Tuesday, September 4, 2012
Aku dan Kamu, Berbeda.
Mereka bilang mencintai itu karena persamaan.
Tapi coba lihat kita..
Aku dan Kamu, tidak ada yang sama dalam kedua kata itu.
Ah, tapi untuk apa mendengarkan Mereka.
Hidup kita, hanya untuk kita bukan?
Aku dan Kamu.
Begitu banyak beda dan tidak ada sama.
Aku negatif dari kutub positifmu, kita akan selalu tarik menarik.
Aku dan Kamu.
Hanya dua kata, tapi kenapa bisa begitu banyak makna dan juga tanya.
Sudah berapa juta detik yang aku telah habiskan bersamamu?
Aku tidak menghitungnya, itu adalah yang tak terhingga.
Sudah berapa ratus kali kamu bilang padaku untuk tidak menangis?
Aku tidak ingat, terlalu sering.
Dan terimakasih untuk selalu melakukan hal itu untukku.
Sudah berapa cangkir kopi yang telah kau buatkan untukku?
Setiap pagi dan sore, hitung saja dan kalikan dengan umur hari-hariku.
Sudah berapa cangkir kopi yang telah aku dan kamu habiskan?
Untuk apa dipertanyakan, bukankah cangkir-cangkir kosong itu telah kita isi kembali percakapan?
Sudah berapa kali aku membuatmu tertawa?
Aku tidak mau menghitungnya.
Aku lebih memilih mengingat-ingat berapa kali aku membuatmu marah dan kecewa.
Agar aku tidak dengan bodoh mengulanginya kembali.
Aku dan Kamu.
Kenapa bisa menjadi Kita?
Sudahlah, bukankah tidak semua hal di dunia ini harus dipertanyakan.
***
-Suatu pagi di Jakarta-
“Selamat pagi, Abinaya..” kusapa seorang pria berapron hitam sesaat setelah aku melewati pintu kaca coffee shop ini. Kuhirup aroma biji-biji kopi yang baru saja digiling. Wangi yang sudah seperti candu untukku.
“Chiara..” senyum pria dengan tinggi 185 centimeter itu selalu ada untukku. Wajahnya tegas dan memiliki kharisma pria-pria jawa pada umumnya, mengayomi dan selalu membuatku merasa aman.
Tanpa kuminta ia bergegas kebalik barnya dan meracik kopi kesukaanku, Caramel Macchiato. Kupandangi sosoknya, telah banyak waktu yang kujalani bersamanya. Aku mengenalnya saat ulangtahunku yang ke-6, dan sekarang usia kami 22 tahun.
“This your coffee, young lady..” ia menaruh papercup ukuran sedang itu di pick up bar.
“Thankyou, bi..” kuterima papercup itu dengan seulas senyuman dibibirku. Kopi buatannya, adiksi untukku. Sama halnya seperti keberadaannya disampingku. Aku sudah sangat terbiasa mengisi hari-hariku bersamanya. Walaupun statusku dengannya hanya sahabat, tetapi dunia melihat bahwa “Chiara is forever Abinaya”.
Entah apa yang bisa membuat Chiara dan Abi menjalani hubungan persahabatan ini. Kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Abinaya adalah sosok keras kepala, pelindung dan sedikit sarkastik. Sedangkan Chiara, gadis manja kekanakan yang gampang menangis. Pilihan kopi kesukaan mereka pun berbeda 180 derajat, Chiara penyuka Caramel Macchiato yang manis. Sedangkan Abi adalah fans nomor 1 dari Americano.
“Bye, Abi.. Chiara kuliah dulu yaa..” Abi mengantarku sampai kedepan pintu Black Verona Coffee Shop. Sebelum meninggalkan kedai kopi itu, kusempatkan untuk membetulkan posisi name tag yang terpasang miring di sisi kanan atas apronnya. Abinaya Basupati – Manager, kubaca lagi nama yang tertulis di name tag itu.
Aku suka namamu, Bi. Aku selalu suka.. Om Abiyan tidak salah memilihkan nama itu untukmu. Abinaya Basupati, yang berarti semangat dan tidak takut mati. Dirimu adalah 100 persen cerminan dari namamu.
