Tuesday, September 4, 2012

Jemari


“Aku harus pulang.”

Hatiku mencelos demi mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Ayesha. Ia mulai merapikan isi tas tangannya sambil tetap duduk di samping kananku.

“Aku sudah tiga tahun gak ketemu kamu, Sayang, ” suaraku mungkin terdengar tenang walaupun hatiku teramat cemas, “dan ini kesempatan kita untuk bisa melepas kangen semalaman. Masak kamu mau pergi secepat ini?”
“Kamu sendiri yang terlambat ngabarin kalau kamu ada di Bandung. Sudah berapa hari? Tiga? Ya bukan salahku, dong.” tangannya sibuk mengaitkan tiga kancing teratas di blouseputihnya.

Ah, bibirnya yang lembut itu bisa-bisanya berubah semakin tipis—berbanding terbalik dengan emosinya yang semakin tebal. Kata siapa kemarahan wanita menyeramkan?!?

“Hey, aku bingung mesti kontak kamu ke nomor mana. Jangan ngambek gitu dong, Ay.” Ujarku sambil mengangkat tangan kananku yang sedetik kemudian sudah melingkar mesra di pinggangnya. Tangan kiriku membelai rambut Ayesha yang panjang sebahu. Aku yakin sekali, belaian tanganku tak pernah gagal membawa rasa nyaman bagi Ayesha. Jemariku bersertifikat. Dan benar saja, Ayesha langsung takluk, dan sekarang di pelukanku ia meringkuk

“Ayesha, ini sudah terlalu larut. Di luar dingin. Kamu menginap saja, ya?” aku berusaha membujuknya.
“Jangan gila, Dani! Sudah ada enam missed call dari Mama. Dia pasti cemas, anaknya belum pulang juga jam segini.” diliriknya jam besar di dinding kamar hotel itu. Delapan belas menit lagi sudah pergantian hari.
“Kalau kamu tetap memaksa pulang jam segini, bukan cuma ibu kamu yang cemas. Aku juga. Dan bukannya aku tidak mau mengantar, tapi kamu tahu kan kondisiku. Berjalan sendiri saja aku sudah terpincang-pincang!”

Ayesha memandang kakiku yang kaku terbebat, dengan matanya yang terlihat lelah namun tetap memesona. Ada kekhawatiran yang kutangkap dari sorot matanya. Tak kusangka sakitnya kaki hasil terjatuh dari tangga bisa semenyenangkan ini. Oh, semoga argumenku tadi cukup kuat untuk menahannya. Aku ingin ia tinggal.

“Kamu di sini aja ya, Ay? Rumah kamu jauh, dan naik taksi jam segini gak menjamin kamu sampai di rumah dengan selamat. And i know you’d agree with me, di pelukanku jauh lebih hangat.” godaku.
“Aku gak bisa, Dan. Orangtuaku pasti bakal blingsatan. Aku gak mau kalau sampai mereka menghubungi teman-temanku satu per satu. Bisa heboh nantinya. Aku mau pulang.”, Ayesha bersikeras.
“Kamu bisa bilang sama mereka, bahwa ini sudah terlalu malam untuk pulang, jadi lebih baik pulang besok pagi. Ibumu pasti bisa mengerti. Oh, come on, Sweetheart! Aku di Bandung sampai besok saja. Lusa aku sudah harus kembali ke Berlin. Ayolah! Satu malam iniiiiiiii saja, Ay.” jari telunjukku mengacung di depan wajahnya.
“Please?” aku memohon.

Ayesha terdiam sejenak lalu merogoh tasnya. Diambilnya kotak rokoknya kemudian dikeluarkannya sebatang. Tangannya kembali mencari-cari di dalam tasnya, dan akhirnya keluar bersama sebentuk pemantik.
Ayesha hanya merokok saat gelisah. Kubiarkan. Nalarnya sedang berperang dengan hatinya.
Lima menit kemudian Ayesha mengeluarkan ponselnya, menekan tombol angka 4 agak lama, kemudian tersambung pada ibunya. Dengan gugup, Ayesha membual bahwa ia terpaksa bekerja lembur karena dikejar deadline dan baru sempat mengabari saking banyaknya pekerjaan.

“…nanti Chacha tidur di kontrakannya Mbak Sarah, Ma.—Iya, di belakang kantor. Maaf ya kalau Mama jadi khawatir.—Enggak, besok pagi Chacha pulang dulu, kok, ganti baju terus ke kantor lagi.—Iya, Ma.—Assalamualaikum.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Hatinya menang perang. Kudekap Ayesha dari belakang, kusentuh tubuhnya perlahan. Mari kuingatkan: jemariku bersertifikat.

***

Jarinya benar-benar mampu membuatku gila. Setiap kali tangan Dani menyentuh kulitku, rasanya selalu nyaman. Aku merasa aman. Pada saat pertama kali bersentuhan, yaitu saat Dani menyodorkan tangannya untuk berjabatan empat tahun lalu, aku merasakan ada aliran luar biasa yang menyentak tubuhku. Aku pernah kesetrum sewaktu berusia delapan tahun, tapi rasanya berbeda. Getaran yang kudapat dari tangan Dani jauh lebih dahsyat!

Malam itu, Nopember 2007,
Dani duduk seorang diri di coffeeshop tempat aku bekerja paruh waktu. Kutebak Bandung bersuhu 16 derajat celcius malam itu, dan dengan gagah berani, Dani yang tak berlapis jaket malah memilih untuk duduk di bagian luar, berbekal sebungkus rokok. Lama aku memperhatikannya dari ruang dalam. Keningnya berkali-kali mengernyit di depan laptop mahalnya. Tangan kirinya menjadi bantalan bagi sebuah buku tebal. Pandangannya berganti fokus: layar-buku-layar-buku-layar-buku. Begitu seterusnya.

Kulihat cangkir kopi di depannya telah kosong. Aku tak kuasa menahan keinginanku untuk membawakannya secangkir teh panas untuk membantunya melewati malam yang dinginnya begitu membakar. Ia menerima teh itu dengan senyuman yang begitu manis, hingga akhirnya tangannya terangkat ke depanku. Kusambut ajakan berkenalannya dengan sukacita.
Kami terlibat perbincangan singkat selagi coffeeshop tempatku berkerja tidak terlalu ramai. Rupa-rupanya ia sedang mengerjakan tugas akhir. Ia tak menampakkan ekspresi terganggu akan kehadiranku di tengah kesibukannya. Namun demi etika kerja, sekaligus tahu diri, aku meninggalkannya dan kembali ke dalam.

Hampir tengah malam, Dani melambaikan tangannya dari luar, pertanda pamit pulang. Ingin rasanya aku menghampirinya, memberikan secarik kertas berisikan serentetan angka. Aku menyesal atasanku mengawasi gerak-gerikku saat itu.
Rupanya Dani merasa bahwa coffeeshop tempatku bekerja adalah zona yang nyaman baginya untuk mengerjakan tugas akhir. Minimal tiga kali dalam seminggu ia datang, duduk tenang di mejanya, melakukan hal yang sama setiap kalinya. Dan pada bulan kedua, bukan cuma nomor teleponku saja yang sudah ia dapat, tapi juga hatiku.

Pada perayaan kelulusannya, empat bulan setelah kami pertama bertemu, kami sudah resmi berpacaran. Singkat, karena ia dengan bodohnya berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya ke Jerman. Apa dayaku menghalanginya? Aku menyerah pada jarak. Aku merelakannya pergi.
Subuh ini, aku sangat menikmati ada di pelukannya. Sudah tiga tahun kami tak bertemu, terpisah jarak ribuan mil. Memori akan kepergiannya dulu masih melekat, menyisakan trauma dan ketakutan akan ditinggalkan kembali. Semalam aku memutuskan untuk memberinya satu malam terakhir, sebelum akhirnya ia akan pergi lagi. Melewati malam bersamanya masih sama membahagiakannya seperti dulu. Aku sempat merajuk meminta pulang ke rumah, semalam. Aku terlalu takut kecewa akan kepergiannya lagi. Yah, siapalah aku sehingga bisa menolak pesona Dani? Belum lagi, jari-jarinya.


Aku keluar dari pelukannya pelan-pelan, berusaha tak membangunkannya. Berjinjit aku menuju kamar mandi. Kuperlakukan gagang pintu dan gerendel kunci seperti guci pusaka yang menuntut kelembutan dan kehati-hatian, agar semua tetap senyap. Sengaja kusetelshower sekecil mungkin, supaya bunyi alirannya tetap mendukung suasana. Air mataku menyatu dengan aliran air yang kecil. Belasan menit kubuang untuk membersihkan diri dari semua peluh yang menetes semalam, serta dari segala keluh yang menyesakkan dadaku. Ini harus segera selesai.

***

Aku terbangun pukul delapan pagi. Yah, lebih sedikit, lah.

“Ayesha?”

Hening lama.
Ayesha sudah pergi.
Limbung, aku.
Kuambil tongkat jalanku.
Selembar kertas tergeletak di sampingnya.
Tulisan khas, karya jemari Ayesha.
Kubaca berulang kali.

“I love you, Ramadani.”

***

I really can’t stay
Baby, it’s cold outside
I’ve got to go away
Baby, it’s cold outside
This evening has been
Was hoping that you’d drop in
So very nice
I’ll hold your hands, they’re just like ice
My mother will start to worry
Beautiful what’s the hurry
My father will be pacing the floor
Listen to the fire place roar
So really I’d better scurry
Beautiful please don’t hurry
Well maybe just half a drink more
Put some records on while I pour
The neighbors might think
Baby, it’s bad out there
Say what’s in this drink?
No haps to be had out there
I wish I knew how
Your eyes are like starlight now
To break the spell
I’ll take your hat, your hair looks swell
I ought to say no no no sir
Mind if I move in closer?
At least I’m gonna say that I tried
What the sense of hurting my pride?
I really can’t say
Baby, don’t hold out
Babe but it’s cold outside



Ditulis oleh @_fikan dalam http://thankthinkthunk.wordpress.com

No comments:

Post a Comment