Saturday, September 29, 2012

Harap

Sebenarnya kami baru bertemu sekali. Aku dan laki-laki itu. Harap, namanya. Bukan. Bukan Harahap, tapi Harap. Dia bukan dari suku Batak. Tak pentinglah darimana asalnya, karena bukan itu yang membuat pertemuan itu menjadi awal sebuah cerita.

Harap tidak termasuk dalam hitungan laki-laki tampan, tapi dia tidak juga buruk. Perawakannya tidak tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Kulitnya tidak putih, tapi bersih. Selera humornya? Well, kau pasti tahu bagaimana ketika perempuan jatuh cinta, bukan? Bahkan cerita yang seharusnya dapat membuat matamu mengantuk karena terlalu membosankan sekalipun dalam membuatmu terjaga semalaman dan mendadak menjadi lucu. Selera humormu mendadak jauh lebih rendah dari standarmu. Dan kamu rela menurunkan standarmu karena ingin menyenangkannya. Karena hatimu butuh diisi, dan makanan seperti nasi Padang atau sate tidak dapat membuatnya kenyang. Dan ketika itu, hanya dia yang sanggup membuatmu tertidur pulas karena hatiku buncit kekenyangan.

Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Sepi. Beberapa orang menganggapku tak pernah punya masalah yang cukup berarti, karena aku selalu tertawa. Mereka tidak tahu, bahkan badut yang paling lucu di dunia sekalipun sering menangis di balik bedaknya yang tebal, matanya yang jenaka, hidungnya yang bulat merah, dan senyumnya yang lebarnya melebihi sungai Kapuas.

Lalu setelah pertemuan pertama itu, hari-hari dan malam-malam kami diisi dengan percakapan-percakapan dungu yang menghangatkan hati. Satu, dua, tiga, mungkin tidak sampai sepuluh hari sampai akhirnya aku, Sepi, menyadari bahwa ternyata Harap itu bukan sosok yang nyata.

Aku sendiri sampai sekarang masih belum paham betul siapa sebenarnya laki-laki yang aku temui malam itu, atau apakah aku benar-benar bertemu dengannya. Aku masih ingat betapa menyenangkannya berada dalam pelukannya. Di bawah lampu jalanan yang lumayan redup kami berpelukan. Juga betapa manisnya bibirnya. Rasanya lebih memabukkan dari madu yang diambil dari dewi para lebah, yang dicampur arak dari anggur di taman Babilonia.

Lalu datanglah hari-hari di mana ia tak sekedar mengenyangkan hatiku, tapi juga mengisi kepalaku dengan sekumpulan awan, sampai akhirnya aku ingin terbang lebih tinggi lagi, tapi dia menjatuhkanku tanpa ampun dari langit ketujuh. Aku patah.

Ternyata dia tidak mencintaiku, dan hanya menikmati keberadaanku sebagai pengisi hari-harinya yang kosong dan hatinya yang masih tersangkut di sebuah kapal kecil yang sudah meninggalkannya. Dia masih menaruh jangkarnya di sana. Aku tentu saja tidak dapat bersaing dengan seseorang yang pernah diajaknya merajut layar kapal kecil itu. Tadinya aku pikir aku adalah sebuah pelabuhan, tapi ternyata baginya aku hanya semacam ruang untuk merokok di sebuah pelabuhan yang belum ditentukan namanya.

Singkat cerita, hingga hari ini aku masih mencari tahu siapa laki-laki yang aku temui malam itu, atau apakah aku benar-benar pernah bertemu dengannya. Dia begitu nyata bagiku saat itu: Sosoknya, kata-katanya, pandangannya, pelukannya, ciumannya. Ah, tapi mungkin saja memang dia pernah hadir untuk menjadi tiada, atau dia tidak pernah hadir untuk menjadi selalu ada?

Sebenarnya kami baru bertemu sekali. Aku dan laki-laki itu. Harap, namanya. Bukan. Bukan Harahap, tapi Harap. Dia bukan dari suku Batak. Tak pentinglah darimana asalnya, karena bukan itu yang membuat pertemuan itu menjadi akhir sebuah cerita.

ditulis @Dear_Connie dalam http://poeticonnie.tumblr.com | Kissing A Fool

No comments:

Post a Comment