Bi, kamu pasti hafal dengan namaku. Yang bahkan kata orang-orang lumayan panjang. Chiara Girika Larasati Hermawan. Ada kata Girika dalam namaku, Bi. Aku tidak tahu apa yang sedang Tuhan tulis dalam buku kehidupan kita. Tapi yang kubaca dalam legenda Pandawa 5, Dewi Girika adalah istri dari Prabu Basupati.
Walaupun kedua orangtua Chiara dan Abi telah berteman sejak sebelum anak-anak mereka lahir. Sepertinya mereka tidak dengan sengaja memberi nama pewayangan yang saling berkaitan pada kedua anak manusia itu.
Orangtuamu dan orangtuaku bahkan mungkin tidak tahu siapa itu Prabu Basupati dan Dewi Girika, mungkin mereka hanya memberi nama dengan doa yang baik untuk kita.
“Chi, cherry blossomnya udah berbunga. Piknik yuk, kayak biasa..” Abi mengucapkan kata-kata itu sebelum aku benar-benar meninggalkan Black Verona.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum kembali. Senyum kekanakanku, yang kata Abi menjadi favoritnya.
Dan disinilah aku sekarang, dihalaman belakang rumah Abi. Memenuhi ajakannya kemarin untuk piknik dibawah pohon cherry blossom.
Kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak masih di sekolah dasar. Menghabiskan waktu dibawah pohon yang hampir sangat jarang ditemui di gersangnya kota Jakarta.
Kusenderkan kepalaku dibahunya, kuhirup aroma tubuhnya yang bercampur dengan wangi Dunhill Desire Blue. Setelahnya kami pasti akan larut dalam percakapan dan tawa dibawah bunga-bunga berwarna merah muda. Kejadian yang terus berulang dan mungkin tidak pernah bosan untuk Chiara dan Abi lakukan.
Chiara dan Abinaya, keduanya tidak tahu akan sampai kapan seperti ini. Hidup dengan bersandar pada nyamannya sebuah pertemanan. Bukan kenyamanan biasa, karena keduanya telah sampai ditaraf saling membutuhkan.
Kedua anak manusia itu telah memutuskan untuk menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Mereka akan terus tertawa. Mereka akan terus berbagi kesedihan dan kebahagiaan hidup. Mereka akan terus minum kopi bersama disaat senja. Mereka akan terus mengisi cangkir-cangkir kosong mereka dengan percakapan dan ingatan.
Dan mereka akan terus menunggu, sampai Tuhan menggariskan sesuatu pada jalan hidup mereka.
Menari-nari kita trus menari meski hujan rintik turun
Mengalun-ngalun bersama alunan angin malam berpelukan
(Denganmu) berbagi senyuman
(Denganmu)
Melayang-layang kita trus melayang meski langit tanpa bintang
Mendayu-dayu suara daun yang berjatuhan bermesraan
(Denganmu) Mengisi lamunan
(Denganmu)
Oh, lihat kita bertaburan bunga bunga
Kupu-kupu saling menyapa mengajak kita
Terbang bersama kesana, menari-nari asmara
Berjalan-jalan memecah genangan jejak air rintik hujan
Bergandeng tangan berdua nyanyikan lagu cinta nostalgia
(Denganmu) menggapai khayalan
(Denganmu)
(Denganmu) mengisi lamunan
(Denganmu) menggapai khayalan
(Denganmu) bahagia
Oh, Hati kita bertaburan bunga-bunga
Kupu-kupu saling menyapa mengajak kita
Terbang bersama ke sana (terbang bersama ke sana)
Menari di atas sana (menari di atas sana)
Melantunkan lagu cinta (melantunkan lagu cinta)
Menari-nari asmara (menari-nari asmara)
-Menari - Maliq & D’Essentials-
note:
I wanna be your forever young lady, Abinaya.
Sincerely,
Chiara Girika Larasati Hermawan.
Ditulis oleh @yunie_dwi dalam http://yuniesoeradijaya.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment