Sunday, September 16, 2012

Saranghae, Tsukiatte Kudasai

Nam Davichi, 20tahun, SPG.

“Kakiku …”, selalu itu yang ia keluhkan setelah pulang ke sebuah kamar sewa yang ia bayar Rp. 300.000,- per bulan. Hidup di sebuah kota yang lumayan besar ini juga membutuhkan lumayan banyak tenaga. Seandainya berwajah cantik saja bisa untuk makan di restoran secara gratis, hidup pasti tidak akan serumit ini.

Davichi hanya seorang gadis Korea yang berwajah manis. Pujian itu yang teman-teman sekitarnya ucapkan. Iya, wajah Davichi memang selalu dihiasi senyum. Dengan tulus ia tersenyum, selain menyunggingkan bibir adalah pekerjaannya sehari-hari. Pun ketika hari itu …

Hari yang berhujan di awal Februari. Davichi bergegas memasuki halaman sebuah pusat perbelanjaan di bawah hujan yang cukup deras setelah turun dari angkutan umum kota. Entah sedang sial apa, Davichi bertabrakan dengan seorang laki-laki di tengah jalan. Tubuh Davichi yang tinggi 167 cm dan berat 49 kg itu terhuyung hingga jatuh dengan posisi duduk di genangan air. Laki-laki yang ia tabrak terus saja berlari dengan memeluk sebuah benda di dadanya. Nampak laki-laki itu sangat terburu-buru. Davichi kesal pada kejadian yang menimpanya pagi itu. Melihat lagi pada pakaian kerja yang sepenuhnya basah.

‘Kecantikan berkurang 100%’
~ The_vici


Namun hari itu ia tetap bekerja, meski dengan mengenakan pakaian yang ia pinjam dari temannya. Davichi berdiri dengan anggun menutupi rasa khawatirnya pada rok mini yang sebenarnya bukan ukuran pas untuk kaki jenjangnya. Lagi, Davichi tersenyum begitu ramah pada semua orang yang hilir mudik melintasi stand jualannya. Meskipun mereka hanya melintas saja, tanpa berniat untuk mampir ke stand jualan.

“Lelah ya, Chi”, gumamnya sendiri. Davichi mengangkat kepalanya melihat bintang-bintang yang bertaburan di malam itu. Davichi menyeret langkah memasuki gang tempat tinggal sementaranya. Begini rasanya menjadi seorang perempuan dewasa. Tidak semudah saat masih kecil. Davichi meratapi, mungkin meratapi tubuh yang tidak mungkin menjadi anak kecil selamanya.

Pernah pada suatu perbincangan dengan teman-teman sekerjanya, salah seorang dari mereka mengusulkan : bagaimana kalau kita memikat pengusaha kaya saja? Hahaha, yang lain hanya tertawa. Mungkin ada benarnya, kali ini Davichi berpikir kembali. Mungkin yang diucapkan temannya adalah hal yang ia butuhkan saat ini. Menikah dengan pengusaha kaya akan membuatnya menjadi nona kaya dan tidak perlu lagi berdiri di stand jualan dengan pakaian yang ia akui dalam hati sangat minim ini.

‘Laki-laki kaya adalah harta, Perempuan miskin hanyalah tempat penyimpanan’
~ The_vici


Sebaris kata itu yang ia tuliskan di akun twitternya. Telah cukup lama Davichi memiliki akun jejaring sosial itu, namun temannya masih terbilang sedikit. Kebanyakan di antara mereka adalah peramu kata. Hingga Davichi pun seakan tertular wabah menjadi puitis dan bijak. Ah iya, bijak. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa bijak adalah sekedar kata-kata.

Bijak memilih misalnya, seperti saat Davichi dihadapkan untuk berkenalan dengan seseorang di twitter, di jejaring sosial yang entah berwujud atau tidak. Laki-laki itu menggunakan nama akun sebagai 02PM. Bermula dari sajak demi sajak yang Davichi tuliskan di akun twitternya, hingga membahas tentang perbedaan budaya yang ada di antara keduanya. Davichi dan laki-laki yang mengaku bernama Hiro, entah sosok yang seperti apakah Hiro ini, kini menjadi semakin dekat. Bahkan beberapa teman di jejaring sosial mereka saling menjodohkan keduanya sebagai pasangan paling kompak. Juga ditambah dengan menuliskan sajak-sajak sarat cinta yang seakan terjadwal oleh keduanya. Semakin membuat dunia cemburu.

‘Sepatu yang indah akan membawa langkahmu ke tempat yang lebih baik, aku percaya itu’
~ The_vici


Ia melihat lagi pada tungkai kaki kesepiannya. Huh, jenjang yang ramping dan kosong. Davichi sayang pada kedua tungkai kakinya. Betapa kaki itulah yang membuatnya melangkah sejauh ini. Membuatnya berani mengambil keputusan untuk berhenti dari tempatnya bekerja dan menggapai impiannya menjadi orang kaya, atau lebih tepatnya menjadi istri orang kaya. Yang Davichi harapkan seperti itu. Semenjak …

‘Aku akan ke Tokyo tanggal 4 September ini’
~ The_vici untuk 02PM melalui direct message

‘Kamu sampai kapan di Tokyo? Tanggal 4 aku ada jadwal ke Akita. Bisa hubungi aku di +81xxxxxxx’
~ 02PM untuk The_vici melalui direct message

‘Seminggu, mengunjungi keluargaku. Aku harap kita bisa bertemu’
~ The_vici untuk 02PM melalui direct message


Davichi meletakkan handphonenya dengan sedih, yang ia harapkan adalah jawaban bahwa : nanti aku jemput di bandara. Tetapi di hari yang sama Hiro akan melakukan penerbangannya. Jepang dan Korea begitu jauh. Itu yang tertanam di pikiran Davichi. Ia telah mengorbankan segalanya agar dapat ikut dalam penerbangan ke Jepang. Segalanya. Pekerjaannya yang meski tidak seberapa itu, teman-teman sekerjanya yang menyenangkan, dan kesempatannya untuk dimutasi sebagai administrasi di kantornya.

Nam Davichi, 20 tahun, pengangguran.

Davichi melangkah sedih, ia pikir Hiro harusnya menunda saja penerbangannya ke Akita. Demi Davichi. Hiro harusnya saat ini melihat Davichi yang cantik, yang mengenakan pakaian terbaiknya saat menuruni tangga dari pesawat. Betapa seharusnya Hiro terpikat, seperti yang diucapkan teman-teman Davichi.

‘Tidak ada usaha yang sia-sia’
~ The_vici


Beberapa hari Davichi hanya mengurung diri di rumah pamannya. Bukan karena salju yang menyelimuti jalanan, juga bukan karena matahari bersinar dengan teriknya. Hanya awan mendung yang menemani Davichi menanti Hiro membalas beberapa pesannya di jejaring sosial. Alasan Davichi tidak menghubungi Hiro melalui ponsel, selain ia ingin bertemu secara langsung. Davichi tidak ingin tertipu oleh suara. Karena suara tidak akan menggambarkan dengan benar sosok pemiliknya.

Berapa banyak laki-laki Jepang yang memiliki nama Hiro, mungkin sama banyaknya dengan perempuan Korea yang bermarga Nam. Sebanyak itu pula kemungkinannya mereka tidak berjodoh. Hiro, menurut penuturannya, ia akan segera mencalonkan diri sebagai anggota dewan di pemerintahan. Pejabat pemerintahan. Huh, betapa Davichi tergiur. Davichi akui bahwa ia hanya perempuan biasa yang sama seperti lainnya, yang akan jatuh cinta dengan laki-laki bertitle ‘kaya’. Ia masih perempuan normal itu. Cinta belum membutakannya.

‘Aku sudah tiba di Tokyo’
~ 02PM untuk The_vici melalui direct message


‘Kita bertemu di mana?’
~ The_vici untuk 02PM melalui direct message

‘Taman Ueno?’
~ 02PM untuk The_vici melalui direct message

‘Taman Ueno, jam 10, bawa payung merah’
~ The_vici untuk 02PM melalui direct message

‘Taman Ueno, jam 10, berdiri di tengah perempatan depan museum nasional’
~ 02PM untuk The_vici melalu direct message

Berdebar. Jantung terasa akan melompat keluar dan bersembunyi di laci meja. Detik demi detik menunggu hari esok tidak akan jadi begitu mendebarkan bila tidak ada acara temu janji seperti ini. Keesokkan hari Davichi menyiapkan payung warna merahnya, sebuah payung lipat yang ia simpan di dalam tas. Meskipun ramalan cuaca cerah, payung ini adalah takdir untuk Davichi. Dengan pasti ia melangkah menuju Yamanote Line, menuju kereta yang akan membawanya ke Ueno. Membawa mimpi-mimpinya.

Setibanya di Ueno ada sedikit awan mendung yang tiba-tiba menggantung di langit Taman Ueno, dan banyak awan mendung di kegundahan hati Davichi. Apakah kali ini ramalan cuaca kurang tepat? Yah, tetapi di depan sana adalah Museum Nasional Tokyo. Davichi kini berdiri tepat di depan museum terbesar di Jepang khusus untuk seni tradisional orang Jepang. Ia mengitarkan padangannya mencari letak perempatan yang Hiro sebutkan. Davichi sengaja datang lebih awal, agar ia dapat melihat siapa yang akan berdiri di tengah perempatan itu dengan pasti. Detik demi detik, tak kunjung satu orang pun yang berdiri di sana. Sudah lebih dari 15 menit dari waktu yang mereka janjikan. Membuat kegundahan semakin menjadi-jadi.

Langit yang sedari tadi mendung akhirnya runtuh juga. Dengan terpaksa Davichi berlari meninggalkan perempatan tempat mereka bertemu janji. Sebelum menjadi sangat basah, akhirnya Davichi mengembangkan payung merahnya. Ia berjalan menuju gedung museum untuk bernaung.

‘Tap’, tangan seseorang menangkap sebelah tangan Davichi yang menggenggam payung. Laki-laki itu tersenyum.
“Jarang ada yang membawa payung jika ramalan cuacanya cerah. Dan payung yang berwarna merah”, ucapnya menjelaskan.
“Hiro?”
“Hiro Takagawa, 30 tahun, single”

Hiro … ini yang namanya Hiro. Dia benar ada di Jepang. Aku kira dia hanya akun tidak nyata di twitter.


‘Pada musim berhujan, air mataku memenuhi botol, dan siap untuk kuminum saat menunggumu.’

*) Diinspirasi dari lagu Water Bottle – Davichi.


Ditulis oleh @___el dalam http://noteofme.wordpress.com

No comments:

Post a Comment