Sunday, September 30, 2012

Cintaku Tak Sesederhana Hitam dan Putih

Kirana, jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka aku tidak ingin menjadi benar. Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu, seperti Romeo yang jatuh cinta saat pertama bertemu Juliet. Bedanya kau tidak mungkin termiliki olehku. Aku tahu bahwa seluruh dunia pun akan menentangku untuk mencintaimu. Meski begitu aku tidak akan pernah menyalahkan si cupid kecil yang sudah memanahkan cintanya. Aku juga tidak akan menyalahkanmu yang terlahir ke dunia dan membuatku jatuh padamu dan tidak mampu berpaling pada yang lain.

Tidak ada perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta kecuali kamu. Maka sejak saat pertemuan pertama kita, aku bertekad dalam hati untuk bisa dekat denganmu, bagaimanapun caranya. Meski aku juga tidak pernah berniat untuk memilikimu, aku hanya mencintaimu, itu saja. Hingga akhirnya Tuhan mendengar permohonanku, kita pun menjadi sahabat. Bukan sebuah kebetulan bahwa kita kuliah di jurusan yang sama. Bagiku menjadi sahabatmu lebih menguntungkan, aku bisa menyembunyikan rasa cintaku padamu dan tidak ada seorang pun yang tahu tak terkecuali kamu. Aku melakukan segala yang kamu minta dariku, tidak ada yang berat bagiku melakukannya untukmu, asalkan aku bisa melihatmu tersenyum. Sungguh mencintaimu adalah candu bagiku. Sayangnya kamu lebih mencintai candu yang sebenarnya.

Berkali-kali aku berusaha membantumu untuk keluar dari lingkaran hitam yang semakin menguasaimu, yang perlahan tapi pasti merampas segala yang indah dalam hidupmu. Kamu mulai menjadi pemadat kelas berat. Kerap kali kau tidak kuliah, bahkan Laptop dan ponselmu pun kamu jual demi mendapatkan barang itu. Sangat menyakitkan bagiku saat harus menyaksikanmu sakaw, selalu aku dihadapkan pada dilema antara membebaskanmu dari rasa sakit sesaat atau membebaskanmu selamanya. Akhirnya aku membawamu ke rumah sakit, hingga membuat orang tuamu tahu yang sebenarnya. Tentu saja mereka marah padaku, yang sebagai sahabat terdekatmu tidak pernah memberitahukannya pada mereka. Akhirnya mereka pun memasukkanmu ke pusat rehabilitasi.

Tiga bulan kamu menjalani rehabilitasi dan di sana pula kamu bertemu dengan seseorang yang mampu mengembangkan kembali senyummu. Setiap kali aku mengunjungimu, selalu nama lelaki itu yang kamu sebutkan. Aku cemburu, aku sakit tapi aku rela merasakan itu demi sedikit rasa bahagia melihat ada harapan hidupmu akan kembali cerah seperti dulu. Meski yang membuatmu tersenyum bukan aku. Apa hakku untuk melarangmu jatuh cinta dengan lelaki manapun, aku hanyalah sahabatmu. Sahabat yang akan melakukan apapun demi kamu tapi tidak pernah punya hak untuk memilikimu. Sudah kusadari sejak awal cinta yang aku rasakan hanya akan menjadi rahasiaku sendiri. Jadi aku putuskan untuk merestui. Akhirnya kamu keluar dari pusat rehabilitasi dan berhasil membuat semua orang mengira kau sudah benar-benar terbebas.

Tapi kenyataan memang tidak selalu sejalan dengan apa yang diimpikan. Seperti halnya sebuah kenyataan bahwa ternyata kamu tidak pernah terlepas dari candu yang justru semakin jauh menjeratmu. Seminggu setelah keluar dari pusat rehabilitasi, kamu membuat semua orang yang mencintaimu terguncang hebat. Kamu memutuskan untuk pergi selamanya, meninggalkan orang-orang yang mengasihimu, meninggalkanku yang merana karena mencintaimu. Kamu mengakhiri hidupmu dengan alasan yang hanya kamu sendiri yang tahu.

-2 tahun kemudian-

“Laras, apa kamu sudah menemukan nama perempuan untuk anak kita?”

“Sudah mas..”

“Oh ya? Siapa?”

“Akan kunamai dia Kirana..”

“Aku setuju sayang, nama yang cantik seperti Kirana sahabatmu dulu. Aku tahu kamu begitu menyayanginya. Sayang nasibnya begitu tragis”

Aku mengusap perutku dan tersenyum pada lelaki di sampingku, suamiku. Ayah dari anak yang sedang kukandung, yang cintanya takkan mampu aku balas seutuhnya. Karena cintaku sudah kuberikan pada satu nama, Kirana.

***

ditulis @NeMargane dalam http://selaksakata.wordpress.com | Cinta Terlarang

No comments:

Post a Comment