Thursday, September 27, 2012

Ketidakwarasan Nino


Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku,

Hingga membuat kau percaya,

Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku,

Selamanya… Selamanya…

Suasana sore itu begitu tenang. Belai lembut angin menjatuhkan daun-daun yang sudah menguning. Terlihat seperti rintik hujan di bawah pohon yang rindang.

Nino. Topi menutupi separuh wajahnya. Jaket kulit menyembunyikan tubuh kurusnya. Dan kacamata hitam menyamarkan tatapan matanya, pada seorang gadis yang tengah duduk bersama tiga orang lain. Mungkin mereka teman gadis yang bernama Nikha itu.

“Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!” pekik Nino dalam hatinya.

Selalu berakhir seperti itu. Nino membiarkan Nikha pergi tanpa ada sepenggal kalimatpun yang dia ucapkan. Walaupun sama-sama tidak mengenal, harusnya Nino berani memperkenalkan diri, kalau dia benar-benar cinta.

***

Hari berbeda, walaupun rasa dan debar itu tetap sama. Masih bergelut dengan sore ketika Nino menunggu Nikha keluar dari gerbang kampusnya.

“Hari ini rencanaku harus berjalan lancar!” desah hati Nino, si pria berkulit putih itu.

Kata orang, hanyalah neraka yang termanipulasi oleh indah surga jika sebuah rasa cinta tidak bisa diungkapkan. Seperti itu juga yang ada di benak Nino. Bagaimanapun caranya, minimal hari ini dia harus berkenalan langsung dengan Nikha.

Di kala hari resah, seribu ragu datang memaksaku

Rindu semakin menyerang

Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu

Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh..

Nino mulai melangkah ketika Nikha sudah terlihat dari kejauhan. Masih bersama teman-temannya yang kemarin.

Langkah itu semakin mantap, semakin mendekat. Hanya tinggal beberapa jarak lagi Nino akan sampai tepat di hadapan Nikha.

Tapi…

“Hai, Yang. Gimana kuliahnya?” seorang lelaki menyambut Nikha dari dalam mobil, lalu keluar dan memberikan kecupan di pipi Nikha.

“Sukses dong UTSnya. Makan yuk, Yang. Aku laper.” jawab Nikha.

Apakah laki-laki itu kekasih Nikha? Tanya itu sempat menghentikan sejenak langkah Nino untuk mendekati Nikha, tapi tidak lama. Beberapa detik kemudian Nino sudah benar-benar sampai di dekat Nikha.

Nino tak mengeluarkan satu patah katapun ketika ada di dekat Nikha. Tapi, jatuhnya Nikha ke hamparan tanah dengan punggung bersimpah darah dan satu belati yang menancap sangat dalam, mampu membuat sikap tenang Nino menjadi teriakan gempar seluruh orang yang melihat Nikha, gadis yang terkenal cerdas di kampusnya.

Kaki-kaki kecil itu mampu berlari dengan cepat ketika beberapa orang mengejarnya. Topi, jaket kulit, dan kacamata hitam setidaknya akan membuatnya aman karena mungkin saja tidak akan ada yang mengenali Nino ketika semua itu dilepasnya nanti.

“Woi! Bangsat! Berhenti lo!” teriak salah seorang yang mengejar Nino. Tapi percuma, tubuh kecil Nino mampu menyulitkan kejaran mereka.

“Nikha, kamu mati sebelum aku sempat menyatakan cinta… Tapi, maaf karena aku yang melakukannya. Aku cemburu melihatmu sudah termiliki, karena hanya aku yang boleh memilikimu.”

***

Malam gerimis itu Nino nampak gelisah setelah pulang dari pemakaman Nikha sore tadi.

Iya, Nino ke sana. Tentu saja dengan dandanan yang berbeda. Tidak ada siapapun yang mengenalinya.

“Nikha! Nikha! Nikha!” teriak Nino di dalam hatinya.

Dengan sigap, diambilnya kunci mobil dan dimasukannya beberapa peralatan yang dia perlukan ke dalam bagasi. Masih dengan keadaan gelisah, dia menyetir dengan minibus berwarna merahnya.

***

TPU Kembang Setaman, 23.36 WIB.

Nino berjalan mengendap. Dia terlihat seperti maling yang akan… ups! Dia memang maling, yang akan mengambil mayat dari dalam tanah kubur.

“Mas! Malem-malem ngapain ke makam? Mau cari togel?” tegur seorang penjaga makam.

“Saya mau ke kuburan baru itu, Pak. Ada yang ketinggalan. Mau saya gali lagi.” jawab Nino dengan nada santai.

“Mau digali lagi katamu?”

Tanpa banyak berbasa-basi, Nino dengan sangat emosi mengibaskan cangkul yang dibawanya ke kepala orang itu. Tubuh itu pada awalnya masih kelonjotan, sebelum akhirnya benar-benar kaku dijemput maut.

Dan Nino melanjutkan misinya dengan lancar…

Biar awanpun gelisah,

Daun-daun jatuh berguguran,

Namun cintamu kasih, terbit laksana bintang

Yang bersinar cerah menerangi jiwaku…

(D’Cinnamons – Selamanya Cinta)

Ternyanyikan secara lirih, bukan dengan nada cinta, tapi duka…

***

Sudah seharian ini Nino bergelut dengan jasat Nikha yang sudah mulai membusuk. Dibelainya sesekali, dan dipungutnya satu per satu belatung yang mulai keluar dari tubuh mulus Nikha.

“Dulu sewaktu kamu hidup, aku pingin banget bisa kayak gini, Nik,” celoteh Nino. “Bisa belai kamu. Bisa pegang pipi kamu. Bisa cium bibir kamu juga…” lanjut Nino sambil mengelus bibir mungil Nikha.

Dok.. Dok.. Dok..!!!

Ritual gila Nino sementara terhenti ketika didengarnya ketukan pintu rumah yang dikontraknya. Kepalanya menoleh, matanya menatap tajam persis seperti seorang pembunuh di film bergenre thriller.

“Berisik.. Ganggu orang pacaran..” gumam Nino.

Perlahan dia mendekati pintu dengan cara mengendap. Dibukanya sesenti horden, dan terlihat jelas satu mobil polisi dan tentunya seorang polisi itu sendiri di depan pintunya.

Nino panik dengan sendirinya ketika mendapati kenyataan yang harus dihadapinya. Dia dengan cepat berjalan ke dalam kamar, dan mencari apapun yang bisa dia gunakan sebagai alat penyamaran.

Dengan lues, dioleskannya satu lipstick berwarna merah muda ke bibirnya. Baju yang tadinya bermotif kotak-kotak, kini sudah berganti menjadi gaun sederhana sepanjang lutut. Tidak lupa, dia melepas satu bebat yang dia ikat kuat di dadanya. Dan… payudara Nino sekarang menggunung bak perawan yang siap dicumbu, walaupun dengan rambut pendek yang disisir menyamping, dirapihkan dengan jepit kecil bermotif mawar merah muda.

“Iya sebentar..” jawab ketukan pintu polisi oleh Nino dengan suara yang sangat terdengar wanita.

“Permisi, Bu. Apa benar ini rumah Bu Desi yang dikontrak oleh Elnino Putra?”

“Iya benar ini rumah Bu Desi, tapi yang nyewa rumah ini saya, Pak. Helenina Putri.” jawab Nino… Nino?! Atau Nina?

“Bisa saya lihat KTP Anda, Bu?”

“Bisa, Pak. Tapi, umur saya masih dua empat, jangan dipanggil Bu.” balas Nino cengengesan sembari memberikan KTP-nya kepada polisi itu.

“Helenina Putri. Perempuan. Duapuluh Maret, tahun delapanpuluh delapan..” gumam polisi yang didadanya terbordir nama Yudha Anggara. “Boleh saya masuk, Mbak?”

DEG!! Masuk? Lalu, bagaimana dengan Nikha?

Tanpa diberi izin, polisi bernama Yudha itu mulai melangkahkan kakinya menyusuri setiap ruang yang ada di rumah kecil itu. Dari ruang tamu, kamar mandi, dan kamar Nino.

Sempat sejenak polisi itu tertegun dalam kejut ketika bau busuk melumat hidungnya. Keterkejutan bertambah ketika langkah kaki mengantarnya sampai di kamar Nino. Di sana ada mayat Nikha.

Tapi hanya berakhir di situ setelah satu kain basah oleh cairan bius menyumpal mulut dan hidungnya, dari bekapan tangan Nino.

“Jangan lihat apa yang aku lakukan… Tapi pahami tujuan apa yang aku inginkan untuk apa yang aku lakukan…”

***

Mata itu menyipit ketika seberkas sinar mentari sore masuk ke celah-celah kaca di jendela. Gemericik suara air mengumpul di gendang telinga. Tak kalah mengejutkan, bau busuk terasa menyumpal di ujung hidung.

Yudha terbangun dengan tubuh yang tiba-tiba menggeliat kesetanan. Tangannya terikat, mulutnya tersumpal kain. Raganya nampak jelas sedang berada di samping mayat yang hampir membusuk, membuatnya merasa mual setengah mati.

Pintu kamar pelan-pelan terbuka, Nino masuk ke dalamnya, hanya dengan lilitan handuk yang menutupi tubuh basahnya. Nino masih belum terlalu sadar kalau Yudha sudah bangun dari biusnya. Dengan santai, Nino membuka lilitan handuknya, dan memperlihatkan semua bagian tubuh kewanitaannya.

Ya… Nino adalah Nina. Dia wanita seutuhnya. Walaupun dia menyukai sesama jenisnya. Nikha.

Itulah yang membuatnya sulit berkenalan dan menyatakan cinta kepada Nikha. Tapi, dengan jasat Nikha yang sudah tak bernyawa, dia bisa mewujudkan semua fantasi yang ada di benaknya terhadap Nikha.

Nina mulai mengenakan pakaian kelelakiannya. Dengan hanya memakai jins dan kaos, tentu saja setelah dadanya terbebat, Nina begitu terlihat seperti seorang lelaki.

“Nggg… Ngggg…” suara geraman Yudha menyadarkan Nina.

Nina yang tengah merapihkan rambutnya dengan mengusapkan sedikit jel, terkaget menyadari bahwa Yudha sudah tersadar.

Nino, atau Nina sekarang kita sapa, sempat beberapa saat terdiam memandangi Yudha, sebelum akhirnya dia terisak di hadapan Yudha.

“Please, Yud, bantuin gue. Gue nggak mau masuk penjara…”

Tapi Yudha masih saja mengerang karena mulutnya tersumpal sebuah kain. Nina membukanya ketika Yudha setuju untuk tidak melakukan hal apapun saat sumpalan di mulutnya terbuka nanti.

“Keluarin gue dari tempat ini! Cepet! Keluarin gue!!” rancau Yudha ketika sedetik lalu sumpalan di mulutnya terlepas.

Sebagai seorang polisi, tentunya dia sudah terbiasa melihat hal seperti ini. Tapi ini begitu berbeda. Sangat berbeda.

Begitu tubuh Yudha sudah berpindah ruang, walaupun masih dalam keadaan terikat, napasnya terengah-engah ngeri.

“Kenapa bisa seperti ini? Kenapa bisa senekat ini??!” tanya Yudha bernada tinggi.

“Cuma gue yang boleh ngedapetin Nikha! Nggak ada orang lain! Cuma pake cara ini gue bisa bilang langsung di depan muka dia kalau gue suka!”

“Anjrit! Lo cewek kan, Nin?”

“Iya. Terus kenapa? Apa sesama jenis itu salah? Enggak kok! Sama-sama cinta, walaupun menyimpang, nggak ada yang salah bagi gue!”

“Lo kata menyimpang, itu udah jelas salah!”

“Bagi gue, nggak ada cinta yang salah! Udah, lo jangan banyak bacot. Lo mau keluar dari sini hidup-hidup apa enggak?!” ancam Nina dengan limpahan uluh yang keluar dari matanya..

Yudha seolah mengkerut ketika satu pisau tajam menari-nari tepat di depan mukanya.

“Kalau lo mau hidup, lo janji satu hal sama gue. Lo harus bantuin gue?!”

“Mau lo apa? Apa yang bisa gue bantu?”

“Ikut gue malem ini!”

***

TPU Kembang Setaman, 22.27 WIB.

Inilah bantuan yang diinginkan Nina.

Tidak ada lagi penjaga makam ketika berita gempar terbunuhnya penjaga makam yang dikaitkan oleh hal-hal mistis. Terlebih-lebih setelah hilangnya mayat Nikha yang menjadi sorotan di hampir semua media.

“Yud, please bantuin gue.”

“Nin, gue mohon lo pertimbangin lagi. Lo psycho, Nin! Kenapa lo harus sampe kayak gini? Serahin diri ke polisi, maka lo bisa hidup tenang.”

“Lo mau mati ya, Yud?” ucap Nina ketika satu ujung pistol yang didapatnya dari Yudha menempel tepat di kening Yudha.

“Oke, oke, Nin! Gue lakuin apa mau lo!” tegas Yudha.

Sesaat setelahnya, dibawanya mayat Nikha kembali ke liang kubur itu. Diletakkan secara rapih seperti sedia kala. Dari atas, Nina terlihat tersenyum lega, sebelum dia akhirnya ikut menata diri dalam liang kubur Nikha.

“Yud, sekarang lo bisa kubur gue hidup-hidup. Jangan ngerasa bersalah, Yud. Gue seneng banget bisa ngelakuin ini. Gue abadi sama Nikha!”

Dan Yudha menuruti permintaan gila Nina..

Kini dengan sangat bahagia Nina memeluk erat jasat Nikha. Mereka sama-sama dipeluk dinginnya tanah merah. Perlahan-lahan tak ada lagi udara, tapi Nina sangat menikmatinya, sampai napasnya benar-benar putus tak bernyawa.

Itulah gilanya cinta, ketika mata buta tak melihat, atau telinga tuli tak mendengar. Parahnya, logika dan kewarasan pun lenyap termakan oleh cinta.

Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku

Hingga membuat kau percaya…

Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku

Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku…

Tuhan, jalinkanlah cinta…

Bersama… Selamanya…

***

Keesokan harinya, makam yang sudah rapih itu dibuka kembali untuk kedua kalinya oleh pihak kepolisian. Yudha ada di sana, tapi dia tidak mengucap apapun kepada atasannya.

“Biar mereka sendiri yang tau…” gumam Yudha.

Kini ada dua mayat yang terbujur kaku di liang kubur tersebut.

Kejadian gila ini membuat kewarasan Yudha memudar. Dia sering kali memurung dan melamun, sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai seorang polisi.


*)Terinspirasi dari lagu Selamanya Cinta - D'Cinnamons
ditulis @misterkur dalam http://samuderakering.wordpress.com

No comments:

Post a Comment