Thursday, September 6, 2012

Setelah Sebelas Tahun

Seberapa tuluskah kau mencintai seseorang? Jika kau benar-benar tulus, jangan biarkan orang yang kau cintai tidak mengetahuinya. Jangan biarkan ada orang lain yang lebih dulu menyatakan cinta itu selain kamu. Jangan biarkan orang yang kau cinta menunggu. Sesungguhnya, rasanya terlambat menyatakan cinta kepada seseorang yang tulus kau cintai adalah lebih sakit daripada apapun.

***

Akhir Juni, 1999

Hari ini aku akan meninggalkan sekolah pertama dalam hidupku. Aku akan melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Sebentar lagi aku akan memakai seragam putih merah. Aku akan pergi ke sekolah sendiri, tanpa diantar oleh pembantuku lagi. Aku akan belajar banyak mata pelajaran, bukan cuma bernyanyi dan bermain-main saja. Ya, aku akan menjadi murid SD. Namun, aku tak ingin terburu-buru meninggalkan tempat ini. Ada satu hal yang belum aku selesaikan. Aku, mencintai seseorang. Namanya…. Setya Dewi Sarti.

***

3 Juni, 2005

Tak terasa, sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ini. Sekolah tercinta yang membuat enam tahun terasa amat begitu cepat. Akhir bulan ini, aku akan menerima tanda kelulusan. Selembar pernyataan yang menyatakan aku berhasil tamat belajar selama enam tahun dan berhak untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi, Sekolah Menengah Pertama (SMP).


Hari ini, hari terakhir aku bersama teman-teman satu angkatan menghadapi Ujian Akhir Sekolah. Suasana gembira terpancar dari setiap mimik wajah yang aku lihat. Kami tidak akan menghadapi ujian-ujian lagi di sekolah ini. Kami tinggal menunggu hasilnya. Dan aku yakin, kami akan lulus 100%. Hari ini juga, aku akan menyatakan rasa cinta yang telah aku rasakan sendiri selama sembilan tahun. Aku tak kuasa menahan rasa ini sendirian. Jika saja aku pendam lagi, aku tak tahu apakah nanti aku satu sekolah lagi dengan dia atau tidak. Aku menuju meja Metta, sahabatku sejak kelas 4. Aku ingin dia menyampaikan rasa ini kepada Dewi. Aku tak berani menyatakankan rasa ini sendiri. Jangankan untuk menyatakan, berbicara langsung dengan Dewi saja sudah membuat jantungku berdebar-debar tak karuan.

“Met, gue rasa sekarang waktu yang tepat, nih. Gue akan bilang ke Dewi kalo gue sayang sama dia. Gue cinta.” Kataku sesampainya di meja Metta.

“Nah, gitu dong. Mau sampai kapan lagi lo pendam?! Gue panggilin Dewi, ya?” kata Metta semangat.

“Jangan, gue gak berani bilang langsung. Gue ingin lo yang bilang. Gue udah nulis surat. Nanti lo yang kasih.” Balasku yang terkejut bahwa Metta akan memanggil Dewi untuk datang ke mejanya.

“Loh, kok gue? Kenapa gak bilang langsung aja? Cemen ahh.” Metta mengejekku.

“Met, lo gak tahu rasanya jadinya gue. Sembilan tahun, Met, mendam rasa ini sendiri. Gak gampang buat nyiptain rasa keberanian di atas rasa cinta yang udah gue pendam lama.” Kataku yang tak mau diejek Metta.

“Jangan dibikin susah, deh. Tinggal bilang aja apa susahnya, sih?” Sekali lagi Metta menganggap ini semudah mengerjakan tugas PPKN.

“Met, berhenti nganggap kalau ini semua mudah. Ini gak seperti yang sudah-sudah lo lakuin sama mantan-mantan lo yang hampir satu sekolah itu.” Ya, Metta terkenal playgirl. Hampir semua lelaki yang ada di sekolah ini mencicipi rasanya pacaran dengan Metta. Namun, tidak denganku.


Metta terdiam. Wajahnya sedikit kesal menanggapi apa yang barusan aku ucapkan.

“Yaudah, sekarang gue harus gimana?” kata Metta pasrah. Entah benar pasrah atau merasa tersinggung dengan perkataanku tadi sehingga ia tak lagi memberiku semangat.

“Hmmm… Gue udah bikin surat. Di dalam surat ini semuanya lengkap. Sejak pertama gue suka Dewi, kenapa gue suka, dan keinginan gue untuk jadi kekasihnya. Lo tinggal kasih ini ke dia. Lo suruh baca surat ini kalau sudah sampai rumah. Jangan sampai dia baca surat ini di sekolah. Oke?” Aku menjelaskan apa yang harus Metta lakukan.

“Terus, nanti tahu dia terima lo atau enggaknya gimana?” tanya Metta setelah membolak-balik amplop surat yang aku tulis untuk Dewi.

“Iya, ya? Gimana, ya?” aku bingung. Metta juga bingung. Kami sama-sama terdiam beberapa saat. “Pokoknya, kasih surat ini ke Dewi dulu deh. Nanti dia juga tahu apa yang harus dia lakuin kalau sudah baca surat ini.” Kataku memecah keheningan.

“Oke. Pokoknya gue tinggal kasih surat ini aja, nih? Terus bilang ke dia kalau bacanya di rumah. Udah, gitu aja?” Kata Metta yang tak yakin atas rencana ini.

“Iya. Gitu aja dulu. Satu lagi, pastiin saat lo kasih surat ini jangan sampai ada yang tahu selain lo berdua Dewi aja. Oke?” kataku untuk mengakhiri rencana ini.

“Oke. Siap. Semoga keterima, ya.” Balas Metta singkat.

***

6 Juni, 2005

Aku tak sabar menunggu kabar. Menunggu hasil dari rencana yang telah aku susun tiga hari lalu. Aku datang ke sekolah paling pertama. Aku berdiam di bangku paling pojok kelasku. Tak lama, beberapa teman datang datang ke kelas. Bowo, teman sebangku denganku sejak kelas 1 mengajakku untuk bermain bola di lapangan sekolah. Aku menolaknya, aku masih ingin di sini. Menunggu Metta, dan menunggu… Dewi.


Lima menit setelah ajakan Bowo, Metta datang. Aku segera menghampirinya. Perasaanku cemas. Aku lemas melihat wajah Metta yang mendadak suram setelah menyadari aku menghampirinya.

“Gimana, Met? Udah lo kasih, kan?” kataku pura-pura semangat.

“Udah. Besok paginya, Dewi telepon gue.” Balas Metta lemas.

“Iya? Dia ngomong apa aja, Met? Bahas surat dari gue, kan?” aku sungguh semangat kali ini. Tidak pura-pura lagi.

“Dia bilang…. Dia bilang kalau dia…” Metta menghentikan kalimatnya.

“Dia bilang apa, Met?” aku makin tak sabar menunggu jawaban.

“Dia bilang kalau… Dia gak bisa. Dia gak bisa untuk saat ini.” Kata Metta dengan suara yang benar-benar lemas.

“Gak bisa? Dia… Dia nolak gue? Alasannya apa?” Aku tak percaya dengan apa yang dikatakan Metta.

“Dia gak bilang apa-apa. Dia gak jelasin kenapa dia gak terima lo. Sabar, ya. Gue yakin lo bisa dapat yang lebih baik dari Dewi.” Kata Metta sambil menepuk pundakku.

Aku terdiam. Aku benar-benar terdiam kali ini. Aku tak bisa berbicara satu kata pun. Aku berlari meninggalkan Metta. Jantungku berdebar sangat cepat. Aku menuju lapangan. Berharap main bola bisa sedikit menenangkan apa yang terjadi pagi ini. Dan untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta sekaligus patah hati di waktu yang bersamaan.

***

22 Maret, 2007

Hari ini, tepat satu bulan aku bersama Tarie, pacar pertamaku. Perempuan pertama yang berhasil mengangkatku dari kejatuhan dua tahun lalu. Perempuan yang, setidaknya mampu mengalihkan pandanganku dari Dewi. Aku sungguh tak menyangka bahwa aku dan Dewi satu sekolah lagi. Dan sialnya, di kelas 8 ini, aku satu kelas dengan Dewi. Aku telah mengubur dalam-dalam rasaku untuk Dewi. Pernyataan yang ia titipkan pada Metta dua tahun lalu memaksaku untuk mengubur perasaan itu. Namun, ada hal yang membuat aku tak henti menoleh ke tempat Dewi duduk. Sejak pagi tadi, ia terus merundukkan kepalanya. Sesekali ia tegakkan sambil menyeka sesuatu yang ada di pipinya. Aku rasa, ia menangis. Aku tak tahu kejadian apa yang membuat Dewi sesedih itu. Yang aku tahu, Dewi adalah sosok perempuan yang ceria. Ia aktif bergaul. Dan ia tak pernah sesedih ini. Aku sangat tahu Dewi. Sebelas tahun kenal dan jatuh cinta kepadanya memaksaku tahu kebiasaan yang ia lakukan. Ya, sebelas tahun. Sebelum akhirnya, Tarie, sedikit membuatku melupakannya. Namun, aku masih mencintai Dewi. Meski tak sebesar dulu, aku tak bisa berdusta atas apa yang aku rasa. Dalam hati kecil ini, masih menginginkan Dewi untuk ada di sana.


Bel istirahat berbunyi, Tarie menghampiriku dan mengajak ke kantin. Entah apa yang sedang aku pikirkan, aku menolak ajakan Tarie dengan alasan masih mengerjakan tugas yang belum aku selesaikan. Tarie pergi bersama teman sebangkunya, Tya.


Selepas pandangan Tarie dan Tya yang menghilang. Aku reflek menoleh ke arah Dewi. Ia masih saja merunduk. Tiba-tiba, Dhea, sahabat satu ekstra kurikulernya di Pramuka datang mendekati Dewi. Dhea memeluk Dewi. Namun Dewi masih merunduk. Sampai akhirnya Dewi menjelaskan apa yang ia rasakan kepada Dhea. Aku masih memandangi mereka. Sambil sesekali menoleh ke jendela yang berada persis di sebelah tempatku duduk. Di seberang jendela tempatku duduk, terlihat siswa kelas 9 sedang bermain bola. Mereka bermain sambil tertawa karena ada satu pemain yang tingkahnya lucu sekali. Aku pun sesekali tertawa apabila melihat tingkahnya. Setelah puas tertawa, aku kembali menoleh ke arah Dewi dan… Dhea yang tiba-tiba berdiri lalu meninggalkan Dewi sendiri. Dhea melangkah seperti ke arahku. Aku lantas menoleh ke tempat sekitarku. Tidak ada orang lain selain aku. Aku yakin, Dhea pasti ke arahku. Wajah Dhea seperti menahan amarah. Aku tak tahu apa yang diceritakan Dewi sehingga membuat wajah Dhea seseram Pak Suratim, guru Matematika yang galaknya minta ampun.

“Heh! Lo apain Dewi? Sampai dia nangis-nangis gitu?” Kata Dhea sambil memukul meja tempatku duduk.

“Gue? Gue kenapa? Gue gak ngapa-ngapain. Sumpah.” Kataku sedikit ketakutan melihat wajah Dhea.

“Bohong! Dari kemarin dia nangis-nangis terus. Dia tadi bilang katanya gara-gara elo. Minta maaf sana!” Dhea semakin menakutkan. Wajahnya kali ini lebih seram dari wajah Pak Suratim. “Cepetan! Malah bengong!”

“Serius gara-gara gue? Gue gak ngapa-ngapain dia, Dhe. Beneran.” Kataku untuk meyakinkan Dhea bahwa aku tidak melakukan apapun yang membuat Dewi sampai sesedih itu.

“Pokoknya gue gak mau tahu! Sampai gue balik dari kantin lo masih di sini. Liat aja lo!” kata Dhea mengancamku, lalu pergi meninggalkanku.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Dhea bilang. Seingatku, aku tak melakukan apapun selain mencontek pekerjaan rumah Dewi. Dengan langkah hati-hati, aku menghampiri Dewi, dan duduk di sebelahnya.

“Dew, lo kenapa?” kataku perlahan sambil menyentuh pundak Dewi.

“Engga, gue gak apa-apa, kok.” Balas Dewi sambil tetap merunduk.

“Please, Dew. Lihat gue. Bilang ke gue kalau gue ada salah sama lo. Gue gak tahu kenapa. Dhea bilang gara-gara gue. Gue kenapa, Dew?” aku berusaha membangkitkan Dewi untuk melihat wajahku.

“Lo kenapa, sih? Kenapa lo pacaran sama Tarie? Lo pikir enak rasain ini. Gak enak tahu gak!” kata Dewi setelah melihat wajahku sambil menghapus air mata yang telah membanjiri kedua pipinya.

“Kenapa pacaran sama Tarie? Karena gue sayang sama dia. Karena Tarie udah bangunin gue dari jatuh karena lo. Lo pikir, enak rasanya jatuh cinta sekaligus patah hati? Gak enak, Dew. Sekarang gue tanya, kenapa waktu kelas 6 dulu, lo nolak gue? Nolak gue dengan alasan yang sampai sekarang gue gak pernah tahu.” Kataku sambil mengingat-ingat kejadian yang membuatku mengunci kamarku selama beberapa hari itu.

“Gue? Gue nolak lo? Kapan? Lo bilang kalau lo sayang sama gue aja gak pernah. Gimana nolaknya?” balas Dewi diiringi air mata yang semakin deras turun dari mata yang telah bengkak itu.

“Kelas 6, Dew. Kelas 6 gue nembak lo. Kelas 6 gue nulis surat buat lo. Surat yang gue tulis selama seminggu, surat yang gue tulis sambil harap-harap cemas. Surat yang kata-katanya benar-benar gue tulis dengan hati.”

“Surat? Mana suratnya? Gue gak pernah terima surat itu. Gue tahu lo suka sama gue dari TK. Dari dulu sampai sekarang tuh gue nunggu, gue nunggu tahu gak? Sampai tahu kabar, kalau lo pacaran sama Tarie. Sakit tahu ga? Sakit!” Dewi semakin tak bisa menahan air matanya. Kata-katanya sendu. Dan, aku baru tahu kalau selama ini Dewi menyimpan rasa yang sama denganku dulu.

“Nih ya, Dew. Kelas 6, setelah ujian akhir sekolah, gue nyuruh Metta buat ngasih surat yang gue tulis buat lo. Lo gak terima surat itu atau emang lo buang surat itu tanpa lo buka dan lo baca?” kataku menjelaskan kejadian yang sesungguhnya aku tak ingin untuk mengingatnya.

“Metta? Lo suruh Metta? Lo tahu, Metta tuh suka sama lo sejak kelas 4. Dia cerita sama gue. Gue juga suka sama lo dari SD, dari kelas 1 saat kita satu kelompok pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu SD, gue pura-pura jaim. Gue pura-pura gak suka sama lo. Marah sama Bowo saat dia bilang kalau lo suka sama gue. Lo mau tahu kenapa? Karena Metta, Sophie, Dyah, dan semua sahabat gue waktu SD tuh suka sama lo. Gue gak ingin mereka sakit hati kalau tahu gue juga suka sama lo.” Dewi menjelaskan alasannya waktu itu kenapa ia begitu dingin denganku. Sekaligus menjelaskan rahasia yang tertutup rapi oleh Metta. Penjelasan yang membuatku seketika tak kuasa menahan air mataku untuk jatuh. Aku tak bisa mengatakan apa-apa. Semuanya jelas. Semua salahku. Aku yang tak berani menyatakan secara laki-laki kepada Dewi. Aku yang terlalu egois untuk menikmati rasa ini sendirian.

“Maaf, Dew. Gue gak tahu harus bilang apa lagi. Nyalahin Metta juga gue rasa gak akan bikin kita satu, kan? Gue udah sama Tarie, gue gak bisa ninggalin dia.” Aku berusaha tegar di depan Dewi. Padahal dalam hati rasanya ingin membunuh Metta yang telah khianat denganku.

“Gak apa-apa. Gue terima. Gue juga egois. Kenapa dari dulu gue gak bilang kalau gue sayang sama lo. Ini pelajaran buat kita. Suatu saat, kalau kita sayang sama orang lain. Bilang, ya. Jangan sampai dia gak tahu kalau ada orang lain yang sayang sama dia di luar sana. Gue gak akan neglupain lo. Sampai kapan pun. Lo cinta pertama gue.” Dewi diam sejenak, menyeka air matanya dengan tissue yang aku beri. “Oiya, satu lagi. Lusa, gue pindah sekolah sekaligus pindah rumah ke luar kota. Gue yang minta sama orang tua gue. Gue gak bisa nahan sakit terus-menerus melihat lo bahagia sama Tarie. Semoga kita ketemu lain waktu, ya. Salam buat Tarie. Udah, ya. Gue gak ingin Tarie lihat kita begini. Gue sayang lo.” Dewi berlari meninggalkanku yang masih terdiam. Meninggalkanku dengan rasa sesal yang sangat amat dalam.

***

Seberapa tuluskah kau mencintai seseorang? Sampai-sampai ia tak tahu bahwa kau mencintainya. Sampai-sampai ia tak tahu bahwa melihatnya tersenyum dari kejauhan telah membuat semua awan yang kau lihat menjadi merah jambu.

♫… And i lift my hands and pray, to be only yours. I pray to be only yours. I know now you’re my only hope. ♫


ditulis @shandyputraa dalam http://anotherdidhurt.tumblr.com

No comments:

Post a Comment