Thursday, September 6, 2012

Kita yang Tak Sama

     Aku untuk kamu, kamu untuk aku
   
     Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
   
     Tuhan memang satu, kita yang tak sama
   
     Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Ponselku berdering. Nada panggil khusus untuk Ruben.

“Halo. Yang, bangun. Aku udah di depan nih”

“Iya, sebentar ya” aku jawab sesingkatnya. “aaaahhh” setelah ngulet panjang, aku beranjak untuk membukakan pintu.

“Kok baru bangun sih? Kan udah jam 10 lewat. Emang tadi ga shalat subuh?”

“Shalat kok, cuma tidur lagi. Masih ngantuk banget abis ngerjain revisi skripsi” jawabku sambil berlalu ke kamar mandi, untuk sekedar sikat gigi, cuci muka dan menyisir rambut agar sedikit terlihat  segar oleh Ruben.

Keluar kamar mandi, tatapanku tertuju pada Alkitab warna biru tua milik Ruben, yang selalu ia letakkan bersebelahan dengan Al-Quran warna merah jambu milikku. Selama 3 tahun kebersamaan kami, Ruben selalu melakukan hal itu. Setiap hari Minggu pagi, setelah Ruben mengikuti misa pagi, Ruben selalu main ke kosku, sambil membawa sarapan untuk kami berdua. Kecuali saat Ruben pulang ke tanah kelahirannya, Medan, atau aku pulang ke rumah orangtuaku di Jakarta.

Lalu aku mengambil 2 buah piring, 2 buah sendok dan 2 buah gelas plastik untuk sarapan kami pagi ini dari lemari.

“Kamu beli sarapan apa, yang?”

“Bubur ayam. Ada tukang bubur ayam baru deket gereja, ngeliat antriannya sih panjang dan ramai, kayaknya enak.”

“Eh iya, bener enak. Aku suka. Minggu depan bawain bubur ayam ini lagi ya?” ucapku sambil menyuapkan bubur ayam ke mulutku.

“Iya, sayang” Ruben tersenyum. Kami adalah pasangan yang sangat suka kuliner, tanya saja semua jenis makanan yang enak di Bandung, pasti kami masih ingat betul dimana letaknya dan bagaimana rasanya secara mendetail.

“Sayang, kamu inget kan hari Sabtu aku wisuda?” tanyaku sambil menyuap kerupuk ke mulutku.

“Ya inget dong, sayang. Masa aku lupa sama hari bersejarah kamu?”

“Kamu dateng?” tanyaku sendu.

Ruben terdiam sambil menarik nafas panjang. Sementara pikiranku melayang pada saat Ruben wisuda 2 tahun yang lalu, aku hanya berani melihatnya dari kejauhan. Rangkaian bunga yang aku belikan untuknya tidak aku berikan padanya karena sudah aku buang ditempat sampah depan gedung rektorat. Ruben belum berani memperkenalkan aku kepada kedua orangtuanya. Sebagai anak tertua dari suku Batak, Ruben harus menjadi panutan adik-adik perempuannya. Dia satu-satunya penerus klen Siregar. Aku paham sekali posisi sulitnya.

“Annisa sayang, kamu udah mau ngomongin ini? Kalo mau, ayo kita omongin?” ucap Ruben dengan pelan dan hati-hati.

Aku hanya terdiam dan menunduk. Aku sadar suatu hari, kami akan dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Tapi aku ingin didampingi oleh Ruben dihari wisudaku, Ruben sangat membantu proses kuliah dan skripsi selama ini.

Sabtu, 4 Agustus 2012.

Akhirnya hari wisudaku tiba. Dengan kebaya brokat warna merah dan kain sutera warna cokelat serta rambut panjang yang digelung keatas dan make up tipis sederhana. Aku terlihat sempurna di kaca. Tapi hatiku kalut, bagaimana dengan Ruben? Ruben tidak akan berani menampakkan wajahnya, dan jangan sampai kedua orangtuaku melihatnya, bisa terjadi perang diantara riuh wisuda hari itu. Aku pernah memperkenalkan Ruben pada Ibu, Bapak, Mas Alif dan Mas Akram. Mereka sepakat untuk memaksaku pisah dengan Ruben karena alasan perbedaan agama. Sejak saat itu, aku dan Ruben berpacaran diluar pengetahuan keluargaku.

“Annisa Tri Hastari, dengan IPK 3,86, lulus dengan predikat cumlaude atau dengan pujian” Namaku dipanggil, aku berjalan naik ke podium dengan merekahkan senyum bangga, prosesi wisuda dilakukan oleh Rektor dan diberikan ijazah oleh Dekan. Ibu dan Bapak didalam gedung pasti bangga padaku, Mas Alif dan mas Akram di luar pasti mendengar namaku dipanggil dengan embel-embel sepanjang itu.  Tanpa mereka tahu, betapa berjasanya Ruben selama 4 tahun.

Selesai prosesi wisuda, aku langsung menemui Ibu dan Bapak yang duduk dibelakang bangku wisudawan/wisudawati. Aku cium tangan kedua orangtuaku penuh haru, aku lihat mata Bapak. Bibirnya mengucapkan “Terima kasih ya, Nak. Bapak sangat bangga padamu. Begitu juga dengan Ibu dan mas-masmu diluar”. Aku hanya membalas dengan senyuman dengan menahan air mata. Kami bertiga jalan keluar gedung. Aku melihat wajah kedua kakakku didepan gedung. Mas Alif dan mas Akram tersenyum ke arahku. Aku cium tangan kedua kakakku.

“Dek, bisa juga jadi sarjana hukum lo. hihi ga nyangka ya, adek gw yang doyan ngaca ini bisa lulus dengan IPK 3,86. Dengan pujian! Cumlaude, Kram. Heran gak sih lo, Kram? Gw curiga deh dia pake joki selama kuliah. Hahaha” Mas Alif menggodaku.

“Ibuuuu, mas Alif tuh!” manja kepada Ibu.

“Udah, udah. Mas Alif ayo dong foto Ibu, Bapak sm Nisa. Mumpung Nisa lagi cantik nih” Ucap Ibu

“Eh bentar, Bu. Pake ini dong. Nih Adek Annisa yang paling cantik, nih buat lo. Maaf ya cuma bisa kasih bunga, nanti kalo gw udah jadi manager bank, gw kasih bunga deposito, sekalian depositonya ya” Mas Akram menggodaku

“Aamiin, mas. Makasih ya, mas” Ucapku

“Oh iya, Nisa. Ini untuk kamu, selamat ya, Nis. Aku turut bangga padamu”  Sebuah rangkaian bunga mawar mas Donny yang jauh lebih besar dari rangkaian bunga dari mas Akram, ia berikan kepadaku.

Setelah mengambil beberapa foto di kampus dan foto studio, akhirnya kami memilih untuk pulang ke Jakarta. Kemanapun aku pergi, Ibu, Bapak, Mas Alif dan mas Akram serta mas Donny selalu mendampingiku. Manalah berani Ruben menghampiriku, tapi mataku juga tidak menemukan Ruben. Tapi Ruben tidak mungkin tidak menghadiri wisudaku hari ini.


Sebuah pesan singkat masuk ke poselku.
“Annisa Tri Hastari, selamat ya atas wisudamu. Aku bangga pada prestasi cemerlangmu. Tadi kamu terlihat sangat cantik, Nisa. Aku gak nyangka kamu mengenakan kebaya yang aku belikan. Maaf kalo aku gak berani mendatangimu, aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu, kebahagiaan keluargamu dan Donny. Sekali lagi selamat ya, Nisa. Semoga acara lamaranmu dengan Donny besok berjalan dengan lancar :)” 

Tanpa bisa aku kendalikan, pipiku basah seketika membaca pesan Ruben di KM 120 arah Jakarta.



ditulis @TantyVidiarsi dalam http://tantyvidiarsi.tumblr.com

1 comment: