Tuesday, September 4, 2012
Kenapa?
Dengan secangkir susu coklat hangat aku duduk sambil menatap bulan purnama. Ahhh, nikmat sekali malam ini, tenang, damai, hangat, dan... indah. Namun, masih ada satu rasa yang tertanam di dalam hati, yang muncul di sela-sela perasaan-perasaan yang ada. Terlalu malu untuk menungkapkannya, terlalu takut untuk menyatakannya.
Sejenak kumainkan jari-jariku di pinggiran cangkir, merasakan halus permukannya. Andaikan kisah cintaku bisa sehalus dan semulus ini, pasti indahnya purnama ini akan terasa menghangatkan relung hati. Hangat yang nyaman bukannya hangat yang terkadang terasa menusuk karena entah kenapa purnama yang ku pandangi setiap menit berubah menjadi wajahmu.
“Heiii..” Bengong saja. Kesambet yang halus-halus lho.
Sebuah tepukan mendarat di pundakku. Aku mengalihkan tatapanku dan tersenyum simpul ketika melihat wajah itu, wajah yang sebelumnya tergambar di bulan yang sedang aku pandangi. Tian duduk di sampingku, mengambil susu coklatku dan menghirupnya. “Ah.. susu coklat buatanmu memang yang paling lezat sedunia. Aku berharap Tara dapat membuat seenak ini.” Cengiran lebar muncul dari bibirnya. Aku hanya tersenyum. Kalau kau mau aku bisa membuatnya untukmu setiap malam, hanya untukmu. Lalu kita bisa menikmatinya berdua sambil memandangi indahnya purnama.
“Eh bengong lagi. Kenapa sih?” Tanya Tian.
Aku mendesah dan kemudian menggelengkan kepalaku. “Cuma capek dengan kerjaan aja kok. Gimana persiapan acara pernikahanmu?”
Tian mengangkat bahunya. “Hampir 100%. Senang sekali melihat Tara bahagia.”
Aku menelan tangisku. Itulah cinta sesungguhnya. Tatapan itu tidak hanya muncul ketika kau melihat orang yang kau cintai tapi bahkan ketika kau jauh darinya. Hanya mengucapkan namanya saja membuat hatimu menghangat.
Aku tahu Tian mencintai Tara, sangat mencintainya. Tapi aku masih saja berharap akulah Tara itu. Akulah wanita yang dicintai Tian. Akulah yang akan menikah dengannya minggu depan.
See, i can’t wake up i’m living a nightmare that keeps playing over again. Locked in a room, so hung up on you and you’re cool with just being friend.
Aku mendesah. “Kau pasti bahagia. Tara wanita yang baik.”
Tian menelan ludahnya. “Tidak, aku sedih. Setelah menikah aku tidak akan bisa merasakan nikmatnya susu coklat buatan tetangga sekaligus sahabatku.” Tian menatapku tajam lalu tertawa. “Ya pastilah aku bahagia. Aku memang sangat bahagia. Tapi aku memang pasti akan sangat merindukan susu coklat buatanmu.”
Tidak tidak tidak. Aku tidak sanggup melihat wajah itu. Aku tidak sanggup melihat tatapan itu. Ya Tuhan, kenapa hatiku harus hancur berkeping-keping ditengah kebahagiaan sahabatku sendiri?
See, i’m just too scared, to tell you the truth cause my heart ache can’t take anymore. Broken and bruised longing for you and i don’t know what i’m waiting for.
-Seminggu kemudian-
“Ya Tuhan, tidak ku sangka aku menikah. Aku menikah. Aku menikah.” Tian memelukku erat. Aku tertawa.
“Berentilah bertingkah seperti orang gila sebelum Tara melihatmu dan berubah pikiran.” Aku tersenyum sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.
“Aku tidak percaya. Kita sudah bersama dari kecil, berlari-larian di bawah hujan, bergoncengan pergi ke sekolah hingga berkuliah di tempat yang sama, lalu sekarang aku menikah. Dulu aku selalu berpikir kalau aku akan menikahimu bukan wanita lain” Tian tertawa.
Aku terdiam. Kenapa pikiran itu terhenti, Tian? Kenapa kau malah menikahi dan mencintai wanita lain?
“Sayangnya kau menemukan wanita yang jauh lebih kau cintai dibanding diriku pada akhirnya.” Aku tersenyum.
Tian menganggukkan kepalanya. “Tidak sabar menunggu pernikahanmu juga. Berjanjilah kau akan menemukan pria yang lebih baik dari aku.” Tian menggenggam tanganku erat. “Aku menyayangimu, Hana. Aku juga ingin kau bahagia.”
Aku tersenyum dan balas menggenggam erat tangan Tian. “Aku juga menyayangimu.” Dan mencintaimu sepenuh hatiku. “Aku ingin kau bahagia, selamanya.” Tian memelukku dan saat itu air mataku jatuh.
“Jangan menangis, jangan menangis.” Tian menepuk-nepuk bahuku.
Tuhan, andaikan dia tau kenapa aku menangis? Pernikahannyalah yang membuatku menangis. Tuhan, aku ingin merasa bahagia juga untuk dirinya, tolonglah aku.
Aku tersenyum melihat Tian menggandeng tangan Tara. Aku tahu mereka akan bahagia. Aku tahu cinta mereka akan abadi. Mereka saling menatap seolah-seolah tidak ada yang bisa menyaingi besarnya cinta mereka, dan aku bersyukur untuk tidak pernah mengungkapkan rasa ini.
Aku merasakan belaian lembut di bahuku, “Yang sabar ya, Sayang.” Air mataku seketika tumpah ketika mendengar dan melihat wajah ibuku. Dialah satu-satunya orang yang tau segalanya, tentang rasa ini, tentang sakit ini.
Aku memeluknya dan menangis tersedu-sedu. “Aku bahagia, Ma. Mama jangan khawatir. Aku akan bahagia.”
Mama balas memelukku erat. Aku menangis di bahunya, menangis di tengah bisingnya hiruk pikuk para undangan. Di tengah alunan tembang yang terdengar mengisi udara.
Why don’t you love me, baby? Touch me. Tell me i’m your everything the air you breathe.
Why don’t you love me, baby? Open up your heart tonight cause i could be all that you need.
*) Diinspirasi oleh lagu Why Don't You Love Me - Hot Chelle Rae ft Demlov
Ditulis oleh @36rd dalam http://36rd.blogspot.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment