Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I’m afraid to fall?
Pagi masih terlalu buta untuk sekedar menyaksikan langit yang belum juga menjingga. Pagi masih terlalu dini untuk sekedar mengeluh kesah. Tapi pagi tidak pernah menolak untuk menjadi waktu paling nyaman bagi jiwa – jiwa rapuh yang ingin menangis, mencurahkan segala bentuk kepedihan juga sedikit rupa kehampaan.
Aku masih terkukung bayang masa lalu. Satu – dua kali masih dihantui kenangan. Sewaktu dua waktu masih mengharapkan Ia kembali. Ah, lucu sekali. Betapa kepayahanku ini begitu lucunya hingga kecoa di sudut jalan saja tersedak dari sarapannya.
Bukan satu – dua bulan aku berusaha untuk melupa. Tapi waktu sudah terhitung dalam skala tahun. Ini sudah tahun ke berapa aku malas menghitungnya. Sebab itu sama saja aku akan mengetahui seberapa parah rasa sakit yang aku alami.
Sekalipun kini mentari sudah berpejar di timur, tapi langkahku masih juga payah. Mungkin tersenyum aku masih bisa, sedikit. Mungkin tertawa pun masih bisa, biar pun terlihat palsu. Tapi sembuh dari kepayahan? Atau sekedar bangkit dari kelemahan? Entah.
Ketakutan yang timbul dari kesepian yang terlalu lama, begitulah. Sesekali aku pernah berpikir, bisakah aku membuka hati kembali? Bukan masalah waktu, tetapi bisakah? Apa aku bisa? Pertanyaan itu cukup mengganggu.
***
But watching you stand alone
All of my doubt
suddenly goes away somehow
Malam selalu tiba lebih cepat dari hari ke hari. Seolah matahari ingin bergegas istirahat. Namun malam berlalu demikian panjang dirasa oleh sekumpulan hati yang bernanung dalam sunyi. Seperti aku, misalnya.
Kesepian terkadang membuatmu menjadi sosok yang lebih religius. Lucukah? Tidak. Aku merasa ingin sekali bertemu Tuhan. Bercerita banyak hal yang membuat hati risau. Hei, bukankah ibadah satu - satunya cara manusia bertemu Tuhannya.
Kadang aku bertanya pada hatiku dan mungkin juga pertanyaan - pertanyaan ini terucapkan di tiap doa. Apakah mungkin di belahan bumi yang lain ada juga hati yang tengah trauma asmara tapi ingin kembali mencinta? Adakah hati yang juga tengah berusaha memecah kesunyian? Tetiba, iya dengan waktu yang tetiba tiap kali pertanyaan ini melintas, begitu saja, aku merindukan sosok ini. Tanpa keraguan sedikitpun. Sosok kekasih sejati, yang tengah terjebak kesepian dan menantikan pertemuan.
***
One step closer
Tuhan yang tau kepada siapa cinta akan kuberikan secara utuh. Tuhan yang dengan rahasia sudah menyimpannya rapat - rapat dan mempertemukan kami di waktu yang tepat.
***
I have died everyday waiting for you
Darling, don't be afraid I've loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Kelak bila waktunya tiba, entah itu di teduhnya fajar atau di tengah romansa senja, aku berani bersumpah tidak hanya hatiku yang bergemuruh gaduh tapi sekujur tubuh ini jelas luluh. Entah hanya bertukar pandang ataupun berbalas senyuman. Pasti aku gemetar.
Kemudian janji terucap tak hanya sekedar janji yang cepat basi. Tapi janji dengan seluruh tubuh menjadi saksi.
***
Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
what's standing in front of me
Every breath, Every hour has come to this
Indah nian malam memagut mimpi. Baru membayangkan saja aku sudah senyum - senyum sendiri.Begitulah malam menumbuhkan keberanian hanya lewat setitik mimpi. Mimpi yang selalu Tuhan berikan tiap kali aku berkeluh kesah, tiap doa - doaku naik ke atas langit. Sedikit banyak berhasil menenangkan hati, meski belum menghilangkan sepi.
***
And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more
Selalu seperti itu aku melewati malam yang panjang. Dengan keluh kesah, dengan doa - doa, dan mimpi indah. Yang kemudian memupuk keberanian untuk mencinta, meski terkadang satu - dua kenangan merusak segalanya. Tetapi kepercayaan akan hadirnya kekasih hati sejati memberi keindahan tersendiri.
Setidaknya, aku percaya kesepian ini memiliki akhir, kelak.
***
Sufia.
*)Thanks to Christina Perri who has brought this song perfectly. and also thanks to JungSungha who has rearrangement this one. Nice! :)
Ditulis oleh @upisufia dalam http://upisufia.blogspot.com
No comments:
Post a Comment