Wednesday, September 26, 2012

Ini Juga Cinta!

DIANDRA

20 September 2012 | 21:23 WIB

“Kenapa?” Kedua matanya memelas menatapku. Merah.

“Aku belum siap.” Mataku berpaling. Aku tidak mampu menahan perasaan jika bertemu bola mata itu.

“Dicoba dulu dong. Pelan-pelan, ya..” Dia merayu lagi. Tubuhnya kembali mendekatiku, tangannya menyibak anak rambut yang tak sengaja terjuntai menutupi mataku.

“Aku takut, Dre..” Suaraku terasa bergetar. Jantungku berdebar melebihi normal. Tanganku pun ikut bergetar.

“Kenapa harus takut? Kan ada aku..” Suaranya terdengar pelan, bahkan hampir mendesah di telingaku.

“Aku ngantuk.” Aku putus asa. Aroma tubuhnya membuatku mati gaya.

“Kamu sayang gak sih sama aku?” Lagi-lagi pertanyaan seperti ini muncul ketika aku sedang kelimpungan gara-gara kelakuannya. Aku kembali menatap matanya.

“Aku sayang banget sama kamu.” Ujarku mengelabui. Wajahku mendadak hangat, napasnya begitu terasa, hidung kita hampir beradu.

“Ya udah, kamu buktikan dong. Yah?” Matanya berbinar-binar. Aku terus menatap matanya. Penasaran. Entah sudah berapa kali adegan seperti ini terulang dan lagi-lagi aku tidak berhasil menemukan sesuatu di matanya. Sesuatu yang mungkin bisa membantu meyakinkan keresahanku ini. Sesuatu yang mampu menjadi alasan kalau cintanya untukku benar-benar ada. Aku memejamkan mata.

“Kenapa pembuktiannya harus seperti ini?” Aku kembali menghindar.

“Aku ragu dengan semua kata-katamu itu!” Nada bicaranya terdengar kesal. Ah, pasti bakalan berantem lagi.

Aku menghela napas panjang. Mataku berkeliaran di ruang tamu apartemenku, mencari alasan lain yang sepertinya sudah habis kupakai semuanya.

“Mau kamu apa sih?” Dia bangkit dari sofa, “Kita itu seharusnya saling membuka hati. Saling melengkapi.”

Aku tak mampu lagi bicara. Mataku sudah buram dengan genangan air yang menghalanginya.

“Aku heran sama kamu. Sudah satu tahun pacaran, ciuman aja gak mau. Kamu jijik sama aku?”

Aku memilih diam. Tak ada satu kata pun yang terpikir di kepalaku. Semuanya hilang. Entahlah, sepertinya pertanyaan itu sama dengan pertanyaan yang selalu muncul dari diriku sendiri yang sampai saat ini belum ku temukan jawabannya.

Andre. Lelaki yang hampir digilai seluruh teman-teman perempuan di tempat kerjanya, bahkan Icha, teman dekatku itu secara terang-terangan bilang padaku kalau dia sangat menyukai tunanganku itu. Iya, dua bulan yang lalu aku dan dia bertunangan. Semuanya berasal dari perjodohan keluarga yang sebelumnya ku tolak mentah-mentah. Tapi entah mengapa begitu bertemu dengan keluarganya hatiku luluh juga. Ada magnet yang menarikku ke dalamnya. Ada yang berpendar hangat menyibak hatiku waktu itu, hingga akhirnya aku menyetujui semuanya dengan senyuman yang setengahnya palsu.

“Aku pulang dulu.” Suaranya membuyarkan lamunanku tiba-tiba. Belum sempat ku melontarkan kata-kata, dia sudah hilang dibalik pintu. Hatiku kembali menciut. Selalu seperti ini. Perasaan-perasaan bersalah menyudutkanku sedemikian rupa. Aku bisa saja membatalkan semua pertunangan ini jika ku abaikan pesan terakhir ibunya padaku. Dan kini aku terjebak dalam ruang dilema yang membuatku ingin hilang dari muka bumi ini. Aku menyerah. Malam ini kembali ku menangisi sesuatu yang sulit ku terjemahkan sendiri. Apakah aku mampu mencintainya?

***

ANDRE

20 September 2012 | 22:38 WIB

 “Kenapa kamu?” Tiba-tiba ayahku merebut remote TV dari tanganku. Aku menghela napas. Malas sekali rasanya harus menceritakan hal yang sama berulang kali.

“Diandra lagi?” Ayah menodongku. Matanya tak lepas dari layar TV depan kami.

“Begitulah…”

“Kenapa lagi?”

Aku memilih diam saja. Terlalu rumit untuk dijabarkan satu-satu. Kini dadaku yang terasa sesak, ingin sekali rasanya berteriak.

“Diandra itu perempuan yang berbeda. Jarang ada perempuan seperti dia di jaman seperti ini. Dia itu unik.”

Aku masih terdiam membatu. Unik? Unik apanya? Unik karena dia menolak aku cium hanya karena harus beradaptasi dulu? Sudah satu tahun lebih aku menunggunya! Bahkan dia bilang sendiri kalau dia mencintaiku! Bisa saja aku membatalkan pertunangan ini kalau saja ku abaikan pesan ibuku. Kenapa ibu begitu menginginkanku menikah dengannya?

Diandra. Ah, perempuan itu. Perempuan yang memiliki senyuman termanis yang pernah kulihat. Aku mulai menyukainya begitu pertama kali melihat senyuman itu. Hanya saja sudah cukup lama aku tak melihat senyuman itu, sekarang dia menjadi sangat dingin.

“Kalau keadaannya tidak memungkinkan, lebih baik pernikahan itu tidak ada.” Tiba-tiba ayah mematikan TV.

Aku menghela napas panjang, “Semuanya baik-baik saja kok, pernikahan itu akan tetap ada.” Aku tersenyum. Terpaksa.

Ayah menatapku kemudian merangkul pundakku, “Ibumu disana pasti bangga!”

Aku tersenyum kembali. Kali ini senyuman untuk kedua orang tuaku.

“Apakah kamu mencintai dia?” Ayah menatapku tajam.

Aku tertegun. Tak seharusnya mempertanyakan hal yang membuat kepalaku semakin mau pecah.

“Iya.” Satu kata keluar dari mulutku yang hampir kutelan kembali.

“Dan dia juga mencintaimu?”

Aku terhenyak kembali. Pertanyaan macam apa lagi ini? Justru aku sedang mencari jawaban dari pertanyaan itu.

“Yah, aku mau mandi. Seharian ini diluar terus.” Aku berdalih. Kulihat ketidak puasan tersirat dimatanya.

“Ya sudah, mandi sana. Ayah hanya ingin memastikan kamu akan baik-baik saja.” Ia kembali merangkulku. Dan aku hampir saja menitikkan air mata. Aku segera beranjak meninggalkannya, sebelum air mataku tumpah. Sepertinya tidak lucu aku menangis di depan ayahku sendiri.

Beberapa menit kemudian air hangat sudah menjalar di sekujur tubuhku. Rasanya menenangkan. Meluruhkan beribu-ribu beban yang tersimpan di pundakku. Ada apa ini? Kenapa dengan perempuan itu? Apakah aku terlihat tidak meyakinkan di depannya? Apakah aku tidak layak jika disandingkan dengannya di pelaminan nanti?

Tiba-tiba aku membenci diriku sendiri. Jujur saja, ini semua sudah menyakiti hatiku habis-habisan. Apa kabar dengan perasaanku kepada Bella yang terpaksa ku lupakan mati-matian? Perempuan yang kutinggalkan tanpa keadilan untuk hatinya. Tidak mengertikah Tuhan dengan keadaan hatiku yang sudah menyerah pada keadaan? Ketika aku mulai berusaha, sepertinya semuanya akan sia-sia, hanya aku yang berjuang sendirian, tidak dengan Diandra.

Lalu bagaimana ini? Beberapa minggu lagi pernikahan itu akan segera tiba. Apakah aku sudah siap menerima semua ini? Apakah aku benar-benar siap hidup dengannya? Apakah aku bisa membuatnya jatuh cinta kepadaku?

***

21 September 2012 | 06.18 WIB

Hujan menggerayangi pagi dengan redupnya matahari di ujung timur. Awan hitam berduyun-duyun di atap bumi, menjadi pasukan yang dibenci embun dan daun. Hawa dingin mulai merasuki kaca-kaca tinggi berjendela itu sejak tadi.

“Yakin kamu mau menikah dengannya?”

Diandra tertegun sejenak. Sudut matanya menoleh ke arah sumber suara.

“Lantas aku harus bagaimana? Menikah denganmu? Tidak mungkin.” Matanya kembali menerawang jalanan yang terbentang di depannya, “Aku sudah tertekan dengan semua kejadian yang menimpa kita selama ini. Masih kurang berdosakah kita?” Ia menyeka air matanya yang perlahan mengkristal di sudut matanya.

“Bagaimana dengan hatimu sendiri?”

Lagi-lagi pertanyaan dari sosok dibelakangnya membungkam mulutnya.

Lama dia terdiam, sampai akhirnya berujar pelan, “Aku bisa apa? Tak mungkin aku mengecewakan keluargaku. Aku juga tidak ingin melukai Andre.”

“Seharusnya kita tidak seperti ini.” Kalimat itu membuat Diandra menoleh seketika.

“Kamu pikir aku menyukai berada dalam keadaan seperti ini?”

Sosok itu tertunduk. Membenarkan kemeja yang sebagian kancingnya terlepas. Ia duduk termenung di pinggir tempat tidur itu. Ada semacam keraguan yang ia rasakan ketika harus memilih jalan yang sesuai hatinya namun tidak sepantasnya dilakukan. Bisa apa itu semua ketika cinta melaju lebih cepat dari segalanya?

“Cinta yang baik itu tidak menyakiti siapapun. Seharusnya tidak ada yang tersakiti disini, jika saja kita tak pernah bertemu.” Ia berujar pelan.

Diandra menghampirinya. Sepasang mata itu membius hatinya lagi. Menatapnya hangat. Ada kerinduan yang tersirat lantas mendekap hatinya erat. Diandra membalasnya dengan suka cita. Mata ini, mata yang selalu meneduhkan, yang menjanjikan tak sekedar cinta, yang memberikan segaris nyawa baru baginya setiap hari. Tapi untuk apa jika segalanya menjadi tak berarti lagi jika dihadapkan dengan keadaan ini?

“Aku mencintaimu..” Suara itu berbisik lirih ditelinganya. Ada keperihan yang menjalar dari tenggorokannya. Perasaan bersalah telah menusuk hatinya berkali-kali selama ini. Kedua tangannya merengkuh tubuh Diandra, mencari keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Lebih baik susah seperti ini. Daripada aku sakit karena kehilanganmu.” Diandra berujar lirih didekapan dada lelaki itu.

“Aku harus pulang, Andre mungkin sudah bangun dan mencariku.” Lelaki itu melepaskan pelukannya.

“Aku tidak pernah bisa mencintai anakmu itu.”

“Aku tahu.”

Kedua bibir itu bertemu. Menyumpahi cinta yang mereka yakini. Mengikrarkan rindu yang selalu dijanjikan ada selamanya. Sepasang hati itu terikat. Menyatu diantara buih-buih penyesalan dan kepedihan. Bergumul dalam ruang kemunafikan. Bisa apa manusia ini ketika cinta berhasil hinggap di mata dan hati mereka?

Percaya padaku ini bukan nafsuku..

Perasaan yang utuh dari dalam hatiku..

Percaya kataku ini bukan akalku..

Keinginan yang tulus tuk dapatkan hatimu..


ditulis @jujju_ dalam http://nalanafka.tumblr.com | Ini Cinta

No comments:

Post a Comment