Tuesday, September 4, 2012

Satu Waktu Ketika Kita Mendamba Mesin Waktu

“Nih, pakai punyaku!” ujarmu sambil menyodorkan sweater yang baru saja kamu tanggalkan. Putih, beraksen biru pada kerah dan pergelangannya, dengan bordiran logo Kementerian tempatmu bekerja di dada sebelah kiri. “Ngga apa-apa, pakai aja, daripada nanti kamu masuk angin. Toh, bajuku lengan panjang,” sahutmu lagi, menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat terucap dari mulutku.

Ragu-ragu, kuambil sweater putih itu dari tangan kurusmu, kupakai tergesa. Samar kucium Bvlgari Extremebercampur keringatmu, bau yang hampir setiap hari singgah dengan akrab di sensor saraf olfaktoriku, dulu.

“Yuk! Nanti kemalaman,” katamu sambil mengulurkan tanganmu, lagi. Kali ini menggenggam helm, helm hitam yang sama, yang selalu kau sodorkan padaku setiap kita bermalam minggu, dulu.
“Jangan ngebut! Aku ngga mau mampir lagi di UGD,” pintaku.
“Hahaha. Kamu masih ingat aja. Tenang, kemarin aku baru diajari safety riding sama Valentino Rossi.”

Bagaimana aku bisa lupa, aku pernah dibuat nyaris kehilangan nyawa akibat kenekatanmu di jalan raya. Memang butuh keberanian ekstra ketika aku memutuskan untuk memilihmu, bahkan untuk hal-hal remeh macam dibonceng olehmu. Dan malam ini pun aku yakin kamu masih menganggap dirimu rider Moto GP yang sedang dalam perburuan poin kejuaraan. “Telat sepersepuluh detik saja, trofi melayang,” begitu pikirmu selalu, dulu.

Benar saja, tak sampai lima menit kemudian, menunggangi motor balap kesayangannmu, kamu menjelma raja jalanan bernyawa sembilan. Sementara aku, hanya bisa merapal do’a-do’a keselamatan, dalam hati, sambil mencengkram handle dibawah jok belakang, erat. Ah, hanya ini yang tak sama lagi. Mestinya, aku tak ragu melingkarkan tanganku di tubuhmu, agar semua ritual berjalan sempurna, seperti saat aku dan kamu masih satu, dulu.

***

Berburu serabi, berarti harus membelah dingin angin malam menuju utara Sukabumi, dan ini diluar rencana semula. Awalnya, reuni kita setelah hampir dua tahun tak bersapa ini hanya mengagendakan makan malam di sebuah kafe di pinggir kota, sederhana dan khidmat, untukku dan kamu. Dan karenanya, aku merasa tak perlu membawa jaket atau sweater saat kamu jemput sore tadi.

“Ayolah, sudah lama aku ngga makan serabi kinca,” rengekmu selepas menenggak tegukan terakhir dari teh tarik pesananmu. “Lagi pula, ngga ada serabi kinca yang lebih enak dari serabi kinca buatan Mang Agus.”

Kulirik jam tangan, jarumnya menyudut sempit di antara tujuh dan delapan. “Ya udah, tapi jangan lama-lama ya,” aku akhirnya mengiyakan. Kerinduan lidahmu yang amat sangat pada serabi yang berkubangan gula merah cair membuatku tak tega untuk menolak. Lagipula, masih ada satu hal penting yang belum sempat aku sampaikan padamu.

Dan setelah lima belas menit membalap tanpa lawan, disinilah kita akhirnya, duduk berhadapan di salah satu sudut Warung Serabi Kinca Mang Agus. Semuanya masih sama seperti saat terakhir kita menghabiskan sepertiga malam disini, kursi-kursi dan meja-meja bambu, piring dan gelas dari batok kelapa, cahaya remang dari lampu minyak di beberapa sudutnya, dan tentu saja deretan cetakan serabi di atas tungku pembakaran. Dan bahkan kamu, ternyata masih setia dengan serabi kinca dan bandrek susu, “pasangan sempurna”, katamu selalu.

Memandangimu yang menyantap serabi dengan lahap adalah episode favoritku setiap datang kemari. Malam ini pun tak berbeda, mataku seolah tak kuasa untuk tidak mencuri imajimu. Setelah puasa menatapmu sekian lama, malam ini aku berhari raya. Tak banyak yang berubah darimu, kecuali rambut lurusmu yang dibiarkan tumbuh lebih panjang, membuatmu terlihat semakin tampan. Oh, tapi sepertinya ada yang kulewatkan. Ada sedikit garis kebiruan di dagumu. Mungkin kau baru saja bercukur sore tadi.

“Ada sesuatu yang belum sempat kusampaikan tadi,” ujarmu begitu selesai menghabiskan potongan serabi terakhir di piringmu.

Aku tak menimpali. Masih kutatap lelaki dihadapanku, kamu. Ada nada keraguan yang sepertinya berusaha kamu sembunyikan dalam ucapanmu tadi.

