Saturday, September 15, 2012
Kriminalitas Bersetubuh
Busur cinta itu kadang masuk ke rongga rahim seorang wanita, tapi di masa ini, busur cinta itu kadang salah sasaran dan masuk saluran tahi seorang pria.
Iya, itu lah cinta di masa sekarang ini. Tidak peduli walaupun mereka satu jenis yang sama-sama punya penis, ataupun satu jenis yang harusnya sama-sama menyukai penis.
Pagi yang benar-benar pagi. Rio tak pernah bangun sepagi ini sebelumnya. Matahari belum terbit. Ayam belum berkokok. Sayang, dia bangun karena merasa ada yang sakit di bagian lubang duburnya.
Pandangan matanya merabun karena kantuk. Tubuhnya menggigil karena tak sehelai pakaianpun dikenakannya. Terasa lengket. Walaupun dingin, dia berkeringat.
Beberapa saat dia benar-benar melihat dunia kecil dalam sepetak kamar setelah matanya terlepas dari kabut mimpi. Dilihatnya seseorang tengah tertidur di samping tempatnya duduk, di atas ranjang yang terlihat seperti timbunan kain. Ada beberapa potong pakaian, celana dalam, seprai yang terkoyak nafsu, dan beberapa botol pelumas beserta kondom yang terlihat menempel noda darah.
Rio menatap tajam ke arah manusia yang ada di sampingnya. Tubuh orang itu bertato. Sedikit bulu yang tak lebat tumbuh di dadanya. Brewok yang menambah kesan kelelakian tertanam liar di sekitar pipinya. Selain brewok yang tumbuh liar, juga ada bulu kemaluan yang sama-sama tumbuh meliar dipandang samar oleh Rio pagi itu.
“Alex…” ucap Rio pelan.
Ini adalah hubungan sesama jenis yang sebulan terakhir terikat. Umur Rio masih belasan kala itu, delapan belas tepatnya, tidak seperti Alex yang sudah hidup selama duapuluh tujuh tahun saat itu. Alex adalah cinta pertama Rio, tapi bagi Alex, Rio hanyalah orang keberapa yang sudah siap sedia sebagai pelampias nafsunya.
“Anjrit. Gue disodomi! Bangsat. Komitmen busuk!” gerutu Rio.
Komitmen, dia sebut. Komitmen yang dulunya dia minta untuk berkekasih tanpa ada seks. Nyatanya semua itu sudah robek dan meneteskan darah.
“Bukan gay kalau nggak ada seks…” gumam Rio pelan mengingat ucapan Alex saat dia inginkan komitmen itu dulu.
Rio turun dari ranjang yang semalaman menjadi saksi ketika Alex melucuti birahinya. Dia terkejut melihat beberapa alat hisap dan sedikit ganja yang ada di hadapannya.
“Anjing! Gue nggak harepin yang kayak gini! Gue nggak mau jadi bajingan kayak gini!”
Dengan menahan perih, Rio bangun dan kembali memakai potongan pakaian yang semalaman terlepas dari badannya. Mukanya sesekali terlihat meringis. Entah dengan cara apa tadi malam Alex memainkannya.
Melirik ke ranjang, Rio melihat Alex yang sudah mulai ikut terbangun dari lelahnya setelah nikmat yang semalam dirasakannya. Tubuhnya menggelinjang.
“Yang, kok buru-buru? Sini, gue peluk.” ujar Alex tertahan kantuk. Perlahan tubuhnya terduduk sembari menyalakan satu batang rokok dan menatap Rio dalam-dalam.
“Kita udah ada komitmen, kan?”
“Komitmen? Nih lihat,” ucap Alex, mulutnya menyempit menghisap batangan rokok. “Semalem lo kelihatan nikmat banget ngisepnya, sama kayak gue ngisep ni rokok. Kok sekarang lo gitu? Bukannya suka sama suka?”
“Lo mabukin gue! Anjing!”
“Heh! Mulutnya.. Udahlah, jangan jadi homo kalau nggak mau ngeseks! Mati aja lo!”
Rio tersentak kaget. Alex, pacar pertamanya, dia mampu mengucap itu kepada Rio. Selama ini Rio merasa dirinya beda dengan gay lain yang kebanyakan hanya mengejar nafsu, tapi hari ini dia dihujani kalimat-kalimat busuk bak budak seks.
Denganmu kini ku tak ceria
Bersamamu ku rasa dingin
Padamu tak bisa cintaku
Untukmu bukanlah aku…
Bukan ini yang kumau
Tapi cinta tidak untukmu
Paksakan semua ‘kan hancur
Saksikan semua terluka…
GARASI – BUKAN.
Rio menyingkir dari hadapan Alex. Dia tidak ingin merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang yang sebenarnya dia cintai.
***
Entah ada angin apa, si manusia yang tadinya tidak mau diperbudak, kini dia kembali untuk memperbudak dirinya sendiri.
Tepat di depan pintu kamar kost Alex, Rio berdiri memegang ransel. Diketuknya pintu kamar itu.
“Hei, kenapa? Ada yang ketinggalan?” sapa Alex santai.
Rio hanya diam menatap ke arah Alex yang bertelanjang dada dan bercelana pendek.
