Katamu, apalah arti sebuah jarak bila hati kita merasa dekat. Katamu, apalah arti deretan angka bila banyak media yang bisa menyatukan kita.
Klise
Ku buka email itu berulang-berulang dan dengan sangat hati-hati membaca setiap kata dan kalimat yang tertera di sana. Email itu dari seorang yang spesial di sebrang benua sana. Untaian kata dirangkai sedemikian rapi dan indah, namun aku tahu apa inti dari untaian kata indah tersebut, “Delilah, kita harus putus.” Ya, itulah intinya. Masihkah untaian kata-kata indah itu masih terdengar indah. Tidak sama sekali.
Aku ingat peristiwa tiga tahun lalu yang membuat aku hampir tidak bisa tidur karena malam itu kuhabiskan dengan senyum-senyum malu di balik selimut di atas tempat tidurku. Malam itu adalah malam minggu terindah sepanjang hidupku. Kamu secara diam-diam membuat surprise party hanya untuk menembakku, kamu kumpulkan semua teman-teman terdekatku dan mengajaknya ke sebuah café di sebuah mall di Jakarta Selatan, dan aku pun tidak curiga apa-apa karena aku tahu, kamu bukanlah tipe orang yang romantis. Sebuah bunga kau berikan padaku setelah ucapan ‘Aku sayang padamu, maukah kau menjadi pacarku,Delilah?’ ada delapan belas bunga mewar dalam satu bouket yang kau bawa saat itu. Kau tahu benar bahwa aku menyukai angka tersebut. teman-temanku bersorak kompak ‘terima-terima-terima’ dan aku tersimpul malu menjawab pertanyaanmu, ‘Ya, aku mau’ resmilah kita menjadi sepasang kekasih. Aku masih ingat itu semua, sayang.
Perjalanan kita ternyata tidak semulus yang kita bayangkan, enam bulan kemudian kita harus berpisah di Bandara Soekarno Hatta karena kamu harus melanjutkan kuliahmu di sebuah univeritas di New York sana dan itu berarti ada ribuan angka jarak yang memisahkan kita. Aku sempat pesimis, tetapi kamu selalu meyakinkan aku, ‘Apalah arti sebuah jarak bila hati kita merasa dekat.’ Itulah kata-katamu yang sampai saat ini setia berada di otakku. Aku kuatkan menjalani hari-hari tanpa kamu di sampingku, aku kuatkan diri untuk setiap hari mengurangi waktu tidurku hanya untuk melihat wajahmu di Skype, menghitung hari di kalender sampai waktu liburanmu ke Indonesia tiba. Aku kuatkan itu sampai detik sebelum email itu masuk di inboksku.
‘Aku merasa tidak senyaman dulu, aku butuh seseorang yang siap membantuku setiap saat. Berada di sebelahku, membantuku dalam setiap masalahku.’ Itulah salah satu penggalan kalimat klise dari sekian banyak kalimat-kalimat klise lainnya yang kau tuliskan padaku. “Apa salahku?”
Hey there Delilah what's it like in New York City
I'm a thousand miles away
But girl tonight you look so pretty, yes you do
Times Square can't shine as bright as you, I swear it's true
Hey there Delilah, I know times are getting hard
But just believe me girl, someday I'll pay the bills with this guitar
We'll have it good, we'll have the life we knew we would
My word is good
Ternyata saat ini jarak sangat memengaruhi hatimu, setelah tiga tahun kau berpegang teguh bahwa semua itu tidak berarti, asal hati kita tetap menyatu. Salahnya aku tidak menyiapkan hatiku untuk kau patahkan dari tiga tahun lalu. Ya, itu kesalahan terbesarku.
Delilah I can promise you
That by the time that we get through
The world will never ever be the same
And you're to blame
Lagu itu terus mengalun di playlistku, lagu terindah yang pernah kudengar sebelum email itu datang dan masuk ke inboksku.
You'll know it's all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here's to you
This one's for you
*Backsound: Plain White T'S "Hey There Delilah"
ditulis @tami_imat dalam http://pradiptia.blogspot.com
No comments:
Post a Comment