Saturday, September 8, 2012

Sebuah Perjalanan


Temaram lampu mulai mengganti senja, gelap mulai menyapa. Aku duduk, terdiam. Di dalam sebuah kereta beroda. Dalam sebuah perjalanan menuju pulang.

Sebenarnya, aku membenci perjalanan, pergerakan, perpindahan, atau apa lah namanya. Ia selalu membatasi ruangku. Aku hanya bisa duduk, memandang sekilas cahaya buatan dari lampu jalanan yang tertunduk lesu. Lampu jalanan sepertinya memang tak mau menunjukkan jalan. Tak mau menerangi sebuah perjalanan. Mungkin ia ingin menjadi bulan yang selalu ada untuk malam. Tapi, mengapa aku tak bisa melihat bulan malam ini? Apakah  ia tertutup awan? Karena hujan memang senang berkunjung akhir-akhir ini.

Aku menyukai hujan, meskipun aku membenci air. Dulu aku pernah mencoba berkenalan dengannya. Saat mandi di sungai, aku menenggelamkan kepalaku. Tapi sepertinya air membenci manusia. Ia tak mengijinkanku bernafas di dalamnya. Berkali-kali aku coba, tapi ia tetap tidak mau. Dan sejak saat itulah, aku juga menjadi benci kepada air.

Aku hanya menyukai suasana yang dibawa hujan. Aku menyukai aroma bumi yang dibasahi oleh tetesannya. Seperti aroma kehidupan. Mungkin karena kehidupan memang terbuat dari perpaduan tanah dan air. Aku juga mengagumi suara jatuhnya hujan. Hampir sama dengan suara detak jantung jam. Selalu mengingatkanku akan waktu yang bisa hilang sewaktu-waktu.

Tapi aku membenci waktu. Jarumnya tajam, lebih tajam dari pisau milik tukang jagal di sebelah rumah. Ia pernah bercerita kepadaku. Bahwa pisaunya adalah ayahnya. Aku tak tahu apa maksudnya. Ia juga pernah berkata kepadaku. Pisaunya mampu menebas apa saja. Waktu sekalipun. Sempat aku menginginkan pisau itu. Tapi kemudian, aku berpikir. Apa enaknya jika kita hanya bisa menebas waktu? Aku ingin lebih.

Namun aku lebih membenci jarak. Jarak lah yang dengan semena-mena memisahkan aku denganmu. Seperti spasi yang memisahkan kata demi kata, hanya agar menjadikannya lebih berarti. Mengapa semua begitu ingin berarti bagi yang lain? Persetan dengan mereka. Aku hanya peduli dengan aku. Dan kamu. Mungkin memang benar jarak membuatmu menjadi semakin berarti bagiku. Namun apa gunanya jika aku justru tidak nyaman?

Aku membenci jarak. Karena ia selalu mengundang rindu. Ia selalu membuatku menjadi memikirkanmu. Memikirkan keadaanmu, memikirkan baju apa yang dikenakanmu, memikirkan apa yang kamu lakukan, hingga memikirkan tentang pikiranmu. Membuatku selalu bertanya-tanya, apakah kamu sedang di dalam sebuah perjalanan? Dan apakah kamu juga membenci jarak dan waktu?

Terkadang, aku ingin berpindah ke dunia yang lain. Dunia maya. Dunia yang tak mengenal jarak. Aku bebas mengunjungi rumah mayamu kapan pun aku mau. Membaca aksara-aksara buatanmu yang selama ini menjadi inspirasiku. Tapi tetap saja. Semua itu hanya maya. Maya tak pernah seindah nyata. Keindahan di dunia maya, tak pernah menjadi nyata. Kenyataan itu pahit.

Aku pernah bercita-cita menjadi seorang pengendali waktu.  Bisa mengelabuhi waktu sesukaku. Ya, bukan hanya menebasnya. Sekarang pun, aku masih sering membayangkan, bagaimana jadinya jika aku benar-benar bisa menghentikan waktu. Bukan, yang aku maksud bukanlah sekedar menghentikan jarum jam. Tapi menghentikan semuanya. Dari pergerakan partikel terkecil seperti atom, hingga benda-benda seperti bintang matahari. Aku ingin membekukan semesta.

Logikanya, jika waktu bisa dikendalikan, dipercepat misalnya, jarak pun akan otomatis terbunuh. Seberapapun kecepatannya, perjalanan tak akan lagi menghabiskan waktu. Jarak akan musnah dengan sendirinya. Bahkan jarak sendiri akan menjadi tak berarti. Lalu bisakah ia membuat yang lain menjadi berarti?

Tapi jika semesta terdiam, akankah dunia ini menjadi kekal? Apakah akan selamanya, atau justru tertiada? Apakah tanpa adanya rotasi dan revolusi, kehidupan masih bisa berjalan?

Dan pertanyaan yang paling besar adalah, akankah Tuhan marah? Apakah Tuhan mau membiarkan seorang anak manusia mengelabuhi waktu hanya demi dendamnya pada perjalanan, jarak, dan waktu?

Entahlah. Aku tak mau menerka-nerka bagaimana alam bereaksi. Aku hanya tidak mau melakukan perjalanan lagi. Aku tidak mau berurusan dengan jarak dan waktu lagi. Aku ingin berhenti. Tapi aku tak ingin mati.

ditulis @bumihr dalam http://bumiherarihlatu.tumblr.com

No comments:

Post a Comment