satu titik tolak. Saya harus kembali belajar menuang kata dan mengukirnya hingga isi hati dan pikiran saya bisa tersampaikan dengan baik.

Sesekali, saya mencoba menulis tentang ‘cinta yang tidak tersampaikan’. Sang Penyembuh adalah debutnya. Apa sih yang ndak lebih menyakitkan dari hati yang menaruh harapan pada sesuatu yang tidak ada? Rasanya cuma bisa bengong, menikmati sendiri desiran di dalam hati tanpa ada yang bisa diajak berbagi. Tapi rupa-rupanya, cerita ini setengah absurd (pffftt…). Sebenarnya banyak sekali ide imajiner yang melayang-layang di dalam kepala. Dipengaruhi dari karya fiksi yang selama ini saya baca, baik dari lagu, komik, novel atau film. Tapi ternyata imajinasi saya selama ini masih belum cukup oke untuk dituangkan dalam barisan kata. Sekali lagi. Saya harus belajar.

Dan memang paling dapet ‘feel’nya jika menuliskan sesuatu yang dialami sendiri. Berasa kawin dengan diri sendiri. Seperti Walk On Fire. Meski pada akhirnya masih ada kekurangan di sana-sini, karena ide yang masih mentah dan disajikan sebelum dibumbui dengan pas, tapi ada sesuatu yang membuat saya berpikir, bahwa dengan menulis, kita bisa berbagi cerita dengan orang lain (yah… memang aslinya cerewet sih. Mau gimana lagi :p ).

Ruang 23 adalah satu cerita yang paling banyak mendapat komentar. Sebagian besar protes karena terlalu datar. Jujur, saya sendiri merasa demikian hehehe… Tapi saya terharu mengetahui bahwa ternyata tulisan saya layak baca. Meski itu sederhana dan kacau di sana-sini, tetapi dengan adanya kritikan, saya semakin semangat untuk mengembangkan kekayaan ide, imajinasi dan ramuan bahasa yang saya punya.

Harga Mati adalah satu tulisan yang spontan. Ide itu tiba-tiba meletup saat mengingat sebuah sms mantan gebetan jaman sekolah (tsaaah…) yang mengatakan bahwa, “Saya ndak pernah membayangkan datang ke rumahmu untuk mengantar istri yang akan melahirkan.” Oke. Ini bisa jadi tagline cerita tentang perselingkuhan (note: saya tidak pernah jadi selingkuhan gebetan saya itu #dijelasin).

Fireworks adalah sebuah cerita yang selama ini mengganggu pikiran saya yang terinspirasi dari beberapa serial Korea, dimana karakter perempuan berpura-pura menjadi laki-laki, dan si laki-laki kemudian jatuh hati dan bimbang tentang orientasi seksualnya sendiri. Bukan berarti saya bingung dengan orientasi saya (peluk @TomFelton). Tapi saya membayangkan, bahwa orang-orang dengan orientasi seksual yang ‘berbeda’, mungkin pada awalnya ada sebuah penyangkalan dalam dirinya. Ketakutan dan perang batin, menjadi mimpi buruk selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Mungkin seperti itu. Dan entah kenapa, saya ikut merasa sedih ketika ada orang-orang yang tidak bebas menjadi dirinya sendiri saat jatuh cinta. Seperti kata Ryan (bukan dari Jombang. Tapi karakter fiksi di cerpen saya), “Tidak peduli kamu laki-laki, alien atau setan, aku mencintaimu.” Ya… Seharusnya cinta bisa sesederhana itu bukan?

Makin lama, saya bisa ‘melihat’, ternyata banyak ide yang bisa dikembangkan. Banyak sekali. Bahkan dari gombalan konyol yang sering dilontarkan di Twitter (Happily Ever After), dari mimpi seorang sahabat saat dia terobsesi pada idolanya yang beda agama, atau dari satu kalimat Sumpah Dokter yang pernah saya ucapkan beberapa tahun lalu (cerpen yang ini belum saya post. Bhihihiks). Pada intinya, banyak hal ‘remeh temeh’ yang bisa dijadikan sumber inspirasi dan pembelajaran. Bukan sekedar untuk dijadikan ide tulisan, tapi bisa lebih dari itu.

September tahun ini sudah berakhir, tapi mudah-mudahan semangat saya tidak ikut padam seperti Gerakan 30 September PKI (mulai garing). Selamat berkumpul bagi para pecinta kata di acara gathering @PosCinta - Bandung. Salam hangat dari Alor – Nusa Tenggara Timur (sebuah kepulauan dengan pantai-pantai yang keren #PromosiTerselubung). Mudah-mudahan, lain waktu saya bisa ikutan mejeng bareng, wahai penulis-penulis keren (cium jauh).

Akhirnya, saya berterima kasih pada @PosCinta atas proyek #30HariLagukuBercerita di bulan September ini. Istilahnya, proyek ini mampu membuka lagi ide-ide yang selama ini terabaikan dalam lembar-lembar gyrus otak saya. Benar-benar bikin September makin ceria (dan juga karena cerita saya pernah masuk jadi cerita pilihan –meski cuma- dua kali ihihihi). Terima kasih pada @gembrit dan @sunoesche yang saya mensyen tiap tiga hari sekali, terima kasih sudah mau membaca tulisan saya yang masih berupa tunas. Semoga selanjutnya saya rajin siram-siram dan kasih pupuk (wide grin). Mohon kritik dan sarannya :’)

Terima kasih untuk @si_nu dan @Mpiit, dua sahabat yang menjadi kritikus tulisan-tulisan saya. Maap yeee udah maksa-maksa untuk baca mwahahahaha (5S ~ Sun Sing Suwi Sampe Semaput). Dan terima kasih buat semua yang mau mampir ke blog saya (peluk cium buat yang perempuan, virtual hug buat yang laki-laki). Jangan bosen datang ke noichil.tumblr.com yaaa :*

And I want to thank you

For giving me the best day(s) of my life

ditulis @noichil dalam http://noichil.tumblr.com | Thank You

Fantasiku Kamu

Suara ringtone telepon genggam Dhimas memaksanya untuk menghentikan kegiatan membaca buku berjudul Abarat karya Clive Barker. Dengan agak malas, Dhimas meraih telepon genggamnya dan satu pesan singkat sudah menunggu untuk dibuka. Pesan singkat dengan nama pengirim Mahendra, salah satu teman baiknya.

                “Dhimas, sebentar lagi temen gue sms lo, dia mau kenalan katanya,” kata-kata itu berpendar kecil di layar telepon genggam Dhimas.

                Buset, Dhimas membatin, siapa lagi yang dia kasih nomor gue? Dhimas menghela nafas pendek, namun ia tetap tersenyum. Mahendra ini sudah sering menjodohkan Dhimas dengan teman-temannya, dan sebagai pria gay dengan pertemanan yang luar biasa luas, entah sudah berapa orang yang menggenggam nomor Dhimas.

                Dhimas sebenarnya tak keberatan Mahendra memberikan nomornya ke berbagai pria. Toh Dhimas baru-baru saja menyendiri untuk alasan yang tak ingin ia ingat lagi, karena bagi Dhimas, terjebak di masa lalu itu bagaikan sedang berlari kencang di atas mesin treadmill: mati-matian berlari tapi tidak maju-maju, stagnan, lelah, dan memberikan ilusi pahit soal masa depan. Pun begitu, Dhimas adalah orang yang sulit jatuh cinta. Berkali-kali Mahendra menjadi semacam mucikari bagi Dhimas, berbagai pria diperkenalkan melalui temannya itu, tapi tetap saja tak ada yang mampu membuat Dhimas merasakan kembali satu dekapan yang membuatnya nyaman, mirip kisah-kisah fantasi romantis yang sering ia baca.

                Ya, Dhimas amat menyukai cerita-cerita roman berjenis fantasi, namun begitu, baginya kisah-kisah fantasi romantis adalah harapan palsu bagi mereka yang merindu cinta. Novel dan cerita itu begitu manis, terlalu manis malah, dan segala sesuatu yang terlampau manis bakal membuat seseorang muak. Dhimas menyadari itu, dan setidaknya ia menganggap cerita fantasi hanyalah hiburan semata. Tidak, kisah romantis bukan solusi, dan realita adalah teman terbaik Dhimas, dan teman terbaiknya itu selalu berkata bahwa kisah cinta antara dua pria tak akan pernah berhasil. Harapan paling palsu terletak pada percintaan dari jenis kelamin yang sama!

—Sebagai perempuan yang terbiasa tertindas, Sati tak pernah ingin dihargai. Keinginannya itu ia tinggalkan jauh-jauh sejak dulu. Sati tidak punya sahabat, karena satu-satunya teman terbaiknya adalah realita—
 

                Beberapa menit kemudian, layar telepon genggam Dhimas menyala. Satu pesan telah masuk dari nomor yang tak dikenal Dhimas sebelumnya. Pesannya cukup singkat, hanya berisi: “Hai, aku Rama, tahu nomor kamu dari Mahendra. Boleh kenalan? :) ”

                Dhimas melengos. Jari jemarinya dengan cepat membalas, “Hai, Rama. Ya tentu saja boleh,”

                “Jadi katanya kamu lagi nyari pacar?”

                Ha? Gak ada basa-basi banget! Gila ini orang! Gila! batin Dhimas. Matanya melotot ke layar telepon genggamnya. Heran.

— Bagi Sigurd, batas waras dan gila bisa saja terbengkalai ketika cinta sudah bermain di dalamnya. Tak ada yang tahu, tak ada yang mengerti—

                “Iya, kok tahu?” Dhimas membalas.

                “Wah, aku juga. Jadi?”

                Dhimas semakin melotot dan jari-jemarinya semakin cepat membalas, “Gini ya, Rama, aku gak mau terburu-buru. Sesuatu yang mudah didapat akan mudah hilangnya,”

                “Aku tahu kok, Dhimas. Semua istana selalu berawal dari batu kerikil, bukan?”

                “So?

                “Boleh kita bertemu kapan-kapan? Aku ingin mengenalmu lebih jauh,”

                Dhimas menarik napas dalam-dalam. Jari-jemarinya kini mengetik kalimat “Ya, tapi sebelumnya mari bertukar Yahoo Messenger,” lalu menekan tombol Send. Entah takdir akan memberinya harapan sepalsu apa lagi kali ini.

* * *
                Maka di sinilah Dhimas sekarang, di Senayan City, dan peluh membanjiri keningnya karena kebodohannya dalam membaca peta Jakarta dan berakhir dengan perjalanan kaki dari Komdak. Pendingin ruangan di Mall ini sedikit demi sedikit mengeringkan keringatnya, dan kepala Dhimas tak henti-hentinya mencari sosok Rama. Sudah beberapa minggu semenjak ia dan Rama intens chat di Yahoo Messenger dan pesan singkat, dan ini adalah hari yang mereka tentukan untuk bertatap muka untuk pertama kalinya.

                Seorang pria melambaikan tangannya. Senyumnya begitu manis dan tulus, dan Dhimas membalasnya dengan senyum kelelahan.

                “Kok keringetan gitu?” Rama memandangi kening Dhimas.

                “Iya, jalan kaki dari Komdak jauh yah ternyata,”

                “Serius?!” Rama menatap bulat-bulat Dhimas.

                Dhimas mengangguk. “Cari tempat duduk, yuk!” Tanpa menunggu persetujuan dari Rama, Dhimas berjalan ke arah foodcourt, kemudian duduk.

                “Jadi, pingin mengenalku?” Dhimas bertanya.

                “Sebenarnya bingung juga sih mau nanya apa,” Rama tersipu. Kacamatanya melorot sedikit, “So, sudah menjomblo berapa lama?”

                Dhimas kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan langsung dari Rama. “Ah! Aku tak mau mengingatnya,”

                “Kenapa?”

                “Pokoknya gak mau! Ogah!” Dhimas menunduk.

                “Yah, apapun itu, mungkin karena kamu belum memaafkan dirimu sendiri,” Rama tersenyum. “Maaf yah aku mengingatkanmu akan masa lalumu,”

 — Jabberwock tersenyum manis. “Terimalah dirimu, Alice. Terimalah kenyataan dan jangan pernah lari darinya. Kenyataan mengejarmu lebih cepat dari yang bisa kau bayangkan. Terimalah dan maafkan dirimu sendiri. Phantasma hadir karena penyangkalan terhadap dirimu,”—

                Dhimas menatap Rama dalam-dalam. Belum pernah dalam 24 tahun hidupnya ia bertemu dengan pria blak-blakan seperti Rama, dan di balik keterusterangannya itu, tersimpan kebijaksanaan yang begitu luas. Dhimas tak mampu berkata apa-apa. Ia kini tercebur di antara realita dengan harapan. Sosok pria di depan Dhimas ini, yang bisa dirasakan oleh seluruh panca indera Dhimas, justru begitu terkesan fantasi. Begitu indah secara fisik, begitu menenangkan secara hati.

                “Yah asal tahu saja sih,” Rama kembali berbicara, “Satu-satunya yang bikin masuk akal saat depresi itu yah tindakan cinta dan memaafkan,”

—“Jeanne. Hapuskan dendammu. Dua unsur utama pembentuk hati manusia adalah tindakan memaafkan dan tindakan cinta, dan kau menunjukkan betapa besarnya dua aspek itu di hatimu,”—

                “Ih kok kamu jadi puitis sih?” Dhimas tertawa kecil. “Mirip deh kayak orang lagi jatuh cinta untuk pertama kali,”

— Leo tertawa. “Ya, tentu saja, Paus. Cinta itu termasuk rahasia, terlebih cinta pertama. Asal tahu saja, kebahagiaan hadir di tiap cinta, tidak hanya yang pertama tetapi juga yang kedua, ketiga, dan seterusnya,”—

                “Gimana kalo aku bilang bahwa aku memang suka kamu?” pipi Rama mulai bersemu. Ia menggigiti bibir bawahnya, pertanda bahwa keberanian telah memaksanya untuk mengutarakan isi hati.

                Dhimas sedikit tersedak saat Rama berucap kalimat itu. “Tapi, kita kan baru aja ketemu?” Mata Dhimas kini makin dalam menatap mata Rama.

— Mata mereka bertatapan, dan tak pernah dalam hidup Mei Xia ia melihat mata yang begitu dalam dan tenang. Perasaan rindu yang sulit dimengerti dirinya sendiri saat melihat sosok Huang Long, meski saat itu adalah pertama kalinya mereka bertemu.—

                “Dhimas, dengar,” Rama berdeham sedikit. “Mungkin ini terdengar bodoh, tetapi aku tahu aku telah jatuh hati padamu saat aku melihat semesta di matamu,”

                “Semesta di mataku? Mungkin itu pantulan sosokmu,” Dhimas membalas puisi Rama. “Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu: kita berdua pria. Kau siap dengan konsekuensinya?”

                “Sekarang aku ingin bertanya padamu, Dhimas, apakah Tuhan Maha Adil?”

                “Ya, tentu saja,”

                “Kalau begitu ia tidak diskriminatif pada satu kelompok hanya karena ia berbeda selera, bukan?” Rama tersenyum, “jadi konsekuensi apa? Aku mencintai Tuhan, dan atas nama Tuhan yang aku anut, aku mencintaimu,”

—“Tuhan mencintai kita, Garcia, maka cintailah setiap manusia. Cintailah mereka layaknya saudaramu sendiri,” kata Ibunda Garcia lagi dalam ingatannya—

                Dhimas bisa merasakan kedua telinganya memerah. Tak henti-hentinya ia berpura-pura membenarkan kacamatanya untuk menutupi rasa malunya. Ia tersentuh dengan ketulusan Rama, dan idealism-nya soal percintaan antara dua pria runtuh sudah. Dhimas sudah membulatkan tekad, ia juga akan melakukan apapun demi Rama.

— Nimpus tersenyum. “Aku tak pernah meragukanmu, Rax. Aku bisa saja ditakdirkan untuk menjadi pelindungmu.”—



                Dhimas menyentuh jemari Rama. “Rama, aku hanya ingin bilang: fantasiku kini adalah kamu,”

* * *

                “Kita bertemu lagi, Brynhild,” Sigurd tersenyum manis, “setelah beribu-ribu tahun jiwa kita berkelana dari satu tubuh ke tubuh yang lain,”

                “Oh Sigurd,” Brynhild membalas senyuman manis Sigurd dengan pelukannya, “betapa aku merindumu!”

                “Aku tahu, sayang,” Sigurd mengecup kening Brynhild, “aku juga merindumu,”

                “Aku bahagia akhirnya Dhimas—tubuh reinkarnasiku saat ini—bertemu denganmu,” Brynhild semakin mempererat pelukannya. “Cinta memang hanya berjarak satu surga,”

                “Dan akan kuyakinkan tubuh reinkarnasiku, Rama, untuk terus menjagamu, sayang,”

                Perlahan tapi pasti, kedua bibir dari kedua jiwa itu saling bersentuhan.

* * *

Si Bijak Semesta kembali tertawa bahagia

Ia kembali menyatukan dua hati meski jarak keduanya berjuta hasta

Ia berhasil menyulam kalimat “Aku dan kamu” dan mengubahnya menjadi “Kita”

Ia telah menugasi samudera, agar perahu rindu menyampaikan pesan cinta


Si Bijak Semesta berhasil merajut dengan benang-benang hati, jadi satu dari dua

Takdir dalam bentuk bahtera bernama cinta

Dari berbagai tempat, jarak, dan masa

Dan dari dua jiwa yang sama

Yang bereinkarnasi dalam berbagai rupa:


Seorang Valkyrie dan seorang ksatria

Gadis bernama Mei Xia dan seekor naga

Dua Avago bersaudara

Asmodeus dan Arcadia

Alice dan Dunia Khayalannya

Joanna dan cinta pertama yang menjadi rahasia

Cermin di lobi sebuah hotel dan arwah seorang gadis di India

Seorang tentara dan sang Ibunda


Dan kini, tersulam kembali satu kisah cinta

Kisah cinta berujung bahagia

Cinta di antara dua pria

Antara Dhimas dengan Rama

ditulis @rebornsin dalam http://inwordswetrust.wordpress.com | My Fantasy is You

Harap (ku)

ini tentang harap
dimana disana kutitipkan cintaku kelak
dan kamu yang jadi sandarannya

harap itu pun kian kuat
seiring dengan kata rindu yang sering kau ucap
jari yang saling terikat
juga peluk yang melekat

dengan apa yang kita lalui bersama
aku yakin harap itu pasti berbalas nantinya

aku ingin menjadikannya nyata
dengan 3 kata

"aku cinta kamu"
ucapku pelan

kau diam
memandangiku sejenak
"maaf"
sambil beranjak, kemudian berlalu

ditulis @mengawali dalam http://catatan-awal.blogspot.com | Satu Bintang

Ellen

Sabtu, 18 Januari 2009. Hari itu benar-benar hari yang sangat mendebarkan. Jalanan yang macet, panas terik matahari yang sangat menyengat, dan suara bising klakson kendaraan yang sedang terkena macet merupakan kombinasi bagus untuk hari yang sangat buruk. Dalam keadaan yang sangat gak banget seperti itu, disana ada seorang pria umur 22 tahun sedang berlari menuju bandara. Ya, itu aku, Mario. Seorang pemuda yang harus berlari ke bandara dan meninggalkan kendaraannya yang sedang terjebak macet demi untuk menemui seseorang. Jarak bandara masih cukup jauh. Aku berlari sangat kencang, biasanya aku tidak pernah berlari sekencang dan sejauh ini. Sebagai seorang pemalas yang hampir tidak pernah olah raga, ini merupakan sebuah prestasi.

Dengan bercucuran keringat sambil clingak-clinguk seperti orang yang bingung karena ketinggalan pesawat, aku pun sampai di bandara ini. Selesai.

Eh tidak-tidak, cerita ini belum berakhir sampai disitu saja. Aku masih punya misi untuk mengejar wanita pujaanku. Ellen, temanku sejak aku kecil. Kami tumbuh besar bersama, jarak rumah kami pun berdekatan. Sudah sejak lama aku memendam perasaan padanya. Mungkin karena kebiasaan kami yang sering bersama sejak kecil. Kalau kata pepatah jawa “witing tresno jalaran soko kulino” yang artinya “cinta itu bisa datang karena kebiasaan.” Tapi, aku adalah aku, tidak pernah berani untuk mengungkapkan perasaan. Seringkali  aku sedih jika dia berpacaran dengan pria lain, namun terkadang ikut senang ketika melihat dia begitu bahagia. Saat ini dia sedang sendiri, inilah kesempatanku untuk mengungkapkannya, sebelum dia pindah ke luar negeri untuk menyusul orang tuanya.

Aku terus mencari, sampai mataku tertuju pada seseorang wanita berkulit putih alami, eksotis, dan juga sangat cantik. Itu Ellen, aku bergegas menghampirinya. Dia pun melihatku, dengan segera dia tersenyum padaku.

“Kenapa kau tidak berpamitan padaku? Ponselmu juga tidak aktif, apa kau sudah melupakanku?” tanyaku.

“Tidak, aku bukan orang yang akan melupakan teman baiku begitu saja. Aku hanya tidak ingin melihat kau menangis.” Jawabnya.

“Hei, aku ini pria kuat, bukan tipe pria yang akan menangis saat ditinggal teman baiknya.”

“hahaha, kau tampak gugup.” Dia tertawa dan mengeluarkan senyuman yang sangat manis. Senyuman paling manis kedua yang pernah aku lihat setelah senyuman ibuku.

“apa kau yakin benar-benar ingin pergi?” tanyaku.

“Ya, aku sudah sangat yakin, jangan mematahkan keyakinanku dengan muka cengengmu itu. Oh ya, kau kan sudah jauh-jauh menyusulku kesini, sambil menunggu penerbangan bagaimana kalau kita menikmati secangkir kopi?” pintanya.

“ Ide bagus, tapi aku berharap ini bukan minum kopi bersama untuk yang terakhir.” Kataku.

Dia hanya tersenyum, menggandengku, lalu memintaku untuk membawakan barang-barangnya.

“huh, dasar, kau masih saja suka merepotkan orang lain.” Gumamku.

“hei, ayolah, kau kan pria kuat. Anggap saja aku merepotkanmu untuk yang terakhir”

“Eh, aku tidak mau kalau yang terakhir. Lain kali kau boleh merepotkanku sesukamu.” Jawabku agak gugup.

Sambil membawakan satu kopernya yang agak berat di tangan kiriku, kami berjalan menuju salah satu coffe shop di bandara. Tangan kirinya menggandeng tangan kananku. Menggenggam erat seolah tidak ingin terlepas. Berat rasanya kalau harus meninggalkan kebiasaan kami yang sering bersama. Kami pun sampai di salah satu coffe shop di bandara. Masih dua jam sebelum keberangkatannya, akan aku manfaatkan sebaik-baiknya.

“Aku akan merindukanmu.” Kataku.

“Aku juga, aku akan sangat merindukan kegilaan-kegilaan yang hampir tiap hari kita lakukan. Aku akan merindukan suaramu yang jelek saat bernyanyi” sahutnya

“Enak saja jelek. Huh. Tapi pasti aku akan merindukan saat kau teriak-teriak tidak jelas di puncak gunung.”

“Hemm, itu meluapkan emosi, bukan teriak-teriak tidak jelas.” Katanya agak ngambek.

“Jangan lupakan aku, kabari kalau kau sudah disana. Ceritakan bagaimana tentang kehidupan di Irlandia.” Pintaku.

“Tentu saja, aku akan memamerkan apa yang tidak pernah kau temui di Negara ini.” Jawabnya.

Kami mengobrol sampai tidak terasa sudah satu jam dan dia harus segera chek in tiket penerbangan. Aku harus segera mengungkapkan perasaanku. Perasaan yang sudah sangat-sangat lama aku pendam.

“Ellen, ada yang ingin aku bicarakan sejak lama, sudah bertahun-tahun aku ingin membicarakannya.” Kataku sambil menggenggam erat tangannya.

“Apa? Tidak biasanya kau memendam apa yang ingin kau bicarakan padaku.” Tanyanya agak bingung.

“Aku mencintaimu. Sudah hampir tiga tahun ini. Entahlah, apa karena kebiasaan kita yang sering bersama, atau memang ada sesuatu pada dirimu. Tapi aku benar-benar mencintaimu.” Kataku dengan serius.

 “Apa kau bercanda? Kalau tidak, kenapa kau baru bilang sekarang, bodoh!” jawabnya sambil meneteskan air mata.

“Maaf, aku hanya tidak ingin melukai pertemanan kita.”

“Iya tapi kenapa baru sekarang? Kenapa malah disaat aku sudah mau pergi?” kali ini dia benar-benar menangis. “aku jadi semakin berat untuk meninggalkanmu, kau mengerti!”

“Maaf. Maafkan aku yang pengecut ini.”

“Sudahlah, aku harus pergi sekarang.” Dia berdiri dengan kondisi masih meneteskan air mata.

“Baiklah, aku tidak mau kau ketinggalan pesawat.”

Kami pun membayar kopi yang kami minum, segera meninggalkan coffe shop dan pergi menuju pintu perpisahan. Aku sangat sedih, ini benar-benar hal yang sangat menyedihkan dalam hidupku. Di pintu perpisahan, dia memeluku. Erat sekali, aku pun membalas pelukannya.

“Aku benar-benar sangat berat untuk perpisahan ini.” Katanya.

“Aku tidak akan menangis. Kau lihat aku kan, aku senang, bukan karena kau akan pergi. Aku senang karena telah mengungkapkan perasaanku.” Kataku sambil agak mewek.

“Aku harus pergi sekarang, kalau semakin lama disini, aku akan semakin menangis.”

“Ya, pergilah. Irlandia memang jauh, tapi pertemanan akan selalu mendekatkan kita.” Kataku.

“Aku pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik. Kelak kita akan bertemu lagi. kau harus berubah, paling tidak harus jadi lebih tampan dari yang sekarang.” Dia tersenyum.

“Kau menganggapku tampan? Hahaha, baru kali ini kau bilang begitu.” Kataku.

“Aku akan merindukanmu. Aku akan selalu menunggu sampai kita bertemu kembali.”

Aku pun tersenyum mendengar perkataannya itu. Seolah itu adalah harapan. Aku harus bekerja lebih giat, agar bisa menyusulnya ke Irlandia. Hari itu adalah hari yang sangat berat, kesedihan karena berpisah dengannya, pun ada senang karena aku telah mengungkapkan perasaanku. Di pintu keberangkatan kami berpisah. Disaksikan oleh mereka yang akan berpisah juga. Aku pun pergi, masih sedikit mewek, di jalan aku berpikir. Apa dia juga mencintaiku?

After all this time
Would you ever want to leave it
Maybe you could not believe it
That my love for you was blind
But I couldn’t make you see it
Couldn’t make you see it
That I loved you more than you will ever know
A part of me died when I let you go

(Lifehouse-Blind)


Beberapa  tahun telah berlalu, selama itu pula aku masih sering menghubunginya. Dia juga sering menghubungiku. Perpisahan jaman sekarang tidak seberat perpisahan jaman dulu. Teknologi komunikasi sudah canggih. Tapi berpisah tetap saja satu paket dengan kesedihan. Senin pagi, 18 Januari 2012. Aku sangat terkejut bercampur senang ketika menerima sepucuk surat dari Irlandia. Penasaran dengan isinya, aku buka surat itu dan ternyata bukan surat. Itu adalah undangan pernikahan Ellen. Sedih? Tidak, aku tidak sedih. Aku malah senang, dia bahagia disana, apalagi saat melihat foto prewed-nya, senyumnya benar-benar senyum dari seseorang yang sangat bahagia. Banyak teman-temanku bertanya, “kenapa tidak sedih di-PHP-in?” aku hanya menjawab; “bagi pria yang hatinya tegar sepertiku, PHP itu tidak lebih buruk dari pada ditolak oleh wanita J” lagi pula, itu bukan PHP.

ditulis @marioprakasa dalam http://marioprakasa.tumblr.com | Blind

I Do (Not)

 "Kasih aku waktu sebentar buat mikir"

Sudah lebih dari 15 menit sejak kamu mengucapkan kalimat itu. Berarti sudah 15 menit aku duduk diam menunggu layaknya orang dungu. Dan sudah 15 menit kamu memasang mimik 'sedang serius berpikir' di wajahmu.

"Hey, apalagi sih yang musti dipikirin??"
Rasanya ingin sekali aku meneriakkan pertanyaan ini sambil mengguncang-guncang bahumu.

Ya, apalagi yang sebenarnya musti kamu pikirkan?

Aku kira kedekatan kita selama tiga bulan tidak akan membuatmu harus berpikir sekeras ini. Pergi berdua setiap malam minggu, berjalan bergandengan, menonton bioskop sambil berpegangan tangan, pelukan selamat jalan di depan pagar kos-kosan, saling mengirim pesan singkat sepanjang hari, menelpon hingga ketiduran di tengah malam, bercanda mesra di jejaring-jejaring sosial...

Apakah semuanya masih belum cukup?

Apalagi yang harus kamu pikirkan?

Seingatku kamu tidak harus berpikir selama ini saat membalas ciumanku di hari ulang tahunmu. Kamu pun langsung menerima buket bunga yang kubawa dengan raut wajah yang gembira di suatu malam minggu. Kamu tanpa pikir panjang mengucapkan 'kangen' saat 4 hari berturut-turut kita tidak bertemu.

Lalu apa yang sebenarnya saat ini kamu pikirkan?

Tiba-tiba kamu menegakkan kepalamu dan memandangiku. Selama beberapa menit hanya itu yang kamu lakukan. Aku bisa merasakan jantungku memompa darah lebih kencang dari yang seharusnya. Rasa percaya diri yang kubawa dari rumah seakan luruh pelan-pelan.

Lalu kamu menghembuskan nafas panjang, tersenyum dengan sangat manis.
Sebelum akhirnya mengulurkan
tangan kirimu.

"Maaf ya"

Madu di tangan kananmu,
racun di tangan kirimu
Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku...


ditulis @malatsih dalam http://malatsih.blogspot.com | Madu dan Racun