Sunday, September 9, 2012
Even If You're a Thousand Miles
“You stood in the rain
Pack up and ready to go
My tears are falling again
It’s because of you”
Itu penggalan lirik dari lagu yang akhir-akhir ini sering kudengar, tepatnya sejak..
Satu sore, 2 tahun lalu di teras belakang rumahnya.
“Sayaaaannnggg..”
“Eh, tumben pulang cepat.” sambil colek hidungnya, sesaat sebelum dia mendaratkan ciuman ringan in my forehead.
“Kamu sejak kapan disini? Aku kayak kejatuhan surprise waktu mama bilang kamu disini.” cerocosnya sambil perlahan menjauh ke arah pantry untuk menyomot bakwan jagung kesukaannya dan menyeruput jus jeruk yang tadi kubuat.
“Dari jam 11 deh kalau ga salah. Hehe, mama bilang apa ke kamu?”
“Ah, biasaaaaa.. Mama paling bisa godain aku supaya bisa pulang cepat, dengan bilang kamu ada di rumah. Yah kamu tau sendirilah, mama kan suka hiperbola gitu kalau soal kita.” Ucapnya yang sekarang sudah duduk leyeh di kursi anyaman bambu di teras belakang ini.
Aku cuma bisa tertawa dan kehilangan hasrat untuk melanjutkan membaca majalah, begitu dia ada disampingku, menawarkan beragam canda dan kehangatan yang terpancar dari senyum, tawa, dan matanya.
Ah iya, sampai lupa.
Namaku Olyn. Dan lelaki yang kuceritakan tadi, Ramot. Dia pacarku.
Oke, kami punya panggilan sayang sendiri dong, layaknya pasangan yang lain.
Hahahahaha..
Dia memanggilku “Owin”, kombinasi antara dia mencintaiku dan juga tergila-gila sama Michael Owen.
Bayangkan dong! Aku diduain sama Michael Owen!!!!
Well, sekarang giliranku.
Aku memanggilnya, “Mamot”, kombinasi antara aku mencintainya dengan sangat, dan juga aku tergila-gila sama marmut.
Dan ternyata aku lebih kejam dong. Duain dia sama marmut!!!
Hahahahaha..
Oke, stop bahas ini!
Karena kalau diteruskan, akan begitu sangat panjang ceritanya, ketika kami berdua saling berkeberatan dalam hal membuat panggilan sayang ini, dan ketika sampai akhirnya kami sama-sama ikhlas dengan ketetapan yang sudah dibuat.
*nahan supaya ga ketawa*
Sore itu seharusnya bisa menjadi sama dengan sore-sore lain yang sudah kami lewati selama 27 bulan terakhir.
Sore yang penuh cinta dan kehangatan.
Sore yang penuh gurau canda pelepas lelahnya, setelah seharian beradu nasib dengan laporan keuangan dan segala jenis meeting.
Sampai akhirnya yang membuat berbeda adalah..
Aku masih tertawa karena lelucon yang dibuatnya.
Dan tiba-tiba dia merapatkan duduknya ke arahku.
Tangan kirinya merangkul erat bahu kiriku.
“I love you..” Bisiknya pelan.
Aku menoleh ke arahnya. Tersenyum.
“Hari ini kamu ngomong ‘i love you’nya udah 6 kali lohh..” Ucapku kemudian tertawa.
“Tadi pagi waktu bangun tidur, sekali.. Terus waktu mau berangkat kerja, sekali.. Teruuuuus wak……”
Tiba-tiba dia menarik tangan kananku dengan tangan kanannya, di atas pangkuannya.
“Owinku sayang..”
“Hhmm?” aku menatapnya.
“Lusa aku berangkat ke Singapura.” Ucapnya datar.
“Ohya? Untuk berapa lama?”
“Aku sendiri juga ga tau. Pihak kantor bilang, aku harus menjalani serangkaian pelatihan dan pendidikan untuk promosi jabatan.”
“Terus?”
“Aku harus stay di sana. Minimal satu setengah tahun sampai dua tahun.”
“Hah?” Aku kaget. Tak sanggup menyembunyikan kesedihanku, sesaat setelahnya, mood ku turun drastis.
“Kantor ingin menguatkan posisi di Singapura. Dan beberapa dari antara kami, termasuk aku, ditugaskan di sana untuk sekian waktu lamanya.” Dia mencoba menjelaskan dengan intonasi yang lembut tetapi tegas.
Sementara aku, tak tahu harus berkata-kata seperti apa.
Karena memang aku tak sanggup untuk berbicara apa pun.
Melihat reaksiku, dia cuma tersenyum.
Membenarkan posisi duduknya.
Dan meraih wajahku dengan kedua tangannya.
“Dengar. Kita memang akan berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Tapi aku meninggalkanmu karena urusan pekerjaan.
Dan ini berhubungan dengan masa depan aku. Masa depan aku sama kamu.”
Aku mulai menangis. Menangis tepat di depan matanya yang sedang lekat menatapku.
“Sayang.., kamu keberatan aku pergi?”
Aku tak menjawab.
“Sayaanngg..”
Aku masih diam.
Dan dia seperti kehilangan cara untuk membujukku.
“Yaudah, aku ga akan ambil promosi jabatan ini.” desahnya.
Will you call me when you get there?
Will you miss me everyday?
Cause i’ll be waiting here at home,
Till you knock on my door again.
“Selama sebulan, kamu harus pulang setidaknya sekali ya. Terus kamu harus rajin telepon aku.” Kataku mulai terisak.
Kali ini tak hanya air mataku yang berbicara.
Tapi juga suara dan emosi kesedihan yang tidak stabil.
Dia kaget.
Bisa dilihat dari caranya menatapku.
“Kamu ga boleh selingkuh. Kamu harus cari uang yang rajin. Biar nanti bisa sekolahin anak-anak kita setinggi mungkin.” celotehku lagi masih dengan isak tangis.
“Kamuu ha….”
Aku tak melanjutkan kalimatku.
Terhenti saat dia menarikku keras ke pelukannya.
Aku bisa merasakan emosi yang meluap lewat pelukannya.
Mungkin perasaannya kini bercampur aduk.
Sama seperti aku..,
Yang sudah langsung membayangkan jarak jauh, yang sewaktu-waktu bisa saja jadi jurang pemisah antara kami.
***
“Kamu baik-baik ya disini, calon istrinya aku.”
Katanya sambil memelukku erat, beberapa menit sebelum take off.
Sementara aku hanya diam.
Air mata mengalir tak henti sedari tadi.
Dia memelukku.
“Kita jaga hati masing-masing ya. Minta bantuan Tuhan, saat salah satu diantara kita mulai goyah.” Ucapnya tak bisa menyembunyikan haru.
Dia mengecup keningku. Lama. Lebih hangat dari biasanya.
Kemudian melepaskan pelukannya.
Menyudahi kecupannya.
Menggenggam erat tanganku.
Ada air mata yang menetes pelan dari matanya.
Baby please don’t say goodbye..
I love you too much just to let you fly.
I need you to be my only one..
Even if you’re a thousand miles away from here.
“Jangan bilang selamat tinggal.” Kataku dengan air mata yang semakin deras membasahi pipi.
“Bilang ‘sampai ketemu lagi’..” Pintaku.
Dia tersenyum.
“Sampai ketemu lagi, owinku sayang..”
Aku memeluknya untuk yang terakhir, sebelum dia berangkat.
Erat. Singkat.
“Even if you’re a thousand miles, i’ll always love you.” Bisikku.
***
Kini, dua tahun sudah berlalu.
Dia sudah kembali kepadaku.
Masih dengan cinta dan rasa yang sama.
Kesetiaannya tak kunjung luntur termakan waktu.
Dan aku masih setia dengan janji semula; menunggu.
Kini, dia ada di sampingku.
Mengenakan jas hitam dan dasi yang rapi.
Aku melihatnya cepat namun lekat.
Wajahnya penuh guratan keyakinan.
Dia pekerja yang keras.
Dia lelaki periang.
Dia bertanggung jawab.
Dia menghargai wanita dengan sangat.
Saat ini kami sedang berada di depan altar gereja.
Bukan.
Bukan pernikahan kami.
Tapi sahabat kami.
Aku merasa bersyukur..
27 bulan bersama dan 24 bulan terpisah jarak,
Membuahkan cincin manis yang juga melingkar di jari manis kami berdua.
Jarak tak selamanya menjadi musuh.
Bertemanlah dengannya.
Dia akan menitipkan jawabannya pada waktu, yang akan menjawab semua kekhawatiranmu.
Jarak tak selamanya menjadi musuh.
Jeda panjang yang kau rasakan adalah tempatmu membangun harapan.
:’)
ditulis @siitiikaa dalam http://tikazefanya.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment