Tuesday, September 4, 2012
Kamu, Warnai Hidupku
Kata orang-orang, hidup itu harus berwarna, biar ga monoton. Katanya lagi, itu keputusan kita sendiri, karena ya kita sendiri yang harus ngewarnain hidup kita.
Satu setengah tahun yang lalu, kamu datang dan menawarkan untuk memberi lembaran hidup aku penuh dengan warna. Dan aku menyambut tawaranmu itu.
We were happy yes?
Well, aku sih selalu merasa berbunga-bunga kalau deket kamu. Dengan kamu semuanya berasa mudah dan indah. Dengan kamu semua penuh warna. Ada kalanya warna itu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu, mejikuhibiniu seperti warna pelangi. Namun, kamu lebih dari sekedar warna pelangi buatku.
I just love the way you make me laugh,
The way you flirt with me,
The way you treat me,
The way you teach me how to be patient, teach me about life,
i just love everything..
‘I’m still alive but I’m barely breathing
Just praying to a God that I don’t believe in’
Lantunan lagu breakeven mengalun dari playlist media player handphone ku yang kupasang pelan dikamar. Entah sudah berapa kali lagu ini mengalun. Playlist yang isinya hanya 2 lagu, breakeven versi the script dan breakeven versi maddi jane.
Mataku perih, kepalaku pening. Entah sudah berapa lama aku menangisi kamu. Mengingat masa-masa itu kembali. Harusnya aku percaya ketika teman-teman berusaha meyakinkanku bahwa kamu tidak sesempurna yang aku pikir.
Harusnya aku percaya laporan mereka ketika ada yang melihat kamu di salah satu mal, bermesraan, bergandengan tangan dengan perempuan lain. Aku begitu dibutakan oleh keyakinanku akan kamu. Keyakinan bahwa kamu tak akan melakukan hal itu, keyakinanku bahwa kamu hanya untukku.
Bukankah dalam suatu hubungan kita harus saling yakin dan percaya?itu katamu ketika aku bertanya. Dan kamu menenangkan dan meyakinkan aku kalau semua berjalan seperti biasa, apa adanya.
Dan karena kamu, aku tenang.
Tapi aku ngga akan lupa kejadian 2 minggu yang lalu, hari senin malam, pukul 7 kamu ajak aku makan sepulang kerja. Ketika kamu bilang, we’re not supposed to be together, you deserve someone better, dan apalah katamu itu. Aku berusaha mempertahankan kamu, bertanya sama kamu apa yang bisa aku perbaiki.
Aku berusaha mempertahankan warna hidup aku.
Tapi kamu bilang semua sudah terlambat, kata kamu, kamu ingin bebas.
‘What am I gonna do when the best part of me was always you?’
Sekarang aku harus apa?aku harus gimana?aku bisa apa?
Aku hampa tanpa kamu.
Kamu buat aku jadi lebih baik.
Kamu yang pegang semua warna hidup aku.
‘And what am I supposed to say when I’m all choked up and you’re ok?’
Akhirnya aku bisa terima kalau kamu sudah ngga bisa dan ngga mau lagi sama kamu.
Aku berpikir mungkin memang aku yang salah.
Aku berpikir mungkin kamu memang sudah tidak tahan denganku.
Kemudian 3 hari yang lalu, teman-temanku mengajakku untuk pergi, mungkin mereka ingin menghiburku. Aku kemudian mengiyakan tawaran mereka, dan dengan baiknya mereka membawaku ke tempat baru, dimana ngga ada kenangan tentang kamu. Tetapi yang ada aku malah ketemu kamu di tempat itu.
Kamu bersama perempuan lain, berjalan dengan mesra, dia menggamit lenganmu.
Lenganmu yang sama, yang biasa kucubiti, kugigit ketika aku bercanda gurau denganmu.
Lalu temanku berkata, itu perempuan yang sama yang dia lihat sebulan yang lalu denganmu. Aku terdiam.
‘I’m falling to pieces, I’m falling to pieces’
Aku tak akan pernah lupa ekspresi wajahmu ketika kamu melihatku, kemudian dengan kikuk kamu mencoba mencari jalan lain untuk menghindariku. Namun terlambat, di lorong itu aku melihatmu dan dia dari arah yang lain. Aku kenal perempuan itu. Dia teman sekantormu, kita pernah bertemu 2 bulan yang lalu.
Ah, harusnya dia tahu aku dan kamu bersama kan?
Rasanya ingin memuntahkan segala sumpah serapah dihadapanmu dan dia. Namun aku tak berdaya, hanya tetesan air yang jatuh dari pelupuk mataku dan aku seperti melayang saat melewati kamu dan dia. Tanpa sadar aku memegang jantungku yang berdebar dan kurasakan sesak.
Hatiku hancur.
Aku patah hati.
‘They say bad things happen for a reason
But no wise words gonna stop the bleeding’
Teman-temanku berusaha menenangkanku. Mereka semua menasehatiku, bilang kamu memang lelaki brengsek bla bla bla, aku berhak mendapatkan yang lebih baik dan seterusnya dan seterusnya.
Aku hanya terdiam, tak sanggup berucap, menangis dalam lirih.
‘Cause he’s moved on while I’m still grieving
And when a heart breaks no it don’t break even, no..’
Dan kamu memberi warna baru di hidup aku. Kali ini warnanya hitam kelam.
*) Diinspirasi oleh lagu Breakeven - The Script
Ditulis oleh @with_a dalam http://witaholic.tumblr.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment