Friday, September 28, 2012

dan Kini Aku Kehilanganmu...

Sayup-sayup lagu itu memenuhi hati juga pikiranku. Entah siapa yang menekan tombol play, tapi lagu itu membuatku semakin sesak. Semua kenangan bersamamu seolah ikut berlari mengejarku. Aku makin merasa sulit bernafas. Terlebih saat kenangan memutar episode dua hari yang lalu, dimana aku dan kamu masih saling tertawa di sebuah café. Iya, café kesukaan kita. Café yang juga mempertemukan kita pertama kalinya,  delapan tahun yang lalu. Kamu ingat? Kita  berbincang apa saja. Saling menceritakan kejadian menarik selama seminggu terakhir. Iya, karena kuliah di kampus yang berbeda, kita hanya bisa bertemu seminggu sekali. Maka sehari dalam seminggu itu menjadi hari yang sangat menyenangkan. tidak lupa kita melakukan satu ‘ritual’ lainnya: mendengarkan lagu Rainbow yang dinyanyikan oleh David Archuleta.

Take a little time baby
See the butterflies’ colors
Listen to the birds that were sent
To sing for me and you
Can you feel me
This is such a wonderful place to be
Even if there is pain now
Everything will be allright
Can you hear me
There’s a rainbow always after the rain


Lalu setelah lagu itu selesai, kita tertawa, bukan? Meresapi lirik yang dilantunkan dengan merdu oleh David Archuleta itu. Lagu yang mengingatkan kalau hidup ini indah. Setelah hujan pasti akan selalu ada pelangi. Maka kita meyakini, apapun yang terjadi, semua akan baik-baik saja. Bukan begitu? Lagu itu menemani kita kemanapun. Seperti ada energy positif yang sangat besar saat kita mendengarnya. Terlebih jika kita menyanyikannya berdua.

Kamu tahu? Aku mendapat kejutan hari ini. Aku mendapat telepon bahwa seseorang yang bernama kamu telah dibawa ke rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari. Siapa? Kamu? Aku tidak percaya! Kamu pasti mengerjaiku, kan? Aku tahu. Pasti karena sebentar lagi aku ulang tahun, maka kamu ingin membuat aku kaget. Hahaha. Kamu kira aku akan percaya begitu saja? Bisa saja kamu menyuruh orang untuk meneleponku. Kamu baik sekali mengingat ulang tahunku. Tapi lelucon seperti itu tidak lucu! Maka aku memarahi orang yang meneleponku itu. Tapi … orang itu kemudian mengirimkan fotomu yang sedang tergeletak di ranjang rumah sakit dengan luka di sekujur tubuhmu. Ya TUHAN!

Aku bergegas berlari menuju rumah sakit dimana kamu dirawat. Dimana UGD itu? Ya Tuhan, aku panik sekali. Sahabatku! Kenapa ini semua terjadi padamu! Aku makin sulit bernapas. Rasanya ada sesuatu yang menghambat saluran pernafasanku. Dari kejauhan aku melihat tulisan “Unit Gawat Darurat”, maka aku bergegas berlari kesitu. Lagu itu semakin keras memenuhi otakku. Kepalaku pusing. Semua kenangan tentang kita berputar di kepalaku. Semua pikiran buruk kemudian memenuhi hati juga pikiranku. Tidak! Aku tidak mau kehilanganmu!

Dari kaca pintu UGD, aku melihatmu. Aku melihatmu yang sedang terbaring dengan semua tali-tali jahat itu. Aku melihatmu yang sedang dipenuhi luka. Aku tergugu. Tangisku pecah saat kemudian aku masuk ke kamar itu. Kepalaku ingin meledak saat melihat garis putus-putus di layar itu telah berubah menjadi garis lurus. KENAPA KAU MENINGGALKANKU? Kenapa kau pergi tepat seminggu menjelang ulang tahunku. Kamu jahat! Semua jahat! Lagu itu … lagu itu tetap terngiang di kepalaku.

Can you hear me
There’s a rainbow always after the rain…


                Lagu itu membohongiku!


*Diinspirasi dari lagu Rainbow - David Archuleta
Ditulis oleh@ulyauhirayra dalam http://ulyauhirayra.wordpress.com

No comments:

Post a Comment