Sunday, September 16, 2012

Si Cantik Di Sudut Mata


Suatu kali ku temukan bunga ditepi jalan
Siapa yang menanamnya tak seorangpun mengira
Bunga ditepi jalan alangkah indahnya
Oh... kasihan kan kupetik s'belum layu


Entah sudah hari ke berapa ini, rasanya sudah berabad-abad lamanya, tapi, aku tidak juga berani untuk menyapanya. Hanya mengamatinya dari sudut mataku. Ahh, gadis cantik nan manis, yang selalu duduk di samping ibu penjual makanan dan minuman di halte tempat aku biasa menunggu bis. Setiap pagi, dari senin hingga jum’at aku selalu menemukannya di sana, kadang tertawa, kadang termenung khusyuk mendengar cerita ibu penjual tersebut. Ingin sekali aku mendekatinya, mengajaknya berkenalan, dan kemudian makan malam bersamanya. Aneh ya, padahal aku tidak mengenalnya entah kenapa begitu saja aku tertarik kepadanya.

Pagi ini lagi dan lagi aku mengamatinya dari sudut mataku, tidak berani menatap langsung. Ya ya ya aku memang laki-laki pengecut, aku memang terlalu takut untuk menyapanya, takut ia tidak akan menghiraukanku, takut kalau nantinya aku hanya menelan malu. Tengkukku meremang ketika mendengar tawanya. Tuhan, suaranya saja begitu membuai hatiku. Yah, setidaknya pagi ini aku membuat kemajuan dengan mengambil jarak duduk lebih dekat dengannya.

Pagi berikutnya aku bertekat untuk bisa menatapnya langsung, setidaknya menyapanya dengan mengucapkan Hai atau Hallo, atau kalau aku beruntung aku bisa menanyakan namanya. Dengan tekad yang kuat aku melangkah dan hatiku langsung bersorak girang ketika melihatnya sudah ada di sana, bersenda gurau dengan ibu penjual.

“Ibu, saya beli air mineralnya satu.” Dengan susah payah aku membuka mulut. Aduh, kenapa membeli sebotol minuman saja begitu sulit jika di depan wanita cantik ini. Dari sudut mata aku melihatnya mengamatiku. Oh Tuhan, aku harus gimana ini? Menyapanya? Atau hanya sekedar tersenyum? Kenapa aku menjadi panik seperti ini?
“Nak.” Aku tersentak ketika ibu itu memanggilku dengan tangannya masih terulur memegang air mineral yang ingin ku beli.
“Oh, maaf.” Sahutku gelagapan sambil mengambil minuman itu dan menyerahkan selembar uang dengan nominal besar. Sengaja emang, mungkin saja wanita cantik itu mau mengajakku ngobrol. Bodohnya aku, harusnya aku yang mengajaknya ngobrol duluan.

Kembali aku mencoba menatapnya dari sudut mataku. Dia mengamatiku, ataukah hanya perasaanku saja? Dengan takut aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Seketika jantungku berhenti berdetak ketika dia tersenyum manis kepadaku.

Disekitar belukar dan rumput gersang
Seorangpun tak kan mau memperhatikan
Biarlah kan kuambil penghias rumahku
Oh... kasihan kan kupetik s'belum layu

“Aku melihatmu setiap hari disini.” Wanita itu tersenyum. Ternyata dia juga memperhatikanku.
Aku menganggukkan kepalaku, “Aku juga melihatmu setiap hari disini. Menunggu bus juga?” Tanyaku.
Wanita itu menganggukkan kepalanya lalu ia beranjak dari tempat duduknya, “Ibu, aku harus pergi.” Ibu penjual itu tersenyum ketika wanita itu mencium tangannya. Aku memandangi punggung wanita itu, rambut panjangnya berayun-ayun cantik di punggungnya. Hatiku melengos kecewa ketika wanita itu menghilang masuk ke dalam bus yang selalu ditumpanginya.

Aku kembali duduk di bangku halte dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan kecewa. Bahagia karena aku bisa mendengar suaranya, ternyata dia gadis yang ramah, buktinya tangan ibu penjual itu sampai diciumin segala. Tapi aku juga kecewa karena aku tidak sempat menanyakan namanya. Tidak sanggup sebenarnya, yah karena apa lagi kalau bukan takut.

Hari kembali berganti, kicauan burung di pagi hari kembali terdengar. Aku melangkah dengan riang gembira. Hari ini aku bertekat untuk mendekatinya, lalu tersenyum ketika dia menatapku, menanyakan kabarnya, lalu duduk di dekatnya, dan mengajaknnya mengobrol. Skenario yang sangat sempurnya. Hatiku bersorak gembira ketika membayangkan skenario tersebut.
Tapi, hatiku langsung mendesah merana ketika tidak ku lihat wanita cantik itu disana. Bangku yang biasanya ia dudukki kosong melompong. “Kemana dia?” Gumamku. Apa dia sakit? Aku menggelengkan kepalaku, tidak tidak tidak, dia pasti baik-baki saja.

Hari berikutnya dia tidak juga hadir di sana, demikian juga dengan hari berikutnya, hari setelahnya, dan seminggu kemudian. Aku mulai tidak tahan dengan rasa rindu ini, rindu menatap wajahnya walau hanya lewat sudut mata.

“Ibu air mineralnya satu.” Suatu pagi, aku akhirnya memberanikan diriku mendekati ibu penjual. Berharap dia mempunyai sedikit petunjuk tentang keabsenan wanita cantik itu jika aku bertanya padanya.
Ibu itu tersebut tersenyum dan menyerahkan sebotol minuman kepadaku. Dengan gugup aku berdeham, “Dia yang biasanya sering ngobrol sama ibu setiap pagi kok gak ada keliatan ya akhir-akhir ini?” Tanyaku. Ibu itu mengangkat alisnya memandangku dengan tatapan bertanya. Aku menelan ludahku, “Biasanya dia selalu ada di sini.” Lanjutku.
“Aya?” Tanya ibu itu. Oh ternyata namanya Aya, pikirku. “Dia tidak akan datang ke sini lagi.”
Aku mengerutkan dahiku. “Tidak akan datang ke sini lagi? Apa yang terjadi padanya?” Tanyaku sedikit panik.

Ibu tersebut tertawa, “Tidak tidak tidak. Dia tidak sakit kemudian meninggal.” Jawab ibu tersebut seolah-olah dia mampu membaca pikiranku. “Minggu lalu dia menikah dan kemudian ikut suaminya ke luar negri." Hening sejenak. Seolah-olah ibu penjual itu juga menelan kepahitan dengan perginya wanita itu. "Dia gadis yang baik dan sangat ramah. Walau sedih dia tidak akan ada disini lagi menemani ibu ngobrol di setiap pagi, tapi ibu juga akan bahagia jika dia bahagia. Sudah sepantasnya dia mendapatkan seorang laki-laki yang baik juga.” Telingaku tuli seketika. Tidak sepatahpun kata yang keluar dari mulut ibu penjual itu bisa ku dengar. Hatiku serasa ditusuk berkali-kali oleh bilah panas. Ya Tuhan, aku terlambat, sangat terlambat. Dia sudah menikah, si cantik yang hanya sanggup aku perhatikan dari sudut mataku, dia sudah menjadi milki orang lain. Inilah akibat kebodohanku, terlalu takut, terlalu pengecut. Seketika aku benci dengan diriku sendiri. Tuhan, Si Cantik Di sudut Mataku tidak akan bisa aku gapai lagi. Bunga cantik tersebut telah dipetik oleh orang lain.

Dengan gontai aku melangkah menuju bus yang berhenti di depan halte, si kernek sudah berkali-kali berteriak, mendorongku masuk ke dalam bus, aku memasuki bus itu dengan menelan kekecewaanku. Esok tidak akan seperti hari-hari sebelumnya lagi.

*) Diinspirasi dari lagu Bunga Di tepi Jalan - Koes Plus

Ditulis oleh @36rd dalam http://36rd.blogspot.com

No comments:

Post a Comment