Saturday, September 15, 2012
Bumi itu Berputar, Tuan
Hari itu, hari dimana aku menjatuhkan air mataku untuk pertama kalinya. Kau yang selalu menjadi candu untuk ku, heroin penghapus rasa duka ku, peri penyemangat di kala aku merasa letih. Kini hanya sekotak kenangan tanpa bingkai. Kau menampar keras kesenanganku. Membuatku merintih nyeri akibat lebam yang kau sebabkan.
Aku terkhianati oleh kepercayaanku sendiri. Kau, seorang yang dahulu ku angungkan bak pangeran di negeri dongeng, kini telah berubah menjadi si pembuat celah untuk luka yang dahulunya sudah tertutup rapat dari goresan kepedihan. Ini lucu, kau yang mengobati, kau yang melukai.
Pedih sekali, tuan. Dapatkah kau merasakan dentuman nyeri di setiap detak jantungku? Aku menggigil jika merekap ulang segala kejadian yang menyebabkan hatiku seperti tertusuk jarum. Perih namun rasanya membuatku seperti ingin mati.
Aku beradu pendapat dengan pikiranku, setiap sel serta atom terkecil dalam benak ku pun ikut bereaksi membantuku untuk berpikir. “Apa kurangku? Apa yang membuatmu semudah itu menyakitiku? Dengarlah sayang, kepercayaanku bukan untuk di perjual belikan, ataupun bisa kau tarik ulur sesukamu” ketidak adilan ini selalu membuatku tercekat kemudian sekarat secara perlahan.
Aku tertawa, bodoh. Apakah aku terkena penyakit amnesia? Meracaupun hingga aku menggila tidak akan mengubah segala takdir yang menyatakan bahwa ‘ia-telah-berbohong’ ‘ia-telah-menyakitiku’ ‘ia-tidak-menghargaiku’
Kemudian aku kembali medesah panjang. Benar, aku seperti seorang wanita yang sedang tersesat saat ini. Tatapan ku kosong, kepalaku sudah sangat mendidih di sebabkan gema pertanyaan yang tidak dapat di jawab oleh siapapun. Pertanyaan setengah frustasi itu hanya memantul dan berputar di sekitar ku. oh tuhan, aku ingin meledak!
Percakapan tak berarti dan hanya seperti sebuah bual-an itu masih dapat aku resapi pedihnya. Kau datang secara tiba-tiba bak seekor kucing yang kelaparan kemudian mengendap-endap dengan tatapan tidak berdosa. Jenius sekali. Setelah melakukan kesalahan fatal, kau datang, tersenyum lalu meminta maaf? Rasanya aku ingin memuntahkan suara tawaku mentah-mentah di hadapan nya.
“reta! Tunggu, hei reta!” aldo menarik tanganku dengan paksa. Aku tidak menoleh juga. “ini hanya salah paham kemarilah sayang, aku ingin memelukmu” bujuknya. Ugh aku mual mendengar kalimat yang ia ucapkan barusan.
“tolonglah, aku ingin berbicara sebentar. Kita harus menuntaskan segala permasalahan ini” sambungnya lagi.
Aku tersenyum geli “apa katamu? ‘menyelesaikan permasalahan?’ bagiku, segalanya sudah jelas” aku menekankan intonasi nada suaraku “minggir, aku mau ke ruang dosen!”
“oh tuhan, tolonglah aku reta, permudah jalanku untuk mempertahankan hubungan kita”
Rasanya, pada saat itu aku ingin menampar pipi tirusnya, apa barusan ia bilang? ‘mempertahankan?’ bodoh. Lihat siapa yang telah merusak dan siapa yang mencoba menata ulang. Tidakah terlihat begitu menyedihkan?
“aku masih sayang padamu, ini hanya salah paham”
“omong kosong. Basi. Rasa sayang, akan berubah menjadi kebosanan bila ada wanita lain yang mengusik hidupmu. Sederhana”
“siapa yang mengusik hidupku? Aku tidak merasa terusik. Di hidupku hanya ada kamu”
“oh ya? Lalu bisakah kau menjelaskan maksud dari kau mengantar mantan pacarmu kebandara? Menemaninya makan? Mengatakan bahwa ia masih menjadi yang terbaik? Kemudian mata lelakimu itu, sungguh menjijikan! Harus ya menyelidiki kehidupan juniormu di kampus? Menyimpan fotonya?” beberku secara panjang lebar sembari menahan air mataku yang nyaris saja tumpah.
Aku bersumpah, tidak akan menjatuhkan harga diri dengan menangis di depan lelaki manapun. Apalagi orang yang sudah menyakitiku. Dadaku sesak, sungguh aku hanya ingin menangis dan menelungkupkan wajahku kemudian membiarkan segalanya terluap begitu saja melalui jendela mataku.
“aku mohon, aku tidak bermaksud apa-apa, sayang. Tolong kembalilah padaku”
“kembali? Hebat sekali” aku tergelak “begitu mudahnya? Coba kau rasakan bagaimana rasanya menjadi aku. Aku diamkan karena aku ingin kau berpikir sebelum bertindak. Setidaknya masih ada aku di sini di sisimu” Aku menahan air mataku sampai aku tercekat dan hanya bisa terdiam.
“aku…. Aku ini pacarmu bukan?” suaraku bergetar “aku membebaskanmu untuk bergaul, tetapi tidak untuk menjadi boomerang tersendiri bagi hubungan ini. Untuk kita dan untuk ku. sakit rasanya Al, sakit sekali”
“aku minta maaf, mohon maafkanlah aku” iya kemudian berlutut di hadapanku, kemudian menggenggam erat tanganku.
“sekalipun kau menari di dalam hujan sampai tubuhmu mati beku, hatiku tidak akan bisa tersembuhkan. Luka ini, sudah menganga kembali. Aku tidak akan pernah bisa percaya padamu lagi” jelasku dengan tatapan kosong menghadap ke sebuah lobi yang menghubungkan nya dengan kelas-kelas.
“margareta, aku mohon. Maafkan aku. Aku mohon aku sayang padamu” masih berlutut namun kini ia telah menunduk, mungkin sedang merasakan perih yang sama.
“tidak terimakasih, aku sudah cukup merasa tidak di hargai dan terlihat bodoh sebagai pendampingmu. Aku ingin menyelesaikan tugasku. Selamat tinggal” lalu berjalan lurus ke arah lobi. Meninggalkan nya dengan keadaan tertunduk letih.
“Biarlah” ucapku dalam hati kemudian tidak terasa air mataku bergulir jatuh ke atas pipi halusku, aku terisak pelan kemudian memantapkan hati. Ini pilihanku, iya, “selamat tinggal pangeran masa kelamku”.
**************************
Aku mengetuk-ngetukan ujung pulpen ke atas meja sedari tadi, kemudian melongokan kepala ke arah jam. Oh tuhan, entah sedang berada di benua mana seseorang yang sedang ku tunggu ini, tampaknya ia telah sukses membuat gigiku bergemeletuk tak sabar. “sial, sudah telat dua jam!” makiku dalam hati. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, sudah ku siapkan kopi panas untuk menyiram seluruh wajahnya hingga melepuh. Seenaknya saja.
Pak hendar, bos ku yang paling di tuakan itu, memberikan sebuah titah secara sepihak dan mendadak menyuruhku menemui seorang client sore ini. Ia mengatakan bahwa aku mendapatkan project baru tahun ini. Aku senang, pasti. Tapi bayangkan ini sudah sore seharusnya aku sudah berleha-leha di kamar apartementku dan terpaksa tertunda oleh apa tadi katanya? Menemui seorang client yang sampai sekarangpun batang hidung nya belum kelihatan.
Aku sudah muak, “masa bodo dengan pekerjaanku, ia yang salah, bukan aku” gumamku kemudian membereskan peralatan kantorku dan bersiap untuk pulang.
Kemudian handphoneku berbunyi “halo iya halo! Ini ibu niar, betul? Saya aldo bu maaf membuat ibu menunggu. Saya baru saja sampai di sudirman, tadi ada pertemuan mendadak dengan client saya di bali. Mohon pengertian nya bu 10 menit lagi saya sampai” bebernya panjang lebar.
Baiklah dan aku menunggu lagi.
Aku mendengar bunyi dentingan lift, pertanda seseorang telah sampai pada lantai tujuan nya. “ah, itu pasti dia” dengan semangat yang sudah menguap entah kemana, aku mengambil catatan serta laptop ku sebagai persiapan saat terjadi interupsi atau untuk saling berbagi pendapat.
“maaf bu saya terlambat. Aduh maaf ini di luar kendali saya” ucapnya seraya menepuk ujung bahuku.
Aku menoleh, bersiap untuk memaki pria yang tidak tahu waktu ini “hei! kau ta….” Aku tercekat. Diafragma ku seakan berhenti berkontraksi. Waktu seakan sedang asik menertawakanku dan memperlambat perputaran nya, tekanan gravitasi pun terasa lebih berat dari biasanya.
Pria itu, aku benci melihatnya berdiri secara utuh di depan mataku. Tidak hanya secara bayangan semu yang selalu hadir di setiap mimpi-mimpi bahagiaku. Entah sebagai pembawa bencana atau sebagai pembawa kebahagiaan. Tatapan mata tajam itu masih sama. Tatapan mata itu masih dapat menelanjangi hatiku yang rapuh, tatapan mata itu masih dapat menguliti hatiku secara perlahan.
Aku terdiam, kepalaku pusing. Keseimbangan ku seperti mulai goyah dan tidak stabil. Aku menghidrup nafas dalam-dalam untuk menenangkan dan meyakin kan diriku bahwa itu memang benar dia. Pria yang tiga tahun belakangan ini hanya menjadi misteri yang ku rindukan secara diam-diam dalam hidupku.
“kau… aku.. kau… kerja di sini?” suaranya bergetar dan terlihat seperti tidak percaya
“iya”
“aku… maaf aku… tidak tahu.. aku…”
“sudah lah jangan banyak basa-basi. Mari selesai kan perkerjaan ini”
“namamu.. kau mengganti namamu?”
“jadi kau ingin membuat aplikasi apa untuk kantormu?”
“kau apa kabar?”
Aku berdecak kemudian menatap nya dengan tatapan marah. “kau mau serius atau tidak? Jangan berlaku seakan kau ini penting. Kalau tidak, aku lebih baik pulang!”
“sabar reta, sabar…. Tak bisakah kau menjelaskan semuanya padaku dulu? Kau seperti menghilang begitu saja”
“apanya yang harus ku jelaskan hah?
Ia menyentuh pelan tangan ku “kau apa kabar? Kau merubah namamu?”
Aku tergelak “apa kau amnesia? Namaku memang itu. Margareta Aniardi. Dan seperti yang kau lihat aku baik-baik saja. Sudah puas?
Ia terdiam seperti melihat seseorang yang baru. Menatapku dengan setengah mengernyit.
“aku ingin pulang, ingin istirahat. Cepat bicarakan mengenai aplikasi yang ingin kau gunakan beserta kriterianya. Aku tak punya banyak waktu”
Ia menurut kemudian menyebutkan hal-hal penting yang harus ku kerjakan selama pembuatan aplikasi untuk perusahaan miliknya. Iya, aku memang bekerja di sebuah perusahaan software yang sudah cukup terkenal. Dan inilah job yang paling ku gemari, mendapatkan sebuah project kemudian menyalurkan kreatifitasku di dalamnya se bebas mungkin.
“aku memberikan waktu tiga bulan pengerjaan. Untuk desain dan segala hal yang menyangkut tentang tampilan atau interface ku serahkan kepadamu seluruhnya” ucapnya mantap
Ini menyenangkan, jarang-jarang aku mendapatkan sebuah project yang membebaskanku secara total dalam proses desain dan pengaturan nya. Ah, terberkatilah lelaki menyebalkan ini.
“baiklah kalau begitu sampai ketemu di pertemuan berikutnya” kataku secara formal
“kau terlihat sangat dewasa ya sekarang”
“oh ya. makasih?” tanggapku dengan raut wajah yang sangat amat tidak tertarik untuk perbincangan lebih lanjut
“mau ku antar? Rumahmu masih yang lama kan? Ini sudah malam bahaya kalau pulang sendiri”
“tidak terima kasih, aku di jemput”
“siapa? Supir? Atau pacarmu?”
“bukan urusan mu, tuan” aku melengos pergi meninggalkan ia yang masih termangu di hadapan meja kantorku.
****************************
Semenjak di pertemukan oleh sebuah project yang cukup menggiurkan ini, kesempatan kami bertemu juga semakin intens. Hanya selang dua atau tiga hari. Heran nya, ia cukup pintar mencuri waktu untuk bertemu denganku.
Sudah hampir sebulan kami bekerja sama. Saling bertukar pikiran dan berbagi informasi. Iya, hanya sebatas itu. Sampai pada akhirnya ia menemukan celah untuk membujuk ku dengan rayuan yang aku bisa menjamin tidak dapat meluruhkan benteng pertahanan hatiku.
“kau ingin langsung pulang?” ia membuka suara.
“tidak, aku ingin menemui pak hendar kemudian pulang. Ada apa?”
“aku hanya ingin mengajakmu makan malam”
“dengar, aku tidak menerima tawaran apapun terkecuali mengenai project ini, mengerti?”
“kalau begitu aku akan membicarakan project ini”
“oh tuhan. Aku sudah hilang respek padamu. Segala usahamu akan sia-sia”
“ayolah aku berjanji ini yang pertama dan terakhir”
Aku tergoda untuk menerima tawaran nya. Sebab, ia sudah berjanji itu akan menjadi yang terakhir dan aku sudah muak mendengar rengekan nya yang seperti di buat-buat. Mengajak ku makan malam bersama? Berdua? Aku meringis. Sudah cukup dahulu kau meremehkan aku dan sekarang dunia berputar, tuan. Aku tidak se lemah dahulu dan aku sangat berterima kasih untuk itu.
Setelah terjadi perang batin terhadap diriku sendiri. Aku meng-iya-kan tawaran nya itu. Seperti seorang balita yang telah mendapatkan permen kapas yang sedari tadi ia idamkan, raut wajahnya seakan berbinar-binar mendengar jawabanku.
Di perjalanan pun aku memilih untuk lebih banyak diam dan berkonsentrasi penuh pada lampu-lampu jalanan yang setelah kupikir-pikir terlihat lebih menarik di banding meladeni seluruh pertanyaan nya yang tidak penting itu. ia pun menetapkan pilihan pada sebuah café resto di daerah kemang. Aku bergidik, café ini kan café yang membuat aku terlihat bodoh waktu itu, tempat yang menjadi saksi mata akan kebahagiaan yang aku dambakan karena telah resmi menjadi kekasihnya.
Diam-diam aku salut pada daya ingatnya, ia seakan menunjukan bahwa ia masih mengingat segala detil kecil mengenai kami di masa lampau. Ah, sudahlah mau bagaimanapun aku tidak akan luluh, hatiku sudah sangat mantap. Aku hanya merindukan tempat ini, manusiawi. Tidak merindukan kami yang dahulu, itu mustahil.
“kau ingin memesan apa?”
“tidak kau saja, aku pesan orange float”
“kau harus makan, maagh mu itu jangan di sepelekan”
“aku tahu bagaimana cara menjaga diriku sendiri.
Ia terdiam, lalu dengan tatapan tidak bergairah ia melihat daftar makanan yang sedari tadi berusaha ia tawarkan padaku. Setelah menetapkan pilihan dan memesan kepada waitress, pandangan nya beralih kepadaku.
“kenapa? Jangan melihatku seperti itu”
“kau memang tidak berubah ya, tidak pernah mau untuk di tatap secara dalam”
“memang”
Ia menyentuh pelan tanganku, aku menarik tanganku dengan sigap dan membalas tatapan nya dengan geram. “mau apa kau”
“apa hatimu akan selalu dingin seperti itu terhadapku?”
“memangnya kenapa? Ini hidupku. Terserah aku”
“aku minta maaf, reta. Aku minta maaf” nada suaranya seperti setengah memohon
“lucu. Sudah 3 tahun tidak bertemu dan kini hanya meminta maaf?”
“aku tahu kesalahanku memang fatal. Tapi tidak ku pungkiri, tiga tahun belakangan ini aku hampir gila karena tidak dapat kabar tentangmu”
“oh ya? Bagus kalau begitu”
“reta, tolonglah. Maafkan aku”
“maaf? Tidak semudah itu”
“aku mohon reta. Perasaan bersalah ini menghantuiku sampai kapanpun”
“…………………………” aku tetap bergeming
“reta ku mohon maafkan aku. Maaf kalau perlu aku sujud di kakimu”
“umm…. Tapi setelah ku pikir-pikir , baiklah aku memaafkanmu. Lagipula tidak ada untungnya menyimpan dendam padamu. Apa peduliku?”
Ia terkejut kemudian mengulurkan tangan nya sebagai tanda permintaan maaf. Setelah ku sambut, ia menggenggam erat tanganku. “aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi, reta, kepadamu”
“baguslah kalau begitu” aku membalas seadanya kemudian berlagak seperti tidak peduli.
“reta, ada satu hal yang ingin aku ajukan kepadamu. Semacam proposal”
“apa? Mengenai project ini?” Aku mulai menanggapi secara serius.
“maukah kau menjadi kekasihku lagi?”
Bak suara petir yang berdentum tepat di atas kepalaku, menyisakan kebulan asap dan jeritan hati yang meronta akibat keterkejutan bukan main. Apakah ia sudah gila? Aku memang merindukan nya, iya terkadang. Aku memang pernah memimpikan nya, iya sekali dua kali. Tapi aku tidak pernah menyangka ia akan senekat ini.
Semudah itukah? Aku kira pikiran nya sedang terkontaminasi oleh kesalahan nya sendiri. Rasanya aku ingin memberikan cermin selebar mungkin agar ia dapat berkaca. Melihat dirinya sendiri.
Aku tertawa “kau sudah gila atau apa? Ya jelas aku tidak mau lah”
“kenapa? Apa karena kesalahanku di masa lampau? Semua orang bisa berubah termasuk diriku”
“bukan, bukan itu”
“perasaanmu sudah tidak ada sedikitpun untuk ku?
“Iya memang tidak ada, tapi bukan itu alasan nya.”
“lalu apa? Aku terlalu cepat mengatakan ini? Jika kau membutuhkan waktu, tak apa”
“oh tuhan, jangan bermimpi. Bukan itu.”
“lalu apa? Aku masih menyayangimu seperti dulu, reta”
“kau bilang kau selalu mencari tahu tentang aku iyakan?”
“iya, benar dan tepat sekali”
“bohong” aku tersenyum licik “bagaimana kalau kau mencari tahu dulu tentang statusku sebelum menawarkan diri untuk menjadi kekasih?”
“statusmu? Tentu saja kau single. Aku tidak melihat ada lelaki lain yang jalan bersamamu selama ini”
“ini” aku menyerahkan amplop putih bergambarkan sebuah burung merpati di pojok kanan atas amplop tersebut.
Ia menerima amplop tersebut, kemudian menarik isinya lalu tercengang ketika melihat tulisan berwarna kuning ke emasan yang berada didalamnya di sertai oleh pita berwarna merah yang terlihat sangat cantik untuk mempermanis surat undangan yang tergeletak di tangan nya itu “MARGARETA ANIARDI & ADITO WIBOWO”
Ia terdiam cukup lama, kemudian menghirup nafas dalam-dalam
“Datang ya ke acara pertunganganku sabtu besok. Terima kasih atas makan malam nya. Dan perlu kau ingat aku menghargai usahamu. Hanya saja, hatiku tidak akan luluh lagi” kataku menutup percakapan malam itu kemudian menepuk pelan bahunya lalu pergi dengan senyum cukup puas terukir di wajahku.
“Bumi berputar, tuan. Ingat itu” bisik ku dalam hati.
“I’m still alive but I’m barely breathing
Just prayin’ to a god that I don’t believe in
Cos I got time while she got freedom
Cos when a heart breaks no it don’t break even
Her best days will be some of my worst
She finally met a man that’s gonna put her first
While I’m wide awake she’s no trouble sleeping
Cos when a heart breaks no it don’t breakeven… even… no
What am I supposed to do when the best part of me was always you,
And what am I supposed to say when I’m all choked up that you’re ok
I’m falling to pieces
I’m falling to pieces …..”
The Script - Break Even
(Source: nidyauputri)
ditulis @NidyaUtamiP dalam http://nidyauputri.tumblr.com
Labels:
Hari #14,
The Script
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment