Sejak terkena serangan stroke, Ayah berubah secara dramatis. Stroke yang menyerang bagian kanan tubuhnya membuat lidahnya kelu tak bisa berbicara, juga kehilangan kemampuannya berjalan. Diperparah lagi penglihatan Ayah yang sudah tak berfungsi. Komplikasi penyakit-penyakit itu membuat temperamennya kian meninggi. Ayah yang tak pernah marah, menjadi sering membentak-bentak dan meracau tak jelas. Untunglah ada Ibu, Ibu seolah mengerti apa yang Ayah inginkan.
“Iyas.. Iyas!!” artinya Kipas. jika kipas menyala, berarti Ayah ingin kipas angin dimatikan, vice versa.
“Weoo.. Weoo!!” artinya Ayah ingin buang air besar.
“Olong.. Olong!!” artinya Ayah ingin buang air kecil.
Aneh-aneh ya istilahnya, ya namanya juga orang sakit. Hebatnya, Ibu bisa mengerti semua bahasa itu.
Ibu adalah suara saat Ayah tak bisa berbicara.
Saat dijenguk orang-orang, Ayah menjadi sangat emosional. Siapapun itu orangnya, Ayah akan menyalami tangannya sambil menangis. Ayah kesepian dalam kegelapan dunianya. Sepulangnya para pembesuk, Ibu biasanya bercerita pada Ayah tentang siapa-siapa saja yang datang, apa warna pakaian yang mereka kenakan, juga buah tangan yang mereka bawa.
Ibu adalah mata saat Ayah tak bisa melihat.
Ayah terlalu lemah untuk berdiri, namun beliau seringkali meminta untuk diantarkan ke kamar mandi atau ke tempat duduk. Selama ada saya, saya yang selalu mengantar Ayah kemanapun ia mau berjalan. Jika saya tak ada barulah Ibu dengan tubuh dan tenaganya yang tak lagi muda, dengan mantap menopang berat badan Ayah, untuk mengantarkan Ayah kemanapun yang beliau inginkan.
Ibu adalah kekuatan saat Ayah lemah.
Ayah yang dulu salah seorang serdadu pertahanan kemerdekaan negeri ini, sekarang tampak lemah tak berdaya. Tubuhnya yang dulu sanggup membanting tulang demi keluarga, sekarang lebih sering terbaring di peraduan. Ibu bercerita, dahulu ia jatuh cinta kepada sosok Ayah yang prima, muda, dan penuh vitalitas. Saya bertanya, “apakah Ibu masih jatuh cinta jika sekarang melihat kondisi Ayah?”. Ibu menjawab, “Jatuh cinta hanya untuk kalian yang berusia muda. Sekarang Ibu sudah renta, cinta Ibu sudah terjatuh ke Ayah semua.”
Ayah adalah Ayah karena Ibu mencintai Ayah.
“You were my strength when I was weak, you were my voice when I couldn’t speak, you were my eyes when I couldn’t see…” – Celine Dion
Ditulis oleh @6issix dalam http://hidupbertiga.wordpress.com
No comments:
Post a Comment