All my bags are packed, I'm ready to go
I'm standin' here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye...
Rasanya berat banget melangkahkan kaki gue disini, di depan rumah Radit. But, finally here I am. Dengan dua buah koper hitam di kanan dan kiri, gue beranikan diri mengetuk pintu rumahnya.
Tok tok tok...
Tok tok tok...
Berkali-kali gue ketuk pintu rumahnya, namun Radit tidak juga tampak. Gue lirik jam kecil yang melilit di tangan kanan gue, masih pukul 05:05. Ah, iya, gue lupa ini hari Minggu dan dia pasti belum bangun sepagi ini. Gue ketuk sekali lagi, sedikit lebih keras tapi tetap tidak ada yang membukakan pintu. Gue menyerah dan memutuskan untuk menghubungi ponselnya.
"Iya, Ran? Ada apa lu subuh-subuh nelfon gue??" Suaranya terdengar setelah beberapa saat panggilan gue tidak diangkatnya. Radit pasti masih diatas ranjang kamarnya yang empuk dan hangat, batin gue sebal.
"Gue di depan rumah lu, nih. Bukain pintu, woy! Kebo amat sih!" Jawab gue setengah berteriak.
"Eh? Ngapain lu-" Belum sempat Radit menyelesaikan ucapannya, telfon lanngsung gue tutup dan ponsel gue masukkan ke dalam saku jaket. Tak lama, pintu rumah terbuka dan gue menemukan Radit disana. Rambutnya acak-acakan dan selimut masih melilit di badannya, gue geleng-geleng heran melihatnya. "Gue berangkat pagi ini. Pesawat jam setengah delapan," ungkap gue to the point.
"Eh? Waktu itu lu bilang berangkat bulan depan nunggu kelulusan?" Tanyanya heran.
"Engak, gue majuin. Mau ngurus administrasi disana, kasian juga nyokap sendirian disana. Nanti orang suruhan bokap gue yang ngurus kelulusan disini. Em, kayaknya juga gue enggak bisa ikut prom nite, deh."
"Lho? Kok lu serba dadakan gini, sih?? Kenapa enggak bilang dari sebelumnya coba? Kan gue bisa nganter lu ke bandara."
"Enggak usah, gue naik taksi aja," jawab gue santai lalu menunjuk kearah taksi biru yang dengan manis menunggu di depan rumah gue yang berada persis di depan rumah Radit. "Tuh taksinya juga udah nunggu..."
But the dawn is breakin', it's early morn
The taxi's waitin', he's blowin' his horn
Already I'm so lonesome I could die...
Radit melihat kearah taksi yang gue tunjuk, "Lu yakin pergi hari ini?" Tanyanya pelan. Gue mengangguk mantap. "Terus Edo gimana? Masa baru jadian sebulan udah lu tinggal?"
Edo adalah pacar gue yang terakhir. Kemarin gue udah mengabari tentang kepergian gue hari ini, dia sangat keberatan awalnya. Namun akhirnya Edo tidak bisa berkata apa-apa karena kemarin juga gue memutuskan buat menyudahi hubungan gue dengan dia. "Gue udah putus sama dia," jawab gue enteng.
"Putus? Lagi?" tanyanya heran. Tentu saja Radit heran, mengingat pula hubungan gue dengan Arya, pacar gue sebelum Edo, juga hanya bertahan 2 bulan saja. Berbeda dengan Radit yang belum pernah pacaran dengan siapapun, gue terkenal sebagai playgirl yang doyan gonta-ganti pacar. Bahkan gue pernah berpacaran dengan lebih dari satu cowok dalam waktu yang bersamaan.
Gue mengangguk pelan, "Ya begitulah..."
Lalu kami terdiam. Gue sibuk dengan sesak yang sedari tadi menyergap masuk ke dalam dada gue. Dan mungkin dia sibuk dengan pikirannya yang entah apa itu. "Bantuin bawa koper gue ke dalam taksi dong, Dit!" ucap gue memecah diam.
Lalu dengan sigap Radit membawa koper gue di tangan kanan dan kirinya dan membawanya ke dalam taksi. Melihat punggungnya yang tegap dari belakang seperti ini membuat gue sadar kalau gue pasti bakal merindukan sosoknya yang entah kapan bisa gue temui lagi itu.
Cause I'm leaving on a jet plane
I don't know when I'll be back again
Oh, babe, I hate to go!
Gue menyusulnya dan membantunya memasukkan koper ke dalam bagasi taksi. "Lu balik kapan?" tanya Radit persis di hadapan gue. Dari matanya, gue tahu kalau dia enggak rela dengan kepergian gue. "Rencananya sih nanti habis lulus baru balik. Gue males disini Dit. Males ketemu bokap." Ujar gue jujur. Radit menghembuskan napas pelan, tampak kecewa dengan jawaban gue. Tapi gue yakin dia ngerti perasaan gue. Dia selalu mengerti gue dan kebencian gue dengan bokap. Karena cuma pada dia gue cerita tentang bokap gue yang ketahuan punya istri selain nyokap dan dari istri simpanannya itu dia punya anak kecil berumur tiga tahun. Cuma Radit yang tahu tentang penyebab perceraian orang tua gue itu dan penyebab nyokap memutuskan untuk pergi ke Amerika dan mengurus perusahaan modenya disana. Cuma Radit yang tahu apapun tentang gue.
Dan tiba-tiba saja, Radit menarik gue ke dalam dekapannya. Hangat. Lalu dia mencium lembut bibir gue sebelum melepaskan gue dari pelukannya.
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go...
"Lu baik-baik ya disana. Jangan bandel, nurut sama nyokap. Jangan sering-sering keluar malem, kan enggak ada gue yang bakal jagain lu. Kuliah yang bener biar cepet lulus terus cepet balik kesini. Gue pasti bakal kangen banget sama lu, Ran," ucapnya serius.
Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I'll be on my way...
Gue speechless dengar kata-kata dia. Sekali lagi, gue peluk dia seerat yang gue bisa. Gue simpan hangatnya, aroma tubuhnya, lembut rambutnya, semuanya. Gue simpan dalam memori buat gue buka lagi nanti, karena gue sadar, it will take a long time to not to see him... and I will miss him so bad.
"Gue berangkat, ya, Dit..." bisik gue lembut ditelinganya. Gue hapus kristal bening di ujung mata sebelum gue bebaskan dia dari pelukan gue. Gue enggak pengen dia lihat seberapa besar gue hancur karena harus meninggalkannya.
Gue longgarkan pelukan gue dan dia terlepas dari sana. Melepaskan lu itu adalah salah satu kebodohan gue, Dit!
Dream about the days to come
When I won't have to leave alone
About the times that I won't have to say ...
Dengan lembut, Radit membukakan pintu taksi buat gue. Sebelum masuk, gue pegang erat tangannya dan gue selipkan sesuatu disana, "Baca kalau taksi gue udah hilang di ujung jalan nanti."
Radit mengangguk lemah.
Gue masuk dan duduk di dalam taksi.
Radit menutup pintu taksi perlahan.
Gue tersenyum kecil kearahnya.
Gue tahu lu selalu bisa ngerti gue, Dit. Tapi apa bisa lu ngerti seberapa patah hati gue saat ini?
"Jalan, Pak," ucap gue pelan, pak supir mengangguk kecil.
Gue tutup kaca jendela disamping gue, enggan menampakkan tangis gue yang perlahan pecah.
Taksi bergerak jalan dan perlahan meninggalkan Jalan Seruni, tempat dimana gue dan Radit tinggal selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Buat gue, memilih untuk memulai kehidupan baru yang jauh dari Radit adalah satu langkah besar yang pasti bakal berat untuk gue jalani. Sebelum taksi belok diujung jalan, gue balikkan badan dan meliht Radit masih berdiri diam dengan sebelah tangan menggenggam erat kertas yang tadi gue selipkan. Sekilas gue lihat dia menunduk, membaca deretan kata yang gue ambil dari lirik salah satu lagu favorit dia. Deretan kata yang mewakili perasaan gue seutuhnya kepada dia, sahabat yang berarti lebih sari sekadar sahabat buat gue. Dit, gue selalu cerita apapun ke elu. Tapi, buat yang satu ini, gue enggak cukup berani, Dit....
There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing...
Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring... :'D
I truly love you, Dit.
-Rani-
ditulis @khaidianty dalam http://jurnalde.blogspot.com
No comments:
Post a Comment