Sunday, September 2, 2012

Tak Terduga


Pernahkah kamu membayangkan orang yang kamu sayangi ditugaskan ke daerah peperangan? Pasti tidak! Jangankan membayangkan, terlintas dalam pikiran pun pasti tidak. Tapi iItu yang sedang aku alami sekarang. Dia ditugaskan ke daerah perang. Bukan, dia bukan seorang anggota militer, bukan angkatan laut, udara, maupun darat. Bukan, dia bukan seorang mayor jenderal, kapten, atau apa pun itu yang sering disebut dalam kemiliteran. Dia hanya bagian dari tim tenaga medis, yang memang sengaja mengabdikan dirinya dalam kemiliteran. Ini memang bukan pertama kalinya dia dam tim tenaga medisnya diterjunkan langsung dalam peperangan. Tapi, tiap kali surat tugas itu muncul, tetap saja aku selalu merasa takut dan khawatir, walaupun katanya tim tenaga medis dalam peperangan ditempatkan di daerah aman dan dijamin keamanannya karena tidak boleh diserang.

Aku memeluknya dengan erat sebelum keberangkatannya. Seperti sebelum-sebelumnya, sebisa mungkin aku tahan air mata yang sebenarnya sudah menggenang di ujung mata ini, karena dia tidak suka melihatku menangis. Dan seperti sebelum-sebelumnya juga, aku tidak tahu kapan dia pulang, hanya untaian kata dalam doa yang aku bisa lakukan untuk mengiringi penugasannya tersebut. Berdoa agar perang segera reda, sehingga tim tenaga medis dan tim militer segera ditarik dari daerah perang.

***

Ini sudah 3 bulan semenjak kepergiannya ke medan perang. Tidak tahu pasti bagaimana keadaannya di sana. Apa dia kelelahan mengurus dan mengobati para korban perang? Apa dia bisa tidur dengan nyenyak? Sepertinya sih tidak. Tapi sejauh ini belum ada kabar mengenai korban yang meninggal di daerah peperangan itu, semoga tidak ada!

***

DOOOOOORRRRR!!!
Terdengar tembakan sebuah peluru di kemah tim tenaga medis. Seketika saja tubuh itu ambruk. Seketika juga tubuhnya bersimbah darah. Sebuah peluru tepat bersarang di jantungnya. Para anggota tim medis sangat terkejut. Para anggota militer yang sedang berada di sekitar pun langsung masuk dan melihat keadaan.
Beberapa tim medis segera mengangkat tubuh itu, berusaha melakukan penanganan sebisa mungkin. Beberapa anggota militer segera mengamankan si pelaku dan merebut senjata api dari tangannya. Segala upaya sudah dilakukan, tapi nyawa itu tak terselamatkan. Pelurunya terlalu dalam menembus jantungnya. Peralatan tim medis yang hanya seadanya tidak mampu untuk mengeluarkan peluru itu.

Usut punya usut, si pelaku penembakan adalah anggota militer yang baru pertama kali ini ditugaskan ke daerah perang. Diduga dia belum siap secara mental dan kaget melihat keadaan perang secara langsung, sehingga mengalami trauma tersendiri yang menyebabkan jiwanya agak terganggu. Sementara nyawa yang melayang itu, dia, dia adalah orang yang aku sayang. Seorang dari tim tenaga medis yang ditugaskan ke daerah peperangan yang katanya dijamin keamanannya karena tidak akan diserang dalam peperangan.

Nyanyikan lagu indah, sebelum kupergi dan mungkin tak kembali...
Nyanyikan lagu indah, tuk melepasku pergi dan tak kembali...
Sayup-sayup lagu itu terdengar ketika aku sedang mengingat kembali saat-saat terakhir sebelum aku melepasnya bertugas di daerah perang. Sesekali kuusap air mataku supaya wajahnya yang kulihat di foto bisa terlihat jelas.


ditulis @AdrianaPrima dalam http://chioniapril.blogspot.com

No comments:

Post a Comment