Tuesday, September 4, 2012
Jadi Kita Gimana?
Ini tentang kisah kita. Kisah aku dan kau. Dulu. Saat kita masih punya cerita yang sama.
Langit tampak tenang, senja baru saja bertamu, garis jingga membentang luas membelah cakrawalanya. Bintik-bintik hitam bersayap berterbangan di atas sana, berapa hendak kembali ke sarangnya. Oh Tuhan, suasana semakin gelap. Satu persatu lampu di jalanan mulai dinyalakan, toko-toko di pinggiran pun mulai tampak meriah dengan kerlap-kerlip papan bercahaya milik mereka masing-masing.
Aku masih terduduk di halte ini, menatapi berbagai macam kendaraan yang melesat di jalanan. Riuh! Tapi aku suka ini semua, untuk beberapa alasan yang aku sendiri tak tahu mengapa. Langit semakin tak mentolerirku! Ini sudah hampir larut, satu pun Bis tak kunjung datang. Aku menyandarkan diri pada tiang halte, menikmati cahaya-cahaya di malam hari yang memeriahkan kesepianku.
“Ku harus menemui cintaku…
Mencari tahu hubungan ini…
Apa masih, atau telah berakhir…”
Aku tersentak dari lamunanku saat itu juga! Suara darimana itu? Aku mengenalnya! Mataku menjelajah ke segala arah. Oh, ternyata ada sebuah cafe kecil yang tak jauh dari halte ini tengah memutar lagu yang kukenal itu. Ya, aku mengenal lagunya. Siapa yang tak mengenal lagu itu, tentang seseorang yang tengah kebingungan mempertanyakan hubungannya?
“Kau menggantungkan hubungan ini…
Kau diamkan aku tanpa sebab…
Maunya apa, ku harus bagaimana…”
Oh, Tuhan! Demi empat penjuru mata angin, aku tak bisa menahan diri ini untuk tetap diam dan menikmati pemandangan yang ada. Kau mendarahkan kembali luka yang hampir sembuh. Hampir. Belum seutuhnya. Beribu bayangan pun berkelebat di dalam benakku. Aku tak tahu itu apa. Satu kisah rapuh. Satu kisah yang menyeruak kembali ke dasarnya. Perlahan kusibak… Tidak! Ini terlalu perih!
Lantas bagaimana? Aku ingin mengenangnya, tapi aku tak ingin mengingatnya!
Dulu, aku pun pernah dicintai, aku pun pernah disayangi, aku pun pernah merasakan betapa hangatnya sebuah pelukan.
Sudahlah, aku tak tahan lagi!
***
Siang itu kau memelukku, dan aku tak pernah ingin melepaskannya. Ya, aku tak pernah bosan berada di pelukanmu. Aku tersenyum, begitu pun kau.
“Kenapa harus di Jakarta?” Tanyamu sekali lagi. Aku hanya tersenyum dan tak menjawab apapun.
Aku menciumi pipimu sekali lagi, kau mengelak. “Sudah sudah!” Ucapmu kesal. Ya, aku terlalu berlebihan, tak pernah bosan dan malu untuk mencium dan memelukmu di manapun.
Sore tiba, aku duduk di ruang tunggu dan tengah menanti jam keberangkatan pesawatku. Kita saling berkiriman pesan singkat. Kau tak henti-hentinya memastikan keadaanku, dan kini aku yang mulai muak, kau tak seperti biasanya yang angkuh dan cuek. Kau berubah menjadi lebih peduli. Dan aku benci semua itu. Tolonglah, jangan buat aku semakin berat untuk sedikit lebih jauh darimu.
Kau meneleponku lagi untuk ke sekian kalinya.
“Aku ngantuk,” ucapku manja.
“Tidur.” Katamu santai.
“Pesawatnya?”
“Biarin aja.”
“Ntar aku gak jadi Kuliah deh!”
“Kuliah di sini aja kalo gitu.”
Pembicaraan kita terus berlanjut. Kau tak henti-hentinya memanjakanku secara sembunyi-sembunyi pada setiap kalimat-kalimatmu. Dan aku suka itu. Aku tak pernah bosan.
Hampir tiga jam berlalu, dan kini aku telah berada di Jakarta. Masa bodoh dengan yang lainnya, orang yang pertama kukabari adalah kau! “Khun, aku udah di rumah, tadi dijemput tante. Sekarang lagi apa?” Satu pesan singkat yang kukirim padamu malam itu.
Balasan darimu tak kunjung ada. Aku mulai berpikiran tak karuan. Ya, aku memang pencemburu. Bagaimana tidak? Begitu banyak yang mengidolakanmu. Dan aku selalu merasa beruntung menjadi seseorang yang masih bertahta di hatimu. Aku bangga, sayang. Dan aku tahu kau setia.
Aku duduk berkumpul bersama keluarga yang lainnya, tapi pikiranku sedang tak bersama mereka, kau telah merenggutnya sejak beberapa menit yang lalu. “Kau sedang apa? Sedang di mana? Tidak sedang bersama orang lain, bukan?” Hatiku terus bertanya-tanya.
Ah, malam semakin larut. Aku ingin tidur. Tak ada gunanya menunggu kabar darimu. Lagipula, aku tak bisa berbuat apa-apa dengan jarak sejauh ini. Jika kau rindu, kau akan mencariku.
Pagi esoknya pun tiba. Kudapati tiga pesan singkat dan dua panggilan tak terjawab. Sudah pasti itu darimu. Alasanmu? Kau meminta maaf karena tadi malam sudah tertidur pulas. Aku percaya itu, karena aku mengenalmu.
Berbulan-bulan kita lewati dengan jarak yang tak pernah dekat. Kita berada di dua pulau yang berbeda. Aku semakin menyayangimu. Enam bulan berlalu, dan di kota semegah ini tak pernah kutemukan satu orang pun yang bisa menggantikan tahtamu di hatiku, dan aku harap kau pun begitu.
Kita sabar ya, sayang. Bercerita setiap malam tanpa saling bersentuhan. Kau bercerita tentang berbagai rencanamu di masa yang akan datang, dan aku tak pernah hentinya mengaminkan. Ingat bukan dengan satu klinik besar yang akan kita dirikan bersama?
Sudah saatnya bagiku menemuimu. Enam bulan dalam kerinduan yang tak pernah hentinya menerjang bukanlah hal yang mudah. Berbagai prasangka dan rasa cemburu kerap bertamu, tapi aku berusaha menepisnya, karena aku harus tetap percaya kamu, sayang. Aku membayangkan wajahmu, senyummu, tapapan matamu… Semuanya terasa menyenangkan! Keinginanku untuk bertemu denganmu semakin menggebu-gebu.
Detik demi detik berganti, menit bergulir, jam pun bergerak tanpa irama yang pasti, kini kita tengah saling bertatapan satu sama lain. Kau tersenyum malu-malu, begitu pun aku. Kita sudah tak bertemu selama enam bulan dan ada banyak perubahan yang aku lihat pada dirimu. Oh sayang, kau semakin luar biasa!
Seperti biasanya, minggu-mingu liburan itu hampir kita habiskan berduaan sepenuhnya. Aku tak pernah bosan berada di dekatmu. Ya, aku menyayangimu.
Tak terasa, kejadian enam bulan yang lalu kembali terulang kembali. Aku dan kau tengah duduk berdua, menyambut waktu penerbanganku nanti sore. Tapi kali ini ada yang berbeda, kau tengah diam dengan wajah bingung menatapiku. Dan aku? Aku menyandarkan wajahku pada sebuah ransel hitam yang kubawa. Ya, kita baru saja selesai bertengkar. Aku tahu kau bercanda menyebut-nyebut nama mantanmu, tapi itu fatal, sayang. Setiap ucapanmu akan selalu kuingat. Apa jadinya jika kita berjauhan nanti dan aku teringat akan candaanmu itu? Bagaimana jika itu bukan candaan? Aku tak berbicara sepatah kata pun. Kau tak henti-hentinya meminta maaf dan aku masih diam.
Panggilan untuk pesawatku! Aku bergegas memasuki ruang tunggu dan tak menoleh ke arahmu. Kau menarik lenganku, kutepis. Kau memanggilku lagi dan aku tak mempedulikannya sedikit pun. Menoleh ke arahmu pun aku tak mau. Aku jijik melihatmu untuk kali ini.
***
“Sampai kapan kau gantung ceritaku memberi harapan…
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi dan meninggalkan dirimu…
Tentunya hubungan cinta denganmu membuatku sakit…”
Mataku terasa sembab, mungkin berkaca-kaca. Ah, tak apalah, tak ada yang melihat, pikirku. Aku mengusap air mataku dengan jari-jariku. Sudah hampir dua tahun, bisikku pelan.
Bagaimana kabarmu di sana? Dengan siapa kau sekarang? Apakah dia sepeduli aku? Aku rindu kamu, bisikku dalam hati.
Semenjak sore keberangkatan itu, kita tak pernah lagi bertegur sapa, bukan? Aku tiba di Jakarta dan tak satu pun pesan singkat yang kudapati darimu. Ya, sekarang aku sadar. Aku yang salah. Aku membesarkan masalah kecil yang seharusnya tak kupermasalahkan. Kau benar, aku adalah seorang pencemburu buta.
Sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu sore itu, ketika kau memanggil-manggilku, memegangi tanganku dan aku justru mengabaikannya, menoleh ke arahmu pun aku tak mau. Aku tahu rasanya dan aku menyesal melakukan itu.
Semenjak itu, tak ada lagi kabar tentangmu. Aku mencari tahu, tapi kau tahu betul cara membatasi keingintahuanku itu. Di suatu malam, aku memberanikan diri mengirim pesan singkat untukmu, kau tak membalasnya hingga berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan, hingga saat ini. Ya, mungkin ini satu hukuman untukku.
Jadi, kita putus?
Jadi, kita bagaimana kelanjutannya?
Percayalah, satu ruang di hati ini telah kututup rapat dan hanya kau yang ada di dalamnya. Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Aku menyesal dengan sifat kekanak-kanakanku yang justru menjauhkanmu.
Sayang, jika ada waktu, kabari aku. Walaupun aku harus mendengar atau membaca satu kalimat yang menyakitkan, paling tidak aku tak terbebani lagi dengan perasaan berdosa. Seharusnya kau tahu bagaimana rasanya hidup dalam ketidakjelasan seperti ini.
-Irvan Wira Adhitya-
Ditulis oleh @vanatigh dalam http://irvanwiraadhitya.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment