Bandara Charles De Gaulle ramai seperti biasa. Pesawatku harus menunggu setengah jam lebih lama dari seharusnya, karena air traffic yang padat menjelang Natal.
Aku tiba di Paris hari ini. Ah, kota ini. Semua tentangnya membuatku jatuh cinta. Bangunan-bangunan tua bergaya baroque dan renaissance yang mempesona. Taman-taman kota yang selalu ramai. Air mancur hampir di tiap sudut kota. Menara Eiffel yang tinggi menjulang. Musium-musium dengan koleksi kelas dunia semua ada di kota ini.
Menjelang Natal adalah saat-saat kesukaanku. Sepuluh tahun lalu, aku untuk pertama kalinya menghabiskan Natal di Kota ini. Tak ada teman, tak ada kerabat, hanya salju dan gemerlap lampu yang menemaniku saat itu. Semuanya begitu indah. Tetapi mungkin akan lebih indah kalau aku bisa menikmati kota ini dengan seseorang disampingku.
Lima tahun lalu aku bertemu dengan Anggi. Ia orang yang sangat periang. Selalu tersenyum dan suka sekali berdansa. Kami bertemu tak sengaja kemudian jatuh cinta. Anggi berkuliah di Universitas Indonesia. Ia belajar sastra Perancis. Anggi sangat ingin pergi ke Paris. Ia belum pernah kesana. Anggi ingin sekali melihat gemerlapnya Paris di bulan Desember. Aku berjanji pada Anggi akan membawanya ke Paris lagi suatu saat. Aku akan membawanya menyusuri Sungai Themes. Lalu aku akan mengajaknya berjalan-jalan di tempat paling indah menurutku, Champs-Elysées.
Anggi betul-betul terobsesi dengan Paris. Di kamar kami, dia membuat sebuah ‘kuil’ tempatnya menyimpan semua benda-benda yang berbau Perancis. Miniatur menara Eiffel dan Arc De Triomphe menjadi pusat dari kuil itu. Lalu ia meletakan sebuah celengan yang bertuliskan “Paris Fund”. Di sudut lain ada dalam sebuah bingkai foto kayu, ada sketsa wajahku dan wajahnya yang ia gambar sendiri. Anggi sering bersenandung “Les Champs-Elysées “ tiap kali ia memandangi kuil pemujaannya itu.
“Ben, pokoknya apa pun yang terjadi kita harus ke Paris. Berdua. Kamu dan aku.” Begitu katanya hampir tiap saat.
“Ben, aku ingin suatu saat kita tinggal di Paris. Tiap sore kita berjalan kaki ke Jardin du Luxembourg. Lalu malamnya kamu bawa aku ke Cafe de Paris. Lalu pulangnya kita bergandengan tangan di sepanjangan Champs-Elysées sampai ke Arc de Triomphe.” Katanya lain waktu.
Aku selalu tersenyum setiap kali Anggi berkhayal tentang itu. Pupil matanya membesar begitu semangat. Nada suaranya mampu membawaku melayang bersama khayalannya.
Suatu hari dua tahun lalu, Anggi jatuh sakit. Suhu tubuhnya naik hingga 39 drajat. Aku membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang Anggi kena demam berdarah dan harus di rawat. Aku menemaninya siang malam. Anggi terlihat begitu lemah. Ia tak ceria seperti biasanya. Ia memintaku membawa miniatur Arc de Triomphe dari rumah. Katanya benda itu membawa keberuntungan.
Pada pagi hari ketiga Anggi di rumah sakit, aku tertidur karena kelelahan di pinggir tempat tidurnya.
“Bonjour monsieur..” Sapa Anggi membangunkanku. Ada senyum yang sudah tiga hari in menghilang dari bibirnya.
“Kamu sudah baikan?” Tanyaku.
“Udah donk! Yuk kita pulang!” Katanya penuh semangat.
“Hey orang sakit! Jangan banyak bergerak dulu ah.” Kataku khawatir.
“Enak aja orang sakit! Aku sudah sehat!”
Aku pindah duduk ke sisi kanan Anggi. Kepalanya bersandar di bahuku. Aku mengusap rambutnya yang tebal.
“Ben…” Panggilnya tiba-tiba.
“Ya sayang…”
“Take me to Paris.” Ucapnya serius. Tak ada tawa tak ada seringai yang selalu melekat dengannya.
“I will sayang.. I promise you…”
_,,_
Jalanan kota Paris macet seperti di Jakarta. Sudah hampir setengah jam aku naik bis dari Gare du Nord dan baru tiba di Place de la Concorde. Dari sini aku akan berjalan kaki menyusuri Champs-Elysées sampai ke Arc de Triomphe. Aku turun tak jauh dari Kedutaan Besar Amerika Serikat yang indah. Aku suka sekali gaya bangunannya.
Aku mulai berjalan kaki. Tempat ini, Champs-Elysées, tetap seindah ingatanku. Lampu-lampu berkerlap-kerlip, jajaran toko-toko kelontong yang dibagun khusus menjelang Natal. Pita-pita merah dan emas besar yang menghiasi hampir seluruh lampu di sepanjang jalan, serta pohon-pohon Natal yang sebagian tertutup salju yang menambah cantik suasana Champs-Elysées malam itu.
Aku mengencangkan baju hangatku dan mulai berjalan. Anggi pastilah menikmati perjalanan ini. Ia bisa berdansa di sepanjang jalan. Ia bisa bersenandung. Dan yang pasti ia akan tersenyum. Aku mampir di sebuah toko yang menjual wine hangat. Aku tak pernah menyukainya. Tapi Anggi selalu mau mencobanya. Jadi aku membelinya untuk Anggi, lalu melanjutkan perjalananku. Ramai sekali malam itu. Banyak pasangan yang menghabiskan waktu di taman-taman sepanjang jalan. Atau keluarga yang sengaja membawa anak mereka menikmati keindahan Champs-Elysées.
Aku terus berjalan dan hari semakin malam. Perlahan-lahan keramaian Champs-Elysées mulai berkurang dan akhirnya menghilang. Hanya lampu-lampu yang masih berkerlap-kerlip dengan riangnya. Aku pun sudah tiba di Arc de Triomphe. Aku selalu menyempatkan melihat “The Tomb of the Unknown Soldier” di bawah Arc de Triomphe yang dihiasi api abadi. makam ini didirikan untuk mengenang prajurit Perancis yang tewas di Perang Dunia Kedua.
Aku gembira bukan kepalang ketika menemukan pintu naik ke puncak Arc de Triomphe belum terkunci. Dengan hati-hati aku menyusup. Menaiki tangga dan akhirnya tiba dipuncak. Tak ada yang lebih indah selain pemandangan Champs-Elysées dari tempat ku berdiri. Sungguh sempurna. Lampu yang gemerlapan nampak sangat mempesona di tengah gelapnya malam.
Aku merogoh ke dalam tasku. Ada sebuah kota kayu yang kutarik keluar. Aku memandangi kotak itu.
“Anggi, aku penuhi janjiku. Aku membawamu kesini.”
Perlahan aku membuka kotak itu. Angin malam yang bertiup kencang menerbangkan abu Anggi ke seluruh penjuru kota Paris.
Tiba-tiba aku mendengar suara Anggi bernyanyi dalam kepalaku ”À midi ou à minuit.. Il y a tout ce que vous voulez.. Aux Champs-Élysées” bait terakhir dari lagu kesukaannya.
“Anggi, hari ini aku bahagia.” Ucapku dalam hati. “Karena hari ini, aku dan kamu, kita akan berada disini bersama selamanya.”
Aku menhentakan kakiku di puncak Arc de Triomphe. Aku terbang bersama alunan lagu Les Champs Elysees yang dinyanyikan Anggi. Lalu semuanya menjadi gelap… hening… dan kemudian lenyap…
ditulis @ban_daa dalam http://bandavstheworld.wordpress.com
No comments:
Post a Comment