Sunday, September 2, 2012
Bangunkan Aku Ketika September Usai
Aku : “Gimana persiapan pergi?”
Send
Bip…
Dia : “Semua beres tinggal berangkat.”
Aku : “Bisa kita ketemu dulu sebelum kamu pergi?”
Send
Bip…
Dia : “Maaf Ka, aku ga bisa.”
Aku : “Owh. Oke. Hati-hati ya. Sampai ketemu lagi.”
Send
Bip…
Dia : “Jaga diri baik-baik ya!”
Aku menjawab dalam hati, “Siap sobat!”
Ah, satu sahabatku akan pergi jauh. Demi keluarga yang jadi tanggungannya dia rela kerja jauh ke ujung dunia demi uang yang mampu menghidupi keluarganya. Aku menyimpan harap masih bisa cerita semua saat dia di tengah lautan sana.
Mei 2010
Aku menerima banyak sapaan darinya. Sekedar bertanya kabar diri dan juga hati.
Ya, tidak lama sebelum dia pergi, aku mengalami patah hati. Beberapa bulan sebelum acara akbar pernikahan, aku dan ‘boneka beruang’ku dipisahkan. Dipisahkan, bukan sepakat berpisah. Bukan pula salah satu dari kami ingin berpisah. Kami benar-benar dipisahkan.
Aku bercerita padanya. Aku akan menyerah. Tidak akan lagi memaksakan pernikahan yang tidak lagi mungkin terjadi. Meski gaunku sudah jadi.
Tetiba, dia, sahabatku di ujung dunia berkata, “Mungkin kita berjodoh.” Dan aku hening terdiam. Berusaha mencerna kalimatnya. Tapi mungkin juga. Siapa yang pernah membaca skenario tulisan Tuhan?
Agustus 2010
Dia, sahabat tampanku pulang dari petualangannya selama 365 hari lebih 5 jam 48 menit dan 45,1814 detik. Kami bertemu. Saling mengungkapkan isi hati. Dan akhirnya bergenggaman tangan maju melangkah bersama. Demi rencana 365 hari lebih 5 jam 48 menit dan 45,1814 detik ke depan. Menikah di tahun berikutnya.
September 2010
19 September. Usianya nyaris kepala 3. Dan dia mampu mengucapkan janji padaku, pun kuyakin pada Tuhan yang mendengar. Dia tak sabar bertemu tahun depan, untuk bersanding denganku di pelaminan. Aku memiliki akhir tahun yang bahagia. Aku menggenggam hatinya sebelum kelak kupeluk raganya.
2011
Jutaan kisah terjadi dalam penantianku atas dirinya. Tapi hanya ada satu janji kudekap, satu hati kujaga. Tetap atas janji menantinya kembali pulang dari perjuangan dan menyandingku di pelaminan.
Tapi bodohnya aku terlalu percaya.
Juli 2011
Di ujung dunia sana. Tanpa aku ketahui pasti. Sesuatu terjadi. Pada akhirnya disebut pengkhianatan hati.
Dari mata-mata, akhirnya aku tahu.
Agustus 2011
Buzz
Dia : “Sayang, rencana kita November ini, semoga lancar.”
Aku : “Aku ga sabar.”
Dia : “Akhir bulan ini, aku pulang. Jemput aku.”
Aku : “Pasti. Aku rindu.”
14 Agustus 2011
Happy anniversary
Akhir bulan, dia pulang. Tatapan matanya menghilang. Seluruh dunia sepertinya menertawakan aku. Aku rasa begitu. Genggaman tangannya merenggang. Dia lalu jalan melenggang di hadapan. Aku hanya mampu menatap punggungnya yang bidang. Ada apa denganku? Atau ada apa dengannya? Apakah pengkhianatan itu benar adanya?
5 September 2011
Aku duduk merunduk dalam diam. Menunggunya mengatakan kenyataan. Lalu aku menangis menjerit masih dalam diam, mendengarkannya perlahan mengucapkan kebohongan.
Sayang. Segala yang kita (atau hanya aku) persiapkan selama 365 hari lebih itu mampu hancur dalam semalam. Hanya denga satu tindakan nyata serupa pengkhianatan.
1 September 2012, pagi hari.
Aku memulai hari. Menghitung hari. Mengingat setiap langkah yang terjadi di bulan ini. Tahun demi tahun. Bulan ini dia mengucap janji. Bulan ini dia bertambah usia. Bulan ini, dia pun yang mengakhiri janji dan melangkah pergi.
Tuhan, bulan ini berat sekali. Aku mohon. Bangunkan aku ketika September Usai. Atau, buat aku lupa.
… As my memory rests but never forget what I lost. Wake me up when September ends …
ditulis @hotarukika dalam http://hotarukika.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment