Thursday, September 6, 2012
Assololey
Sore itu di dalam bis AKAP yang empet2an bersama kepulangan rombongan buruh pabrik plus mbok2 pedagang yang habis kulakan dari Solo, mas sopir yang gokil dan murah senyum berbaik hati memutar VCD OM SAGITA (yang baru saya ketahui di kemudian hari). Ide ini cukup brilian untuk mencairkan suasana yang sebelumnya bikin bête seluruh penumpang. Bagaimana tidak? Bis penuh sesak, aroma puluhan tubuh berbalut peluh bercampur aduk dengan bau solar yang terbakar. Bagi yang tidak tahan dan tak terbiasa mungkin akan muntah2, mabuk. Apa enaknya mabuk begituan? Saya termasuk yang mati-matian berusaha menahan mual di perut agar isinya tidak berhamburan keluar. Mas sopir yang satu ini memang ajib, tidak hanya memutar VCD tadi, tapi terkadang dia menggerakkan tangan berjoget sekenanya. Alhasil mbak2 buruh dan mbok2 pedagang tertawa2 melihat aksi mas supir. Saya sempat senyum2 juga dan mulai menyimak tampilan tipi 14inc yang tergantung di atap bis bagian depan. Mungkin inilah satu2nya kesempatan menyaksikan penampilan OM SAGITA. Kalo tidak di dalam bis ini, kapan lagi coba? Dan komentar saya: keren!
Hari berikutnya, dengan kalap saya gugling SAGITA. Penemuan saya cukup memuaskan, puluhan, mungkin ratusan, video aksi SAGITA tersedia di Youtube, tinggal sedot. Sebenarnya ada pilihan yang lebih bijak, sudah pasti VCD bajakannya tersedia di sepanjang trotoar Jln. Mataram, cukup mengeluarkan duit beberapa ribu kepingan cakram itu sudah ada di tangan. Saya abaikan itu, hasilnya SAGITA Ngamen 1-7 sampai Iwak Peyek menjadi playlist pilihan saya akhir2 ini. Mungkin ini termasuk guilty-pleasure saya, apa salahnya saya bagi.
Orkes Melayu SAGITA berdiri sejak dua tahun lalu dan mulai booming di awal tahun 2011. Berasal dari Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur beranggotakan sembilan personil yaitu ENY SAGITA (Vocal & Mbak Boss), INDAH ANDIRA (Vocal), RINA AMELIA (Vocal), KETENK (Guitar), YASIR (Guitar), MALIK (Gendang), SAIFUL/BOLANG (Keyboard), KHOIRUL (Suling,Terompet & Vocal) dan BUDI (Master Of Ceremony/MC). Mereka menasbihkan diri sebagai pelopor musik kreasi jaranan yang dipadukan dengan musik dangdut, kemudian mengibarkan bendera dengan label SAGITA DJANDUTH (mudah ditebak, djanduth itu jaranan-dangdut). Para fans OM SAGITA biasa disebut SAGITA MANIA mempunyai sapaan khas yaitu ‘ASSOLOLEY’. Kata ASSOLOLEY terlontar oleh Mbak Eny di lagu Ngamen 2, dan sejak saat itu kata ASSOLOEY akrab di telinga SAGITA MANIA. Tak ada arti khusus dari kata tersebut, konon kata tersebut memang akrab dengan kesenian jaranan yang marak di daerah Jawa Timur terutama di Kediri dan Nganjuk. Saat pementasan jaranan berlangsung dan sinden sedang bernyanyi, disela-sela nyanyiannya tercetuslah kata ASSOLOLEY tadi, semacam celetukan begitu. Tentu ada saja yang iseng memplesetkan kata tersebut sebagai kependekan dari Assosiasi Lonte Lebay, atau sejenisnya. Nampaknya pihak OM SAGITA yang mempopulerkan kata tersebut tidak terlalu ambil pusing.
Favorite saya sih Mbak Eny Sagita yang cantik dengan suara serak cenderung nge-rock dengan gayanya yang centil dan komunikatif dengan penonton. Tak lupa Khoirul dengan style ‘ngondek’ dia yang natural tak bisa dipungkiri membuat saya terpingkal-pingkal saat pertama kali melihat performance mereka. Lirik mereka yang jenaka dan apa adanya mudah diterima khalayak umum. Coba simak lirik lagu di Ngamen 4 ini:
aku pancen wong ra nduwe
jare simbok aku seng ayu dewe
ijasahku SMP, pengalaman ora nduwe
paling penak rabi wae
aku rabi, aku kenal cowok
kenal cowok irunge rodok sempok
setengah tuwo iki awak lagi bosok
ra oleh duwek soko simbok
arep nyambel ra enek lombok
kamu cakep bikin aku penasaran o ya
kayak artis yang turun dari sedan
aku pusing karena selalu mikirin
ku bawakan dukun dari magetan
magetan ora mempan, ke dukun jombang
dukun jombang ora mempan, ke dukun ngawi
dukun ngawi soyo edan, aku bunuh diri
mangan duren sak kulite, menek tower sak nyebloke
enek bocah ngganteng dewe, gowo rene tak rabine
pertamanya aku gak mengerti
kenapa ditangkap pak polisi
digebukin setengah mati
disuruh ngakuin barang bukti
masalahnya hanya narkotika
heroin putaw dan shabu-shabu
wajahku dipotret wartawan
sehingga fotoku masuk koran
jangan bung jangan menghisap shabu
menghisap shabu larangan agama
jangan bung jangan membajak lagu
membajak lagu larangan Negara
Lirik lucu lagu diatas sarat dengan pesan moral dan cenderung provokatif (kalau tidak dibilang subversive). Bagaimana tidak, kasus narkoba itu merupakan hal yang serius, tapi mereka dengan santai menganggap itu biasa saja. Dan itulah realita yang terjadi di kalangan masyarakat bawah bahwa banyak yang terjun ke dunia tersebut demi bertahan hidup dan berlari dari kenyataan hidup yang ternyata tak semudah cangkemnya Mario Teguh.
Dari segi musikalitas, tak beda jauh dengan genre dangdut koplo sejenis, mereka mengedepankan musik yang easy-listening dengan beat2 yang rancak dan enerjik sehingga membuat badan mendadak bergoyang, minimal geleng-geleng kepala. Ditambah dengan lirik yang lugas, sederhana dan mudah dicerna membuat para penggemarnya semakin jatuh cinta. Lagu-lagu OM SAGITA bervariasi mulai dari lagu asli ciptaan mereka sendiri, lagu anak-anak, lagu religi, sampai lagu ‘cover-version’ dari band-band lain. IMFO, lirik lagu mereka merupakan realitas kehidupan orang pinggiran beserta segenap mimpi-mimpi yang menyertai mereka. Tak heran sebagian besar fans mereka adalah kelas bawah di negeri ini karena mereka merasa terwakili olehnya. Seorang kernet bis pasti mengeryitkan dahi ketika harus menyimak lirik band hiphop politis yang meneriakkan ketidak-adilan kehidupan dengan kata-kata ‘tinggi’ yang jarang dia temui dalam pergaulannya sehari-hari, sama hal nya seorang saya pun harus membuka tab browser urbandictionary.com untuk bisa ‘ngeh’. OM SAGITA tidak menuntut hal ribet seperti itu, cukup dengarkan dan nikmati sambil bergoyang. Mungkin di cap selera rendahan, mungkin perusak moral bangsa ketika Shalawat Badar yang ‘suci’ dinyanyikan oleh penyanyi seronok dengan rok super mini sampai celana dalamnya kelihatan, mungkin perlu dipertanyakan ketika mereka seenak jidatnya mengubah Mars Brajamusti-nya Endank Soekamti menjadi anthem mereka, mungkin hujatan layak dilemparkan ke arah mereka ketika anak balita dengan antusias ikut berjoget di bibir panggung (untuk kasus terakhir menurut saya salahkan orang tua yang tidak becus mendidik anak-anak mereka dengan membawa serta anak-anak mereka menyaksikan pertunjukan dangdut koplo).
Daftar ‘dosa’ akan menjadi lebih panjang bila terus dicari-cari. Tanpa bermaksud menafikan hal itu, adalah layak jika kita juga mengapresiasi bagaimana perjuangan panjang dan tak kenal lelah mereka sampai di titik popularitas sekarang. Honor manggung mereka mungkin tak semenakjubkan Ayu Ting Ting yang pada acara Tahun Baru ini kabarnya dibayar 1 M. Di awal karier mereka, karena keterbatasan modal, mereka membagikan secara gratis video aksi panggung mereka kepada penjual VCD bajakan di pinggir-pinggir jalan. Banyak yang mencibir, tak sedikit yang acuh tak acuh. Namun seiring berjalannya waktu, ada satu dua yang mau memutar video mereka dan sampai sekarang di setiap sudut lapak VCD memutar video mereka, dan mulai merambah ke seluruh kota. Kecuali Sinta-Jojo dan Briptu Norman yang meroket tiba-tiba begitu aksinya tersebar di Youtube, tidak ada ketenaran dibangun instan. Demikian pula dengan OM Sagita.
Jadi biar sajalah kami disini menikmati ‘surga kecil’ ini. Kalian boleh menciptakan surga kalian sendiri tanpa harus saling senggol.
PS:Tulisan ini saya buat hanya sebatas hasil gugling tanpa mengadakan wawancara langsung ke narasumber (dalam hal ini OM SAGITA) jadi maap saja kalo kurang akurat disana-sini.
ditulis @raelkeenan dalam http://thoughtheworldshouldknow.wordpress.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment