Jika pagi adalah kamu, maka embun adalah rindu, yang sebentar saja menguap oleh mentari di senyummu.
Pagi ini bulir-bulir embun masih juga menggelayuti dedaunku. Masih ada dingin yang enggan sirna dari udara. Padahal, sudah sejak tadi matahari menyentuhkan hangat-hangat jemarinya pada dunia. Yang pasti, sudah tiga hari kamu tak pernah datang lagi ke tempat ini. Sejak itu, hariku tak pernah sama lagi.
***
Hai, kamu mungkin hanya mengenalku sebagai salah satu dari Filicium decipiens, nama ilmiahku dan puluhan teman-temanku di taman ini. Tapi sebut saja aku Rindang. Entah siapa yang pertama kali menamaiku demikian. Yang kuingat, beberapa tahun silam, seorang lelaki meneriakkannya dalam hujan. Ia mengajak kekasihnya berlindung di bawah reranting dan dedaunku kala itu. Ada nyaman yang ikut kurasakan ketika melihat mereka saling mengusirkan kedinginan. Setelahnya, aku senang mengamati dan mendengarkan siapa saja yang menghampiriku kala hujan, maupun yang sekedar berteduh mengeringkan peluh. Semenjak itu pula berbagai macam rasa dari mereka, yang menguar ke udara, kusesap dan kunikmati.
Yang paling kusukai tentu saja aroma cinta. Berulang kali kudapati rasa ini dari segala macam manusia; seorang lelaki yang meminjamkan jaketnya untuk mengusir dingin teman perempuannya yang tak tega namun mengiyakan, seorang wanita tua yang senantiasa sabar menuntun suaminya belajar berjalan kembali. Juga ada rasa hangat dan bersahabat yang suatu hari pernah kucium dari bocah-bocah kecil yang membagi rata sesuap demi sesuap es krim yang mereka beli bersama-sama.
Namun, ada ketika aku membenci rasa mereka. Seperti malam tadi, saat seorang pemabuk memukulkan botol yang ia pegang kepadaku. Atau ketika kudengarkan seorang pria paruh baya berkata pada istrinya di seberang telepon bahwa ia masih sibuk dengan urusan di kantornya, padahal semenit setelahnya, seorang wanita muda dengan make-up tak karuan menggodamu manja.
***
Sekarang kuceritakan bagaimana aku bertemu kamu. Suatu pagi, di hari pertama orang-orang membanjiri lagi Jakarta setelah hari raya, kamu menampakkan diri pertama kali di taman ini. Kamu terlihat bersemangat sekali. Dan saat itu, perlu kukatakan satu hal yang membuatmu terlihat lucu: seragam oranye yang kamu kenakan nampak kebesaran. Kamu mendengarkan dengan seksama apa yang Pak Karyono sampaikan tentang tugasmu. Setelahnya, dengan telaten kamu menyapu dedaunan yang berserakan, memunguti puntung rokok yang masih saja banyak bertebaran, juga mengumpulkan sampah-sampah yang dibuang sembarangan.
Siangnya, dan siang-siang selanjutnya, kamu selalu menyempatkan diri duduk bersandar di tubuhku untuk menikmati bekalmu. Sesekali kamu membaca buku yang sengaja kaubawa. Buku-buku sastra katanya. Suatu hari, Pak Karyono berkata padamu bahwa kamu tak cocok membaca-buku-buku demikian dan seharusnya mempelajari buku-buku tentang sampah, kecoak dan orang-orang yang terpinggirkan. Kamu hanya tersenyum, lalu tertawa kecil menanggapinya. Di lain waktu, kulihat kamu menulis dan bercerita di buku harianmu. Tentang apa saja; tentang kamu yang ingin mengajak orang tuamu pergi haji, tentang adikmu yang sebentar lagi memasuki usia sekolah dasar, juga tentang rindumu akan kepulangan.
Oh ya, dan yang paling kusuka darimu adalah aroma optimisme yang kauselipkan dalam setiap harimu. Yang kausebarkan pada siapa saja yang kautemui. Pernah suatu hari, kauceritakan tentang cita-cita dan mimpi yang sedang kaucari, pada gadis kecil yang menangis sedih karena tak dipilih tampil dalam drama sekolah. Esoknya, ia menghampirimu dan berterima kasih sambil memberikan senyuman manisnya padamu.
Ah, mungkin karena semua itu, tanpa sadar aku mencintaimu.
***
Senja sudah menampakkan jingganya saat ini. Kulihat kamu sepertinya sedang mencari sesuatu, atau seseorang. Tas besar di punggungmu seolah tak menghambatmu untuk berlari secepatnya menujuku. Beku yang sejak pagi menggelayuti udara di sekelilingku perlahan hangat dan terleburkan. Ah, tapi ternyata kamu bukan ingin menemuiku, melainkan Pak Karyono yang kebetulan sedang duduk di bawah rindangku.
“Saya pamit pulang, Pak!” Kamu menggamit lengan Pak Karyono dan kemudian mencium punggung tangannya.
“Hati-hati, Ndu! Salam buat ibu bapakmu di kampung.”
“Bapak ngga mau ikut saya nih jadinya?” Kamu kemudian bertanya dengan antusias.
“Mauku sih gitu, Ndu. Aku kepingin tahu, siapa gadis manis yang berhasil mencuri hatimu itu. Tapi kamu tau sendiri, siapa nanti yang ngurus istriku kalau aku pergi,” jawab Pak Karyono dengan nada menyesal.
Kalimat dari bibir Pak Karyono tadi menghentakku keras. Seketika saja, bukan hanya rantingku yang patah ataupun daunku yang gugur, hatiku pun demikian. Namun pada pagi berikutnya dan pagi-pagi setelahnya, pada embun-embun yang membawa basah, selalu ada rindu dan do’a-doa tentangmu yang kubisikkan tanpa lelah.
Mungkin ini memang jalan takdirku,
mengagumi tanpa di cintai.
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu.
Telah lama kupendam perasaan itu,
menunggu hatimu menyambut diriku.
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku.
Aditya Nugraha
Sukabumi, 15 September 2012 15.32
*) Diinspirasi dari lagu Cinta Dalam Hati - Ungu
Ditulis oleh @__adityan dalam http://deetzy.tumblr.com
No comments:
Post a Comment