Langit kemerahan senja dengan angin menderu geram. Di relungnya hamparan ombak bergulung, memeluk, melepas pagutan pada bibir pantai – meninggalkan sisa kecipak basahnya.
Perempuan itu berada di pantai sepi hingga leluasa memandang sejauh cakrawala. Tak dihiraukan angin yang bermain-main di ujung gaun mininya, terkadang nakal, menyingkap pahanya. — sesekali ombak pun ikut mencuri cium basah pada paha itu.
Direntangkan lengannya seolah akan memeluk sesuatu, tetapi kehampaan didapatnya. Digantungkan lengan itu cukup lama hingga akhirnya dijatuhkan di samping tubuhnya seiring hela kesalnya.
***
Dia sudah melihatnya dari jauh, sejak kedatangan hingga sepasang lengan ringkih itu terangkat dan seperti lunglai menghempas.
Sudah menjadi kebiasaannya berada di pantai ini. Berjalan menyusuri pantai kala senja. Sudah seharian ini belum juga menulis satu puisi pun. Entah ada apa dengan dirinya hari ini, hingga pandangannya menemukan siluet rapuh perempuan itu.
“Hei..”
Sambil menepuk bahu perempuan itu. Terkejut. Dilihat olehnya mata perempuan sudah sisa genangan banyak embun, bahkan halimun semakin memucatpasikan wajahnya.
“Jangan menangis lagi. Aku melihatmu sudah lama di sini. Kukira gundah itu seharusnya sirna. Sekalah wajahmu, sebentar lagi langit gelap. Pulanglah.”
Perempuan itu mengikuti kata-katanya. Langit memang hampir gelap.
“Aku, Lala.” Perempuan itu menyebutkan namanya.
“Diaz,” ucapnya, pendek saja.
“Dia pergi, begitu saja. Tanpa pesan, dan aku sunyi.” suara Lala masih serak.
“Sudah. Biarkan saja. Aku yang akan menemanimu.”
***
“Namanya Teddy,” bergetar suara Lala.
Baru saja mereka penuh gelak, selayak kanak-kanak bermain ayunan di taman bunga. Sudah bulan keempat saling mengenal. Kini dalam kelelahan canda mereka berbaring berdampingan.
“Itu siapa?” sedikit nada kesal, Diaz menghentak tanya.
“Lelaki itu. Pergi tanpa pesan,” suara lirih Lala menjelaskan pada Diaz yang hanya terdiam.
“Bukankah kini kamu memiliki aku, La.”
Diaz menyimpan kalimat terakhirnya dalam hati.
***
“Diaaazz…” Rajuk Lala sambil memeluk dari belakang. “Mengapa Teddy pergi ya, apa salah Lala?”
Punggung Diaz menegak, seperti baru saja sebuah trisula Neptunus dihantamkan pada dadanya. Sesuatu hangat merembeskan bukan darah, tetapi airmata perempuan yang dicintainya, semakin menghunjamkan ribuan belati dari belakang.
–Senja hari itu di pantai, membenam tuan matahari tanpa kehangatan.
Digenggam tangan Lala yang berada di perutnya, seolah mencari pilar. Mereka saling mencari pilar pada satu kepastian.
Diaz berbalik. Dan membawa Lala, dalam pelukan erat.
***
Bibir pantai itu masih bermain basah, dipagut ombak bergulung, di bawah relung senja temaram. Angin yang terus menderu, meredam desah nafas dua insan dalam cinta, memagut, berpeluh. Memeluk, menempuhi jejak kulit yang hangat.
Tiba-tiba Lala menghentakkan keintiman itu, dan segera membuat jeda, sejauh yang dia mampu.
“Mengapa La?” tanya Diaz, terkejut dan buru-buru membenahi kemejanya.
Lala hanya terdiam. Memalingkan badannya sambil membenahi bra dan gaunnya. Sedikit kesulitan, Diaz berusaha membantunya, tetapi Lala menjauhkan punggungnya dari tangan Diaz.
“Tidak, Diaz.”
“Karena Teddy? Lelaki itu yang entah di mana? Mengapa La, tidakkah kau melihat aku.”
Lala menghela nafas. Menggelengkan kepalanya. Embun menggenang di kerjapnya.
“La, aku mencintaimu. Berulang kali sudah kukatakan. Pun kamu sudah membalas. Kita harus kuat La.” Diaz berusaha mencoba memeluknya.
Lala hanya terdiam.
“Aku kuat denganmu. Lupakan Teddy. Itu membuatku kesal.” Suara Diaz semakin serak, sesak mengumpul di dadanya.
“La, ini tak kan mudah, akan banyak yang tak menyukai kita, tetapi atas nama cinta akan banyak membela kita, percayalah.”
Anak sungai mulai berkelok deras dari hilir kepercayaan.
Hingga nafas panjang dihela Lala.
“Diaz, aku mencintaimu. Apapun kamu, kucintai kamu. Aku kuat karena denganmu.”
Hembus lega dari paru-paru Diaz yang sudah sesak oleh gelisah.
“Meski kita perempuan,” Lala melanjutkan ucapnya.
***
Biarkan aku untuk jadi kasihmu
Kar’na kau percaya ungkapan
Jika tak harus memiliki
Terlambat jika aku harus berubah
Ku terlanjur ingini semua
Yang ada di dalam dirimu
Yang ada bila tak juga kau sadari
Akan kutempuh banyak cara
Agar engkau yakin semua mauku
(Inginku, bukan hanya jadi temanmu – Yovie n Nuno)
Ditulis oleh @_bianglala kepada kak @dzdiazz dalam http://pelangiaksara.wordpress.com
No comments:
Post a Comment