Sunday, September 2, 2012
Janji Hati
“Namaku Gema. Aku ketua kelas di kelas yang akan kamu masuki nanti. Ada 38 siswa siswi di kelas itu. Tenang aja, semuanya baik dan menyenangkan. Kamu pasti akan betah di sana. Kalau perlu sesuatu kamu bisa bilang langsung ke aku nanti. Ok?”
Itulah pertama kalinya kita berbicara, saat aku baru saja menjadi siswa pindahan di SMA baru. Saat itu, ruang gurulah yang menjadi saksi dari pertemuan pertama kita. Dan sejak saat itu juga, aku mulai menaruh simpati kepadamu.
Menyenangkan. Hal pertama yang kurasakan saat berbicara denganmu. Tutur kata yang lembut namun tegas membekas di telingaku. Suara yang berat dengan tawa yang renyah membuatku tersenyum setiap kali mendengarnya. Keramahan, tak hanya padaku, namun pada semua orang, membuatmu terlihat menarik di mataku. Dan tentu saja, kepintaranmu dalam menempatkan diri di setiap suasana menjadi nilai lebih bagiku.
Siswa yang aktif. Sangat aktif. Pikirku waktu itu. Menjadi ketua kelas bukanlah hal yang mudah. Meskipun bukan termasuk siswa yang mendapat ranking 10 besar di kelas karena kepintarannya dalam hal pelajaran, namun dirimu termasuk dalam 10 siswa yang paling aktif di kelas.
Lagi-lagi aku mengenang masa lalu. Pertemuan saat itu takkan pernah aku lupakan. Semua itu terjadi 8 tahun yang lalu. Itu artinya sampai detik ini, aku sudah 7 tahun bersamamu. Ya. Setahun setelah kita saling berkenalan, kamu memintaku untuk menjadi kekasihmu. Aku ingat itu. Dan sampai saat ini masih kamu yang jadi satu-satunya sosok yang ada dihatiku.
Sudah selama itu. Dan saat ini aku sedang menunggumu menjemputku. Rencananya nanti kita akan makan malam bersama merayakan 7 tahun lamanya kita bersama. Meski masih berstatus sepasang kekasih dan belum menjadi suami istri.
Ah. Pikiran itu datang lagi kepadaku. Dua tahun belakangan ini pertanyaan demi pertanyaan datang dari orang tuaku. Dari keluarga besarku juga. Pertanyaan kapan kiranya kamu akan datang dan melamarku. Memintaku menjadi istrimu yang sah.
Seringkali, pertanyaan dan sangkaan dari orangtuaku, bahkan keluarga besarku, membuatku ragu. Memang kita tak pernah bertengkar hebat, bahkan sampai berpisah sementara. Kalau boleh kubilang, meski terkadang diiringi pertengkaran kecil, namun hubungan kita lancar dan akur. Memang dirimu bukan tipikal orang yang sangat romantis dan seringkali memberikan hadiah, atau mungkin mengucapkan cinta setiap saat. Mungkin selama 7 tahun ini aku mendengarmu mengucapkan kata cinta itu tak lebih dari 5 kali. Tapi setidaknya, kita sama-sama tahu bahwa kita saling cinta.
Ragu? Ya. Aku pasti pernah meragu. Aku juga pernah takut aku hanya mengharapkan sesuatu yang tak pasti darimu. Aku takut, nantinya hubungan kita bukannya bertahan tapi malah berakhir. Aku sendiri sebenarnya bukan tipikal orang yang ingin terburu-buru menikah. Aku ingin menikah di waktu yang tepat nantinya jika kita berdua memang sudah sama-sama siap untuk menuju ke jenjang itu. Namun aku juga tak ingin terlalu lama menunggu. Aku juga wanita biasa dan menikah adalah salah satu hal istimewa yang kutunggu dalam hidupku.
Pertanyaan, “Apakah masih cinta?” juga terkadang melewati pikiranku. Pernah beberapa kali kuungkapkan kepadamu. Tentang perasaan kita berdua, tentang pertanyaan keluarga, tentang semua hal yang berhubungan dengan pernikahan. Dan kamu hanya tersenyum, memintaku menunggu. Terkadang terdengar selentingan, dirimu tak berniat menikahiku. Namun aku tak ingin memikirkannya terlalu jauh. Takut mempengaruhi hubunganku denganmu.
Ting tong.
Kulihat ke luar pintu rumah. Ada kamu yang datang menjemputku. Raut wajahmu terlihat begitu serius dan itu membuatku bertanya-tanya. Ada apa?
“Papa mama ada nggak?” tanyamu begitu aku membuka pintu.
“Ada. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Boleh aku ketemu sebentar?” tanyamu lagi.
“Ada apa? Tunggu sebentar, ya.” kataku bergegas masuk ke dalam rumah lalu mencari kedua orangtuaku dan berkata pada mereka bahwa kamu ingin bertemu.
Kedua orangtuaku menyambutmu dengan baik, seperti biasa. Jantungku berdegup kencang. Tak ada berita apa-apa sebelumnya dan saat ini kamu datang memberiku banyak tanda tanya.
Kita berempat duduk di ruang tamu. Kamu duduk menghadap kedua orangtuaku. Dan aku duduk di sebelahmu. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, aku menunggu kalimat yang akan keluar dari bibirmu.
“Maaf, Om, Tante, Gema mau ngomong sebentar sama Om dan Tante. Sebelum mengajak Mala keluar untuk makan malam.” katamu pada kedua orangtuaku.
“Mau ngomong apa? Kok serius sekali. Apa ada hal penting yang harus dibicarakan sekarang, Nak?” tanya Papa.
“Seminggu yang lalu Gema dapat kabar kalau Gema dipromosikan. Tapi Gema harus pindah ke luar kota untuk melaksanakan tugas dengan jabatan baru itu, Om.”
“Lalu?” Papa bertanya lagi. Jantungku berdegup semakin kencang.
“Mungkin Gema mulai bertugas di sana awal tahun depan. Jadi, Gema berencana untuk memulai hidup baru di sana. Dan Gema, ingin memulai kehidupan itu, bersama Mala.” katamu. Sempat terhenti sejenak, lalu berbicara lagi.
“Gema, mau melamar Mala, Om, Tante.” aku terkejut. Kulihat ke arah kedua orangtuaku. Keduanya terdiam, menatapmu tajam. Dan jantungku berdegup semakin kencang. Siapa yang menyangka aku akan dilamar malam ini.
“Gema sudah memikirkan semuanya dengan matang. Gema sudah lama pacaran sama Mala. Bertahun-tahun bersamanya membuat Gema yakin bahwa Mala memang yang terbaik untuk Gema. Gema juga sudah meminta restu dari papa mama Gema dan keduanya setuju. Jadi Gema pikir ini waktu yang tepat untuk meminta restu dari om dan tante.” sesaat matamu menatapku. Kemudian tersenyum dan kembali menatap kedua orangtuaku.
“Kamu serius? Yakin dengan keputusanmu? Yakin dengan pilihanmu?” Papa bertanya. Kamu mengangguk mantap.
“Kamu sungguh mencintai Mala? Janji bisa menjaganya? Janji hanya dia satu-satunya sampai akhir hidupmu nanti?” Papa bertanya lagi. Anggukanmu terlihat semakin mantap. Papa menghela nafas. Terlihat kelegaan di raut wajahnya itu. Perasaan hangat menjalar di dalam jiwaku. Mataku berkaca-kaca. Entah ada berapa banyak airmata yang tertahan di sana.
“Mala, gimana? Mau nggak menikah sama Gema?” tanya Papa tiba-tiba kepadaku. Seketika tawaku terlepas dan memecah keheningan di ruang itu.
“Mala sih nggak perlu ditanya lagi, Pa. Tapi semuanya tergantung restu Papa dan Mama.” aku menjawab.
“Ok. Om setuju. Tante pasti juga setuju. Om sama tante sudah menunggu ini sejak lama. Jadi, kalau memang sekarang waktu yang tepat, dan kalian berdua sudah siap, untuk apa ditunda lagi? Iya kan, Ma?” kata Papa disambut dengan anggukan Mama.
“Terimakasih sekali, Om, Tante. Gema lega. Minggu depan orang tua Gema akan datang kemari untuk melamar Mala secara resmi sambil membicarakan tentang acaranya.” katamu lagi kemudian meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Baiklah. Banyak sekali yang mau Om bicarakan sama kamu. Mungkin lain kali. Sempatkan datang kemari. Ada hal-hal yang harus Om titipkan padamu sebelum Om melepaskan Mala untuk menikah denganmu.” lanjut Papa.
“Baik, Om. Kami pamit pergi dulu, Om, Tante. Terimakasih untuk malam ini.” katamu sambil berdiri, berpamitan. Setelah mencium tangan kedua orangtuaku, aku dan kamu berjalan keluar lalu menutup pintu.
“Kenapa nggak bilang dulu tadi sebelum kemari? Aku kaget. Gimana kalau aku menggelengkan kepalaku dan nggak menerima lamaranmu?” tanyaku begitu pintu rumah tertutup.
“Nggak mungkin. Kamu pasti menerima lamaranku. Aku yakin 100% untuk itu. Kamu nggak akan meninggalkanku begitu saja kan?” katamu sambil melirik jahil ke arahku. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku kemeja. Dibukanya kotak itu dan diambilnya sesuatu dari dalam kotak itu.
Sebuah cincin.
“Ini, meski bukan cincin yang mahal, tapi aku membelinya dengan uang dari hasil tabunganku sendiri.” katamu sambil menarik tanganku.
“Aku tahu, mungkin nanti tak selalu bisa memberikan hidup yang mewah untukmu, tapi aku berjanji takkan pernah meninggalkanmu dan akan selalu berjuang untuk memberikan kebahagiaan untukmu, dan tentunya, untuk keluarga kecil kita nantinya.” seperti biasa, tutur kata yang lembut itu menyentuh hatiku.
“Mala, will you marry me? Maukah kamu menjadi satu-satunya di dalam hidupku, dan menjadikanku satu-satunya di dalam hidupmu, selamanya?” katamu lagi, sambil berlutut di hadapanku. Kusambut dengan anggukan dan airmata bahagia. Lalu setelah memasangkan cincin di jari manisku, sebuah pelukan darimu mendekapku erat.
…………………………………………………………
“Bahagia, meski mungkin, tak sebebas merpati..”
…………………………………………………………
ditulis @gandess dalam http://gandessitoresmi.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment