Setelah kuliah Ekonomi Pembangunan berakhir, tak seperti biasanya aku dan Yandri singgah ke kantin kampus. Kali ini Yandri meminta aku menemaninya. aku menghempaskan tasku di sudut meja, lalu merebahkan tubuhku di kursi. Kelelahan hari ini akan setimpal dengan apa yang telah dijanjikan Yandri padaku. Traktir. Iya, Yandri berjanji akan menraktirku makan siang, asalakn aku menemaninya ke kantin.
Aku bersandar di dinding belakangku. Kuselonjorkan kakiku ke depan. Sejenak kepalaku menengadah ke atas, menikmati rasa lelah yang memenuhi tubuhku. Sejenak aku melihat Yandri berjalan mendekati Mentari. Cewek pujaanya. Dambaan Kaum Adam. Aku memejamkan mataku, menikmati angin sore yang menyejukkan rasa lelahku. Sampai akhirnya, saat aku merasa hendak tertidur.
“Bu, mie sop ayam satu mangkuk”.
Yandri melirik padaku dari sudut matanya.
“Mau dengar saranku?”
“Enggak”.
“Jangan terlalu mengejar dia, nanti dia gerah, kamu akan nyesal. Kabar-kabarnya nih, Tommy anak 2004 naksir Mentari. Tahukan gimana keukehnya Tommy kalau lagi naksir cewek?”
“Enggak, aku enggak tahu. Mungkin kamu yang paling tahu”.
“Hehhe”.
Aku tertawa malu-malu.
Sekilas, kejadian malam di balkon restoran itu terlintas kembali.
“Aduuuh, jadi lapar kalau ingat kejadian itu. Emang masa kuliah itu indah ya. Bu, mie sop ayamnya satu ya”.
“Iya, indah banget. Tapi masa kuliah akan terlalu singkat untuk Mentari lewatkan tanpa mencoba cintaku”.
DEG! Aku terkejut mendengar ucapan Yandri.
“BUNGCUDH!”
“Hahha. Disaat kukatakan Mentari jadi kekasihku, akan membuat dia jauh lebih hebat”.
Kalimat pede itu mengalir dengan indah dari mulut Yandri yang membuat aku kesal.
*
Kembali ingatanku melayang ke interior restoran terlihat elegan dengan lampu yang temaram. Warna natural dan bunga-bunga yang terpajang tersusun apik. Sebuah lampion kecil turut menghiasi ruang makan bertaraf internasional itu. Di hadapanku, gadis itu mengenakan gaun malam berwarna cokelat tua bertaburan batuan bermacam warna. Aksesorisnya tidak terlalu mencolok, namun sesuai untuk gadis remaja seusianya. Memakai sepatu flat berwarna senada. Gadis itu duduk di kursi sambil sesekali memebenahi gaunnya.
"Senyum dong, Sayang. Kok manyun saja?", Mamanya memecah keheningan di meja makan itu.
Aku melirik lagi ke arah gadis itu dan tersenyum kepadanya. Sesaat kulihat dia terpukau, namun buru-buru dia kembali memasang muka juteknya. Sesekali aku mendapati dia memperhatikan aku, mungkin dia melihat aku kelihatan tampan malam itu. Berbeda dengan sosok anak kecil beberapa tahun lalu. Kini tubuhku lebih berisi dan atletis. Mersa diperhatikan, aku tersenyum ke arahnya. Dia salah tingkah, dan memalingkan mukanya.
"Begini loh. Om dan Tante mau kalian pendekatan dulu, saling mengenal satu sama lain, yah sekedar ngobrol aja", ujar Bapakku.
"Aduuuuuh, Om. Aku tidak sempat untuk pendekatan diri. Aku sibuk dengan tugas-tugas sekolah dan ekskul", jawabnya jutek..
"Tapi, setidaknya kamu harus mengenal Ardi lebih jauh kan?"
"Om, Aku kan masih sekolah. Aku belum mikirin nikah"
"Om dan Tante tidak menyuruh kalian segera menikah. Apa salhnya kalau kalian berteman dulu. Mengenal dan berbagi waktu bersama".
"Itu sama saja, Om. Aku kan masih mau ngumpul sama teman-teman, jalan kesana kemari tanpa harus ada yang membebani".
"Maksud Ommu bukan begitu, Sayang", Mamanya menimpali. "Kalaian cuma disuruh jalan-jalan berdua saja kok. Begitu saja kok repot. Lagipula Papa dan Mama sepakat kamu tunangananya setelah lulus sekolah".
Gadis itu kelihatan semakin sewot, memanyunkan bibirnya bebeapa centi ke depan, memberi tatapan tidak suka kepadaku yang duduk sdi dsebelah Mamamku. Aku hanya tersenyum tipis, kemudian bangkit dan bejalan ke balkon restoran itu.
Gadis cantik itu mengikutiku dan menghardikku. Kami mulai saling bertukar pandang sinis. Beberapa saat situasi menjadi hening dan bisu. Dia hanya menatap lurus ke depan memperhatikan lampu-lampu jalan yang terang menyala. Malam sangat gelap. Tidak ada bintang apalagi rembulan. Yang ada hanya hembusan angin malam yang terasa dingin. Terlihat jelas dia terlalu kesal dan mendumel dalam hati. Dia melirik sinis padaku.
"Aku tidak setuju dengan perjodohan itu!",tandasnya ketus.
Aku menatap wajahnya dengan lekat.
"Apa maksudmu? Orang tuaku dan orang tuamu sudah setuju dan merestui pernikahan kita. Tidak ada yang salah kan kalau aku jadi suamimu?"
"Menjadi suamiku?" alisnya sedikit naik. "Aku tidak setuju!! Kausaja yang keganjenan. Apa tidak ada gadis lain yang harus kau nikahi/"
Aku menelan air liur.
"Ayolah. Kau tidak boleh egois begitu. Kasihan Mama dan Papamu. Aku tahu ini hanya awal dari pertemuan kita dan aku berharap kita bisa saling cocok".
Gadis itu melengos.
"Bisa lebih baik? Jangan bermimpi. Hubungan ini tidak akan pernah menjadi baik, justru akan menghancurkan hubungan keluarga. Kehancuran keluarga. Kau tahu sendiri kan aku tidak mencintaimu? Pokoknya kau tidak mau menikah denganmu, titik!"
Gadis itu memberikan keputusan pahit bagiku.
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu. "Kau harus memberikan alasannya. Kenapa kau tidak menerima aku sebagai calon suamimu? Kenapa kau tidak mau menikah denganku? Kita sudah dijodohkan sejak kecil dan perjodohan itu bersifat sakaral".
"Aku tidak suka sama kau. Kau itu seperti kutu busuk yang menggerogoti mahligai cintaku! Sebaiknya kau buang jauh-jauh perasaan hatimu kepada diriku. Aku tidak akan pernah siggah di hatimu!"
Aku terdiam. Membiarkan temaram lampu balkon menerangi wajahku yang sedikit murung.
"Kau mencintai lelaki lain? Atau ada lelaki lain di hatimu?" tanyaku ragu. Gadis itu terdiam.
"Apakah kau mencintai lelaki lain?" tanyaku sekali lagi.
"Itu bukan urusanmu! Kau tidak berhak melarang dengan siapa aku bergaul. Apalagi lelaki pilihanku. Kalian semua sama, memaksakan perasaaan cintaku yang kucurahkan untuk orang lain. Sementara hatiku berkata lain. Apakah ini yang dinamakan kebahagiaan? Memutuskan rasa cintaku kepada seseorang yang paling aku cintai?"
"Aku yang kan mencintaimu. Aku yang kan slalu mendampingimu. Bila bahagia yang akan kau tuju, bila butuh cahaya tuk menemanimu, pilihlah aku. Jangan sempatkan berlalu. Jangan hanya aku yang tahu, aku cinta padamu. Mohon warnai jiwaku, maukah hidup bersamaku?". Kataku dalam hati.
Aku menatap gadis itu dengan lekat. lalu berlalu dari hadapannya dan menuju ke dalam restoran lagi.
+62888342xxxx
Kamu kenal Senja?
SMS itu membuyarkan lamunanku. Entah kenapa aku bisa sayang sekali dengan gadis itu, sikapnya yang manja dan agak sedikit kekanak-kanakan yang membuatku selalu ingin melindunginya. Bukan hanya aku, tapi seluruh keluargaku terlebih ibuku.
***
Hari ini badanku terasa malas sekali. Aku memutuskan menyendiri di dalam ruangan kuliah. Aku duduk bersembunyi di bawah meja Dosen.
“Tari!”, terdengar suara Yandri memecah keheningan.
“Yup, mau minjam pulpen lagi?” Mentari melemparkan pulpen kepadanya.
“Yang kemaren SMS itu kamu, Tari?”
“Bukannya aku sudah bilang kalau itu salah kirim, bukan untuk kamu”.
“Hmm, sebenarnya aku berharap SMS itu untuk aku. Aku benar-benar berharap”.
“Tari, aku suka kamu. Jadilah kekasihku”.
Aku semakin deg-degan menunggu jawaban dari Mentari. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki memasuki ruang kuliah ini.
“Lagi ngapain nih?”
Itu suara Tommy.
“Jadi kita nonton nanti sore kan, Tari?”. Tommy menggandeng Mentari mesra dan memaksanya berjalan keluar. Meninggalkan Yandri yang masih menahan napas.
“Dia tidak suka aku? Terkutuklah Kau!” Yandri berteriak tak karuan.
Aku sengaja mengeraskan suara lagu Terlalu Singkat nya sheila on 7 yang lagi aku dengar di handphoneku. Yandri membalikkan wajahnya dan menghampiriku. Terlihat jelas mukanya sangat marah dan malu. Aku pun.
sadarkah untukmu ku bernyanyi
terbacakah niat tulus ini
degup jantung kian terbisik
kadang kata tak berarti
kalau hanya kan sakiti
diam bukanlah tak ingin
degup jantung kian terbisik
tanda cinta yang bersemi
aku yang kan mencintaimu
aku yang kan slalu mendampingimu
bila bahagia yang akan kau tuju
bila butuh cahaya tuk menemanimu
pilihlah aku
jangan sempatkan berlalu
kalau karyaku yang kau tunggu
jangan hanya aku yang tahu
aku cinta padamu
mohon warnai jiwaku
maukah hidup bersamaku
(Pilihlah Aku - Sheila On 7)
Ditulis oleh @_____te dalam http://terceloteh.blogspot.com
No comments:
Post a Comment