“Aku membatalkan pertunanganku,” lanjutmu spontan, menimpali kediamanku. Kali ini hilang ragumu.
“Kenapa?” tanyaku kaget. “Kupikir, setelah dua tahun bersama, lebih dari cukup buatmu dan Winda untuk akhirnya menikah.”
“Entahlah,” jawabmu pelan. “Banyak hal menyenangkan yang terlewatkan selama aku bersamanya. Kamu, adalah sebagian besarnya,” lanjutmu, tersenyum, dengan senyum yang masih sama. Senyum yang kuibaratkan pancing, dengan lesung pipitmu sebagai umpannya, yang membuat siapa saja tak sungkan untuk tersangkut.
Aku balas tersenyum, lalu tertawa kecil. Sayup kudengar tembang “Saat Dunia Masih Milik Kita” dari Andra and The Backbone yang sedang diputar di stasiun radio lokal.

“Seperti saat diriku dengan dirimu.
Hatimu masih milikku,
dan dunia masih milik kita.”


Liriknya memaksa ingatanku berlarian tak tentu, kepingan kenangan berlabel “aku, kamu, dan kita” terputar otomatis di kepala. Cinta, pada kita, tak datang diam-diam. Padaku, dia hadir bersama merdu. Suatu pagi di pentas seni, kamu bernyanyi. Sejak itu, dia tak mau pergi lagi. Padamu, dia menyapa lewat kata. Kamu mengaku penikmat setia tulisanku. Hingga suatu waktu, kamu memintaku menulis sebait lirik untuk lagumu. Hari itu, hati-hati kita bertegur sapa, bertukar cerita. Hari-hari selanjutnya menjelma nirwana. Di dalamnya, aku dan kamu, memerangkap waktu, merantai detik-detiknya dengan rindu.

Namun, tiba-tiba saja pikiranku melayang ke sudut gelap kenangan, yang sulit sekali kuhapus dari ingatan. Hari itu kamu terburu-buru menjemputku di kantor, di luar kebiasaanmu. “Ada yang harus segera kusampaikan padamu,” katamu waktu itu. Dan setelahnya aku hanya bisa terhenyak mendengar apa yang terucap darimu. Kamu memilih menuruti kemauan ayahmu, yang tidak suka dengan kedekatan kita, untuk dijodohkan dengan putri koleganya.

“Akankah semua,
kembali seperti yang dulu?
Akankah semua,
menjadi indah dan sempurna?”


“Aku ingin memulai kembali kebersamaan kita,” katamu tiba-tiba, mengembalikanku dari masa lalu.
Aku tersentak. Ah, ketahuilah, Rifan, sejak kamu memutuskan untuk meninggalkanku hari itu, aku berusaha memalsukan kenangan dan membohongi ingatan dengan berkata ‘kita tak pernah saling mencinta’. Namun bahkan, hanya berpura-pura tidak mengingatmu pun, semilidetik saja aku tak mampu. Tak jarang, rindu-rinduku ingin lepas dari belenggu, menjelma air mata, membanjir, mengalir, bermuara pada satu, kamu.

Maka malam ini, dalam pertemuan sepasang mata kita yang mungkin terakhir kali, kutitip serta rindu-rindu masa depan, agar aku, dan mungkin kamu, tak perlu lagi bersandiwara bahwa kita tak pernah berteduh bersama dalam dekap hangat sayap-sayap malaikat, bernama cinta.
“Kenapa diam?” ujarmu lagi. “Ya, aku mengerti. Aku terlalu cepat memintamu kembali. Mungkin hanya orang gila yang minta balikan dengan mantannya pada pertemuan kembali yang pertama kali. Tapi aku rela gila, demi kamu.”

Hahaha. Gombalmu ternyata masih sama seperti dulu. Kamu tidak terlalu cepat, Rifan. Malah, kamu terlambat.

“Fan,” ujarku tertahan, kupaksa lidahku membebaskan sebaris kata yang sejak tadi terpenjara di pita suara, “Minggu depan aku menikah.”

***

Ya, lebih dari semusim tanpamu menguras habis jiwa dan ragaku. Maka ketika ayahku dan rekan bisnisnya sepakat untuk saling menjodohkan anak-anaknya, kali ini aku yang tak kuasa menampik, walaupun kutahu hadirnya sosok selain kamu tak mungkin mengisi penuh ruang hatiku. Mungkin semesta tidak ingin melukis aku dan kamu dalam sebingkai kita, lagi, pikirku saat itu.

Sedetik kemudian, di sela keterkejutanmu, kusodorkan kertas bersampul merah yang sepanjang malam ini bersembunyi di sudut nyaman dalam tasku. Tertulis disana, dengan huruf emas besar-besar,

menikah:
Azalia Kusumadewi,

dua spasi dibawahnya, menyusul sebaris lagi nama, milikku,

Aldian Khairulsyah Rahmani.


“Aku harap, kamu hadiahkan mesin waktu di hari pernikahanku nanti, Fan.”



Ditulis oleh @__adityan dalam http://deetzy.tumblr.com

No comments:

Post a Comment