Saturday, September 8, 2012
Di Suatu Petang
Aku jejakkan kaki ini di kotamu, sayang,
Katamu kau akan selalu menungguku datang,
Sekarang aku datang saat habis terang,
Berjalan menuju tempatmu kala petang.
Dahulu kita selalu berdekatan dalam waktu dan ruang,
Sampai akhirnya kamu memutuskan untuk pulang,
Kita berpisah dalam jarak yang terbentang,
Seperti inilah saat-saat di mana cinta kita akan ditantang.
Aku ingat apa yang kau pernah bilang,
Walaupun kita memiliki banyak uang,
Teruslah menyewa dan jangan pernah memiliki,
Karena di surga, tak ada yang bisa dibeli.
Waktu menua dan usia kita kian matang,
Jarak menjadi saksi kita berbagi susah dan senang,
Kita berdua sudah berusaha untuk bertahan,
Tapi garis nasib kita sudah ditentukan oleh Tuhan.
Kamu sudah berbuat curang,
Mendahuluiku menghadap Sang Maha Penyayang,
Dalam lomba hidup ini kamu telah menjadi pemenang,
Bisa lebih dulu bertemu dengan Penciptamu tanpa penghalang.
Kugali pusaramu, tanahnya kering kerontang,
Aku menemukanmu berbentuk tulang belulang,
Kupindahkan ragamu dan kubawa dengan hati-hati,
Sekarang kita tak akan terpisah lagi sampai aku mati.
It’s been a long time since I came around,
Been a long time but I’m back in town,
This time I’m not leaving without you…
ditulis @gembrit dalam http://bandarawan.wordpress.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment