Saturday, September 29, 2012

Ingkar

“Aku hamil, Bang..”

Gelas kaca yang sedang kutuangi air itu hampir saja luput dari tanganku. Hampir saja pecah beradu dengan lantai keramik. Kuselamatkan gelas itu, kutempatkan di atas meja kayu sebelum tubuhku limbung lagi. Perlahan, aku menghela tubuhku di atas kursi. Mengatur nafasku yang tercekat di tenggorokan sambil memandangnya yang tengah memandangiku dari seberang meja. Matanya berkaca-kaca. Tubuhnya gemetar menahan tangis dan emosi. Aku sadar, bukan hanya aku yang tertekan dengan berita ini, ia pun merasakan hal yang sama.

“Sudah berapa bulan, Dek?”

“Dua bulan..”

“Kamu sudah hamil dua bulan, tapi baru ngomong sama aku sekarang? Kamu anggap aku apa, Dek?”

“Maaf, Bang.. Aku bingung.. Aku takut.. Kukira testpack itu salah, makanya aku periksa ke dokter kandungan dulu, kemarin lusa. Ternyata benar, dokter bilang aku hamil.. Aku.. Harus bagaimana, Bang?”

“Ibu dan yang lain sudah diberi tahu?”

“Belum. Cuma Abang dan dokter saja yang tahu.”

“Ya sudah. Jangan kamu beri tahu mereka dulu. Kita pikirkan jalan keluarnya bersama-sama ya, Dek. Kamu jangan sedih.”

Air mata yang ia tahan entah sejak kapan, kini bebas berjatuhan. Aku bangkit dari kursiku, meminjamkan peluk dan lenganku untuk menyeka air matanya. Berusaha menenangkan batinnya meski tak seberapa ampuh.

*****

Di luar, matahari bersinar cukup terik. Kontras sekali dengan suasana muram di dalam rumah. Berpuntung-puntung rokok habis kubakar demi menemani pikiranku yang sedang sibuk bekerja. Begitupula beberapa cangkir kopi yang pahitnya mulai terasa hambar di lidah. Dari jauh, aku memperhatikan Hesti. Ia sedang menyapu daun-daun kering yang berserakan di halaman. Sekilas tak ada yang berbeda, Hesti tetap terlihat seperti remaja tujuh belas tahun lainnya. Siapa yang pernah menyangka bahwa beberapa bulan lagi ia akan menjadi seorang ibu.

“Bang, kopinya mau nambah?” Hesti berseru sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.

“Nanti deh, aku aja yang bikin sendiri. Kamu jangan panas-panasan terus, Dek. Nanti sakit..”

“Iya, Bang.. Ya sudah, aku ke belakang dulu ya..”

Hesti tersenyum, lalu melangkahkan kakinya ke belakang rumah, tempat sapu dan perkakas lainnya biasa ditaruh. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera kukenakan sepatuku. Berjingkat menuju pintu pagar, membukanya, lalu menutupnya kembali tanpa suara. Setengah berlari, aku menghampiri pangkalan ojek yang memang tidak jauh dari rumah. Setelah itu, pergi sejauh-jauhnya, entah kemana.

Rasa bersalah kutinggalkan di rumah. Biar saja. Bukan sepenuhnya salahku jika ternyata adik tiriku, Hesti, sekarang hamil. Pacarnya juga banyak, belum tentu akulah bapak dari janin yang dikandungnya. Walaupun aku telah berjanji padanya untuk menemani dan mencarikan jalan keluar, aku tak mau menjadi satu-satunya orang yang dipersalahkan atas semua ini.

Aku lebih baik pergi.

Maafkan Abang ya, Dek..

    “..adakah benarnya janji di atas ingkar
    di sana yang ada ragu..”



ditulis @idrchi dalam http://abcdefghindrijklmn.tumblr.com | Janji Diatas Ingkar

No comments:

Post a Comment