Saturday, September 29, 2012

Resah, Ku Menunggumu

    : untuk perempuan cahaya pembias pelangi

    “Aku ingin berjalan bersamamu, dalam hujan dan malam gelap. Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

“Kamu terlalu cepat untuk pergi,” kataku kepadamu yang masih saja duduk terdiam di sampingku sambil terus menahan airmata menetes di bahuku.

“Aku harus.” katamu, yang ku tahu, masih terus menahan air mata dan keraguan. Ku tahu keresahan dan kesedihanmu saat membayangkan bahwa setelah ini kita tak lagi mampu bertemu.

“Aku akan menunggumu di sini, selama apapun itu. Meskipun ketika kamu sadari nanti waktu sudah terlambat untuk kembali, aku akan tetap di sini, menantimu kembali.”

“Tapi aku pergi untuk tak akan kembali.” katamu terbata ragu. Dan pada akhirnya genangan airmata di matamu itu pecah juga. Air matamu menetes, menyatu dengan peluh rindu di bahuku.

Ku terdiam, termangu, bukan karena ku tak tahu lagi kata apa yang harus kuucapkan padamu kali ini. Tetapi aku telah beku karena air matamu rupanya lebih mampu menyatakan rindu, yang lalu membiaskan kasihmu kepadaku daripada kata-kata asing yang sedari senja tadi kau ucapkan padaku.

“Kamu mungkin tak akan kembali. Tapi ku yakin, aku lah rumahmu, tempat kamu akan selalu pulang.”

“Jangan buatku menangis lebih dari ini.”

“Maaf, aku tak ingin melihatmu menangis.”

“Kalau begitu biarkan aku pergi.”

Dan air mata kita pun pada akhirnya menyatu, bercumbu menjadi rindu yang suatu saat nanti akan memelukmu dalam setiap doa-doa yang kamu rapalkan untukku.

Di senja itu, pertemuan terakhirku denganmu telah tersusun menjadi kenangan yang setiap waktu selalu ku ulang-ulang. Kadang ku ulang kenangan kita menjadi luka, kadang ku ulang ia menjadi rindu, kadang pula ku ulang itu menjadi derita. Tapi setiap kali ku putar kenangan kita itu, selalu saja ada sejumlah cinta yang terbiaskan di dalamnya. Seluuruh luruh air matamu pada hari itu, selalu saja mampu mencumbuiku hingga ku teteskan air mata luka. Selalu saja seperti itu hingga pada hari ini, bertahun-tahun setelah pertemuan terakhir kita, ku temukan airmata yang sama masih saja mencumbui waktuku dengan masa lalu. Maka, hingga kini aku masih menunggumu.

Pada pertemuan terakhir kita itu, ku ingat, ku berharap mampu berjalan bersamamu hingga ke ujung rumahmu, sebelum ciumanku mengakhiri detik-detik perpisahan kita. Tapi hujan terus saja membasahi air mataku – air matamu.

Aku tak mampu lagi melihat matamu, yang selama ini adalah satu-satunya tempatku berjalan menggelayuti hatimu dengan rindu. Dan di senja itu, aku tak mampu lagi melihat matamu, karena seiring tenggelamnya mentari di cakrawala biru itu, tubuhmu lalu membelakangiku, menjauhiku, hingga benar-benar meninggalkanku. Aku hanya mampu terdiam, menatapmu terbiaskan dalam airmataku jadi pelangi, yang hingga saat ini, akan selalu ku pahami sebagai pagi yang akan ku temui setelah segala mimpi-mimpiku tentangmu.

    “Aku ingin bersamamu di antara daun gugur. Aku ingin berdua denganmu, tapi aku hanya melihat keresahanmu.”

Aku masih duduk di tempat yang sama, seperti saat kita terakhir kali bertemu. Bukan untuk berpadu rindu, tetapi untuk menunggumu, sambil menghalusinasikan kenangan-kenangan indahku dengamu. Lalu ku sadari, pertemuan itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kamu memang tak pernah mengatakan akan kembali. Tapi segenap air matamu dan pelukanmu di senja itu adalah lebih dari segala kata di dunia yang mengajakku untuk menunggumu.

Pada senja itu, kamu memang tak pernah berkata, “Aku akan kembali.” Tapi sungguh air matamu yang menetes di bajuku selalu mampu ku baca dengan terbata sebagai kalimat rindumu padaku. Ku baca airmataku dibahuku jadi: “Sesungguhnya aku mencintaimu. Tunggulah aku dengan waktu.”

Bagiku airmata dan segenap bahasa tubuhmu di senja itu telah memberiku lebih dari semua harapan di bumi ini untuk meyakinkanku menunggumu pada segala waktu. Ku sadari, dari sejarahnya harapan itu hanyalah kejahatan paling lugu yang tertinggal di kotak pandora para dewa-dewi mitologi Yunani.

Harapan hanyalah makhluk indah yang akan membuatku menunggu hingga tak tentu waktu lalu mati karena ketidakpastiannya telah merenggut rindumu. Tapi jika bukan karena itu adalah kamu, aku takkan pernah mampu untuk menunggu. Aku takkan pernah mampu untuk menafsirkan suatu harapan dengan begitu lugu, dan menganggapnya sebagai suatu kepastian paling jujur di dunia yang lebih sering mengecewakan daripada memuaskan.

Lalu aku pun masih duduk di sini, di senja yang bagiku masih sama seperti waktu itu. Dan ku bayangkan kamu duduk disampingku. Berdua saja dengaku. Membicarakan tentang musim yang berganti, daun-daun yang ranggas dan gugur di hatimu – hatiku.

Aku terus ingin duduk di sini, berdua denganmu. Berdua saja denganmu, mengadu rindu, mencumbu segala yang mampu membuatmu bahagia. Meskipun itu semua hanya ada dalam imajinaiku semata, aku ingin duduk di sini selamanya berdua saja dengan bayanganmu. Meskipun aku tak pernah tahu pasti apakah akan jadi nyata. Tapi apapun itu, aku akan selalu menunggumu.

Tapi, sayangku, kenapa tiap kali ku menunggumu, ku rasakan resah. Itukah resahmu? Celakanya aku menunggumu di segala waktuku. Akankah segala waktumu juga adalah resahku?

    “Aku menunggu dengan sabar di atas sini. Melayang-layang, tergoyang angin. Menantikan tubuh itu.”

Ku dengar sejumlah lagu, dan bagiku seluruh lagu adalah tentang kamu: tentang wajahmu yang merekah di mataku. Inikah rindu? Inikah resah itu ketika aku menunggumu?

Ku tahu, seperti katamu, kepergianmu bukanlah untuk kembali. Tapi, kau tahu, aku adalah rumahmu, tempatmu untuk pulang. Dan aku masih duduk terdiam di sini, menatap senja, mendendangkan sejumlah lagu: tengah menunggumu di segala waktu.

Di manapun kamu kini, di manapun rindumu kini, pulanglah. Ku tahu resahmu, karena aku adalah bahu yang akan memelukmu dengan rindu setiap kali kita bertemu. Karena aku adalah rumahmu yang menunggumu dengan resah yang sama, bahkan sebelum kepergianmu.

Jikapun segala harapan-harapan untuk mampu kembali bertemu denganmu yang membuatku menunggumu di segenap waktu itu adalah palsu, ku sadari, itu semua hanyalah karena aku yang terlalu mencintaimu.

Semarang, 28 September 2012


ditulis @agilunderscores dalam http://underscoresofagil.wordpress.com | Resah

No comments:

Post a Comment