Aku mengenalmu saat kita sama-sama menghadiri pesta ulang tahun teman kita. Awalnya aku menganggapmu hanya sebagai teman biasa yang bisa diajak berdiskusi mengenai beberapa hal seperti musik, film, serial televisi dan buku. Tiada hari yang kulewatkan tanpa mengobrol denganmu, baik melalui BBM, WhatsApp, maupun media obrolan virtual lainnya.
Siang tadi kamu mengajakku untuk melewatkan malam Minggu berdua. Aku mengiyakan karena kebetulan aku sedang tidak ada acara.
Di sebuah kafe di daerah R.E Martadinata, kita menyantap makan malam bersama. Aku terpukau dengan penampilanmu, kemeja berwarna ungu muda dipadukan dengan chinos yang menyerupai kulit pohon. Mungkin kalau orang jaman dulu menyebutnya necis.
Obrolan mengalir begitu saja dari mulut kita berdua. Lagi-lagi aku dibuat takjub dengan pengetahuanmu yang luar biasa seputar dunia fashion dan akhirnya menjadi topik hangat pembicaraan kita kali ini. Tak jarang kita tertawa lepas sampai menimbulkan tatapan-tatapan risih dari pengunjung lainnya.
Sebagai wanita normal, tidak butuh waktu lama bagiku untuk merasakan ketertarikan terhadapmu. Siapa yang bisa melewatkan pria mapan berusia 29 tahun yang sudah mengantongi gelar S2 dan berpenampilan sangat anak muda?
Oh, ya. Selain kelebihan-kelebihan yang tadi kusebutkan, ternyata kamu memliki pergaulan yang cukup luas. Semenjak kita tiba di kafe ini, sudah lebih dari sepuluh orang yang menyapa dan menegurmu. Kurang apa lagi? Aku memandangmu lekat.
Setelah merasa bosan, kita beranjak untuk meninggalkan kafe. Awalnya kamu bilang akan mengantarku pulang, katamu sudah malam. Tidak, aku tak mau malam ini berakhir begitu saja. Aku memberimu saran supaya kita pergi ke tempat lain untuk bersenang-senang. Aku menyeringai. Ada yang ingin kulakukan malam ini.
Mobilmu tiba di pelataran parkir sebuah kelab malam. Suasana sudah ramai, dentuman musik terdengar menggema dari dalam ruangan. Aku mengapit tanganmu untuk maju ke lantai dansa, tetapi kamu lebih memilih untuk duduk-duduk saja di kursi bar.
Sudah lebih dari setengah jam aku memutar badan, mengikuti irama musik racikan DJ Ferdy. Sesekali mataku melihat ke arahmu, kulihat kamu sedang mengobrol dengan beberapa orang yang kebetulan lewat atau sengaja menghampirimu. Sekilas teman-temanmu terlihat berbeda dan bertingkah tidak biasa. Ah, dunia malam memang selalu beragam, pikirku.
Aku menghabiskan hampir tiga gelas minuman sebelum akhirnya kamu mengajakku pulang. Kamu memapahku berjalan menuju mobil dan aku sempat meracau memintamu untuk tidak mengantarku pulang ke rumah. Rencanaku baru akan dimulai.
Rupanya aku tertidur selama perjalanan. Ketika sadar aku sudah terbaring di atas tempat tidur di sebuah kamar hotel. Kupandangi sekitar, ada kamu yang tertidur di kursi panjang dekat jendela. Inilah saatnya…
Ketertarikan terhadapmu meyakinkanku bahwa malam ini aku bersedia melakukan apa saja untukmu. Aku mendekatimu dan membelai wajahmu secara halus namun penuh tekanan. Kubisikkan kata-kata mesra secara langsung di depan telingamu.
Matamu terbuka.
Aku menempelkan telunjuk di bibir, menyuruhmu untuk diam dan menikmati apa yang akan kuberikan.
Kamu terlihat sedikit kaget dan mendorongku perlahan-menjauhkan tubuhku dari tubuhmu.
“Kenapa?” Aku mengangkat kedua telapak tangan sebagai bahasa isyarat.
Kamu menggelengkan kepala lalu mengubah posisi menjadi setengah duduk.
Karena pengaruh alkohol yang masih tinggi, dengan sengaja aku melepas baju dan kudekati kamu kembali. Kulingkarkan kedua tanganku di lehermu. Melihat ekspresimu yang gugup dan terlihat kaku, aku berpikiran mungkin kamu hanya kaget atau mungkin ini merupakan kali pertamamu untuk bercinta. Aku lalu menyondongkan wajahku ke arah wajahmu. Sesaat sebelum bibirku mendarat di bibirmu, kamu mendorong tubuhku lebih keras dibandingkan tadi dan membuatku terjatuh di lantai.
“I’M GAY!” Katamu setengah berteriak.
Aku mengernyitkan dahi. “What?”
“GUE GAY DAN GAK SUKA CEWEK!” Kamu membetulkan posisi kacamata sambil mengatur nafas yang tersengal.
Aku menatapmu penuh keheranan lalu bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Aku berpikir sejenak sambil memijat-mijat dahi. Memoriku kembali ke masa-masa sebelum kita berada di sini.
Buku? Fashion? Gaya berpakaian? Bahkan penampakan teman-temanmu saat di kelab tadi yang seharusnya sudah kusadari bahwa mereka sekelompok gay. Betapa bodohnya aku yang tidak menyadari “kode” darimu selama ini.
Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ketiga ujung jariku. Kubenarkan kembali posisi tank top yang talinya sudah jatuh satu. “Anterin gue pulang!”
***
Mobil melaju lumayan kencang. Dalam perjalanan pulang, kamu tak henti mengucap kata sorry dan memintaku untuk merahasiakan kejadian yang baru saja kita alami.
Aku yang masih tidak habis pikir, hanya bisa tertawa-tawa kecil dan sesekali bergumam, kok bisa?
“Udah santai aja sama gue.” Kataku sambil menyalakan radio. Jariku berhenti menekan tombol saat kudengar intro dari sebuah lagu milik Katy Perry. Aku memandangmu, menyeringai dan terkekeh.
“Anjir! Pas banget!” Katamu sambil tertawa mengikik.
Tanpa aba-aba dan tanpa diminta, kita berdua menyanyikan reff-nya bersama-sama dengan sedikit nada gila dan teriakan yang tidak jelas.
You’re so gay and you don’t even like boys
No you don’t even like
No you don’t even like
No you don’t even like boys
……….
Kedua mata kita saling bertatapan, dan kemudian tawa pun meledak.
ditulis @siapapun_ dalam http://siapapun.tumblr.com
No comments:
Post a Comment