Sunday, September 2, 2012

Laki-Laki Di Depanku.


Kala itu senja tengah merekah memecah awan. Semburat merahnya perlahan-lahan melebar, menggantikan awan berwarna gading. Jika aku tidak salah menghitung, ini sudah kali ketujuh sang pria di hadapanku duduk termangu di depanku. Memberiku tatapan menggunakan bahu lebarnya. Sejak minggu sore, ia selalu di sana. Datang pukul setengah lima sore. Lalu pergi ketika adzan maghrib berkumandang.

Tanpa sadar, kehangatan tubuhnya dengan sang senja menjadi tak asing bagiku. Ketika ia hanya duduk mengamati jalan, aku tak pernah segan menikmati keheningan yang ia ciptakan. Terkadang sepoian angin berbaik hati membawa harum tubuhnya menuju penciumanku. Membuatku tertegun akibat sensasi asing yang ditimbulkan.

Selalu begitu. Berulang dengan pola yang sama. Sekalipun hujan turun, ia tak pernah bergeming dari tempatnya duduk. Seakan aspal tempat ia duduki mengandung perekat kuat yang menempeli bokongnya.

Tak pernah sekalipun ia menoleh untuk melihatku. Sesekali aku bisa melihat gerakan kepalanya dari belakang. Terkadang turun menunduk, dan tiba-tiba naik untuk menengadah.

Hari di mana hujan turun adalah hari favoritku. Karena terlihat olehku kepalanya akan selalu menengadah, menerima setiap titik hujan tanpa kata-kata. Mensyukurinya dalam tiap tetes yang menyentuh wajah dan badannya. Entahlah, kurasa ketika hujan turun, ia melebarkan senyumnya dan memejamkan matanya untuk menikmati rasa hujan.

Senja dan hujan. Dengan dia yang berada di antaranya. Seakan ia dapat berbicara dengan keduanya tanpa bahasa yang tak kumengerti. Sepanjang hidupku, tak ada hal indah seperti ini.

Aku mulai lelah. Ini hari ke empatbelas dia duduk di depanku. Masih dengan punggungnya menghadapku. Aku sudah berusaha sebisaku untuk tetap bertahan hidup. Namun mustahil aku bisa lebih bertahan dari hari ini. Aku haus. Letih dan sesak. Selama ini sudah cukup sulit tumbuh diantara gersangnya tanah. Kini aku mulai menyerah. Meski inilah yang seharusnya aku rasakan dari jauh-jauh hari. Namun aku bertahan. Semata-mata hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya laki-laki di hadapanku ini tunggu. Tidakkah ia lelah hanya duduk dan menunggu? Apakah itu seorang wanita yang begitu ia cintai, hingga ia rela setiap sorenya dihabiskan depan halaman gersang? Entahlah. Namun jelas hari ini aku akan mulai mati.

Mataku perlahan-lahan menutup tanpa bisa tertahan. Sambil memanjatkan doa dalam hati, semoga disaat terakhir setidaknya aku bisa melihat wajah pengindah senjaku.

Aku tahu Tuhan Maha Baik karena sedetik sebelum kedua mataku benar-benar tertutup, laki-laki di hadapanku memutar kepalanya dan melihatku. Dengan latar senja kemerahan melukis sekeliling, aku memutuskan tak ada yang lebih tampan dari laki-laki ini. Dia pasti utusan surga untuk menjemput ajalku.

Segarnya air menyejukkan setiap pori-pori batangku hingga ke akarnya. Setiap tetesnya meresapi detail rongga hingga hausku perlahan menghilang. Rasanya tubuhku menjadi lebih segar dari setiap aliran kecil sang air pemberi oksigen. Perlahan aku mulai bisa kembali membuka mataku.

Aku tak mengharapkan apa-apa, namun ketika kedua mataku membuka, aku kembali menemui sepasang mata yang kulihat terakhir kali. Laki-laki itu ada di hadapanku. Kali ini wajahnya menghadapku, bukan lagi punggung lebarnya. Ia tersenyum dengan keramahan yang menggetarkan sel-sel tubuhku.

“Jika Lea memutuskan untuk tidak menemuiku lagi, setidaknya aku menemukan kamu. Pengganti kehadirannya yang jauh lebih indah.”

Dia memetikku. Dan memindahkanku ke tempat di mana aku bisa mengindahkan setiap helai bunga kemerahanku.



ditulis @anjanif dalam http://anjanif.tumblr.com

No comments:

Post a Comment