Sunday, September 2, 2012

Bersyukur Itu Mudah


    I wanna talk about your simple things

    the shoes you bought the clothes you wear

    I wanna talk about your happiness

    the things you eat the things you waste


Suatu pagi…

Ada yang terbangun oleh kerasnya bunyi jam weker. Suara pembantu yang menggedor pintu kamar turut menjadi alarm tambahan. Reminder di ponsel mengingatkan hari telah berganti disertai sederet kegiatan yang harus dilalui. Dimulai dengan rapat bersama klien ini dan ditutup pertemuan dengan kolega itu.

Pagi begitu dibenci sebagian orang. Pemanas air tak mampu menghilangkan dinginnya udara pagi. Kemeja berharga jutaan rupiah tak bisa memperbaiki suasana hati. Dan sarapan yang terhidang di meja makan menjadi sia-sia karena si selera sedang entah kemana.

    So let me take you to the other side

    see what you have been missing

    about the people that you’ll never hear

    about the men that were never there

Pagi itu, di atas tanah yang tak jauh berbeda, di bawah langit yang sama…

Ada manusia lain yang terbangun karena suara pasangan suami istri yang saling berteriak. Perumahan kumuh yang hanya disekat oleh triplek jelas menjadi penghantar baik gema pertengkarannya. Gedoran di pintu oleh pemilik kontrakan rumah adalah pengingat bahwa hari pembayaran cicilan sewa semakin dekat. Tumpukan koran pagi ini menjadi penanda perusahaan mana yang harus didatangi untuk menguji nasib sepanjang hari.

Sebagian orang begitu mencintai pagi. Meski harus berjalan beberapa puluh meter untuk sampai di tempat mandi. Karena rumah sendiri hanyalah sepetak kamar dan air untuk membersihkan diri pun harus berbagi. Kemeja dengan beberapa jahitan di ujung lengan menjadi satu-satunya layak pakai dibanding sisa pakaian lain yang sudah lusuh dimakan waktu. Ditemani sepotong pisang goreng hangat buatan ibu yang juga akan dijualnya di pasar, hari terasa begitu syahdu.

    O, nobody’s hears them complaining

    Bout the hours that they spent

    no money to pay rent

    O, You’re dancing with those fancy shoes

    while their working overtime, can’t even buy your laces

Sore itu,

Beberapa orang sedang mengeluhkan macetnya jam pulang kantor dalam mobil pribadi. AC mobil tak bisa mendinginkan panasnya emosi. Sang supir yang mengendarai mobil akhirnya menjadi pelampiasan kekesalan diri.

Sebagian lainnya tengah mengusap peluh atas map lamaran yang ditolak sekian kali. Berdiri berhimpitan berdesakkan dengan manusia lain dalam metromini. Meski rezeki belum mau berkenalan hari ini, bisa bernapas hingga malam menemui, patut disyukuri.

    A dollar a day to feed a family

    and sir blair said its not poverty

    and most of you don’t even care

    you see them and they’re not even there

Malam itu,

Sebagian orang ada yang berusaha tidur untuk menahan lapar. Hingga lelap mendengkur walau terkena rembesan hujan dari atap kamar yang bocor. Sebagian lainnya menggerutu karena menu makanan tidak sesuai pesanan. Lalu pergi tidur dengan si hati kecil bertanya “kapan mau belajar bersyukur?”

    They’re ghost in the woods, zombies in the factory

    phantoms from your past, undead under your bed

    If You keep, closing eyes and ears

    You’ll be a beast, with no worries

Bersyukur? Bersyukur terlihat begitu sulit dikerjakan. Apalagi oleh manusia yang memang kodratnya senang mencari pembenaran atas apa yang dilakukan. Ya kurang ini, ya kurang itu, ada saja kurangnya hingga kita belum saatnya untuk bersyukur. Untuk mengucap terima kasih dan berhenti mengeluh.

Sebenarnya seberapa banyak hal yang dimiliki tidak menjadi faktor yang memudahkan bersyukur. Karena toh seperti disebutkan sebelumnya, kita-manusia, suka sekali mencari kekurangan hingga bersyukur tepatnya dilakukan belakangan. Patokannya bukan dari hal-hal yang menempeli diri, tapi dari kemampuan si hati. Bagaimana kemampuannya untuk bisa rendah hati atas segala yang dipunyai dan mampu berbesar hati untuk semua yang tak mampu dimiliki.

Bersyukur itu mudah. Selama kita mau sebentar melihat ke bawah dan menyadari ada yang lebih rendah. Selama kita mau sejenak menengok ke samping kiri kanan dan menyadari ada yang masih serba kekurangan. Selama kita mau mendongak ke atas dan mengucap syukur atas nasib yang begitu mujur.





ditulis @eigent dalam http://eigentmaulana.tumblr.com

No comments:

Post a Comment