Monday, September 3, 2012

Gaun Hitam


Namaku Tatiana. Good news is bad news. Kabar baiknya, tahun ini aku lulus sekolah. Beberapa saat lalu, kabar tersebut sangat menggembirakan. Namun, kertas putih, dengan lipatan yang tadinya rapi lengkap dengan amplop persegi panjang, penentu masa depan yang seharusnya membuat bahagia, kini tidak lagi berbentuk. Kurobek sebagai bentuk pelampiasan kekesalanku. Sisa cabikan kertasnya memenuhi ujung koridor lantai dua gedung sekolah tempatku berdiri, sekarang. Kabar baik lalu diikuti kabar buruk memang tidak pernah terasa adil. Kabar buruknya, Deo, kekasihku, memutuskan jalinan kasih dengan alasan tidak akan sanggup menjalani hubungan jarak jauh. Ya, masing-masing dari kami akan melanjutkan pendidikan ke negara berbeda. Walaupun Deo berjanji akan kembali setelah tanggung jawab kuliah terbayarkan, tetap saja aku merasa kecewa. Tidak ada kesempatan diberikan untuk membicarakannya. Bahkan, mengucap salam perpisahan pun aku tidak bisa. Lewat pesan singkat terakhir yang dikirim satu jam lalu akhirnya dapat kuketahui keberadaannya, sebelum burung besi raksasa membawanya jauh ke Italia.

—-

Cissy memang ahli dalam menyiapkan pesta. Sebagai mantan ketua OSIS, acara tertutup; khusus kelas kami, untuk merayakan kelulusan, dipercayakan pengurusannya kepada ia dan teman satu gang-nya. Halaman kecil di belakang rumah berhasil disulap menjadi ruangan serba putih lengkap dengan pernak-perniknya. Beberapa alat musik tertata rapi di atas panggung sederhana sebelah kanan kolam ikan. Keriuhan terjadi pada saat teman-teman bertemu dan saling mengomentari penampilan. Sisanya sibuk mengudap makanan ringan sambil bersenda gurau. Sedangkan aku, memilih duduk di sudut belakang kiri, membaca buku. Memang, bukan saat yang tepat mengasingkan diri, sekarang. Namun, kuyakin semua tahu, pikiranku kini sedang tidak ada di sini.

Alih-alih menyemarakan acara, Cissy menambahkan satu kegiatan rahasia ke dalam agenda pesta; kompetisi dansa. Semua tamu wajib berpartisipasi dan bebas memilih pasangannya masing-masing, mengingat jumlah siswa dan siswi yang sama rata. Hal ini tampak lucu karena semua peserta harus berlaku mesra agar memenangkan perlombaan tersebut. Hingga tiba pada saat namaku dipanggil, tamu terakhir, namun, tidak ada lagi pasangan tersisa untuk menemaniku berdansa. Cepat kugelengkan kepala ke arah Cissy, isyarat menolak. Kami lupa bahwa jumlah keseluruhan siswa-siswi sudah tidak lagi genap. Deo absen. Andai saja ia sedang tidak berada jauh di sana, tentu saja aku dan Deo akan memenangkan permainan ini.

Perayaan berjalan meriah, penuh dengan canda dan tawa. Aksi lucu teman-temanku yang memang tidak tahu malu cukup membantuku melupakan kesedihan ini. Ditambah dengan beberapa nasehat dan semangat dari mereka yang peduli. Usaha teman sekelasku mengembalikan Tatiana yang dulu ceria cukup berhasil. Makanan yang disajikan sudah hampir habis. Suara para penyanyi amatir yang sejak awal pesta bergantian menyumbang lagu pun sudah berganti dari merdu ke parau. Hingga seorang bapak dengan raut wajah sejuk mengingatkan bahwa hari sudah menunjukkan pukul satu pagi, tanda pesta wajib segera diakhiri. Usai foto bersama untuk keperluan dokumentasi, kalimat perpisahan pun terucap. Haru bahagia menyelimuti ruangan ini.

—-

Entah karena mengantuk atau terlalu banyak melamun, dalam perjalanan pulang, aku tidak sengaja menyerempet pengendara motor hingga ia terlempar beberapa meter dari tempatku menghentikan laju mobil. Bergegas kupakai cardigan merah untuk menutupi bagian atas gaun hitamku lalu keluar untuk memeriksa keadaannya. Seorang pria dengan jaket hitam terbaring mengaduh. Ia perlahan duduk, menengok ke arahku lalu berjalan mendekati motor besar biru yang tergeletak, menaiki motor tersebut, bersiap pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Kukejar lalu kutarik lengan jaketnya sebagai tanda minta maaf, namun, ia hanya membuka kaca penutup helm dan tersenyum, manis. Tidak ingin dianggap kurang bertanggung jawab, segera kuambil kartu nama dari dalam tas dan langsung kuselipkan ke dalam kantong jaketnya. Ia berlalu. Sehilangnya ia dari pandanganku, penglihatanku tertuju pada sebuah kotak kecil cokelat di tempatnya terbaring tadi. Dompet kulit dengan berbagai kartu identitas sang pemilik. Senyumku pun tersungging, kupikir, setidaknya masih ada kesempatan utnuk menebus kesalahan malam ini, esok hari.

—-

Tiba-tiba kedua mataku terbuka lebar, pertanda terbangun dari tidur, bersamaan dengan berderingnya alarm di atas meja belajar. Sinar matahari tampak sangar masuk melalui sela-sela tirai penutup jendela. Waktu menunjukan pukul delapan pagi. Masih banyak waktu untuk menyiapkan diri sebelum sahabatku datang menjemput. Hari libur pertama paska kelulusan sekolah akan kuhabiskan menemani Coula, teman sebangkuku dulu, menjemput tante yang datang berlibur dari Jerman. Tersadar, sepertinya sekarang aku butuh lebih banyak pakaian baru melihat sedikitnya pilihan yang bisa kuambil. Mungkin, selera berpakaianku masih sederhana. Padanan oversized sweater hijau, short pants hitam, dan flat shoes putih, kurasa cukup nyaman untuk dipakai hari ini.

Beberapa jam kemudian tibalah kami berdua di lapangan parkir sekitar bandara. Coula memintaku untuk menunggu di sebuah kedai kopi. Merasa lapar, kupesan dua buah roti dan satu gelas cokelat hangat. Beruntung tadi sempat memasukan satu buah novel romantis ke dalam tasku. Sembari menunggu Coula datang, akan kubaca beberapa lembar untuk membunuh waktu. Baru saja membuka lembar pertama, mataku terpaku pada sneakers lusuh hitam yang berdiri beberapa sentimeter dari tempatku bersantai. Kuangkat kepalaku untuk melihat pemiliknya. Seorang pria manis tersenyum ramah. Dahiku mengernyit bentuk ekspresi mengingat-ingat wajahnya, namun, aku yakin tidak mengenal pria ini. “Malachy,” sapanya sambil mengulurkan tangan. “Ingat?” lanjutnya.

Belum sempat kujawab, pria tersebut kembali tersenyum dan duduk di depanku tanpa permisi. “Dompetku hilang semalam, kuyakin tertinggal di sana, tapi tadi pagi sudah tidak ada,” paparnya sambil meneguk cokelat hangatku. “Rotinya enak,” komentarnya sambil terus mengunyah roti pesananku. Tawaku meledak. Pria ini sangat lucu. Sikap acuhnya sama sekali tidak membuatku marah, justru geli. Mengingatkanku pada sosok Deo. Kututup buku yang sedari tadi kugenggam lalu memasukannya ke dalam tas. Kuhela napas untuk mengurangi tawa, khawatir jika akan membuatnya tersinggung. “Nomor yang ada di kartu tidak aktif, tapi untung bertemu di sini, masih bisa ganti rugi,” candanya. Aku lupa selulerku hilang. “Maaf, aku lupa kalau kartu itu sudah tidak berlaku. Selulerku hilang. Jadi, bagaimana keadaanmu? Berapa besar yang harus kuganti?” jawabku cemas. “Santai, aku baik-baik saja, hanya pegal-pegal sedikit, tapi sepertinya bukan karena terjatuh, beberapa hari ini aku kurang tidur,” tuturnya sambil tersenyum. Sekitar sepuluh detik tanpa sadar kami tidak berbicara, hanya saling menatap. Suara Coula membuyarkan pikiran kosongku. “Ternyata Tante Joice langsung pergi ke arisan sosialitanya, kita ke sini cuma menjemput koper-kopernya. Yuk!” katanya sambil sibuk memainkan seluler pintarnya dan berjalan meninggalkanku. Kutulis nomor telepon di selembar tisu dan memberi isyarat kepada Malachy untuk segera menghubungiku. Semoga dapat bertemu kembali.


ditulis @nindasyahfi dalam http://letsywrity.tumblr.com

No comments:

Post a Comment