Tuesday, September 4, 2012

KALAH


Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan cita bersama
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu

Teruntuk KAMU yang tak pernah pergi,

bahkan dalam diamku yang paling sunyi…

Kau tahu, terkadang perasaan ini membuatku sesak. Aku mencintaimu, tapi kamu tidak. Aku menyayangimu, tapi kamu mencintainya. Kau tahu seperti apa rasanya? Seperti saat kau menitipkan hatimu pada seseorang, lalu dia mencabik-cabiknya tanpa ampun. Melukai perasaan yang dengan sangat hati-hati kau jaga hanya untuknya. Dan lucunya, aku merasakan yang seperti itu setiap hari. Setiap kali aku menatapmu. Setiap kali aku mendengar suaramu. Setiap kali aku melihat kau bersamanya.

Di hatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun s’lalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu


Kadang terbersit rasa untuk melupakanmu saja. Mengikis rasa yang tumbuh di seluruh celah hatiku. Begitu ingin menghapus gurat-gurat kerinduan yang amat menyesakkan. Tapi, Kau tahu, kan? Apa yang kita inginkan, tidak selalu bisa kita lakukan. Aku ingin memalingkan wajah darimu. Tapi, sekeras apapun aku mencoba, aku tidak bisa. Bahkan untuk tidak menatapmu sehari saja, rasanya sulit sekali. Menatapmu sudah menjadi candu. Candu yang memburu. Aku mencintaimu. Katakan saja perasaanmu adalah sama. Apa itu permintaan yang terlalu sulit?

T’lah kunyanyikan alunan-alunan senduku
T’lah kubisikkan cerita-cerita gelapku
T’lah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu


Terkadang aku amat membenci perasaan ini. Perasaan yang selalu membisikiku bahwa aku seorang pecundang. Pecundang yang gagal memperjuangkan hatinya sendiri. Detak jantungku pun kerap mengingatkanku, bahwa faktanya, kau memang tak pernah mengingatku. Kau memang tak pernah menganggapku lebih.

Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….


AKU TIDAK MENYUKAIMU LAGI. Tapi, astaga! Kenapa perasaan aneh itu kerap berdiam di hatiku. Kenapa perasaan aneh yang aku tak tau namanya apa itu masih setia menemani malam-malam sunyiku. TUHAN, bantu aku menghilangkannya. Aku bahkan tak sanggup menahan bulir-bulir yang jatuh dari mataku. Apa aku selemah itu, Tuhan? Aku hanya ingin melupakannya.

Bila saja kau di sisiku
‘Kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu


Aku membencimu! Tapi disisi lain aku amat mencintaimu. Hanya kau yang bisa membuatku menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Kau! Memang hanya kau! Kau yang mengikat hatiku. Kau yang sejak mataku matamu bertemu pandang telah kuletakkan dalam sebuah tempat terindah dalam hatiku. Kau yang telah menyimpan orang lain dihatimu ….


Terkadang aku berharap kau tuliskan satu kata perpisahan yang nyata. Ya, satu saja! Sekalipun sulit bagiku melepas kau pergi. Katakan saja:

“Pergilah. Aku tak akan pernah mencintaimu.”

Maka aku akan mundur dengan hati yang lega. Sungguh ….



*) Diinspirasi oleh lagu Simfoni Hitam - Sherina

Ditulis oleh @ulyauhirayra dalam http://ulyauhirayra.wordpress.com

No comments:

Post a Comment