DAR! Mengejutkan. Rio secara brutal melumat bibir Alex dan membawanya jauh ke dalam kamar. Rio melepas ranselnya. Seperti orang yang tidak sabar, langsung saja isi celana Alex yang ditujunya.
“Nah, kan. Enak, kan. Mau lagi, kan. Uhh.. Lanjut, Yang. Kayak gue nyedot rokok tadi pagi!” igau Alex dalam desah nafsunya.
Tak kalah sigap, dengan dua tangan kekarnya, Alex merobek baju yang tertempel di tubuh Rio yang sedang menikmati sesuatu di mulutnya.
Erangan itu menjadi-jadi, seperti kucing yang sedang dimabuk asmara di pinggiran jalan. Ketika tubuh Alex terbaring, Rio berdiri dan mengambil sesuatu dari ranselnya.
“Please, puasin gue. Turutin apa mau gue!” mohon Rio.
“Iya.. I know, gue ngerti permainan lo. Pasaran, tapi nggak ada salahnya gue kasih buat orang yang baru kedua kalinya ngerasain enak ngeseks kayak lo.”
Iya, Alex mengangguk memberi izin Rio. Diikatnya Alex di kedua tangan dan kakinya di besi-besi ranjang.
Terlihat jelas tubuh Alex yang berbaring menanti permainan Rio. Mulutnya sesekali tersenyum sinis memandang Rio dengan fantasi seksnya. Tapi Alex juga berharap bahwa malam ini dia bisa menikmatinya.
Perlahan-lahan Rio melucuti pakaiannya sendiri. Alex yang terkunci seolah gemas ingin segera menyetubuhi.
Rio melanjutkan permainannya, dia naik ke atas tubuh Alex yang sekarang ini sama-sama telanjang, dan satu benda diperlihatkannya.
“Yang, gimana kalau matanya ditutup?” rayu Rio. Rio ini bukan banci yang kemayu. Dari luar dia terlihat seperti lelaki yang lainnya. Tidak kurang satu apapun.
“Terserah lo. Kalo lo seneng, gue juga seneng, kenapa enggak?” jawab Alex memanja.
Beberapa saat setelah mata Alex tertutup, Rio kembali merajuk.
“Yang, minum obat kuat dulu dong. Biar tahan sampe pagi.” ucap Rio.
“Ah nggak perlu, gue kuat kok.”
“Buka mulutnya, dong. Ayok, satu butir aja!” Rio tetap memaksa.
Alex agak heran dengan perlakuan Rio. Dia curiga dengan pil yang dimasukkan Rio ke mulutnya. Tapi dalam pikirnya, dia tidak perlu menelan, hanya sesaat menyembunyikannya di balik lidah dan membuangnya.
Tapi ternyata ada kejutan lain. Beberapa teguk air tertuang di mulut Alex. Seketika Alex berteriak sangat kencang.
“BANGSAATTT!! ANJINGGG!! AAAAAAAAAKKKK!!!”
Rio menjauh. Diperhatikannya mulut Alex yang melepuh setelah dituangkannya air keras ke dalam mulut Alex. Air keras yang sudah dipersiapkannya dalam misi balas dendam ini.
“Mati lo! Mati lo!” ucap Rio yang tanpa disadari menitikan airmata. Dia sebenarnya ketakutan, tapi sakit hatinya terlalu dalam.
Alex melemas. Dia tidak lagi bersuara. Tapi tubuhnya tetap menggeliat bak cacing berselimut sinar matahari.
“Cutter!” seru Rio melihat ke dalam ransel yang dibawanya. Iya, dia mencari cutter. “Buat penghinaan yang lo lakuin buat gue!”
Rio kesetanan. Pada awalnya belai lembut tangannya meraba penis Alex, tapi di akhir kisah, dicengkramnya penis itu secara kasar dan dipotongnya dalam keadaan sadar.
Kemarin memang sperma bisa leluasa keluar dari sana, tapi lihat hari ini, kucuran darah segar mengalir bak magma yang meluap dari puncak merapi!
Tubuh yang tadinya menggeliat itu seolah mati sekarang ini. Entah benar-benar mati atau hanya diam karena tak sanggup lagi menikmati siksa.
Malam berlalu dengan segala hal yang telah sengaja direncanakan. Rio tak lantas pergi menjauh, diperhatikannya mayat Alex secara rinci. Mulai dari mulut yang melepuh busuk, dan pangkal penis yang kini kehilangan busurnya.
“Mulut untuk penghinaan. Penis untuk sesuatu yang nggak gue mau!”
Hei.. Yeah! Yeah!
Ku tak inginkan semua yang kurasakan…
Yeah.. Yeah.. Yeah..
Betapa banyak takdir yang membingungkan..
Mungkin ini jalan kita
Sudah lupakan saja
Jangan kau merasa kecewa
Ku akui dan kau mau!
***
Tiga hari setelahnya, mayat Alex ditemukan membusuk oleh pemilik kamar kost yang disewa Alex. Kejadian itu menjadi headline di beberapa media cetak dan elektronik.
Rio yang saat itu diliputi ketakutan akhirnya menyerahkan diri, lalu kemudian dihukum mati.
ditulis @misterkur dalam http://samuderakering.wordpress.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment