“Di sini ada satu kisah. Cerita tentang anak manusia. Menantang hidup bersama. Mencoba menggali makna cinta”
Saat ini aku memasuki dunia baru, tapi bukan dunia alien. Dunia dimana aku harus dan akan bertahan selama tiga tahun kedepan. Ya..perkuliahan. Kini aku Mahasiswi. Dulu saat aku duduk di bangku sekolah, senang rasanya membayangkan nanti bila aku menjadi diriku saat ini.
Tapi ternyata tidak.. ada banyak hal yang ternyata berbeda. Bahkan lebih rumit. Aku bertemu dengan orang-orang asing. Orang dengan berbagai isi kepala dan latar belakang. Abaikan latar belakang. Yang rumit isi kepala! Aku tak tau sifat mereka, seperti apa mereka. banyak pertanyaan di benak ini kemarin.
‘Apa aku bisa bertahan disini?’ Teman-taman baru?’ ‘Lingkungan baru?’ dan banyak hal baru lainnya. Satu pertanyaan terselip di antara tumpukan pertanyaan itu.
‘Apa akan ada cinta baru juga disini?’
***
“Tajamnya pisau takkan sanggup goyahkan cinta antara kita. Menembus ruang dan waktu. Menyatu di dalam jiwaku”
Bertemu dengan ‘mereka’ yang kurasa memiliki isi kepala yang sama denganku adalah takdir. Itu anggapanku hingga kini, semoga dan semoga selalu sampai nanti. Mereka adalah Dinda-Wilis-Della dan Gita. Kami dipertemukan takdir! Tapi sayang takdir pula yang membuat kami terpisah dengan Gita. Jangan salah anggapan, Gita baik-baik saja. Dia hanya pindah ke Universitas lain, untuk mengejar cita-citanya yang lebih nyata.
Mungkin memang banyak teman-teman lain, tapi aku menjadikan mereka (Dinda-Wilis-Della) pasukan utama untuk bertahan di Universitas. Berharap akan bersama menjalani semua.
Semoga Tuhan membaca tulisanku hari ini.. aamiin.
***
Sebenarnya hingga kini aku masih ragu, apakah aku bisa menjalani semua ini. Ya.. aku seorang peragu yang luarbiasa ragu. Tapi aku kembali.. Aku sedang belajar dan ini sebuah proses dari belajar itu.
***
“Tetes air mata mengalir di sela derai tawa. Selamanya kita
tak akan berhenti mengejar matahari”
Kemarin pagi aku seperti di kuatkan dan ingatkan oleh Tuhan dengan cara unik. Aku diminta untuk tidak ragu. Saat aku berangkat untuk mengejar cita-ku menaiki si badan besi, aku melihat Matahari. Itu memang wajar. Tapi ada yang tidak wajar! Tiba-tiba terbesit satu filosofi versi-ku mungkin. Saat kereta berjalan, Matahari itu ikut berjalan. Saat kereta berhenti, Matahari pun akan berhenti dan terasa sangat dekat dengan ku. Ya.. Itu bagai aku dan cita-cita ku. Aku berada dalam kereta yang sedang berjalan itu adalah aku kini. Matahari adalah cita-citaku. Saat kereta berhenti, itu adalah aku nanti. Kini aku sedang mengejar Matahari itu. Nanti aku dan cita-citaku akan berhenti. Aku akan menggapainya dan membuat kedua Orang Tua ku tersenyum bangga padaku nanti.
Terimakasih Tuhan kau telah ingatkan dan kuatkan aku denga filosofi versi-ku ini :)
Semoga aku bisa bertahan mengejar Matahari dengan Pasukan Utama-ku hingga nanti.
pssst dan semoga ada cinta yang Tuhan simpan untukku esok hari.
ditulis @Fannyyaa dalam http://fannypuspitt.tumblr.com
No comments:
Post a Comment