Sunday, September 2, 2012

Maka Aku Gelasmu



Ada yang menganggap negara ini sudah mati.

Ada yang menganggap nurani bangsa ini yang mati.

Tapi saya yakin, tidak. Kau hanya perlu menelusur lebih jeli.



Jika kau berkata kita semua mandeg, kau tidak sepenuhnya benar.

Kita berubah pada porsinya. Saat ini kita terus bergerak meski tersendat.



Apa yang dilakukan oleh pemimpinmu sekarang juga sudah sesuai porsinya.

Kau bilang itu salah?? Mungkin.

Kau bilang itu tidak tepat?? Mungkin juga.

Kau bilang itu konyol?? Mungkin kau benar.

Kau berpikir demikian hingga hilang kepercayaan.

Namun hilangkan saja pada orangnya, bukan jabatannya.

Karena ketika orang berganti, bisa saja kepercayaanmu pun berpindah posisi.



Maka jangan keburu menyerah pada keadaan.

Jangan skeptis pada semua orang.

Satu salah bukan berarti semua salah. Satu payah bukan berarti yang lain ikut lemah.



Orang pintar banyak. Orang bijak beranak pinak.

Keduanya yang perlu kau satukan dalam satu jiwa.

Percayalah, di luar sana ada.



Saat Tuhan kini menyediakanmu gelas-gelas pilihan, jangan biarkan rasa hausmu membinasakan.

Sentuhlah gelas demi gelas.

Rasakan hingga seluruh kemampuan inderamu terkuras.

Hingga kau temukan apa yang menurutmu benar untuk kau minum.

Yang mengobati hausmu dalam satu teguk merasuk hingga ke sumsum.


Maka aku, gelasmu.

           -  Bambang Wicaksono, untuk Rakyat Bijak Yang Lebih Mencintai, 2014.





“….tinggalkan dia.

Lupakan dia

Datanglah kepadaku.”






ditulis @ildesperados dalam http://abracupa.posterous.com

No comments:

Post a Comment