Saturday, September 29, 2012

Why Don't We Go

Meja bernomor 23. Sore ini, pukul 16.00. Sambil memastikan, aku terus-menerus melirik angka di meja dan jam di tanganku. Lima belas menit lagi sebelum waktu yang telah dijanjikan. Masih belum ada apa pun di atas meja bulat dengan sepasang kursi ini, kecuali secangkir teh hijau yang sudah mulai dingin. Sejak setengah jam lalu, aku sudah di sini karena keterburu-buruan akibat rasa antusias dalam dada. Tak bisa tenang, aku lagi-lagi menggerak-gerakan gagang kacamataku. Rompi wol rajut yang menutupi kemeja putihku bahkan tak mampu menutupi rasa menggigil akibat dingin di ruangan ini. Kemudian aku tersadar, ini sebuah ketakutan. Ketakutan akan rasa bahagia yang memuncak.

Pukul 16.05, ia datang dari balik pintu kaca putar. Aku melambaikan tangan sekadar untuk memudahkannya menemukanku. Anggun dengan setelan baju bergaya klasik dan senyum di atas bibir bergincu pink lembut. Rambutnya sedikit dibuat ikal dan sesekali disematkan di telinga. Aku mengamati setiap bagian kecil dari geraknya hingga ia duduk di depanku ini. Menanyakan kabar dan basa-basi lain adalah caraku mencairkan es yang bagai terbentuk dalam keluku. Setelah memesan cangkir lain berisi teh, namun kali ini ditambah madu sesuai pesanannya, kami membuka kata.

“Agak sedikit heran, sebenarnya, ketika kemarin di kantor kau mengajak kemari. Kalau ada hal penting, kenapa tidak dibahas kemarin saja?”

“Maaf bila mengambil sedikit waktu di akhir minggumu. Hanya ingin mengajakmu pergi dan mengatakan sesuatu.” Jawabku.

“Iya?”

“Tentu saja hal yang kupikir tak bisa dibahas saat di kantor.” Aku tersenyum.

“Apa ini berhubungan dengan … kau dan aku akhir-akhir ini?”

Aku merapatkan gigi-gigiku, setengah tersenyum nyaris tertawa. Salah tingkah karena harus berada di posisi ini. Menderukan perasaan hingga nyaris menggelitik seluruh saraf tubuh. Lebih dari sekadar kupu-kupu dalam perut. Ternyata keadaan seperti ini memang mampu membuat orang setua apa pun merasa konyol. Cinta itu ada.

“Iya.” Jawabku

Ia masih menungguku dengan raut yang menggemaskan.

“Lalu apa lagi? Aku merasa gugup bila kau ingin tahu. Kupikir kau sudah tahu aku ingin mengatakan apa.”

“Apaaa?”

“Selama ini, kita berteman. Hanya saja belum sedekat sekarang. Ringkasnya, dari semua yang aku lakukan padamu akhir-akhir ini adalah karena aku menginginkanmu.”

Kutau tak perlu banyak kata penjelas atas semua keheranan atau kecurigaan karena pada dasarnya kau sudah tau apa yang akan kukatakan. Namun, semua orang butuh mendengar, bukan hanya sekadar menebak.

“Hmm … terima kasih. Terima kasih untuk hari ini dan maksud baikmu. Aku senang. Hanya saja, bolehkah aku tak menjawabnya saat ini juga?”

Aku tak ingin menunggu.

“Kenapa?”

“Kurasa tidak bisa semudah itu menjawabnya, bukan karena ragu, namun ada beberapa hal yang kupikirkan.”

Ingin kutanyakan, namun khawatir ia malah terdesak.

“Baiklah. Tak perlu buru-buru.” Jawabku dengan hati yang belum tenang.

Sore itu, aku menutupnya dengan perpisahan sementara yang seharusnya membuatku merasa bahagia atau justru sedih. Kali ini yang kurasa adalah di antara keduanya, dan rasanya jelas tak enak. Tapi aku menghibur diri dengan berpikir masih ada waktu bagiku untuk membuatnya yakin untuk menerimaku. Lima hari bertemu dan dua hari di akhir minggu terus kuhabiskan dengan ‘memujuknya’. Melakukan apa yang menurutku membuatnya luluh. Semua kulakukan, dengan caraku.

Pekan demi pekan kami kerap menghabiskan waktu bersama. Aku menyimpan satu harapan besar. Satu namun besar dampaknya. Kuharap setiap garis senyum di wajahnya setiap pagi kelak akan menjadi punyaku seutuhnya. Aku ingin tidak sekadar menjadi pelengkap sewaktu-waktu, namun untuk setiap saat. Ingin menjadi orang yang pertama ia cari saat ia menangis dan saat memberi kabar bahagia. Jangan ditanya kecemasanku. Semua kututupi dengan usaha dan kutipan-kutipan doa agar ia mau membuka diri.

Hingga minggu ke-17 sejak pembicaraan itu …

Aku tunggu kamu di tempat yang sama. Esok, jam makan siang.

Memo singkat di atas meja kerjaku. Kucari sosoknya di antara kubik-kubik riuh berisi orang-orang yang mencari nafkah di tempat kerjaku, namun ia telah lebih dulu pulang.

Siang ini, berbeda dengan saat itu. Kali ini aku yang ditunggu. Sepuluh menit menuju batas yang dijanjikan. Aku memasuki pintu kaca putar dan melihat senyum manisnya walau tanpa lambaian tangan. Kali ini tetap kugerakan gagang kacamataku untuk menutupi gundah. Gundah bertemunya dan gundah menebak jawabannya. Walau aku tahu itu; iya.

“Mungkin tempat ini membuat kita harus mengulang ingatan lalu. Entah sudah berapa lama.”

“Tujuh belas minggu.” Jawabku.

Tanpa memesan makanan atau minuman penengah kebisuan, kita sempat berdiam cukup lama.

“Terima kasih atas waktumu selama ini. Semoga tidak sia-sia. Kau sudah berbaik hati dan bersabar, sejauh ini.”

Mengapa tetap abu-abu yang kutangkap dari perkataanmu.

“Mohon jangan kira aku tak berusaha juga untuk menerimamu selama ini. Aku mencoba. Mungkin, waktu yang kita habiskan terlalu lama hingga hari ini tiba. Namun maaf, ternyata aku belum mampu mencintaimu atau bahkan menyayangimu.”

“Kenapa?” Hanya pertanyaan pendek yang mampu keluar dari mulutku.

“Kau pun pasti tak mau bila harus dipaksakan, bukan hanya sekadar mencoba, tapi hendaknya kita serius dalam sebuah hubungan. Dan, aku merasa, sungguh-sungguh, kau hanya bisa menjadi teman baikku.”

Apakah kau yakin ini jawaban atas semua detik yang telah kita habiskan bersama. Jawaban atas semua siang dan malam yang kuisi dengan harapan. Jawaban atas segala usaha yang kulakukan untuk membuka hatimu.

Ingin kuteriakkan semua kata-kata di depan wajahmu yang kerap menjadi inspirasi doa. Kutahu semua tak boleh dipaksa dan ini sudah pasti menjadi takdir kita. Tapi, semua terasa begitu sulit. Kutahan sesak dan sakitnya, di depanmu, agar tidak naik ke atas membulir jadi air mata.

Sore itu, seperti 17 minggu lalu, kita berpisah. Namun, kali ini dengan sebuah kepastian. Aku tak tahu mana yang lebih baik, pulang dengan sakitnya penolakan atau pulang dengan bimbangnya sebuah jawaban.

ditulis @desimanda dalam http://desimanda.tumblr.com | Somewhere Only we Know

No comments:

Post a Comment