Friday, September 28, 2012

Menunggu Hujan


Kamu datang tiba-tiba seperti hujan tanpa kelabu.
Sehingga saat itu aku tak sempat lagi meneduhkan indera-inderaku.
Mereka kuyup, terbasahi deras pesonamu.
Dan bahkan setelahnya, terlukis pelangi yang tak pernah hilang di langit hatiku.

“Saya Mahardika Ginting dari Fit N’ Fun Magazine,” ujarmu memperkenalkan diri seraya menyodorkan tangan kananmu.

Spontan kusambut jabatanmu. Lalu seketika saja aku seperti tersihir. Kuakrabi semesta pesonamu yang tiada banding. Sepasang mata dengan tatapan tajam namun meneduhkan. Senyum semanis gula yang memperlihatkan gigi-gigi yang berbaris rapi. Tubuh tegap dan gagah yang mungkin hasil tempaan pusat kebugaran. Ditambah wangi parfum bercampur keringatmu yang memanjakan penciumanku.

Genggaman erat tanganku mungkin tak pernah lepas andai suaramu selanjutnya tidak singgah di gendang telinga. “Mbak Maria! Bisa kita langsung mulai saja wawancaranya?”.

Enam puluh menit setelahnya menjadi satu jam paling mendebarkan yang pernah ada. Bagaimana tidak? Aku puas menikmatimu sepenuhnya. Untung saja pertanyaan-pertanyaanmu seputar gaya hidup vegan yang kujalani masih bisa kujawab dengan lancar. Padahal yang ada di pikiranku saat itu hanya kamu, kamu, dan kamu.

Tak lupa kuselipkan rindu pada perpisahan pertamaku denganmu saat itu. Kapan-kapan kita ngobrol di luar kerjaan ya, Dika! Nanti aku hubungi kamu deh. Dua kalimat basa-basi tadi sukses menyembunyikan isi hatiku sebenarnya padamu. Padahal yang ingin kusampaikan sebenarnya adalah bahwa aku mencintaimu sejak jabat tangan pertama kita.

***

Namun pelangiku seketika mengabu-abu.
Warna-warna yang menghiasinya tanggal satu demi satu.
Rinai yang membanjir pun berpindah ke mataku.
Kepedihan kemudian mengalirkan rintiknya pada luka yang menganga, di hatiku.

Pertemuan-pertemuanku denganmu setelahnya selalu membekas (setidaknya di ingatanku). Aku dan kamu berbeda dalam banyak hal. Namun, beberapa kesamaan seperti menjadi perekat dari perbedaan-perbedaan yang saling melengkapkan. Intensitas komunikasi pun menigkat seiring waktu. Aku, yang dulu hanya subjek di salah satu artikelmu, menjelma sahabat dekat yang siap menemanimu kala penat.

Dan tentu saja rasa cintaku kepadamu tumbuh menghebat. Sampai di suatu saat aku memberanikan diri mengutarakan isi hatiku kepadamu. Persetan dengan harga diri. Yang aku mengerti saat itu, hatiku sudah tak lagi bisa membendung rasa yang ada.

Aku mencintaimu, Dika! Kuucapkan kalimat tersebut tanpa ragu kepadamu malam itu, selepas kita menghabiskan sekotak penuh pop corn di sela menonton DVD serial Friends bersama-sama. Ketika itu, kurasa kamu menganggapku bercanda, karena jawabanmu hanya tawa panjang hahaha.

Aku ngga bisa, Maria! Kamu tuh udah aku anggap saudara perempuanku sendiri. Jawaban klasik seperti itulah yang terlontar dari mulutmu ketika kusampaikan bahwa aku serius sepenuhnya tentang apa yang kurasakan kepadamu. Mataku berkaca-kaca seketika. Kutinggalkan dirimu saat itu juga sebelum air mataku meluap lalu banjir. Aku basah (lagi). Tapi kali ini oleh perih.

“Jangan dekat atau
jangan datang kepadaku lagi.
Aku semakin tersiksa
karena tak memilikimu.”

***

Kemudian dia singgah.
Membawakan pelangi warna-warni yang sempat enyah.

Harianto Wijaya, pria luar biasa yang dikenalkan orang tuaku malam itu. Di usianya yang masih muda, ia sudah bisa menyejajarkan diri dengan pebisnis senior seperti ayahku. Kabarnya, franchise Rumah Baca yang ia kelola sudah berdiri di beberapa kota besar di Indonesia. Dan yang lebih istimewanya lagi, sama sepertiku, ia pun seorang vegan.

Aku dipertemukan dengannya dalam makan malam yang sedikit formal. Di sebuah restauran mahal di pusat kota Jakarta. Tanpa sengaja, kami memesan menu yang sama. Saat itu, dalam hati aku bertanya-tanya, mungkin dia lah yang Tuhan bawakan kepadaku sabagai penggantimu. Ayahku sepertinya telah membaca pertanda kemurunganku hari-hari belakangan, sehingga ia membawa Hari untuk diperkenalkan. Singkatnya, kami dijodohkan.

Setelahnya, aku mencoba menerima Hari dalam hati. Hari, yang dengan kesungguhannya menunjukkan rasa yang sama besarnya dengan rasaku kepadamu. Namun, hatiku ternyata telah terisi penuh olehmu dan kenangan-kenangan tentang kita. Maka kuletakkan lah dirinya di ruang logika. Siapa tahu suatu waktu kamu bisa kuenyahkan dari hatiku.

“Kucoba jalani hari
dengan pengganti dirimu.
Tapi hatiku selalu
berpihak lagi padamu.

***

Tapi pelangi bukanlah pelangi jika tanpa hujan penghapus gersang.
Hatiku pun memilih tetap kerontang,
hingga suatu saat dengan basahmulah aku berkubang.

Seisi rumahku saat ini dihinggapi keriuhan. Meja-meja di taman sudah dipenuhi segala macam hidangan yang disajikan. Tamu-tamu undangan, yang sebagian besar merupakan kerabat dan teman dekat, satu persatu berdatangan.

Aku memandang cermin di hadapanku. Cantik. Mapan. Pacar tampan, juga mapan. Apa lagi yang harus kubimbangkan? Kurapikan sedikit sisiran rambutku sebelum kulangkahkan kaki menuju taman.
Aku dan Hari menjadi pusat keriuhan pesta malam ini. Aku berbisik padanya bahwa sudah saatnya mengumumkan hal yang paling ditunggu-tunggu oleh semua tamu. Hari mengambil gelas panjang yang kemudian ia dentangkan berulang.

“Hadirin sekalian!” Suara berat Hari mengundang semua yang hadir mendengarkan. “Hari ini, Saya dan Maria, dengan berat hati meyampaikan bahwa kami membatalkan rencana pernikahan kami.” Pernyataan Hari tadi mengagetkan tamu yang hadir, tak terkecuali kedua orang tuaku, juga orang tua Hari.

Aku berlari ke kamarku. Ini kesekian kalinya mataku terbasahi oleh sembab dari keputusan-keputusanku tentangmu. Sementara hatiku masih gersang, menunggumu datang membawa hujan.

“Tuhan maafkan diri ini
yang tak pernah bisa
menjauh dari angan tentangnya.
Namun, apalah daya ini,
bila ternyata sesungguhnya
aku terlalu cinta dia.”

***

Karena cinta bukan lagi perkara logika.
Kadang dia memilih yang acuh,
dan mengacuhkan yang begitu peduli.


[fin]


*Diinspirasi dari lagu Terlalu Cinta - Rossa
Ditulis oleh @__adityan dalam http://deetzy.tumblr.com

No comments:

Post a Comment