Tuesday, September 4, 2012

Bagaimana Kabarmu?

Selamat pagi, kamu, perempuan berhidung mungil dengan rambut lurus sebahu. Lagu siapa yang mengawali harimu saat ini? The Script lagi? Sudah jangan tersenyum malu, aku tahu kau kencanduan suara laki-laki tinggi menjulang dengan tattoo bertuliskan Irish Power di lengan kanan sebelah luar itu. Kalau begitu, lagu The Script mana yang kau dengarkan sambil menyeduh teh di ruang TV pagi ini? Pasti Hall Of Fame kan? Lagu pembakar semangat, begitu ceritamu.
Di pagi ini, saat yang lain masih sibuk melepaskan diri dari mimpi, aku sudah lebih dulu merindukanmu, seorang perempuan yang delapan tahun belakangan mengisi hari-hariku. Perempuan yang kuhapal setiap geraknya. Perempuan yang kuhapal isi playlist musiknya. Perempuan yang senang menceritakan banyak hal kepadaku seorang.

Bagaimana kabarmu, Cecilia?

Lalu, bagaimana kabar Bowo? Lelaki yang merampasmu dari aku? Masihkah ia bisa tersenyum puas? Belum juga kah karma menegurnya?

“Bowo baru saja membawaku bertemu dengan Danny! Danny, Ndre! Danny O’Donoghue!” Kamu berteriak histeris dengan mata berbinar. Malam itu kau baru saja pulang menonton konser The Script, band idolamu nomor satu.
“Mereka jauh-jauh datang dari Irlandia demi bertemu aku. Tidak kusangka Tuhan sebaik ini.” Ini juga kata-katamu sehari sebelum konser dimulai. Kau duduk di sebelah kiri dan aku duduk tenang di sebelah kanan, menyetir mobil, mengantarmu pulang dari kampus ke rumah.
“Andai saja kamu bisa ikut nonton The Script kemarin, Ndre, mungkin bukan Bowo yang sekarang memegang tanganku saat menonton konser. Kamu terlalu mementingkan pasienmu ketimbang aku!” Dan ini adalah ucapanmu sebulan lalu, setelah aku memilih untuk membuangmu kepada Bowo, lelaki yang kamu bilang hebat karena bisa mempertemukanmu dengan musisi papan atas. Lelaki yang bekerja di salah satu jasa promoter musisi ternama, lelaki yang bukan mahasiswa koass, lelaki yang bukan aku.


Mengapa kau begitu mudah dibutakan, Cecilia?

Mengapa kau mudah termakan bualan?

Mengapa semudah itu kau memalingkan wajah dariku, lelaki yang sudah hapal setiap isyaratmu?

Mengapa hanya karena perkenalan tidak sengaja malam itu, kau lebih memilih dia, lelaki asing yang membawamu bertemu sang idola ketimbang aku, lelaki yang selalu berusaha membawamu bercengkrama dengan Yang Maha Kuasa?

Sial, sepagi ini di ruang UGD aku sudah merindukanmu, bahkan lebih dulu dari pagi yang merindukan matahari.

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita
(Sewindu - Tulus)



Ditulis oleh @winonarianur dalam http://winonarianur.blogspot.com

No comments:

Post a Comment