Thursday, September 6, 2012

Tukang Pijit, Kata Emak

Tak lelo lelo lelo ledung

Cep meneng ojo pijer nangis

Anakku sing ayu rupane

Yen nangis ndak ilang ayune…


Suara Emak bagus. Dia pintar melantunkan tebang-tembang jawa.

“Sekali lagi ya, Mak. Pisan meneh.”

“Lha terus kapan kowe arep turu? Kapan kamu mau tidur?”

“Sepisan wae lho, Mak! Sekali aja!”

“Yawis, tapi habis ini emak mau kerja, ya!”

“Iya, Mak.”

Iya, seusai matahari meredup dan bulan berganti terang memang Emak selalu keluar untuk bekerja. Sempat beberapa kali Sri bertanya apa pekerjaan Emaknya. Tukang pijit, Emak mengutarakannya.

“Mak, nanti kalo Sri udah gede, Sri ikut emak jadi tukang pijit, ya?”

“Hus! Lha emak jadi tukang pijit buat nyekolahin kowe, biar kowe bisa jadi orang pinter, lha kok malah mau jadi tukang pijit kayak emak!”

Malam itu belum terlalu larut ketika perbincangan dua mulut emak dan anak dilatari semribit angin. Seujung jari api menyala sebagai penerangan, bertembok anyaman bambu dan beratap jerami seadanya. Kecil, tidak nyaman untuk ditinggali.

“Wis ya, Nduk. Emak tak kerja dulu. Kamu di rumah. Buruan tidur, besok sekolah.”

“Ati-ati ya, Mak.” balas Sri dengan mencium tangan Emak yang disalaminya. Tak lupa juga Emak mengecup kening putrinya.

Emak keluar rumah dengan baju seadanya. Kakinya melangkah diantara petakan sawah yang menjadi jalanannya menuju tambang uang guna makan dan biaya sekolah Sri yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar.

Entah kenapa Sri yang selama ini memendam tanya untuk Emaknya malam itu sudah tidak tahan lagi untuk terus-terusan diam. Dia terlalu capek saat teman-teman sekolahnya mengatai dia anak lonte.

“Mak, Sri nyuwun pangapunten. Sri minta maaf, Mak.” gumam Sri ketika dia juga memutuskan untuk keluar rumah mengikuti Emaknya.

***

Sri melangkah pelan di belakang Emaknya, tentu saja tanpa sepengetahuan Emak. Dia berjalan mengendap.

Kadang sesekali mulutnya menganga lebar, Sri terkantuk ketika berjalan. Tapi dia masih berusaha untuk tetap terjaga agar tahu pemberhentian mana yang Emak singgahi untuk bekerja.

Setelah bermenit-menit keduanya berjalan, akhirnya sampai juga di sebuah tempat yang padat akan sorot penerangan. Walaupun cuma lampu bercahaya kuning tapi sudah cukup membuat terang, tidak seperti sentir (lampu minyak) yang ada di rumah Sri.

Sri berhenti ketika melihat Emaknya menyapa kerumunan wanita-wanita berwajah seperti badut. Gincu merah, muka putih tebal akibat bedak, pakaian yang sempit dikenakan, tidak hanya sempit, tapi juga berwarna-warni.

Sri masih saja diam melihat Emaknya dari jauh. Emak masuk ke sebuah ruangan, dan kemudian keluar lagi untuk duduk bersama teman-temannya.

“Emak..” gumam Sri. Emaknya nampak beda dengan kesehariannya. Emak yang dilihatnya keriput ketika di rumah, kini berbedak cantik seperti boneka.

Perlahan-lahan Sri mulai mendekat ke sisi rumah yang jadi tempat Emaknya menjadi tukang pijit. Sama seperti rumah Sri, temboknya hanya terbuat dari anyaman bambu. Di situ Sri menyembunyikan dirinya di tempat gelap.

“Mbakyu, Mbakyu. Dandan sing ayu, Mbak. Ono Pak Wongso. Lumayan kalo dipake sama Pak Wongso, Mbak. Orangnya gagah, ganteng, wangi.” riuh wanita-wanita itu kepada Emak Sri.

“Piye? Aku uwis ayu durung? Aku udah cantik belum?” tanya Emak Sri sembari menata gundukan di dadanya. Dari puluhan wanita di situ memang Emak Sri yang paling terlihat cantik.

“Kulonuwun, hayo siapa yang mau mijitin saya malem ini?” sapa seseorang yang mereka panggil Pak Wongso.

Semuanya tersipu malu ketika Pak Wongso bertanya. Pelan-pelan Pak Wongso pun menjatuhkan pilihannya, menggandeng tangan Emak Sri memasuki rumah.

Sri yang ada di sebelah rumah, matanya mencoba menusuk ke dalam ruangan kamar dari sela-sela lubang di anyaman bambu. Dia melihat sekelebat horden merah terbuka, dua manusia dewasa masuk ke dalamnya.

“Emak…” gumam Sri lagi. Dia tertegun melihat Emaknya tersipu malu dibelai Pak Wongso. Matanya menyipit ketika menyaksikan dua manusia dewasa itu satu per satu menanggalkan pakaian mereka.

“Seperti ini ya cara mijit?” tanya Sri dalam hati. Dia heran. Tapi keheranan itu seketika berubah menjadi kepanikan ketika tubuh Emaknya diterkam oleh tubuh lainnya.

Sri menangis di kegelapan. Tangannya mencengkram mulutnya sendiri kuat-kuat. Kelopak matanya tetap terbuka menyaksikan perbuatan Emaknya.

Sri meringis menahan suara tangis. Dia merasa kasihan melihat Emaknya. Dia merasa Emak sedang tersakiti di dalam sana. Suara erangan ketika ujung payudara Emaknya yang dulu dia pakai untuk menyusu terlihat digigit oleh lelaki yang seruang dengan Emaknya. Tangisnya mulai pecah ketika dia tak tahan lagi melihat tubuh bersih emaknya ditindih oleh sosok tegap nan gagah, ditambah erangan-erangan dari keduanya. Emak seperti orang yang kesakitan, pikir Sri.

“Emaaakk!!” teriak Sri sambil berlari untuk masuk ke dalam ‘ruang kerja’ Emaknya. Sesampainya di sana, dia mencoba untuk menyingkirkan jauh-jauh sosok lelaki yang telah menyakiti Emaknya itu.

“Sri! Kowe ngapain? Kowe kok bisa sampe sini? Keluar, Sri!” bentak Emak.

“Emak, mulih, mak! Pulanggg!!” teriak Sri.

Semua orang yang ada di situ tertegun. Mereka ingin mengeluarkan tangis terakibat pancingan tangis yang dicipta Sri. Merasa kasihan karena seorang anak kecil tengah mendapati Emaknya bergumul dengan orang yang bukan Bapaknya.

Bapak? Bahkan Sri saja tidak tahu siapa Bapaknya. Mungkin benih itu juga ditanam oleh pria-pria pencari kepuasan seks semalam.

Hari itu, Emak pulang saat tugasnya belum terselesaikan. Bahkan Pak Wongso juga belum sempat membayar jasa dagangannya.

Sri tetap saja menangis di sepanjang jalan pulang. Suara tangisnya beradu dengan suara tangis Emak yang menggandengnya untuk pulang.

Sesampainya di rumah, Sri langsung saja merebahkan tubuhnya di tanah yang sudah tergelar tikar, tempat tidurnya sehari-hari. Emaknya langsung bergegas ke sumur dan mandi.

***

Sri sudah tertidur pulas ketika Emak masuk ke dalam rumah.

“Sri, luputku yo, Sri. Maaf. Aku ngei contoh elek, aku ngasih contoh jelek buat kamu.” rintih Emak ketika melihat tubuh Sri terkulai, basah oleh airmata.

Perlahan Emak merundukkan badannya di sebelah tubuh Sri. Airmatanya kembali nampak basah di sekitaran pipinya.

Tak lelo lelo lelo ledung (aku timang-timang)

Cep meneng ojo pijer nangis (sudah diam jangan menangis)

Anakku sing ayu rupane (anakku yang cantik parasnya)

Yen nangis ndak ilang ayune (kalau menangis nanti hilang kecantikannya)

Emak bersenandung di samping tubuh Sri. Mendengar suara lembut Emaknya, Sri yang tadinya tertidur perlahan kembali membuka kelopak matanya.

“Mak…” lirihnya.

“Ssstt.. Tidur, Nduk. Besok sekolah..” Emak menenangkan Sri ketika dia melihat anaknya itu kembali menangis. Pelan-pelan Emak kembali bersenandung ketika Sri memeluknya erat-erat.

Tak gadang biso urip mulyo (aku harap (kamu) bisa hidup enak)

Dadiyo wanito utomo (jadilah wanita yang utama)

Nglurahke asmane wong tuo (meninggikan nama orang tua)

Dadiyo pendekare bongso (jadilah pahlawan negara)..

(Waljinah – Lelo Ledung)

***

Itu kisah Sri beberapa tahun silam. Sekarang dia sudah menjadi sosok wanita dewasa.

Seiring dengan waktu yang terbuang, Sri dewasa akhirnya tahu apa yang dilakukan Emaknya dulu di ruang itu. Tukang pijit adalah bahasa penyopan untuk Emak sebagai pengganti kata melonte. Dia yakin Emak pasti tidak mau anaknya gusar ketika Emak mengucap profesinya adalah seorang lonte.

Sri dewasa sadar apa yang dilakukan Emaknya semata-mata untuk menghidupi dirinya. Menyekolahkan hingga pintar dan memberi makan hingga kenyang. Itulah alasan Emak melonte. Demi Sri.

Sri dewasa tak mengutuk apa yang dilakukan almarhum Emaknya dulu. Walaupun Emak adalah seorang lonte, tapi baginya Emak adalah Kartini, pahlawan keluarga.

Emak tidak butuh sosok lelaki untuk ada di sampingnya sebagai pilar ketika keuangan ataupun kebutuhan keluarga menyurut. Emak bisa mencari uang sendiri untuk keluarganya, walaupun tetap bersumber pada seorang lelaki.

Sri masih ingat ketika hujan deras emak kesakitan dan meremas keras perutnya. Sri remaja ketakutan kala itu. Tapi yang dia sadar, Emak masih saja ingin membuat Sri nyaman dengan menembang jawa.

Tak gadang biso urip mulyo (aku harap (kamu) bisa hidup enak)

Dadiyo wanito utomo (jadilah wanita yang utama)

Nglurahke asmane wong tuo (meninggikan nama orangtua)

Dadiyo pendekare bongso (jadilah pahlawan negara)

Itu nyanyian Emak dulu. Ketika dia sekarat di hadapan Sri. Nyanyian sekaligus pesan agar Sri kelak mengharumkan nama Emaknya, bisa memuliakan hidupnya sendiri, dan syukur-syukur bisa menjadi pahlawan bangsa.

Sri, beruntung dia berhasil tamat SMA ketika Emaknya pamit untuk pergi. Sri sangat bersyukur dia bisa membeli kafan dengan uang halal hasil keringatnya sebagai guru les murid SD, tentu saja dengan ijazah yang diperjuangkan Emak walaupun dengan cara menjajakkan tubuhnya.

Mak, semoga dengan perjuangan Emak selama hidup, pahit atau manisnya bisa Sri jaga sampai Sri mati. Mak, sekarang Sri sudah berkeluarga. Suami Sri seorang guru, Mak. Sri harap ada senyum Emak ketika Sri menyusul Emak nanti. Tunggu Sri menyusul, jemput Sri di gerbang surga ya, Mak..

***

Tak perlu sekolah dokter biar dia mampu mengobati, tak perlu sekolah psikologi biar dia mampu menasehati, dan tak perlu sekolah memasak biar dia mampu menghidangkan makanan pengenyang perut yang luar biasa enak. Emak, cukup dengan pikirnya dia lulus untuk semua hal itu.

Emak, bahkan kupandang dia lebih perkasa dari otot seorang Bapak. Dalam ketenangan pikir dia mampu menyelesaikan apapun.


ditulis @misterkur dalam http://samuderakering.wordpress.com

No comments:

Post a Comment